
Hampir jam setengah lima sore, bang Zamy belum juga nongol di klinik. Sementara aku sudah datang dari tadi membawa kendaraan sendiri dan bahkan sudah menangani beberapa orang pasien anak. Pasiennya pun sudah semakin banyak sejak New Normal dan beberapa masalah yang disebabkan orang lain. Sejak Normal Baru diterapkan, kebanyakan pasien menunggu di klinik langsung, maka halaman kembali dipenuhi dengan para pasien.
Setiap selesai memeriksa pasien, aku mencoba menghubungi bang Zamy kembali, namun handphonenya tidak aktif terus. Dia mulai tidak aktif setelah dia menelpon mengabarkan bahwa aku tidak akan menjadi seorang janda, entahlah apa maksudnya. Namun karena tidak biasanya dia pulang terlambat tanpa memberitahuku, maka hati kecilku mulai tak nyaman, riak-riak resah dan gelisah singgah sudah di sanubari. Aku mengkhawatirkan laki-laki yang kumarahkan sejenak hanya karena dicubit, dipegang dan ditinju-tinju bagian tubuhnya oleh sahabat lamanya, Ayu yang aneh.
Pasien selanjutnya masuk bersama Santi, aku melepaskan gadgetku dan kembali berkonsentrasi kepada keluhan dan penangan pasien.
“Maaf dok, banyak pasien yang menanyakan Dokter Zamy. Masih lamakah?” Santi mendekatiku sejenak. Namun aku hanya menggeleng dan mengangkat bahu, kutarik nafas dalam dan berat.
“Nomornya tidak aktif sejak tadi San.” Aku menjawab pelan.
“Oke, makasih Dok.” Santi berlalu ke luar dan menutup pintu, aku tersenyum ramah kembali ke pasienku.
*****
Hampir jam lima sore, kucoba terus menelpon, namun tetap tidak aktif nomor suamiku itu. Aku mencoba menelpon nomor Ilham sahabatnya, namun tidak tersambung juga. Hatiku semakiin khawatir, apa gerangan yang terjadi, tidak biasanya dia tidak berkabar, bahkan jika tidak benar-benar sedang sibuk, dia sedia memberikan sebuah emoticon cinta per menit sekali untukku. Tapi kali ini? Mengapa dia bersikap seperti itu? Aku berkali-kali menghela nafas dan berdoa dalam hati. Semoga tidak ada hal buruk menimpa suamiku yang kusayangi secara utuh.
“Dok, yang datang dokter Husni, barusan dia sudah masuk ruang praktik Dokter Zamy….,” Santi berbisik kepadaku. Aku tidak terlalu kaget mendengarnya, bahkan kabar itu menjadikanku bisa menghela nafas lebih lega. Meski aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadanya, minimal aku bisa membaca ada komunikasi yang terjalin antara Bang Zamy dan Dokter Husni. Berarti dia sedang berhalangan saja belum datang dan meminta pertolongan Dokter Husni untuk mulai praktiknya. Ingin rasanya segera menemui sahabat baik suamiku itu, namun karena pasien hari ini sudah lebih tiga puluh yang mendaftar, aku mengurungkan niatku. Hanya tidak terlupakan mesti sekali saja, setiap selesai menangani satu orang pasien aku selalu kembali mencoba menghubungi kekasih hati. Namun hingga hampir Magrib tiba, belum juga ada tanda-tanda keaktifan bang Zamy. Lagi-lagi aku hanya mencoba bersabar dan selalu berpikir positif. Walaupun tidak bisa dipungkiri meski mencoba bersabar dan berpikir dia baik-baik saja, nun di dalam hatiku yang terdalam perasaan was-was tak kunjung hilang juga.
