
Sesampainya ke Pangkalpinang, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam setengah kami langsung menuju ke pegadaian. Namun tidak ada lagi mama sesampainya kami di sana. Dokumen kepemilikan emas Antam kami ikut dibawa polisi bersama mama ke Polres Pangkalpinang sebagai salah satu bukti. Dua orang karyawan pegadaian ikut juga sebagai saksi. Kami akhirnya pergi ke sana juga dengan status korban.
"Naura!" Aku menoleh. Satu suara khas dengan intonasi tajam. Mama. Dia berada di sel depan ruang tunggu. Aku menatap bang Zamy, dia mengangguk dan mengikutiku mendekat ke arah mama. Seorang polisi tempat kami melapor memerintahkan rekannya untuk mendampingi
"Naura, tolong mama kali ini saja plisss...!" Mama berdiri memegang jalinan jerusi besi. Aku tersenyum hampa.
"Tolong apa ma? Apa yang bisa Naura lakukan untuk menolong mama?" Dengan intonasi menahan tangis kasian namun bercampur emosi kemarahan aku bertanya kepada mama.
"Tolong Naura, tolonglah Zamy, kalian cukup bilang bahwa dokumen itu kalian yang berikan kepada mama...." Mama merengek tanpa air mata. Wajahnya sangat mengesalkan dan tidak enak dipandang. kecantikannya hilang karena ulahnya yang sesat. Aku menitikkan air mata. Bercampur baur dengan antara sayang, benci dan marah di dalan hatiku.
"Jika kami bilang bahwa memang kami yang memberikan dokumen itu kepada mama, lantas apa yang akan terjadi ma?" Aku bertanya lagi. Sementara bang Zamy dipanggil seorang polisi untuk memberikan keterangan. Dia menuju meja petugas.
"Ya, pastinya mama akan dibebaskan sayang...." Mama menjawab dengan senyum liciknya.
"Kemudian jika kami bilang tidak pernah memberikan dokumen itu?"
"Naura tolonglah, mama tidak ingin menginap di sini. Mama benar-benar taubat. Mama khilaf, mama tidak tahu harus bagaimana lagi. Mama stresss..., bagaimana mungkin papamu menceraikan mama yang setua ini." Mama mencoba menangis merayuku. Namun aku telah berhati batu. Ada amarah besar dalam dadaku atas semua ulahnya selama ini.
"Naura tidak ingin bersaksi palsu ma, karena kesaksian palsu akan membuat kita dihadapkan kepada hukum di akhirat nanti." Aku menjawab sambil duduk di kursi besi panjang yang ada di dekatku, menghadap ke arah mama.
"Hei, tidak usahlah nak kau sok sok menasihati mama, mama pun paham betul masalah hukum di negeri ini. Jika kalian tidak mau membebaskan mama, mama pasti akan bebas sebentar lagi, pengacara keluarga mama pasti akan datang." Mama tidak berkurang sedikit pun kesombongannya. Aku hanya diam saja. Entah bagaimana bisa, tiba-tiba air mataku berjatuhan hingga meleleh sampai ke mulut melihat tingkahnya. Diberi makanan apa mama dulu oleh kedua orang tuanya. Apa iya rumor masyarakat yang mengatakan keluarga mereka kaya raya namun hasil dari menikmati uang yang tidak jelas. Apa hasil makan makanan dari uang haram itulah yang membuat hatinya keras bagai batu karang. Mama sudah menjauh. Dia duduk di belakang wanita yang satu sel dengannya, wanita muda yang baru dititipkan untuk diperiksa juga terkait kasus kepemilikan narkotika.
"Beee... semuanya sudah selesai. Setelah mamamu diperiksa, semua dokumen akan dikembalikan." Bang Zamy kembali menemuiku. Aku mengangguk dan belum bisa berkata-kata. Bang Zamy menepuk-nepuk bahuku.
"Sudahlah, jangan bersedih seperti ini sayang. Wanita hamil itu harus selalu bahagia...." Bang Zamy menyentuh pundakku dengan lembut. Aku mengangguk. Tak lama kemudian datang tiga orang pengacara dan dua orang anggota keluarga dari pihak mama. Seketika mama berdiri dan bicara kepadaku dengan nada merendahkan.
"Tuh kubilang juga apa, yang namanya keluaga itu selalu membantu di kala apapun." Aku diam saja menggeleng dan tersenyum.
