Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 67 Penculikan Kedua


__ADS_3

Sehabis sholat Luhur, mbak Nindya pergi ke kebun dengan motornya yang sudah diperbaiki, dia sendirian saja karena bukan untuk memetik aneka hasil kebun yang sudah dipetiknya kemarin bersama papa. Namun kali ini kedatangannya ke kebun hanya untuk menebar benih cabe keriting dan rawit yang sudah sampai sejengkal dengan daun sekitar delapan lembar per batang.


Sambil bersenandung kecil mbak Nindya menugal (melubang dengan kayu lurus segepalan tangan yang diruncing bagian bawahnya), kemudian menancapkan potongan dahan berdaun rimbun di dekatnya, baru setelah semua selesai dia menanami dengan bibit lubang per lubang. Butuh waktu yang lama baginya agar bisa menebar banyak benih siap tanam.


Angin darat berhembus menerpa wajah polosnya yang sedikitpun tanpa riasan. Mbak Nindya masih asyik dengan aktivitasnya, berkali-kali dia membenarkan tudung dari anyaman rotan yang seperti akan melayang karena diterpa derasnya angin. Sesekali pula dia berdiri dan menggerak-gerakkan anggota badan karena pegal terlalu lama duduk dan menunduk. Dia juga terkadang menanam sambil berjongkok. Cericit bunyi aneka jenis burung yang bertengger di beberapa dahan pohon besar sekitar kebunnya menambah asri suasana. Dia masih asyik tanpa merasa sedikitpun ada masalah.


Sekitar lima belas menit bertanam, dia kemudian duduk di batu besar yang ada di dekatnya sambil meminum air putih dan menyantap rebusan pisang kepok/pisang batu yang dia bawa dari rumah. Cuaca siang yang panas terik, namun karena sudah terbiasa dengan suasana seperti itu, dia tidak merasa terbebani lagi. Panas dan hujan, baginya laksana sahabat karib.


Karena terlahir dengan segala kekurangan, dia sudah kenyang makan hinaan dan caci maki orang-orang di sekitar yang tidak menyukainya, hingga dia tumbuh menjadi orang yang gagap teknologi. Bahkan dia tidak mengerti cara menggunakan handphone canggih yang biasa digunakan ibu-ibu muda zaman sekarang. Dia pengguna handphone seratus ribuan yang hanya bisa menelpon dan sms saja. Makanya dia tidak tahu kalau di media-media sosial online saat ini sudah berseliweran berita tentang penangkapan mantan mertuanya yang bersembunyi di balik kebejatan anak kandung kesayangan. Dia tidak tahu, kalau Kepala Dinas sosial gendut dan berkepala botak itu sedang menjadi tajuk utama menghiasi radar berita-berita online lokal. Jika saja dia tahu, mungkin saja dia sudah melakukan sujud syukur.


Angin masih berhembus menerpa wajahnya yang lelah, dia kemudian membawa tas kebun yang dibawanya, sebuah ransel yang kuberikan bekas administrasi workshop di Batam dulu. Mbak Nindya mengeluarkan kunci dari saku celana panjangnya dan membuka rumah berdinding papan yang dulu bertahun-tahun dia tempati bersama ibunya yang masih terkena struk dan seorang putri cantiknya. Di dalam rumah itu masih ada kasur dan beberapa perkakas untuk memasak yang tidak dibawa waktu pindah ke villa rumahku. Dan karena merasa aman, dia tidak mengunci pintu rumah pondok kayunya agar angin sepoi-sepoi bisa leluasa masuk mendinginkannya. Dan mungkin karena sudah terlalu lelah, tidak sampai lima menit berbaring dia kemudian tertidur dengan pulasnya, semakin lelap karena dininabobokkan oleh suara gesekan batang-batang bambu di dekat rumah pondok kayunya. Nafasnya teratur nyenyak tanpa sedikitpun menyadari, bahwa sudah ada dua orang laki-laki yang memperhatikannya sejak dia datang ke kebun. Mereka adalah suruhan pak Bayu yang tidak menyadari bahwa bos mereka yang menginginkan mbak Nindya disingkirkan agar tidak bisa bersaksi di pengadilan esok hari sudah ditangkap dan ditahan di kantor polisi.


