Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 51 Dirga


__ADS_3

Aku bersama bang Zamy yang masih kebingungan mencari sosok Dirga dikejutkan oleh tepukan hangat di pundak oleh kakek Ezo.


"Nak Naura dan dokter Zamy. Ayo kita masuk ke dalam." Kakek Ezo mengajak kami masuk kembali. Setelah sejenak berpandangan kami berdua mengikuti kakek masuk ke dalam rumah besarnya. Kami tidak kembali ke ruang tempat tadi jenazah mama disholatkan. Kakek mengajak kami menuju sebuah ruangan di bagian dalam ke arah Timur, tepat di lantai dua. Ruangan yang besar dengan jendela kaca hitam. AC lantai besar menyala di sana. Satu set sofa tamu mewah berwarna cream tua. Di dinding bercat putih bersih menempel beberapa figura besar. Nampak aneka foto kakek semasa menjadi Gubernur di dalamnya. Aku juga melihat foto kakek bersama nenek sedang berada satu meja makan dengan mantan presiden Soeharto, ada pula foto kakek bersama musisi senior Iwan Fals. Dan masih banyak foto penting di dinding yang bersih ini. Di ruangan paling ujung nampak sebuah perpustakaan pribadi lengkap dengan meja baca dan meja kerjanya.


"Silahkan diminum ibu, bapak." Seorang pelayan wanita paruh baya datang. Dia menatapku penuh selidik. Wajahnya kaku, tak ada ekspresi yang bisa kugambarkan.


"Bagaimana kabar Mira?" Dia bertanya pelan, dengan intonasi datar.


"Tante Mira baik-baik saja."


"Dia masih di kursi roda?"


"Alhamdulillah tante sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat."


"Wanita menyedihkan...." Pelayan itu berbalik, pergi tanpa kata lagi.


"Tanteee..., tante mengenal tante Mira?" Aku setengah berdiri ingin menyusul. Namun terlanjur kakek Ezo datang dengan album tua di tangan.


"Minumlah nak, dan minta saja di dapur jika kalian lapar. Rumah ini melimpah ruah dengan makanan, namun tidak dengan cinta. Hehe...." Kakek tersenyum getir. Ada nada kesepian terdengar. Aku menatap bang Zamy yang menerima album tua yang baru disodorkan oleh kakek.


"Kakek orang hebat, dari foto-fotonya saya lihat bersama orang hebat semua." Bang Zamy bicara tersenyum.


"Hehe..., hebat yang terlihat. Namun rapuh sebenarnya." Kakek menjawab. Kedua tangannya menepuk-nepuk kedua pahanya.


"Kek, maafkan Naura jika...."


"Sudahlah nak, tidak ada yang perlu dimaafkan. Ini pilihannya. Semua salah kakek. Setelah tua kakek baru berpikir, anak semata wayang yang dari kecil kakek manjakan, segala keinginannya kakek perturutkan, lama kelamaan tumbuh menjadi anak yang egois, besar kepala dan selalu memaksakan kehendaknya. Bukan hanya kepada kami sebagai orang tua, dia harus terus menjadi ratu dengan siapa saja. Dia tidak ingin dikalahkan, dia tidak ingin dibantah, dia harus bertindak sesuai keinginannya."


"Mama sudah eee..., agak tempramen dari kecil kek?" Aku bertanya hati-hati.


"Sedikit. Kecilnya memang sedikit pemarah. Namun amarahnya membesar ketika suatu peristiwa menimpanya. Peristiwa yang menjadikannya seperti seorang monster." Kakek bicara sambil menatap langit-langit ruang. Kejadian masa silam berseliweran kembali dibenaknya.


"Apa yang terjadi kek?" Aku tak sabar. Kakek hanya menunduk lesu. Perlahan dia mengangkat wajah menatapku.


"Di awal tahun dia kuliah, dia jatuh cinta kepada orang yang tidak pantas. Dia begitu mengagetkan kami. Dia jatuh cinta kepada sopir kakek yang hanya tamat SMA dan bukan dari keluarga siapa-siapa. Dia jatuh cinta saat liburan tengah semester. Kami tentu saja sangat menentangnya. Lalu dia protes, sekembalinya dia ke Jakarya, diam-diam dia mulai pergi ke klub malam. Diam-diam dia minum minuman keras. Dia anak kami satu-satunya dari nenekmu semakin menjadi-jadi kegilaannya. Dia selalu minta uang lebih. Dia sering pulang padahal perkuliahan sedang berlangsung. Hingga kejadian di suatu malam...." Kakek kembali menghentikan bicaranya. Suaranya sedikit berubah. Ada bulir bening jatuh di ujung matanya yang mulai keriput.


