Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 70 Memetik apa yang ditanam


__ADS_3

Dua jam sebelum kedatangan bang Fathur ke rumah mbak Nindya.


*****


Nina menghentikan langkah kakinya untuk menemui kakek di dalam kamar pribadinya yang berada di lantai dua. Dia menjadi ragu setelah mendengar suara kakek sedang berbicara serius dengan seorang wanita. Nina memastikan dengan telinganya, itu bukan suara pelayan kakek.


“Tolonglah lakukan sesuatu untukku Ezo…. Balaslah budiku yang tidak bersuara apa-apa atas tingkah bejadmu dulu.” Suara wanita itu memelas setengah mengancam. Nina memasang telinga lebih fokus lagi. Seakan dia mengenal suara wanita di dalam. Nina mengernyitkan dahinya kebingungan. Siapa gerangan yang sudah berani memanggil kakek dengan sebutan nama saja. Jarang sekali hal itu terjadi, nyaris tidak pernah ada. Karena kakek seorang mantan Gubernur dua periode yang sangat disegani masyarakat.


“Sudah kukatakan, tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan anakmu.” Kakek bicara pelan. Nampak dari nada bicaranya kalau dia sudah jemu ditodong permohonan.


“Kau masih punya banyak koneksi Ezo, buatlah Irwan keluar dari penjara, dan biarkan dia lepas entah ke mana, yang pasti keluar dari Bangka Belitung. Aku tidak ingin dia menikmati masa mudanya di sana." Wanita itu kembali membujuk kakek.


“Bagaimana dengan suamimu?” Kakek terdengar bertanya.


“Biarkan dia membusuk di penjara. Kesalahannya tidak bisa kumaafkan lagi karena telah berselingkuh entah untuk yang keberapa kalinya." Wanita itu menjawab pelan.


“Hahaha…, kau lucu sekali. Dulu kau tidak mau menjadi istri siriku karena sangat mencintainya, sekarang malah akan membiarkan dia membusuk di penjara. Kau menyesal?” Kakek terkekeh geli. Dia memperolok masa lalu mereka sendiri.


“Kejadian denganmu dulu, suatu kesalahan besar Ezo, itu karena aku lengah saja. Kau yang memanfaatkan keadaan. Mentang-mentang sedang menjadi seorang Gubernur, enak saja tusuk sana tusuk sini.” Wanita itu bicara dengan nada sangat kesal.


“Mengapa juga kau mau ikut ditusuk? Bahkan kau menikmati setiap tusukan itu kan?" Kakek bertanya mencemooh.


“Aku juga tidak mengerti.” Tak punya jawaban pasti, wanita itu hanya nampak pasrah.


“Kau gugurkan di rumah sakit mana kehamilanmu dulu Sof?” Kakek bertanya lembut. Sementara dada Nina semakin berdebar bahkan mendidih. Dia tidak menghiraukan lagi bahwa menguping pembicaraan orang adalah suatu kesalahan. Dia merasa sangat mengenal wanita yang ada di dalam kamar bersama kakek. Benar saja, kakek memanggilnya Sof. Artinya wanita di dalam itu adalah mama kandungnya. Sofie.


“Aku tidak menggugurkannya Ezo.” Wanita itu bicara lantang, ada nada kemenangan di nada suaranya.


“Hah? Bagaimana mungkin?” Kakek terdengar sangat kaget. Seketika terdengar sesuatu jatuh dari arahnya. Mungkin gelas kopi telah jatuh ke lantai tanpa sengaja.


“Jika tidak digugurkan, berarti sekarang dia sudah tumbuh dewasa atau bahkan sudah menikah. Mungkin usianya sudah hampir tiga puluh tahunan ya? Laki-laki apa perempuan?” Kakek bertanya panjang. Dia benar-benar penasaran. Bukankah dulu dia sudah meminta wanita yang saat itu menjadi sekretaris pribadinya, supaya dia menggugurkan kandungannya setelah menolak untuk dinikahi secara siri. Sejenak kakek mengingat kejadian hampir tiga puluh tahun lalu, saat ada acara Sosialisasi Kebangsaan di Palembang, Sumatera Selatan. Ditemani ajudan, tiga orang kepala dinas dan 6 orang Bupati serta seorang sekretaris pribadi, dia yang memang senang dengan wanita-wanita muda, cantik dan seksi asyik menikmati malam dingin di kamar hotel di sela waktu luang acara. Menghangatkan diri dan besenang-senang dengan sekretarisnya yang dulu masih seorang gadis muda ceria, pemenang Putri Pariwisata pertama. Mereka menikmati tiga malam indah bersama, hingga sebulan kemudian sekretarisnya mengatakan perihal kehamilannya. Dia mengajak menikah siri, namun gadis itu menolaknya dan memilih mengundurkan diri dari pekerjaan, lalu terdengar menikah beberapa bulan kemudian dengan seorang ASN, Wahyu Aditama yang sekarang sedang mendekam di penjara karena kasus perselingkuhan.