*****


Dua orang yang sebelumnya mengenakan topeng, berbadan besar itu mengendap-endap mendekati pondok tempat mbak Nindya tertidur pulas. Wanita itu tidak menyadari ada bahaya besar sedang mengintainya, sedangkan pisau yang selalu berada di sisinya masih berada di tengah kebun tidak dia bawa ke pondok.


“Rif! Dia sedang tertidur, kita tidak membutuhkan bius itu." Laki-laki bertato berbisik ke temannya.


"Baiklah." Temannya menjawab.


"Hemzzz, bagaimana kalau kita 'kerjakan' dulu bergantian.” Kembali laki-laki bertato berbisik dan meminta persetujuan. Dia melemparkan sapu tangan yang tadi dia siapkan berisi obat bius.


“Jangan di sinilah, nanti takutnya ada orang yang datang tiba-tiba. Kita bawa saja sesuai arahan pak Bayu ke pondok kosong di sana tadi.” Temannya menyarankan yang langsung disambut anggukan kepala tanda setuju oleh laki-laki bertato.


“Baiklah.” Jawabnya kemudian. Lalu dengan kode-kode yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua, mereka menggotong tubuh mbak Nindya yang sedang tertidur. Merasakan tubuhnya serasa melayang, seketika mbak Nindy terbangun dan menyadari dia sudah berada di bahu kanan seorang laki-laki bertubuh tegap dan memiliki banyak tato di lengan dan leher.


“Toloooonngggg…, toloooongggg…., toloooongggg….” Mbak Nindya menjerit meminta tolong sambil memukul-mukul belakang laki-laki yang sedang menggotongnya. Kakinya meronta-ronta mencoba menendang agar bisa terlepas. Dia kemudian berteriak lagi, berharap akan ada yang mendengar, namun tidak ada siapa-siapa yang datang. Yang terdengar hanyalah suara desauan angin yang meliuk-liukkan pucuk-pucuk dahan dengan daun-daunnya yang rimbun. Tudung mbak Nindya terlepas, begitu juga dengan sepatu Tayoko hitam yang dia kenakan, perlahan jatuh sebelah demi sebelah. Dia dibawa menyusuri pinggiran sungai di belakang kebun dan peternakan pak Haji Soleh. Dia tahu itu adalah lahan kosong yang dulunya ditanami lada oleh pemiliknya. Dia masih mencoba meminta pertolongan, namun kedua laki-laki besar tinggi yang membawanya malah menertawakan.


“Silahkan lebih kuat lagi teriakannya…, tidak akan ada yang mendengarmu. Semua pegawai peternakan pak haji sedang pulang jam segini." Mereka terbahak menyusul ucapan salah satu dari mereka.


“Siapa kalian? Untuk apa menculikku?” Mbak Nindya bertanya disela isak tangis.


“Diamlah jangan terlalu berisik. Kita akan berbahagia sejenak sebelum kaki, tangan dan mulutmu disumbal dengan kain.” Salah satu bicara sambil memain-mainkan rambut mbak Nindya yang mulai terurai-urai berantakan. Dia masih mencoba meronta-ronta untuk dilepaskan. Namun kuatnya cengkeraman laki-laki bertato itu tidak mampu dia lawan. Fisiknya yang lemah, akhirnya hanya bisa terkulai dengan air mata berjatuhan.


“Mengapa kalian melakukan ini. Berhentilaaahhh..., tolong berhentilah….” Mbak Nindya memelas dan menghiba untuk bisa dilepaskan.


“Kau akan dilepaskan jika Irwan sudah dibebaskan.” Laki-laki bertato itu menjawab.


“Apa hubungannya denganku?”