"Betul, tetapi keluarga yang benar, mereka akan membantu meluruskan yang bengkok dengan cara yang benar. Bukan malah memaksakan yang bengkok harus segera nampak lurus yang akhirnya akan mematahkan semuanya." Aku menjawab perlahan. Air mataku menetes.
"Maafkan Naura mama, dan terima kasih telah melahirkanku ke dunia." Aku kembali melanjutkan.
"Tidak usah semelankolis itu Naura. Malam ini juga mama pasti bakal pulang. Kau lupa siapa mama ini sebenarnya. Dan jangan lupa, transaksinya begitu gampang kok jika berhadapan dengan oknum-oknum mata duitan. Mereka mudah sekali bernegosiasi, tidak seperti kalian." Mama dengan pongahnya menjawab. Aku berlalu dari hadapannya.
"Tante, semoga dengan kejadian ini, tante akan berpikir lebih jernih...." Bang Zamy mencoba menasihati perlahan. Mama melengos tidak suka.
"Kalian tunggu saja, setelah mama keluar, bisa jadi kalian yang akan ditangkap karena alasan melakukan perbuatan tidak menyenangkan." Mama menjawab.
"Kok bisa?" Bang Zamy menyahut.
"Karena mama tetap akan mengatakan bahwa kalianlah yang telah memberikan dokumen itu."
"Hahahaaa..., tante ini lucu juga ya, bagaimana dengan ini?" Bang Zamy memperlihatkan rekaman CCTV melalui handphonenya. Nampak mama memasukkan dokumen dengan buru-buru setelah keluar dari kamar kami. Kemudian beberapa foto yang dikirim papa dari rumah menampakkan kamar kami yang berantakan. Namun mama tetap pongah.
"Itu tidak akan mempengaruhi hasil keputusan mereka terhadapku, dibandingkan dengan uang apalah arti bukti picisan itu." Mama mencibir sambil mendeskripsikan lembaran uang dengan jari jemarinya tangan kanannya.
"Sadarlah tante, mungkin dulu keluarga tante nampak seperti harimau muda, besar, bertaring panjang dengan auman yang besar nampak begitu menakutkan. Namun sekarang, harimau itu sudah tua, jalannya sudah ringkih, taring itu telah berguguran, siapa yang akan takut dengan harimau lemah dan ompong?" Bang Zamy meninggalkan mama yang marah-marah dan misuh-misuh semakin tidak karuan. Bamg Zamy menggamit telapak tanganku, menuntunku segera keluar untuk pulang. Nampak ketiga pengacara merasa tidak begitu percaya diri berhadapan dengan bang Zamy yang sengaja menelpon melalui video Kapolda Babel di depan mereka. Mengingatkan sekaligus mengancam jika proses hukum berbayar, maka mereka akan kehilangan jabatannya. Karena bang Zamy akan menyetorkan bukti secara pribadi ke Wakapolri.
"Bagaimana jika mereka masih mempermainkan hukum bang?" Aku bertanya di perjalanan pulang.
"Mereka tidak akan berani mempertaruhkan jabatan."
"Abang yakin?"
__ADS_1
"Buktinya si Irwan abang tanya dengan oknum yang teman SMA abang bekerja sebagai polisi. Dia bilang Irwan benar-benar ditahan seperti seharusnya sampai menunggu keputusan pengadilan. Namun besar kemungkinan bukan hanya sanksi penurunan pangkat yang diperolehnya. Namun pemecatan alias pemberhentian dengan tidak hormat. Dan dalam kasus mamamu ini, bukti bahkan sudah lebih dari dua, ada saksi para pegawai pegadaian, ada barang bukti berupa dokumen, ada rekaman CCTV di rumah dan juga di pegadaian. Ditambah video pengancaman mamamu ke petugas pegadaian karena tadi sudah mencurigai dokumen yang sengaja ditahan. Mamamu ngamuk di kantor pegadaian. Bukankah ukuran alat bukti yang bisa digunakan adalah minimal dua alat bukti saja yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 184 ayat 1 KUHP, yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Kesemuanya sudah jelas. Lalu apa lagi?" Bang Zamy bicara panjang. Sementara aku hanya diam saja mendengarkan. Kepalaku kembali berdenyut pusing. Rasanya ingin segera istirahat.
"Sayang...."
"Kenapa?" Bang Zamy mengelus kepalaku yang mulai berkeringat dingin.