“Dia sudah menjadi gadis cantik yang mandiri. Entah apa yang akan terjadi kepadanya jika dia tahu, kau adalah ayah biologisnya. Sedangkan dia sangat dekat denganmu.” Wanita itu bicara perlahan.


“Dekat denganku? Apakah kecurigaanku selama ini benar bahwa….”


“Iya benar. Nina adalah anak biologismu. Dia salah satu tumpahan air manimu yang kau tebar dimana-mana.” Dengan sinis wanita itu bicara. Namun dia nampak lega setelah mengatakan kalimat yang menjelaskan rahasia yang selama ini disimpannya dari siapapun.


“Ni..., Nina? Jadi benar Nina adalah anakku?” Kakek terbata bertanya.


“Aku tidak pernah berbuat selain denganmu Zo.” Suara wanita itu menjawab.


“Astaghfirullah….” Kakek beristighfar, mungkin menyesali keliarannya di masa lalu.


“Sudah terlambat. Kau harus terima kenyataan.” Tante Sofie optimal mencemooh.


“Ini kesalahanku. Dan aku telah menerima hukumannya. Hari-hariku sepi saat ini. Beruntung ada Dirga yang datang ke sini.” Kakek perlahan merubah kalimat yang menggambarkan kesepiannya.


“Dirga? Dirga siapa?” Wanita itu bertanya spontan.


“Anak hasil kebiadaban sahabatnya almarhumah Erlinda dulu.” Kakek menjawab resah.


“Dia ada di sini?” Tante Sofie semangat menggali informasi.

__ADS_1


“Iya.”


“Dan kau tidak tahu siapa ayahnya?” Tante Sofie bertanya dengan senyum sinis kembali.


“Tidak. Semua sudah terlalu lama. Biarkan saja dia tidak tahu siapa ayahnya.” Kakek menjawab datar.


“Entah apa yang akan dia lakukan jika tahu anak hasil perkosa*nnya dulu kini telah hadir di sekitarnya.” Wanita itu bicara perlahan. Kakek mendengarnya.


“Apa maksudmu?"


“Hai Zo..., aku memegang semua rahasia.”


“Rahasia apa?” Kakek bangkit dari kursi.


Sementara di luar kamar, Dirga datang baru pulang dari kantor notarisnya. Melihat Nina mengendap-endap sambil menutup mulut dengan air mata berlinang dia datang mendekat dan tidak mengeluarkan suara. Nina memberikan kode agar dia mendengarkan pembicaraan kakek di dalam. Dirga menurutinya.


“Rahasia apa lagi Sofie?” Kakek bertanya penasaran.


“Ibumu?” Dirga bertanya berbisik sambil menunjuk ke arah kamar kakek. Nina hanya mengangguk membenarkan.


“Aku tahu pasti siapa sahabat yang sudah memperkos* almarhum putrimu dulu.” Dengan jumawa tante Sofie mengungkapkan.


“Siapa? Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?” Kakek mendekati tante Sofie.


“Mengatakan kepadamu?”


“Iya.”


“Mengatakan anak biologismu saja aku enggan.”


“Dia sama bejadnya denganmu.”


“Siapa dia?”


“Wahyu Aditama, suamiku.”


“Hah? Kau serius?”


“Iya, dia sendiri yang menceritakan semuanya. Jika tidak percaya buktikan saja dengan tes DNA.”


“Ini tidak mungkin Sofie….”


“Tetapi itulah faktanya. Ezooo....”


“Jadi….? Jika Nina adalah anak biologisku bersamamu, dan Dirga anak biologis Erlinda dan Bayu, artinya Nina itu adalah tantenya Dirga. Ah ini tidak mungkin.”


“Terimalah kenyataan.”


“Selama ini aku mendukung Dirga mendekati Nina, sekarang ini tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh pacaran apalagi menikah, mereka masih memiliki pertalian darah. Jadi selama ini Erlinda merawat adik kandungnya sendiri sebagai seorang anak kandung…. Aaahhhhh….! Aku bisa gila mengetahui semuanya ini. Pergilah, pergilah..., pergilah kau Sofie, aku ingin sendiri dulu menenangkan hatiku." Kakek mengusir tante Sofie secara langsung.


“Aku tidak akan pergi sebelum kau berjanji akan melakukan sesuatu untuk Irwan.” Tante Sofie masih bersikeras.


“Kalau begitu biarkan aku yang pergi.” Kakek berdiri dan membuka pintu. Betapa kagetnya dia, ketika melihat Dirga dan Nina berdiri dengan berlinangan air mata persis di depan pintu.

__ADS_1


“Kalian menguping percakapan kami?” Kakek melotot menatap keduanya.


“Harusnya kami mendengar lebih jelas kek, tanpa harus menguping.” Nina menatap kakek tajam.


“Kalian?” Tante Sofie ikut keluar kamar, raut muka terkejut tak bisa dia sembunyikan.