“Pengacara ayahmu pasti akan membawamu untuk bersaksi di sidang mantan suamimu itu. Dan itu akan memberatkan hukumannya."


“Tidak! Aku berjanji tidak akan bersaksi, tolonglah lepaskan aku.” Mbak Nindya yang semakin lemah, terisak meminta tolong.


“Kami akan dihabisi bos kalau melepaskanmu. Pekerjaan kami akan ditutupnya. Kami tidak mau itu terjadi….” Salah satu dari mereka menjawab lagi sambil tersenyum nakal.


Sekitar dua puluh menit berjalan kaki, sekitar sejauh satu setengah kilo lebih dari peternakan pak Haji Soleh dan kebunnya, dia kemudian diturunkan oleh laki-laki bertato ke dalam sebuah gubuk. Kilas penculikannya yang pertama kembali terbayang. Mbak Nindya berdiri mencoba berlari, namun hanya dengan satu tangan, laki-laki bertato itu kemudian menarik kembali mbak Nindy menuju pondok kebun yang buruk itu.


“Jangan coba-coba mau kabur lagi. Nanti kau tau akibatnya. Aku tidak segan-segan untuk membunuhmu.” Laki-laki itu melepaskan mbak Nindya dengan kasar sambil menoleh ke arah temannya yang mengerti arti tatapan itu. Laki-laki yang lebih kecil badannya itu kemudian menjauh sekitar dua puluh meter dari pondok dengan memainkan handphone di tangannya.


“Ayolah sayang, kita bersenang-senang sejenak, kau seorang janda yang pasti sangat kesepian.” Laki-laki bertato itu mulai melepaskan kancing baju kemeja putih kotak-kotak kehijauan, melepaskan baju dan melemparkannya ke muka mbak Nindya. Pria bertato, berkumis dan berjenggot dengan wajah hitam legam itu kemudian membuka singlet hitamnya. Nampak tubuh dengan perut buncit dan tato di sekujur tubuh bagian belakangnya.

__ADS_1


“Toloooonnnggg…., tolooongggg…, toloooongggg….” Mbak Nindya kemudian berteriak lagi sekuat tenaga. Namun derasnya angin tidak mampu membawa suaranya kepada orang lain. Selain sepasang mata yang dari tadi mengikuti mereka dengan senampan burung di bahu kiri. Dia mengendap-endap kembali mengintai setelah selesai menelpon kakeknya agar memberi informasi ke polisi. Dari tadi dia berusaha bersembunyi, karena jika harus melawan dua orang laki-laki itu bersamaan, sama saja dia menghantarkan nyawanya sendiri, hanya akan menambah banyak korban saja.


““Toloooonnnggg…., tolooongggg…, toloooongggg…., Siapa saja tolonglah aku….” Mbak Nindya kembali menjerit sementara laki-laki bertato sudah melepaskan celana jeansn biru gelap yang dia kenakan. Nampak dari balik boxer yang dia kenakan, alat kelaminnya sudah menonjol.


“Teruslah berteriak sayang…, aku akan menolongmu, aku akan memberikan kenangan manis sebelum kau ditemukan mati kedinginan sendiri di sini.” Laki-laki bertato itu mulai merebahkan badannya dengan menekan kedua tangan mbak Nindya. Dia mencoba mencium wajahnya namun mbak Nindya menggeleng-gelengkan kepala sekuat tenaga agar tidak kena ciuman laki-laki najis itu.


“Tolonglah pak, jika mau uang, aku berjanji akan memberimu uang, tolonglah bebaskan akuuu...," Dengan sisa tenaga mbak Nindya bicara dengN berlinangan air mata.


“Hahaha…, sekarang aku tidak butuh uang sayaaang, aku hanya membutuhkan badanmu yang putih semampai. Ayolah jangan berisik. Kita nikmati bersama.” Laki-laki bertato itu menimpa tubuh mbak Nindy dan mencoba langsung memasukkan ‘pusat kebejatan’ hidupnya itu. Dia tidak menyadari, laki-laki yang mengendap-endap tadi sudah berada di belakangnya dengan sapu tangan yang tadi dia lepaskan.