"Bee..., adek demam. Sabarlah sayang, sebentar lagi kita akan segera sampai ke rumah. Abang akan mengobatimu." Dia mempercepat laju kendaraan.
*****
Sesampainya di rumah, aku melihat kamar menjadi berantakan karena ulahnya mama. Bang Zamy seketika merapikan karena dia tahu betul aku tidak suka hal-hal yang berantakan. Dan tidak ingin orang lain menyusun barang-barangku, termasuk yuk Mairoh.
"Istirahat di sini sayang. Abang akan ambilkan makanan dan minuman dulu." Bang Zamy keluar dan langsung menurunkan semua pakaian di mobil. Yuk Mairoh membereskan semuanya. Sambil berjalan bang Zamy memberitahu yuk Mairoh bahwa aku hamil. Nisa pun telah datang, namun bang Zamy membujuknya agar datang lagi sore nanti, karena aku akan istirahat. Nisa dengan sedikit kecewa akhirnya pergi lagi ke gazebo, bermain dengan neneknya dan papa. Tak lama kemudian yuk Mairoh datang membawa sepiring nasi dan jeruk hangat. Perutku langsung menolak melihat nasi.
"Selamat bu dokter kata bapak sudah positif, semoga sehat-sehat keduanya." Yuk Mairoh meletakkan nasi ke meja di sampingku.
"Iya alhamdulillah. Eh yuk tolong bawa saja nasinya keluar, nanti Naura makannya ambil sendiri." Aku beralasan. Perutku begitu mual memandang nasi. Hanya jeruk hangat yang kuinginkan. Yuk Mairoh pun keluar membawa kembali piring berisi nasi dan lauk ikan sambel. Namun belumlah semenit yuk Mairoh keluar, bang Zamy datang kembali dengan sepiring nasi yang tadi dibawa yuk Mairoh.
"Sayaaanggg..., dokter kok gitu sih.... Harus ada nutrisi yang baik lho dek biar calon babynya sehat dan cerdas...." Bang Zamy duduk di dekatku berbaring. Dia memegang pundakku dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri menggapai tangan kanankku. Aku bangkit duduk dengan wajah pura-pura cemberut. Kecupan manis di kedua pipi, di kening, di dagu, di hidung, di dahi dan di bibir kudapatkan. Kemudian dia mengelus dan mencium perutku.
"Hai calon profesor, bekerja sama dengan mami yaaa..., ajak mami biar lahap terus makannya...." Bang Zamy bicara sambil perlahan tangannya menyuapiku. Lantas bersama hati dan sugesti lain dari kekasih pujaan, aku mulai makan tanpa ada perasaan mual lagi. Sepanjang makan sambil menyuapiku, bang Zamy tak sedikitpun berhenti bicara. Ada saja bahan obrolan yang menyenangkan. Sesekali dia kembali melayangkan kecupan manis dan ciuman sayang disela-sela menyuapiku. Dan entahlah, aku memang selalu merasa lebih nyaman saat berada di sisinya.
"Sayang..., kalau sudah di sini, adek mau buka praktik biar menghilangkan jenuh. Boleh ya?" Setelah selesai makan aku mengutarakan keinginanku untuk buka praktik di weekend ini. Kulihat bang Zamy sejenak diam menatapku.
"Boleh nggak yang? Kalau boleh adek mau telpon mak Yang dan Santi." Aku bertanya lagi. Bang Zamy memelukku dari samping sambil duduk. Tangannya kembali mengelus anak-anak rambut di atas keningku.
"Boleh kalau adek tidak ada kendala di badan. Tapi kok tumben rajin banget mau kerja?" Bang Zamy memencet hidungku.
"Ya sudah kalau adek buka, abang juga buka." Bang Zamy memutuskan. Lalu kami masing-masing menghubungi perawat dan bidan yang membantu kami di klinik. Mereka semua siap dan tidak ada halang merintang.
****
Sehabis sholat Dzuhur aku ikut ngobrol dengan papa, tante Mira, Nisa dan mbak Nindya di balai-balai bawah pohon rambutan.
"Selamat ya dik, semoga kandungannya sehat selalu, kata Zamy kamu sudah positif hamil ya." Mbak Nindya memelukku.
"Alhamdulillah...."
Alhamdulillah...."
Papa dan tante Mira ikut bersyukur. Tante Mira sudah memakai tongkat tiga kaki, dia tidak lagi naik kursi roda. Memang bang Zamy rutin seminggu sekali membawa tante berobat ke rumah sakit tempat dia bekerja. Masalah biaya? Sisa yang tidak ditanggung BPJS bang Zamy yang tanggung.