*****
Sayup-sayup terdengar suara adzan di masjid dekat klinik, biasanya kami istirahat selama tiga puluh menit hingga satu jam lamanya, untuk sholat dan makan malam. Para pasien akan menunggu di ruang tunggu atau mushola kecil di lorong samping, sekitar sepuluh meter berjalan dari toilet umum pasien wanita. Setelah menyelesaikan pemeriksaan ke salah satu pasien dengan pembengkakan kantong mata karena kelamaan main handphone, aku segera keluar untuk menemui Dokter Husni, namun terlambat, dia sudah bergegas bermotor ke masjid bersama seorang perawat yang bekerja dengan bang Zamy. Aku kemudian ke belakang klinik, menuju rumah yang selalu dirawat bersih dan rapi oleh mang Ridwan. Aku sholat di sebuah kamar yang biasanya kami gunakan untuk istirahat, entah bersama bang Zamy, ibu, ayah, Santi atau Mak Yang, kami biasanya antri sholatnya di rumah ini.
Aku segera berwudhu dan khusu’ menjalankan sholat Magrib, dalam doa aku benar-benar mengharapkan kesehatan dan keselamatan ayah dari bayi yang bergerak-gerak dalam perut buncitku. Kutumpahkan segala keluh dan kesah yang menyesakkan dada. Aku bersimpuh demi keselamatan kekasih tercinta. Aku benar-benar merasa ‘dekat’ kepada Sang Maha Pengabul Doa. Hingga hampir kuhabiskan sepuluh menitku di ruangan itu dalam balutan mukena putih.
“Ada masalah Dok?” Mak Yang menepuk pundakku yang bergetar karena tangisan dalam doaku. Aku menoleh.
“Tidak ada Mak Yang, tetapi handphone Bang Zamy sudah beberapa jam tidak aktif, aku sedikit mengkhawatirkan hal itu.” Aku mencium dan memeluk Mak Yang yang ikut sholat bersamaku.
“Mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mungkin pak Dokter lupa bawa charger dan handphonenya kehabisan baterai.” Mak Yang mengajakku selalu berpikiran baik. Aku mengangguk tersenyum. Lalu setelah sejenak merapikan jilbab dan mengoleskan bedak dan lipstick tipis, kami segera naik kembali ke arah klinik.
Setibanya di depan ruang praktik bang Zamy, aku ingin segera menemui Dokter Husni untuk sekedar bertanya apa gerangan hingga Bang Zamy tidak sempat praktik. Namun di depan pintu aku mendengar dia biacara kepada pasiennya.
“Berbaring di sini ya bu….” Tiba-tiba ada rasa sungkan untuk mengganggunya. Aku memilih untuk segera masuk ke ruang praktikku saja, kembali mengenakan jas dan mulai dengan antrian lagi. Pasienku masih ada sekitar lima belas orang lagi. Aku harus berkonsentrasi agar pulang tidak terlalu larut. Sejenak melupakan kegelisahan yang ada, aku kemudian disibukkan dengan pemeriksaan lagi.
*****
Jam sebelas malam, semua pasienku sudah selesai dan pulang. Mak Yang dan Santi sudah pula berpamitan pulang lebih dulu. Aku memberikan mereka sangu dua ratus ribu per orang. Lalu dengan sedikit terburu-buru aku membereskan meja kerja, memasukkan handphone dan ingin segera menemui Dokter Husni.
“Her, apa Dokternya masih ada?” Aku bertanya kepada Heri, perawat rekanan kerja bang Zamy. Dia yang sudah siap dengan motor yang menyala, mengangguk tersenyum dan berlalu. Tidak ada jawaban pasti. Mungkin dia gagal menangkap suara dari mulutku karena telinganya sudah tertutup helm.
“Dokter Jef, Apa Dokter Husni masih di dalam?” Aku menunjuk ke arah ruang praktik Bang Zamy.
“Barusan pergi Dok.” Dokter Jefry menunjuk dengan bibirnya sambil menurunkan pintu rolling door kliniknya. Aku kembali hanya menghela nafas dalam. Mengapa aku merasa hari ini sungguh berat. Setelah tadi berkali-kali mencoba menyabarkan diri sendiri. Aku akhirnya lemah juga. Setelah kembali mencoba menelpon Bang Zamy dan tidak aktif juga, air mataku menetes di pipi. Ingin aku menjerit memanggilnya untuk segera pulang. Lalu dengan langkah gontai aku perlahan menuruni dua anak tangga kecil dari teras ke halaman klinik.