"Kenapa kek?" Aku bertanya lagi.


"Kakek dihubungi oleh pengasuhnya. Ini yang tadi mengantarkan minuman ke sini. Mamamu diperk*sa oleh temannya di klub malam setelah mereka habis pesta minuman keras. Kakek dan nenekmu langsung terbang ke Jakarta esok harinya. Dan mendapati dia sekarat habis menenggak obat tidur yang banyak. Dia mencoba bunuh diri."


"Owh...," Aku bergidik sendiri membayangkan kalutnya perasaan mama saat itu.


"Setelah menyaksikan semuanya kakek dan nenek berjanji akan menuruti keinginannya untuk menikah dengan siapapun yang dia kehendaki."

__ADS_1


"Mama tidak jadi menikah dengan sopir kakek?"


"Itu tidak pernah terjadi. Karena setelah mengetahui hubungannya dengan Er, kakek langsung memecat pria itu dan dia tak pernah lagi bertemu dengan kami semenjak itu." Kakek berhenti sejenak. Aku menahan nafas berkali-kali.


"Masalahnya, dari perkos*an itu, dia hamil. Kami menyembunyikan masalah ini dari media. Dia stop out kuliah dan berdiam di asrama panti asuhan hingga dia melahirkan di sana. Setelah bayinya lahir, kami menjemputnya. Dan dia tak menginginkan bayi itu."


"Dia Dirga?" Aku memotong. Kakek seketika menatapku. Keningnya berkerut dengan alis terangkat.


"Bagaimana kau mengenal nama itu?" Kakek seketika balik bertanya.


"Barusan dia memperkenalkan diri."


"Barusan? Maksudmu dia ada di sini?"


"Iya kek, ada seorang lelaki mendekatiku, mengatakan bahwa aku lebih beruntung diakui sebagai anak kandung, sedangkan dia, untuk pertama dan terakhir kalinya dia menatap wajah mama." Aku menjaskan. Kakek semakin heran saja. Apalagi bang Zamy, matanya hanya mondar mandir menatapku dan kakek bergantian. Kakek seketika memencet bel di meja depannya. Datang lagi pelayan wanita yang menanyakan tante Miranti.


"Ada apa pak?" Dia menunduk bertanya.


"Apa mbak Jum yang membawa Dirga ke rumah ini?" Kakek menatap mbak Jum penuh selidik.


"Tidak pak. Jum tidak tahu kalau Dirga ke sini."


"Lantas bagaimana dia bisa datang kemari dan mengetahui berita meninggalnya Erlinda. Di rumah ini hanya kau yang tahu keberadaannya." Kakek menaikkan intonasi suaranya.


"Bener pak, bener saya tidak tahu sama sekali." Mbak Jum nampak ketakutan. Kakek yang nampak begitu sabar dan penuh wibawa sejenak menahan emosi. Dia menarik nafas dalam dan perlahan menghembuskannya.


"Baik pak." Mbak Jum pergi. Lima menit kemudian, seorang anak muda, berusia jauh dibawahku datang dengan sebuah Samsung Galaxy Fold. Dia memberikannya kepada kakek. Kakek serius memperhatikan, dia sejenak mengabaikan kehadiran kami. Aku dan bang Zamy berpandangan bingung.


"Coba zoom yang ini ni...." Kakek bicara kepada Wisnu.


"Yang di depan pintu ya kek."


"Bukan yang pas turun dari mobil." Wisnu mengklik bagian kamera yang mengarah ke sebuah mobil Avanza hitam di dekat gerbang masuk.


"Ooowwwhhh, dia turun bersama pak Victor, dan berpisah, masuk sendiri-sendiri seolah tidak saling kenal. Notaris satu itu rupanya memanfaatkan kesempatan. Pindahkan filenya ke tiga tempat." Kakek memerintah Wisnu yang langsung pergi membawa media elektronik canggih itu.


"Maaf nak. Iya benar itu Dirga. Dua puluh lima tahun dia di panti asuhan, dan 10 tahun sudah dia menjadi pengelola di sana."


"Maaf kek, berarti waktu menikah dengan papa, apakah papa tahu status mama sebenarnya?" Aku memberanikan diri bertanya. Kakek menggeleng lemah.


"Bahkan hingga saat ini Ram tak pernah tahu, kalau Erlinda punya anak laki-laki sebelum menikah." Kakek menjelaskan. Aku hanya ternganga tak percaya. Jadi hubungan papa dan mama dulu diawali dengan kebohongan yang fatal. Makanya keluarga mereka tidak berjalan harmonis.