“Tolong aku mas….” Mbak Nindya menatap laki-laki yang memberikan kode jari telunjuk di bibirnya. Karena curiga laki-laki bertato berbadan tegap tadi menoleh ke atas dan baru saja dia mau bangun melawan, laki-laki yang mengendap-endap mengikuti tadi mengusapkan sapu tangan dengan sisa-sisa obat bius yang masih bereaksi. Laki-laki bertato seketika terjatuh. Buk! Dia menghantam tanah keras di gubuk itu.


“Jay! Kau tidak apa-apa….?” Temannya menoleh ke arah gubuk yang tertutupi dindingnya dari arah penculik satunya lagi.


“Aaaahhh…, aaahhh…, aaahhhh….” Laki-laki bersenampan menirukan suara seorang laki-laki yang sedang menikmati puncak kesenangannya. Sambil mendesah seolah penuh kenikmatan, dia memberikan kode agar mbak Nindya segera pergi menjauh menyusuri jalan yang tadi dilewatinya.


“Bagaimana denganmu? Masih ada satu orang penjahat lagi.” Mbak Nindya menunjuk ke arah temannya yang mulai berdiri tersenyum.


“Brooo…, mantap banget suaranya, sudah selesai? Kini giliranku….” Laki-laki itu berjalan mendekat ke gubuk. Namun dia tidak menemukan temannya lagi di tempat semula, di pelataran gubuk beralaskan rumput hijau.”


“Brooo…, nantilah nambah ronde, punyaku sudah mau muntah ni….” Laki-laki itu perlahan membuka jaket hitamnya. Dia mengira sahabatnya kembali menikmati tubuh yang mereka culik tadi di dalam gubuk. Sambil melepaskan baju kaos putih yang dia kenakan kepalanya melongok ke dalam gubuk dan mendapati sahabatnya sudah terlentang pingsan.


“Jay! Kenapa kamu bro….? Kemana gadis itu?” Arif keluar gubuk akan mencari mbak Nindya dan orang yang membantunya. Namun baru saja dia melongokkan kepala keluar, sebuah bambu bulat selengan bayi yang keras, memukul pundaknya. Dia terjatuh dan mendongak dengan kepala berkunang-kunang. Belum sempat dia melihat wajah pemukulnya, tiba-tiba saja sapu tangan itu kembali diusapkan laki-laki bersenampan. Arif seketika ikut pusing dan tidak mampu bangun lagi. Kemudian laki-laki bersenampan itu mengikatkan potongan baju yang tadi dia kenakan, dan sudah dia sobek-sobek sebelumnya. Dia sekarang hanya berjaket tanpa baju lainnya. Arif dan Jay diikatnya dengan potongan kaos yang kuat. Pergelangan tangan dan pergelangan kaki keduanya sudah terikat dengan erat dan kalaupun keduanya bangun, mereka tidak akan bisa bangun dengan sempurna. Sedangkan pisau lipat yang ada di badan keduanya sudah diambil oleh laki-laki bersenampan. Dari kejauhan, perlahan, samar-samar dan semakin jelas sudah terdengar suara mobil polisi masuk ke arah kebun mbak Nindya. Laki-laki itu menunjukkan dimana keduanya terikat.


“Terima kasih pak Dirga. Mereka ini buronan atas penjualan beras oplosan yang di gudang belakang Ramayana.” Seorang polisi berpakaian sipil menepuk-nepuk pundak laki-laki bersenampan itu. Penculik itu dibawa dengan mobil polisi beserta motor yang mereka sembunyikan di samping kebun pak Haji Soleh. Setelah semuanya pergi, mbak Nindya mendekati Dirga.


“Terima kasih pak. Terima kasih banyak.” Mbak Nindya menangis dan tanpa sadar memeluk Dirga yang kebingungan melihat mbak Nindy sesenggukan dan terus menangis.


