
Ayah dan ibu telah pulang ke Mentok. Tinggallah aku dan bang Zamy di rumahku. Sebelumnya ayah telah mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk hari Kamis besok tanggal 16 April 2020. Jumat sudah masuk puasa. Ayah dan bang Zamy sudah mendaftarkan pernikahan ke KUA Bukit Intan. Papa sudah fix akan menjadi wali nikahku. Ayah dan ibu hanya pulang ke Mentok selama dua hari, mengurus cuti dan mengambil perlengkapan lainnya. Rabu mereka akan datang lagi ke Pangkalpinang. Tidak banyak persiapannya. Hanya teman-teman dekat saja yang diundang. Itupun begitu susahnya meminta persetujuan izin keramaian dari polsek Taman Sari. Oh ya ada yang lupa kuceritakan. Kemarin kami sempat menjemput mbak Nindya, Annisa dan tante Mira dari rumah di kebunnya. Awalnya mereka menolak. Namun bang Zamy merayu mbak Nindya dengan alasan menemaniku yang masih dalam pengawasan karena ada orang jahat mengirimkan guna-guna.
"Kami kirimkan doa saja semoga kalian berbahagia...." Begitu kata mbak Nindya kemarin.
"Naura mau pernikahan ini dihadiri juga oleh satu-satunya Saudariku." Aku memelas. Mbak Nindya melihat ke arah tante Mira.
"Untuk apa nak kau membawa sampah seperti kami. Nanti hanya membuatmu malu...." Tante Mira menghiba kepadaku.
"Tante..., tidak ada keluarga sampah. Nindya adalah saudari kandungku. Ibunya juga adalah ibuku. Kalau tidak mau tinggal di rumah utama bersamaku. Tante dan Nindya juga Annisa bisa tinggal di villa belakang." Aku menjelaskan. Di belakang ada sebuah bangunan mungil, tepat dibawah rindangnya pepohonan. Berjarak sekitar dua puluh meter dari rumahku ke arah taman belakang. Selama ini villa dipakai yuk Mairoh untuk tempat istirahat siang hari. Sekarang kamar belakangnya dipakai pak Rohim juga tempat istirahat. Sebuah villa sederhana dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu dan dapur. Terasnya luas dengan aneka jenis bunga terawat rapi di depannya.
"Nanti orang tuamu tidak suka Naura." Tante Mira masih ragu-ragu. Dia memandang kami bergantian.
"Kami ke sini tadi atas persetujuan mereka tante...." Bang Zamy yang sedari tadi hanya diam mulai ikut bicara.
"Sekarang kemasi saja pakaian kalian. Tinggalkan saja yang kira-kira tidak begitu dibutuhkan." Bang Zamy kembali mengingatkan. Tante Mira memegang tangan Bang Zamy.
"Mengapa kalian begitu baik kepada kami? Sedangkan keluargaku saja malah menjauhiku sejak mengetahui aku hamil di luar nikah dulu...." Tante Mira kemudian menangis. Dia mencium tangan Bang Zamy yang perlahan-lahan menariknya karena merasa tak layak dicium oleh orang yang lebih tua.
"Tante..., dulu saja sebelum Zamy tahu Nindya kakaknya Naura, Zamy sudah berkali-kali meminta kalian ikut tinggal di rumahku di klinik. Tetapi kalian selalu menolak. Sekarang jelas bahwa Nindya adalah saudari kandung Naura, dan aku selain saudara angkatnya Naura, aku akan menjadi suaminya. Maka sudah menjadi kewajibanku pula atas kehidupan kalian." Bang Zamy berpendapat panjang.
"Kami tidak mungkin nak hanya tidur makan di rumah kalian. Apalagi tante yang seperti ini, nah kalau di kebun, Nindya bisa bercocok tanam dan mendapatkan uang dari hasil berkebun. Lha kalau kami ikut kalian? Bagaimana kami akan bertahan hidup?" Tante Mira bicara penuh pertimbangan.
"Jangan pikirkan uang dan makanan tante, selama kami masih bisa makan, tante sekeluarga tidak akan kami biarkan kelaparan. Nanti mbak Nindya bisa sesekali pergi ke kebun kok." Bang Zamy yang sudah lima tahunan mengenal mereka bicara santai menjelaskan. Aku dan Nindya hanya diam mendengarkan. Annisa duduk di pangkuan ibunya.
"Mak kalau nanti kita ikut om Zamy, apa Nisa bisa sekolah?" Tiba-tiba dengan lugunya Nisa bertanya ke ibunya yang hanya mampu mengangguk dan mengisyaratkan agar dia diam.