"Setelah melahirkan, dia melanjutkan kuliah, dan waktu magang di rumah sakit bertemulah mereka. Berkaca dari masa lalunya yang ingin mengakhiri hidup, kami menuruti kemauannya, termasuk menyingkirkan Miranti demi membahagiakan buah hati kami satu-satunya." Kakek bercerita lagi, dan mendengarnya ada banyak tanya yang begejolak di kepalaku. Begitu rumitkah sebenarnya perjalanan hidup mamaku yang nampak dari luar begitu mewah dan begitu istimewah. Sejenak kami terdiam, masing-masing sibuk dengan pemikiran sendiri. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.

__ADS_1


"Permisi pak Ezo, pak Victor sudah datang." Suara laki-laki bicara dari luar pintu.


"Silahkan masuk...." Kakek mempersilahkan. Seorang laki-laki seusia papa berpakaian rapi segera masuk.


"Kek kami pamit..."


"Jangan nak, jangan pergi, duduklah dulu. Ini menyangkut Naura sendiri." Kakek menahan tanganku. Kemudian aku dan bang Zamy duduk kembali.


"Selamat siang pak Ezo, selamat siang bapak dan ibu. Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya mendiang." Kakek mengangguk, aku dan bang Zamy pun begitu.


"Naura ini pak Victor, rekan kerja kakek sejak dia baru tamat kuliah. Dan pak Victor ini dia Naura, anak almarhumah yang telah mempercayakan warisannya kepada bapak." Kami saling mengangguk, pak Victor membuka maskernya. Dia kemudian mengeluarkan dokumen dari tas kerja hitam di meja depannya. Ini adalah hari raya Idul Fitri Tahun 2020 Masehi, tanah merah kuburan mama masih basah, dan di sini, di sebuah rumah mewah bagaikan istana, kami harus terjebak dalam hal pembagian warisan. Serasa jiwa kemanusiaanku dihinakan oleh dunia.


"Maaf kek, maaf pak Victor, kami ada urusan ke rumah sakit mendadak. Bisakah kita membahas masalah warisan bukan hari ini." Aku keberatan.


"Duduklah dulu nak, sebentar saja, hanya berkas pengalihan kuasa atas kepemilikan harta. Tidak lama kok." Pak Victor bicara kepadaku sambil terus menyusun dan memilah-milah tumpukan berkas di tangannya. Bang Zamy juga nampak tidak betah.


"Maaf kek memotong pembicaraan, bolehkah jika ada warisan atas nama Naura, itu dikembalikan saja ke atas nama kakek. Kami menolak menerimanya." Bang Zamy bicara. Kakek dan pak Victor terheran-heran dibuatnya.


"Apa yang kalian risaukan nak. Ini hak kalian. Kakek telah mengembalikan sebagian kepemilikan atas nama Erlinda ke Ram lagi. Dan yang layak atas nama Erlinda, kakek akan serahkan ke kalian." Kakek berdiri mendekatiku.


"Bukankah atas nama Erlinda dibagi dua pak Ezo?" Pak Victor bicara menyela.


"Tidak! Bagi dua dengan siapa?"


"Bukanya bu Erlinda memiliki anak laki-laki?"


"Dia tidak berada dalam pernikahan yang sah."


"Tetapi dia tetap darah dagingnya."


"Tidak! Kau buat saja semua atas nama Naura."


"Bagaimana dengan surat wasiat bu Erlinda? Bukannya semua hartanya untuk panti asuhan?"


"Ah! Itu hanya karena sifatnya saja. Betapa lucunya wasiat tertulis seperti itu. Itu wasiat bagian bawah anggaplah tidak pernah tertulis." Kakek bicara tegas. Aku dan bang Zamy merasa sangat tidak nyaman. Pak Victor menghentikan aktivitasnya dengan lembaran kertas. Tangannya terjalin di atas paha.


"Pak Ezo, jangan sampai kita terkena masalah hanya karena menyelesaikan warisan mendiang."


"Masalah apa?"


"Kita harus ingat Dirga itu siapa pak."


"Siapa dia? Dia hanya anak yang terlanjur terlahir ke dunia. Dia tidak diinginkan." Kakek emosi. Pak Victor kelihatan kurang suka mendengarnya.

__ADS_1


"Tetapi dia tidak meminta untuk dilahirkan pak tua....!" Tiba-tiba dari balik pintu, terdengar satu suara mengagetkan kami. Pintu terbuka, Dirga berdiri dengan sepucuk pistol di tangan kanannya. Moncongnya mengarah ke aku dan kakek berganti-ganti.


*****


__ADS_2