“Terima kasih banya pak, aku berhutang budi kepadamu.” Mbak Nindya seketika melepaskan pelukannya dari badan kekar tinggi Dirga. Dia mundur beberapa langkah.


“Maaf pak." Dia menunduk, merasa bersalah dan masih dengan sesenggukan.


“Tidak apa-apa. Siapa namamu?” Dirga bertanya sopan.


“Nindya pak.” Mbak Nindy menunduk lagi.


“Panggil nama saja.”


“Iya. Namamu siapa pak?”


“Dirga! Namaku Dirga, kebetulan saja tadi aku berburu burung liar di sini.” Dirga menunjuk ke arah pepohonan besar sekitar kebun mbak Nindya.


“Terima kasih pak.”


“Dirga.”


“Terima kasih Dirga.”


Mbak Nindya kembali berterima kasih.


“Mau kuantarkan pulang Nin?” Dirga mencoba akrab. Dia sedikit memicing-micingkan mata menatap wajah mbak Nindya yang serasa dikenalnya.

__ADS_1


"Tidak perlu pak." Mbak Nindy menjawab.


“Serasa saya pernah melihat kamu ya Nin…,” Dia kemudian mengeluarkan isi kepala yang berkecamuk seketika dejavu.


“Mungkin di pasar pak, aku pagi-pagi jualan sayuran di pasar. Ngantar ke beberapa orang pelanggan dan pulang. Lalu jaga butik ayah.” Mbak Nindy memberanikan diri menatap wajah Dirga. Hatinya bergetar. Tetapi cepat-cepat dia menghindari kontak mata.


“Owh, tapi aku belum pernah ke sana. Berarti aku salah orang. Eh tidak tidak tidak, kau mirip sekali dengan saudariku, dokter Naura. Iya kau mirip sekali dengannya.” Dirga meyakinkan dirinya sendiri.


“Kau mengenalnya?”


"'Siapa?"


"Naura."


“Iya. Dia saudariku beda ayah.”


“Dan dia saudariku beda ibu.”


“Hah?”


“Iya.”


“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi…, betapa dunia luas ini hanya nampak selebar daun kelor saja ketika semua dipertemukan.”


“Iya, bagaimana mungkin ini kebetulan.”


“Kenapa kamu sendirian di kebun? Suamimu kemana?”


“Suamiku? Aku janda. Mantan suamiku akan disidang besok pagi.”


“Siapa?"


“Irwan.”


“Owh yang lagi viral itu ya? Dia itu mantan suamimu?”


“Iya.”


“Oalaaa…, dunia ini sempit sekali….”


“Hehehe…,” Mereka mulai menikmati suasana, Nampak mbak Nindya sedikit melupakan trauma penculikan keduanya barusan. Senyumnya mulai mengembang mendengar lelucon yang dilontarkan Dirga. Mereka saling terbuka di pertemuan pertama sambil menikmati rebus pisang yang masih tersisa. Tanpa menyadari, ada sepasang kaki, perlahan mundur tanpa sepengetahuan mereka. Bergerak pergi, membawa hati yang sedikit terluka.


“Katanya kakek Naura, Nindya diculik, tetapi dia ada tertawa-tawa bahagia dengan seorang laki-laki.” Dia pulang dengan hati yang kecewa dan setengah menahan rindu. Tadinya dia berharap bisa menghibur wanita yang telah membuatnya jatuh cinta, namun rupanya dia sudah bersama laki-laki lain bercengkerama penuh kebahagiaan. Dia tidak boleh mengganggu, dia hanya perlu belajar mundur teratur dan mengikhlaskan. Karena yang terlihat, senyum wanita yang pernah diciumnya di balai-balai rumah Naura, jauh lebih sumringah saat dia bersama laki-laki itu.


Iklaskan saja asamu pergi, namun tidak dengan rasa yang tertinggal. Tetaplah mencintai meski rasanya raga tak kan mampu tuk dimiliki....


Dia berlalu dengan wajah tanpa hasrat mencintai lagi.


*****


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2