“Hati-hati sayaaanggg…,” Aku mendengar suara yang sangat kukenal. Dadaku terasa berdebar. Aku segera menoleh. Nampak berdiri seorang laki-laki tampan yang selalu dalam pikiran itu, dia tersenyum di pintu ruang praktiknya, perlahan berjalan mendekatiku dan mengulurkan tangan, membimbingku naik kembali ke teras. Aku mengikutinya masuk ke ruang praktik.
Sesampainya di sana, aku menggebukkan tas yang kupegang ke bahu kanannya yang kokoh. Aku tak tahan lagi, terduduk di kursi pasien, dan tangisku pun pecah sudah. Aku berdiri mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja. Kutekan, namun terasa kasar sekali.
__ADS_1
“Kenapa menangis sayangku?” Bang Zamy menunduk memegang kedua bahuku dari samping.
“Kamu bertanya kenapa menangis? Kamu kenapa si bang? Kok tidak aktif nomornya dari tadi..., adek jadi sangat khawatir....” Aku terisak melepaskan sesak di dada yang ditahan dari tadi.
“Maaf sayang..., HP abang tadi jatuh dan LCDnya pecah Bee.” Dia mencium kepalaku.
“Kan bisa langsung ganti, beli handphone baru kenapa….?” Aku sedikit marah.
“Abang tadi tidak bisa keluar sayaaang. Sudah jangan nangis lagi ya, kasihan dedeknya nih….” Bang Zamy memelukku erat, Dia mencium kepalaku lalu perlahan duduk berjongkok dan mengelus serta mencium perutku.
"Maafin Papi ya sayang..., lupa kasih kabar." Dia bicara dengan calon bayiku. Lalu kemudian bangkit kembali memelukku.
“Harusnya ada cara mengabarkan, pinjam henpon siapa kek gitu….” Aku masih kesal mengingatnya.
“Lha tadi kan ada Dokter Husni, itu tandanya abang yang suruh beliau menggantikan, artinya abang sehat tetapi lagi sibuk, seperti biasa….” Bang Zamy dengan lembut menjelaskan. Hatiku pun ikut melunak.
“Kenapa tadi? Ada urusan apa? Itu benar-benar membuat adek khawatir tau…."
"Mana sebelumnya nelpon aneh, bilang-bilang adek tidak menjadi janda segala. Kamu aneh hari ini." Aku melanjutkan.
“Hehe itu..., sudah ah jangan nangis lagi, nanti detilnya abang akan jelaskan di rumah. Intinya, hari ini hari keberuntungan abang, punya istri spontan merajuk karena ketemu Ayu.” Bang Zamy tersenyum menatapku.
“Kok bisa?” Heran sekali mendengar alasannya.
“Iya, makanya nanti akan abang jelaskan sedetil-detilnya sayang. Sekarang ayo kita pulang, abang lapar tadi tidak selera makan gara-gara diulah Dokter Jo.” Dia menggeleng-gelengkan kepala berbicara.
“Iya, dia mencoba menyabotase mobil abang dengan memanfaatkan tiga petugas kebersihan senior dengan iming-iming kalau abang celaka dan terbun*h akan dikasih uang dua ratus juta. Gila ka?" Bang Zamy kembali menggeleng-gelengkan kepala.
“Hah?” Aku berdegup tak percaya. Begitu jahatnya Dokter Jo jika ingin menghancurkan kehidupan Bang Zamy.
“Iya. Makanya mendadak ada rapat tertutup para Direksi setelah mendengar laporan dari abang.”
“Astaghfirullah….” Aku mengelus dada mendengarny.
“Terima kasih ya sayang karena sudah merajuk.” Dia iseng mencium pipi kiriku.
“Kok terima kasih? Kalau begitu besok adek merajuk lagi ah.” Aku menebar senyum manjaku untuk laki-laki tampan menggoda ini.
“Ih jangan dong sayang...." Dia mampir lagi mencium bibirku. Nampak Bang Zamy kemudian berkemas barang-barangnya. Dia meletakkan handphone pecahnya ke tas yang kupukulkan tadi ke bahu kanannya. Dia juga meletakkan tumpukan uang hasil praktik malam ini.