"Iya nak, nanti kalau sudah di rumah tante Naura, Nisa bisa sekolah di TK Pertiwi yang tidak jauh dari rumah. Ibumu bisa mengawasi. Nenek juga, om Zamy bisa gampang mengawasi kesehatannya. Gampang membawanya ke rumah sakit biar bisa rutin berobat. Nah kalau di kebun? Om susah ke sana." Bang Zamy mengajak Nisa bicara.
"Nisa sudah tidak sabar mau sekolah. Tappiii...." Gadis kecil yang cantik itu tiba-tiba saja berhenti bicara. Matanya yang sempat berbinar tiba-tiba redup dan kembali tampak kecewa.
"Tetapi kenapa?" Aku bertanya sambil mendekati Annisa.
"Tetapi ibu belum punya uang buat beli tas sekolah. Kata ibu Nisa harus menunggu panen ubi dulu, baru Nisa bisa beli tas baru, bukuuu..., 'penseeel', baju baru, tapi ubinya sampai busuk tidak ada yang beliii...." Annisa berair mata. Kristal berharga itu jatuh di pipinya. Tak sadar aku malah ikut menitikkan air mata.
"Apa benar mbak, ubinya sampai busuk tidak ada yang beli?" Aku bertanya ke mbak Nindya. Dia hanya menunduk tersenyum.
"Itu kata 'tokeh'nya, dia tidak bisa beli ubi sekarang, barang tidak boleh dibawa keluar daerah karena musim virus." Mbak Nindya menjelaskan. Aku melirik bang Zamy.
"Owh. Kalau begitu nanti beli alat-alat sekolahnya sama tante Naura saja." Aku mencoba lebih akrab lagi dengan Annisa.
__ADS_1
"Tapi Nisa tidak punya uang tante...," Gadis itu dengan polosnya bicara.
"Kita bisa minta uang ke om Zamy. Om Zamy punya banyak uang kok." Aku bicara sambil melirik bang Zamy lagi.
"Oh tentu. Uang om Zamy banyak, bisa buat beli tas Nisa dua buah biar ganti-ganti kalau kotor dicuci, sepatu dua, sendal dua.... buku gambar sama pensil warna beli dua lusin. Pokoknya uang om Zamy buaaanyak dah..., dan cukup buat beli keperluan Nisa." Bang Zamy tersenyum menjanjikan. Kulihat mata gadis kecil itu kembali berbinar penuh semangat.
"Sudahlah Nisa, jangan membebani om Zamy terus." Tiba-tiba tante Mira mengingatkan gadis kecil itu. Seketika dia diam. Matanya menatap mata ibunya, namun mbak Nindya tidak bisa bicara apa-apa. Dia hanya tertunduk seakan merenungi nasibnya.
"Aduh tante..., kami sedikitpun tidak terbebani. Zamy malah senang dipertemukan dengan keluarga ini." Bang Zamy tersenyum mengatakan itu semua.
"Hanya doa sebagai balasan kami atas kebaikan hati kalian. Semoga kalian berjodoh sampai mati, diberikan keturunan yang sholih dan sholihah, lancar rejekinya, dan senantiasa sehat...." Tante Mira meneteskan air mata.
"Aamiin tante, doa tante sudah lebih dari cukup bagi kami." Bang Zamy menjawab bijaksana.
"Nanti mbak Nindya belajar bermotor, agar bisa sekali-kali pergi ke kebun. Dan kabar bagusnya lagi. Beberapa hari lalu, saya bertemu dokter Zainal, itu dokter saraf yang menangani tante Mira. Katanya dari hasil Elektromiografi, kelumpuhan tante tidak permanen, jadi besar peluang kelumpuhan tante Mira bisa disembuhkan. Hanya harus lebih sering melakukan terapi okupasi." Bang Zamy menjelaskan. Mata tante Mira dan mbak Nindya seketika berbinar.
"Benarkah? Benarkah nak?" Tante Mira bertanya kegirangan.
"Kata dokter Zainal sih begitu." Bang Zamy menjelaskan.
"Baiklah Zamy, Naura, tante mau ke rumah kalian, tante berharap bisa sembuh agar tante bisa membalas budi baik kalian." Tante Mira tersenyum sumringah. Mbak Nindya pun begitu, seketika mereka berdua berpelukan. Kembali asa itu hadir, meredam segala nestapa. Begitulah, akhirnya mereka ikut bersama kami. Rumah papan di tengah kebunnya digembok. Kulihat tumpukan ubi kayu beracun yang dikatakan Nisa benar-benar menjadi kuning kemerahan. Menumpuk sekitar 5 ton tidak terjual. Sedangkan di tanah masih banyak yang dibiarkan tanpa dipanen.