"Aamiin..., alhamdulillah, iya mbak Nin, terima kasih." Aku menjawabnya. Kemudian aku ikut duduk di dekat Nisa.
"Tante, tante dokter lagi hamil ya? Kata ibu tante bakalan ada dedek nanti ya? Kalau sudah ada dedek om dokter sama tante dokter masih akan sayang nggak sama Nisa? Nisa masih boleh nggak main sama om dan tante?" Nisa bertanya banyak. Ada kekhawatiran di wajah lugunya.
"Iya, nanti kita bakalan ada dedek. Justru kalau ada dedek Nisa harus sering ke rumah buat bantu tante jagain dedek. Om sama tante pasti tetep sayang sama Nisaaa...." Aku memeluk bocah tanpa dosa itu.
"Beneran ya tante. Janji dulu...." Nisa menyodorkan jari kelingking kanannya. Aku menyanggupi. Sesaat suasana hening. Hanya kicauan burung gereja bermain di atas dahan-dahan pohon rambutan, mencoba berteduh dari sengatan panasnya matahari. Bunga-bunga series di sebelah pohon rambutan nampak berhamburan di bawah batangnya, bercampur dedauan yang layu, tertiup angin dan jatuh. Pak Rohim dari kejauhan nampak berteduh di atas akar besar pohon mangga Jawa. Dia mengibas-ngibaskan topi andalan pemberian bang Zamy yang didapat saat acara jalan santai HUT PT. Timah, tbk.
"Nauraaa..., Papa sudah deal membeli rumah yang berada dekat rukonya papa. Nanti kalau yaaa..., kami sudah resmi menikah, mungkin kami akan segera pindah. Mulai besok tukang akan merenovasinya." Papa memecah keheningan bicara kepadaku. Aku teraenyum mendengarnya.
"Jadi menikahnya hari Jumat ya yah?"
__ADS_1
"Bukan Jumat, Rabu besok Naura. Kami yang akan pergi ke Ka-U-A-nya. Biar menikah sederhana saja." Papa menatap tante Mira yang menunduk malu.
"Semangat amat sih pa. Lagian apa kami tidak diundang?" Aku menggoda papa.
"Hehe..., soalnya kata teman papa jangan Jumat, Jumat KUA penuh, jadi orang lama ngantri buat nikah." Papa menjawab terkekeh. Aku kembali tersenyum.
"Iya deh. Kalau ada yang diperlukan jangan sungkan bilang saja sama Naura atau sama Zamy." Aku bicara tulus kepada papa yang seketika mengangguk.
"Terima kasih nak. Tanpa bertemu denganmu, entah apa jadinya hidup papa." Papa melankolis lagi.
"Nina apa masih menghubungi papa?"
"Ada beberapa hari lalu. Hanya menanyakan kabar."
"Owh iyalah." Aku menjawab. Tidak berapa lama kemudian, bang Zamy yang dari tadi berpamitan pergi keluar karena ada urusan menelponku dan mengabarkan bahwa mama sudah diperiksa dan statusnya sudah tersangka. Selain takut dengan ancaman bang Zamy, semua saksi dan barang bukti memberatkan mama. Menurut bang Zamy mama sudah dipindahkan, dititipkan ke lapas Tua Tunu Pangkalpinang sampai menunggu keputusan persidangan nanti. Mendengar berita itu, ada rasa sedih yang sangat dalam kurasakan. Merasa bersalah dan sedikit penyesalan telah membuatnya menderita di dalam penjara. Namun di sisi lain aku juga ingin melihat kebahagiaan papa dan semuanya. Aku hanya berdoa, semoga mama di penjara bisa menemukan jalan yang benar dan bertaubat, sebenar-benarnya taubat hamba Allah yang beriman. Aku menitikkan air mata. Lalu segera masuk ke dalam rumah kembali, tidur siang sejenak, lalu bersiap ke klinik.
****
Jam tiga sore, karena selama puasa kami memajukan jam praktik, aku dan bang Zamy sudah berada di klinik. Semua sudah disiapkan kembali oleh mak Yang dan Santi. Pasien kami sudah banyak menunggu. Kursi tunggu sudah disekat, dijarak agar pasien tetap menjaga jarak antara satu dengan yang lainnya.
