
Ini hari kerja pertamaku sejak menikah. Meski bang Zamy sudah menyuruhku mencari seorang sopir, aku belum mengiyakan karena merasa masih lincah dan tidak terbebani dengan apapun. Jam tujuh pagi aku sudah visit ke ruangan anak lagi ditemani tiga orang perawat. Kembali ke kebisingan suara anak-anak yang menangis karena sakit. Semuaya berjalan tanpa kendala. Aku kemudian menandatangani laporan di meja petugas.
"Dok, bagaimana kabar pak Direktur? Apa sudah membaik?" Dokter Marshal bertanya berbisik di dekatku. Aku berhenti dengan buku laporan, kututup dan kubatasi dengan pena, lalu tersenyum ramah menatapnya.
"Alhamdulillah pak sudah mendingan." Aku membalas.
"Puji Tuhan, kami kemarin mau besuk dok, cuma hehe...." Dokter Marshal tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa dok?" Aku bertanya kepada dokter Marshal yang tidak melanjutkan pembicaraannya. Dia tersenyum sumbang.
"Anu dok, hehe, diusir sama ibu...." Dengan hati-hati doktet Marshal menjelaskan.
"Owh...." Hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku percaya jika hal itu terjadi setelah melihat perangai mama yang diceritakan papa.
"Iya. Kami semua tidak menyangka di bulan puasa agama kalian, malah papamu digebuk begitu. Di kantor dan di depan banyak orang lagi. Kasihan sekali bapak. Beliau pasti sakit dan mungkin juga malu."
"Hah? Direktur diapakan?" Aku kaget mendengarnya.
"Digebuk dengan kursi Chitos Sakata sekuat tenaga di bagian belakang, sampai Bapak roboh. Untung banyak orang, tapi belum sempat 'ronsen' segala, Bapak sudah minta diantar pulang. Di rumah kata penjaga kemarin, waktu kami ke sana bapak juga luka terkena gunting pergelangan kakinya...." Dokter Marshal menjelaskan. Darahku kembali mendidih, ingin sekali marah kepada mama, sungguh teramat sakit rasanya ketika mendengar ayah kandung yang baik, disakiti seperti itu. Air mataku seketika meleleh. Buru-buru aku menandatangani laporan kemudian berjalan cepat menuju ke ruangan kerjaku. Kuabaikan beberapa keluarga pendamping pasien yang keheranan melihatku berjalan setengah berlari dengan mata berair. Dokter Marshal hanya mengangkat tangan tak mengerti apa yang harus diperbuat.
*****
Sesampainya di ruanganku, aku menelpon bang Zamy agar segera menjemputku. Aku ingin segera pulang. Memastikan daerah belakang tubuh papa yang dipukul mama tidak kenapa-kenapa.
"Halo yaanggg...." Bang Zamy mengangkat telponku. Aku masih terisak.
"Beee...? Adek kenapa sayang? Kok suaranya nangis?" Bang Zamy terdengar khawatir.
"Abang dimana sekarang?" Aku masih terisak bertanya. Kudengar bang Zamy sedang berbicara dengan seseorang. Akupun diam menunggu.
"Masih di kantor?" Aku bertanya setelah bang Zamy kembali merespons.
"Iya. Maaf Bee ada dokter Zein lewat." Bang Zamy menjelaskan.
"Bisa nggak jemput adek sebentar. Sepertinya papa bukan hanya luka di pergelangan kaki."
"Maksudnya?"
"Iya kata dokter Marshal, belakang papa digebuk mama dengan kursi tamu besi sampai terjatuh. Di depan orang ramai lagi. Pantas saja papa mau pensiun dini. Papa pasti merasa sangat malu." Aku menjelaskan.