Sepanjang perjalanan Nisa bersenandung bahagia. Apalagi saat kami mampir di deretan butik sepanjang Jalan Baru, dekat dengan rumahku. Bang Zamy membiarkan dia memilih sendiri tas, sepatu, baju dan lainnya. Wajahnya semakin ceria.
Selesai belanja semua keperluan Nisa, mbak Nindya dan tante Mira, kami pun segera pulang. Aku mempertemukan tante Mira dengan ayah dan ibuku. Tidak ada yang aneh. Ibu dan ayahku orang-orang yang baik dan terpelajar. Mereka punya anak asuh di beberapa panti asuhan. Bahkan ayah punya lima orang anak asuh di Palestina. Ayah rutin mengirimi kebutuhan mereka melalui komunikasi digital dengan bang Onim, seorang relawan Indonesia yang sudah lama menetap bahkan menikah dengan wanita Gaza. Maka sedikitpun tak ada bantahan apalagi larangan atas niat bang Zamy membawa mereka ke rumah. Hanya ibu sebelumnya sempat khawatir dengan guna-guna. Apakah ada kaitannya dengan tante Mira. Namun ketika sudah bertemu langsung dengan mbak Nindya dan tante Mira, kecurigaan ibu seketika sirna.
"Mereka orang baik, hanya mungkin belum beruntung saja." Begitu komentar ibu ketika kutanya. Akhirnya atas restu ibu dan ayah, tante Mira dan keluarga mulai pindah ke villa rumah kami pada senin, 13 April 2020.
***
Kami bersama membersihkan dan merapikan Villa, pak Rohim memindahkan barangnya ke kamar belakang di rumahku. Sebuah kamar tidak seluas kamar lainnya, cukup untuk beristirahat. Fredy ikut datang setelah ditelpon bang Zamy. Cutiku dan bang Zamy telah pula keluar. Saat sedang bersih-bersih villa, tiba-tiba ada suara mobil datang, entah tahu dari siapa, mama kemudian langsung mencari tante Mira.
"Miraaa...." Mama memanggil tante Mira dari teras villa. Tante Mira dan Nindya keluar. Tante Mira santai saja menghadapi mama, sedangkan mbak Nindya dan Annisa nampak sedikit ketakutan. Aku mendekati mama.
"Mira apa tujuanmu datang ke sini hah? Apa kau ingin menghancurkan keluarga anakku?" Mama berteriak-teriak ke arah tante Mira. Tangannya berkacak pinggang dengan wajah marah.
"Sudahlah ma, jangan berprasangka buruk terus kepada orang lain. Cobalah bersikap dewasa." Aku dengan pelan berusaha menenangkan mama. Tetapi mama hanya melengos. Bahkan menatapku dengan sinis.
"Apa maksudmu dengan tinggal di rumah Naura hah?" Mama masih meluapkan emosinya. Dia sudah berada persis di hadapan tante Mira yang duduk di kursi roda.
__ADS_1
"Hai Erlinda, kau lihatlah keadaanku sekarang. Dengan keadaanku yang dulu saja aku tidak mampu berbuat apa-apa kepadamu dan keluargamu. Apalagi dengan kondisiku yang seperti ini...." Tante Erlinda bicara pasrah.
"Halllaahhh..., 'ekting'mu sok suci, sok lugu, menjual derita kepada anakku agar mereka belas kasihan...." Mama masih belum puas menghina. Hatiku mulai tak nyaman. Mengapa susah sekali menghadapi wanita yang sudah melahirkanku ini. Tidakkah dia menyaring dulu kata-kata yang harus dikeluarkan dari pemikirannya.
"Ma, maaf ma, mereka ke sini bukan meminta, tetapi kami yang mengajaknya." Aku mencoba menjelaskan lagi. Mama hanya melenguh tidak suka. Fredy dan pak Rohim seakan tidak menyaksikan kejadian. Mereka asyik saja memindah dan merapikan barang-barang.
"Kalian hey, berhenti menyiapkan tempat tinggal mereka. Kembalikan saja mereka ke kebun, agar semua menjadi aman." Mama mendekati Fredy dan pak Rohim yang sedang bekerja. Aku menggeleng. Jika saja dia bukan pemilik rahim tempatku pernah bersemayam, aku pasti sudah mengusirnya. Fredy dan pak Rohim juga yuk Mairoh berhenti bekerja. Mereka berdiri mematung. Bang Zamy datang dari arah rumahku menuju villa. Mama mengalihkan pandang.
"Hey nak, apa-apaan sih kamu, membawa mereka tinggal di sini. Mereka akan menghancurkan kehidupan kalian." Mama lagi-lagi memancing emosi kami. Bang Zamy tidak menanggapi omongan mama.
"Mbak Nindy, bawa tante Mira ke belakang." Aku bicara ke mbak Nindya yang masih kebingungan. Dia menurut mendorong kursi roda tante Mira menuju ke arah belakang. Fredy membantunya.