“Ini titip buat ganti LCD hape abang….” Dia bicara.
“Lho memangnya berapa harga kalau ganti LCD?” Aku mengerutkan kening keheranan.
“Hampir enam juta.”
“Mahal juga ya bang?”
__ADS_1
“Lumayan. Tapi itu LCD Ori Pro Max Fullset Touchscreen.” Bang Zamy menjelaskan. Aku tak mengerti secara detilnya, namun yang pasti aku bahkan baru tahu kalau LCD HP bang Zamy yang sama seperti yang kupakai saat ini, untuk mengganti LCDnya saja hampir enam juta. Aku tersenyum tipis. Bang Zamy kemudian menggandengku keluar ruang praktik. Mang Ridwan sudah membereskan kursi-kursi yang agak berserakan bekas para pasien tadi.
“Mana mobil abang?” Aku menatap sekeliling karena tidak nampak mobilnya di sekitar klinik.
“Sudah dibawa Andre ke bengkel resminya. Sekalian servislah, ragu abang mengendarainya. Soalnya sudah disabotase, jangan-jangan ada bagian mobil lain yang tidak mereka katakan yang sudah dikacaukan mereka.” Bang Zamy menjelaskan.
“Owh. Ini.” Aku memberikan kunci mobilku. Bang Zamy menerimanya, sekalian mengambil tas yang kubawa. Aku berjalan mensejajarkan langkah dengannya yang selalu berusaha menggandeng pinggangku yang sudah melebar kemana-mana. Dia membantuku masuk ke mobil dan kembali lagi ke klinik sejenak untuk memberikan Mang Ridwan uang jajan.
“Nih buat beli sate mang.” Dia menyelipkan uang dua ratus ribu rupiah.
“Terima kasih banyak ibu dan bapak Dokter, sehat, panjang umur, murah rejeki, dimudahkan segala urusan. Aamiin." Mang Ridwan kembali berdoa untuk kami.
“Sama-sama mang.” Bang Zamy menjawab dan kembali ke mobil. Tak lama kemudian, kami pun berlalu, menerobos pekatnya malam yang hanya bersinarkan lampu jalanan, sedangkan di langit yang gelap, sesekali nampak kilat diiringi suara guruh menggelegar.
"Asyiiikkk, malam ini mau hujan lebat nampaknya. Enak dong hem-hemnya." Dia mulai menggodaku dengan mengerlingkan mata.
"Males ah."
Kok malas? Mau surga?"
"Mau dong."
"Nah salah satu jalannya itu tu sayang..., jangan menolak abang setiap kali mau hem heman...."
"Alasan saja...."
"Lho ada hadistnya lho Bee..., (Bila seorang suami memanggil istrinya ke ranjang lalu tidak dituruti, hingga sang suami tidur dalam keadaan marah kepadanya niscaya para malaikat melaknati dirinya sampai Shubuh,” (Muttafaq 'Alaih dari hadits abu Hurairah)."
"Halahhh..., hadist andalan itu itu saja. Tidak ada hadist lainnya apa?" Aku menggodanya.
"Ada Bee..., masalah poligami."
"Bukkk!" Aku meninju bahu kirinya.
"Auuu, sakit yaaanggg.... kenapa sih?" Dia menggosok-gosok bagian yang sakit dengan tangan kanannya. Senyumnya seperti meringis.
"Jangan coba-coba mau poligami, meski itu dibolehkan, hati hayaaatiii..., tak kan rela menerimanya...."
"Iya iya iya ih serius amat." Bang Zamy menggelitik pinggang kananku dengan dua jemari kirinya.
"Sudah ah jangan becanda terus kalau lagi menyetir. Bahaya tau...."
"Iya iya iya sayang. Maaf." Tangan itu perlahan mengelus kepalaku kembali. Rasanya nyaman sekali, berbeda jauh dengan perasaanku saat tidak bisa menghubunginya. Bagaikan langit dan bumi.
*****
(bersambung)
__ADS_1