__ADS_1
"Oh astaghfirullah, iya iya iya, sudah ya..., jangan nangis lagi. Tunggu abang jemput ya...." Bang Zamy menenangkan. Sementara aku masih terisak. Walaupun dalam kurun waktu yang lama kami tidak bersama. Namun karena kebaikan Papa, aku merasakan kedekatan dan cinta kepada laki-laki malang itu. Berbanding terbalik ketika aku mengenal mama. Rasanya, jika bisa memilih, aku tidak ingin lahir dari rahim wanita yang kejam seperti dia. Aku membereskan meja kerja dan berpamitan kepada pak Wahyu, Wakil Direktur Umum dan Keuangan melalui pesan whatapp. Beliau mengizinkan aku pulang. Setelah lebih tiga puluh menit menunggu, bang Zamy datang menjemputku. Dia tidak sendiri, tetapi pulang bersama dengan Prof. DR. dr. Hafiz Jamal Spesialis bedah saraf, dokter spesialis tulang belakang di RS. Bakti Timah. Aku duduk di bakang.
"Semoga hanya cedera ringan pada saraf tulang belakang pak boss, kalau ringan kan insyaAllah tidak ada gangguan pada saraf sensorik maupun motoriknya." Dokter Hafiz bicara sambil menoleh kepadaku yang gelisah.
"Mudah-mudahan dok, kasihan sekali saya sama beliau." Bang Zamy menyahut. Aku hanya mengangguk. Sejenak kami terdiam, kembali dengan pemikiran masing-masing Sementara mobil perlahan melaju menuju rumah. Setelah dua puluh lima menit berjalan akhirnya kami sampai ke rumah. Kulihat kondisi rumah terbuka. Papa duduk sambil nonton tivi. Annisa baru mau pulang ke villa.
"Hey..., darimana kamu?" Bang Zamy menangkap dan mengangkat Nisa ke atas.
"Turunkan om, ngeri." Nisa berteriak. Tetapi bang Zamy mengangkatnya beberapa kali lagi. Nisa mulai tertawa riang.
"Mau kemana sayang?" Aku bertanya kemudian mencium rambutnya yang wangi dan dikuncir dengan rapi.
"Nganterin kakek obat daun."
"Obat daun?"
"Iya ditumbuk sama nenek, dicampur-campur."
"Owh. Oke hati-hati nggak usah lari-lari." Aku melepaskan Nisa yang malah langsung berlari menuju villa. Aku menggeleng tersenyum lucu melihatnya. Bang Zamy bersalam dan melepaskan sepatu.
"Silahkan masuk prof." Bang Zamy menyilahkan. Profesor Hafiz mengangguk mengikuti.
"Aahwwww...." Papa kembali duduk sambil meringis menahan sakit. Dia memiring-miringkan badannya sambil memegang bahu kanan dengan tangan kiri.
"Pa, mumpung ada pak profesor Hafiz, coba lihat belakangnya papa. Kenapa papa tidak cerita kalau kemarin itu dipukul mama dengan kursi besi? Kalau kami tahu kan bisa langsung ditindaklanjuti sakitnya." Aku mendekati papa yang hanya tersenyum sedih.
"Naura buka ya bajunya...." Aku izin kepada papa. Bang Zamy ikut duduk. Pak Hafiz mendekat ke arah belakang papa. Dan setelah baju terbuka nampak lebam membiru di beberapa area belakang. Ada dua bengkak parah, dan merah kehitaman di tulang belakang atas. Profesor Hafiz menekan dengan telunjuk di beberapa titik, kemudian papa menjerit nyeri. Dokter Hafiz menggeleng dengan senyum hambar.
"Kita bawa saja ke rumah sakit untuk 'ronsen'. Karena kelihatannya ini lebih parah dari bayangan saya." Profesor Hafiz memandang saya minta persetujuan.
"Apa parah dok?" Papa bertanya.
"Tingkat keparahannya kan boss yang tahu. Seberapa sakit boss?" Profesor bercanda kepada papa sambil mencolek lagi bagian yang memar. Papa mengaduh kesakitan.
"Kita 'ronsen' saja ya pak direktur. Biar jelas nantinya. Yaaa..., mudah-mudahan tidak ada hal yang membahayakan." Profesor Hafiz kembali menawarkan.