"Dok, kok tidak jadi liburannya?" Mak yang bertanya kepadaku. Aku pun sepintas menceritakan ulah mama kepada keduanya. Kemudian tanpa basa basi lagi kami mulai dengan pasiennya. Tidak banyak pasienku, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Menit berikutnya aku kemudian konsentrasi memberikan perngobatan yang akhirnya hanya ada 17 orang pasien dan dua pendaftar tidak hadir. Sehingga jam setengah lima pasienku sudah pulang semua.
"Dok, sudah selesai semua nih. Kita boleh pulang ya dok?" Mak Yang bertanya kepadaku. Aku kemudian mengangguk lalu membersihkan meja kerjaku. Lantas setelah semua sudah rapi aku keluar dan menemui perawat dan bidan yang menjadi asistennya bang Zamy. Aku minta didaftarkan namaku untuk berobat ke klinik sebelah, ruang praktik dokter Zamy. Aku menunggu saja dekat meja perawat sambil bermain hape. Sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya semua pasien pun sudah pulang.
"Masih ada Man?" Bang Zamy bertanya dari dalam.
"Man. Masih ada tidak? Suruh saja masuk kalau masih ada pasien yang datang.
"Iya pak ada, satu lagi." Perawat itu menjawab menjauh. Akhirnya dengan menahan tawa aku mengetuk pintu praktik bang Zamy. Bidan membuka pintu. Aku memberikan kode kepadanya agar langsung pergi.
"Tok! tok! tok!" Aku mengetuk pintu.
"Iya silahkan masuk ibu...." Bang Zamy menjawab dari dalam. Aku membuka pintu dan dia malah tersenyum lebar sambil melongokkan kepala ke luar, tidak ada siapa-siapa lagi. Perawat dan bidan pendampingnya pun sudah kusuruh duluan pulang.
"Katanya ada pasien satu lagi." Bang Zamy kembali duduk ke meja kerja.
"Inilah pasienmu satu lagi sayang." Aku tersenyum menggodanya. Bang Zamy kemudian pergi keluar lagi memastikan benar-benar tidak ada lagi orang lain di sana. Kemudian dia menutup dan mengunci pintu, lantas aku digendong dan ditidurkannya di atas meja periksa. Dia sendiri yang menaikkan pakaianku hingga terbuka bagian perut. Dia sendiri yang mengoleskan gelnya dan melakukan USG kehamilanku. Kami bersama-sama melihat ke arah monitor. Bang Zamy tersenyum bahagia, dia sempatkan mencium bibirku sepintas.
"Sayang, alhamdulillah, ini lihatlah ini yaaanggg. Ini ada mahkluk asing bersemayam di rahimmu." Bang Zamy terus memainkan sensornya, lalu mengambil jarak dan merekam untuk dicetak.
"Lihatlah ini darah dagingmu Bee..., darah daging kita, makanya jangan malas makan lagi ya. Lawan rasa tidak nyaman. Dia butuh nutrisi lebih. Ini, lihatlah ini, usia kehamilanmu rupanya sudah tiga minggu." Bang Zamy masih saja melihat-lihat di sekitarnya jika ada kemungkinan yang perlu diawasi.
"Baik semuanya dalam kondisi normal, tidak ada serviks atau lainnya." Bang Zamy membantuku bangun. Kemudian dia memelukku erat sekali.
"Rasanya abang tidak sabar lagi menunggu kehadiran seorang anak cerdas yang akan memanggil abang, papiiii...." Bang Zamy semakin erat saja memelukku. Dan aku, merasa semakin nyaman saja berada di pelukannya. Ah..., andai saja ini bukan bulan puasa, mungkin spontan kami akan merayakan kebahagiaan ini dengan sensasi berbeda. Mungkin saja, karena hal-hal baru itu pastinya lebih menantang. Akhirnya kami melepaskan pelukan.
"Malam nanti adek jangan tidur cepat ya...." Bang Zamy bicara kepadaku.
"Lha apa masalahnya?"
"Masalahnyaaa..., nanti malam dirimu akan sepenuhnya menjadi milikku." Bang Zamy berbisik di telingaku. Aku turun dari bed periksa, kemudian merapikan baju. Dan setelah pamitan dengan mang Ridwan serta melihat sesaat suasana rumah bang Zamy di klinik, kami pergi mampir mencari takjil di depan masjid Jamik Pangkalpinang, tentu saja membeli lemang tape beras ketan hitam kesukaan bang Zamy.
*****
__ADS_1