"Mira! Pergi segera kau dari rumah anakku. Atau aku akan membuat perhitungan lagi. Bukan hanya menabrakmu, tetapi aku akan membunuhmu." Mama bicara lagi. Mendengar hal itu, tante Mira seketika memutar kursi rodanya. Berbali lagi menatap ke arah mama.
"Terima kasih Erlinda, ternyata kau masih labil hingga sekarang. Aku menunggu puluhan tahun pengakuanmu telah menabrakku dulu, namun dengan kekuasaan ayahmu, semua kisah nyata menjadi tenggelam. Berganti opini bahwa aku sengaja ingin mati, menabrakkan diri ke mobilmu. Aku tetap salah. Masyarakat bahkan keluargaku menjadi membenciku. Padahal dulu, kau dengan sengaja ingin membuatku cacat." Tante Mira tersenyum sinis. Aku dan bang Zamy terperanjat, betapa mengagetkannya mendengat kejadian tempo dulu. Tante Mira bahkan berbohong dia lumpuh karena tidak beranjak dari duduk selama berbulan-bulan. Rupanya mamakulah yang telah menabraknya dengan sengaja.
"Aku bahkan menyesal mengapa tidak membunuhmu waktu itu." Mama benar-benar keterlaluan melanjutkan bicaranya.
"Jika aku tahu kalau saat itu kau hamil, mungkin kau sudah menjadi tanah saat ini." Mama kembali berkacak pinggang.
"Ma, apa-apaan semua ini? Kenapa mama tidak berhenti membuat kegaduhan? Pulanglah ma, pergilah dulu dari rumah ini." Aku berada pada batas kekesalan. Dengan tega aku mengusirnya.
"Kau mengusirku? Aneh! Begini jadinya kalau kau sudah termakan omongan jahat wanita itu." Mama dengan sombong menunjuk ke wajah tante Mira.
"Tidak ada sepatah katapun aku mendengar omongan tante Mira sebagai hasut dan fitnah kepada orang lain ma. Harusnya mama sudah sadar selama ini." Aku menjelaskan.
"Kau tidak tahu rencana jahatnya Naura....!" Ibu membalasku.
"Kemasi barangmu Mira dan kembalilah ke habitatmu." Mama menghina lagi.
"Dan Erlindaaa..., kau juga harus mengemasi barangmu. Kembalilah ke rumah orang tua yang selalu kau banggakan itu." Tiba-tiba suara berat seorang laki-laki di belakang kami terdengar. Sontak kami semua menoleh. Papa. Matanya memerah menahan emosi.
"Beruntung aku ditelpon seseorang tadi, sehingga menjadi tahu apa yang sebenarnya terjadi puluhan tahun lalu. Miranti tidak benar-benar ingin bunuh diri, melainkan kau yang menabraknya." Papa gemetar berbicara kepada mama. Mama terkejut, dia perlahan beringsut pergi menjauh, lalu dengan seorang sopir yang menunggu di mobil dia langsung meninggalkan rumahku. Papa kemudian menemui tante Mira dan bersujud di lututnya.
"Maafkan aku Mirantiii...." Tante Mira mendorong roda kursinya meninggalkan papa yang masih terisak. Kemudian dia bangkit dan berpamit lalu ikut meningalkan kami yang masih saja terbengong-bengong. Tanpa disadari satu persatu kejadian masa lalu bertemu faktanya. Menghadirkan ragam rasa yang terkadang tanpa kendali lagi. Bang Zamy menggandengku menemui tante Mira.
"Maafkan kami tante, kami tidak bermasud membuat tante bermasalah di sini. Istirahatlah dan tetaplah tinggal bersama kami." Bang Zamy menjelaskan, kemudian mengajakku kembali ke rumah. Sementara yang lainnya melanjutkan pekerjaannya.
"Abang heran dengan sikap dan sifat mama kandungmu." Bang Zamy bicara setelah kami masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Jangankan abang, Naura juga sama. Belum mengerti apa sebenarnya yang mama inginkan. Dan bagaimana sifat aslinya yang sebenarnya. Namun mendengar penuturannya barusan, malah semakin menguatkan keinginanku agar tante Mira tetap tinggal di sini. Hitung-hitung anggaplah Naura membayar semua derita dan kesakitan yang diperbuat mama kandungku." Aku berpendapat.
"Kau sudah dewasa sekali Bee. Lakukanlah apa yang menurutmu baik." Bang Zamy mendukungku. Aku hanya mengangguk meyakinkan. Pagi telah pula pergi, memberi kisah baru lagi di alam yang dipenuhi hingar bingarnya manusia dengan masing-masing lakunya.