"Sekarang ya pa, kita ke rumah sakit buat 'ronsen'." Aku meminta papa lagi, tetapi papa hanya mendada-dada tidak mau.
"Tidak perlu nak. Tidak apa-apa kok, hanya sakit sedikit. Dibawa istirahat saja sembuh kok." Papa masih tidak ingin ke rumah sakit untuk dirontgen. Aku memandang bang Zamy. Lalu bang Zamy duduk persis di samping kanan ayah.
__ADS_1
"Paaa..., kita ronsen di tempat Zamy saja ya. Zamy bisa nyiapin semuanya nanti. Kita siasati pokoknya biar papa nyaman." Bang Zamy membujuk papa. Papa tersenyum sambil melirik ke bang Zamy.
"Hemzzz.... Papamu ini mau ronsen nak. Tapi..., hihiiihiii...." Papa menutup mulutnya terkikik sendiri. Kami bertiga berpandangan.
"Wah pak Direktur ini memang tidak begitu parah sakitnya ya. Kelihatan masih gembira betul. Tapi baiknya kita obati dengan benar. Masa seorang dokter senior malas berobat."
"Besok saja berobat dan ronsennya ya dok, ya nak. Hihiiiihihiii...." Papa kembali tertawa geli, dia bahkan menutupi wajahnya sambil tertawa. Aku heran melihat tingkah papa.
"Pa, beneran tidak sakit tuh belakangnya. Naura khawatir ada cidera di saraf atau tulang belakangnya. Ayo ah jangan becanda, kita ke rumah sakit Timah saja. Tidak usah ke rumah sakit umum, takutny papa merasa...."
"Besok ya nak, beneran deh besok saja papa ronsennya. Terserah ke rumah sakit mana. Papa tidak malu lagi. Tapi sekarang ini ehmmm...." Papa tersenyum menatap kami bergantian. Profesor Hafiz menunggu papa bicara sambil tersenyum. Tangannya yang kiri bersandar di sandaran sofa, sementara tangan kanan memegang lutut kaki kanan. Kemudian dokter Hafiz memberi kode kepada bang Zamy agar mendekat, lalu berbisik.
"Sepertinya pak Direktur harus segera diperiksa pak Zamy. Lihat dia tertawa terus tanpa sebab yang jelas. Jangan-jangan ada saraf yang...."
"Ah, jangan berbisik-bisiklah dokter, saya sebenarnya malu saja mau bilang. Hehe..., sebenarnya saya sudah buat janji sama Dokter Hilmi...."
"Dokter Hilmi?"
"Dokter Hilmi?"
"Dokter Hilmi?"
Serentak kami bertiga bertanya.
"Iya. Saya mau segera mendaftarkan pernikahan dengan Miranti. Jadi saya minta tolong jemput dokter Hilmi untuk ke Kantor Urusan Agama sebentar lagi."
"Hah?"
"Hah?"
"Hah?"
"Yang benar pak Ram? Wah bagus itu. Jujur saya mendengar kisah bapak dipukul istri seperti itu langsung merutuk dalam hati. Kalau saya dibegitukan saya ceraikan saat itu dan menikah lagi." Profesor Hafiz bicara jujur. Aku tidak bisa membujuknya lagi. Hanya tersenyum lucu bercampur senang mendengar alasan papa tidak ingin segera ke rumah sakit untuk rontgen. Bukan karena malu tetapi sudah ada agenda lain.
"Tosh dulu pa!" Bang Zamy berdiri dan tosh dengan papa.
"Tapi kenapa papa tidak meminta Zamy saja? Kan papa punya anak laki-laki sekarang." Bang Zamy bicara.
"Papa maluuu...." Papa tersenyum lagi. Raut wajahnya sungguh bahagia.
__ADS_1
"Hahahahaaa...." Kami serentak tertawa. Entahlah, aku merasa aku tidak jahat. Tetapi mendengar papa menceraikan mama dan akan menikahi tante Mira, hatiku ikut berbunga-bunga bahagia.