“Ma, betapa jahatnya mama menyembunyikan rahasia ini dariku. Aku tidak pernah sedikitpun menduga akan mendapati kenyataan ini. Berharap ini hanya sebuah kesalahan pendengaranku saja. Aku sungguh tidak ingin ini terjadi, bahkan dalam mimpi sekalipun aku tidak ingin mendapatkan kenyataan bahwa kakek adalah ayah biologisku.” Nina memutar badan, berlari meninggalkan tante Sofie yang hanya mampu terduduk. Nina menangis menuju mobilnya.


“Nin….” Dirga mengejar menuju mobil Nina.


“Jangan pedulikan aku, meski aku bibimu.” Nina menutup pintu, memutar mobil dengan cepat dan keluar meninggalkan rumah besar yang telah menimbulkan banyak masalah dalam hidupnya.


“Jangan kau pedulikan anakku. Kau lihatlah laki-laki bejat yang memperkos* ibumu dulu. Dia ada di penjara sekarang. Wahyu Aditama. Jika perlu kau bunuh saja dia.” Tante Sofie berdiri dan ikut mengejar Nina, melihat Dirga melongo ditinggalkan oleh Nina, dia sengaja memanaskan suasana. Tante Sofie yang memang memiliki riwayat penyakit manic depressive mencari keberadaan kakek setelah sebelumnya berbisik ke telinga Dirga.


“Ezooo…, kau dimana? Aku belum selesai denganmu. Keluarkan anakku Irwan.” Dia berteriak-teriak membingungkan para pelayan dan penjaga. Namun kakek tidak keluar lagi. Dia bersembunyi dari kejaran tante Sofie yang akhirnya dengan emosi memuncak, dia pergi dengan sebuah pistol yang dia ambil di ruangan kakek. Dia cobakan sekali menembak di udara. Semua terperanjat dan mencoba menjauh, menghindari kejadian yang tidak diinginkan.


“Baik, aku bisa menggunakannya. Tinggal tarik, geser dorong dan dooorrr…, kepala Naura, Zamy dan Nindya yang menjadi penyebab anakku di penjara, kalau perlu Ram dan Miranda juga akan tertembus peluru ini. Keluarga mereka juga akan habis, biar terasa adil menikmati kekacauan rumah tangga sepertiku….” Tante Sofie yang mulai frustasi dan stress menghadapi keadaan keluarganya, pergi dengan mobil sedannya. Dia mengemudi sendiri dengan kecepatan tidak stabil. Kadang ngebut, kadang pelan sekali. Kadang dia menjulurkan kepala hanya untuk memaki-maki orang yang tidak berkenan dengannya.


Saat menunggu di lampu merah pasar induk dia melihat dari belakang, sosok bang Zamy sedang mengendarai motor bersama cucunya, Annisa anaknya Irwan dan Nindya. Dia mengikuti. Susunan sarafnya yang mulai banyak terputus tidak bisa mengontrol diri lagi dengan sempurna. Penyakit bipolarnya telah kembali. Dia terus membuntuti dengan jarak minimal lima puluh meter sosok itu. Lalu berhenti, menunggu waktu yang tepat untuk membidik. Dia berhenti di sisi kiri jalan, karena rindangnya pohon sawo kehadirannya memang tidak tampak mencurigakan. Dia perlahan mencari tempat berhenti yang pas. Mensejajarkan dengan beberapa mobil tetangga mbak Nindya yang parkir juga di pinggir jalan. Memanfaatkan momen ketika mereka sedang asyik, tante Sofie memoto mereka berkali-kali.


“Dasar dokter sok suci, tapi di belakang Naura dia malah selingkuh dan memeluk wanita lain.” Tante Sofie mulai menarik kokang dan menggerakkan penutup geser, rumah peluru masih terisi lima biji lagi, harus ada yang mengenai kepala dokter mesum itu. Batinnya. Namun karena tidak terbiasa, pistol yang dia arahkan dari tadi ke pasangan di teras itu, malah menembak ke udara. Seketika setelah mendengar suara tembakaan, Papa, bang Fathur dan beberapa tetangga seketika keluar rumah ingin menyaksikan. Merasa terpojok dan kepalang tanggung, tante Sofie malah menurunkan kaca mobil mencoba menembakkan sisa peluru ke arah rumah mbak Nindya. Beruntung mereka sudah masuk ke dalam dan mengunci pintu. Mbak Nindya yang memang sangat mudah takut, memeluk bang Fathur dengan erat di balik pintu kamar Annisa. Annisa dan tante Mira duduk rendah di dapur sebelah dalam. Sedangkan Papa dengan antisipasi sebuah helm motor, mencoba merekam melalui jendela kaca ke arah tante Sofie yang berteriak-teriak di luar. Dia sudah menembakkan dua peluru lagi ke dinding jendela kamar Papa dan tante Mira.


"Hey Zamy, keluar kau! Aku ingin memecahkan kepalamu. Dasar mesum, Zamy keluar, gara-gara laporanmu anak lanangku dipenjara dua puluh tahuuuun...." Tante Sofie berteriak lagi.


"Sepetinya dia salah mengenaliku. Dikiranya aku Zamy." Bang Fathur bicara perlahan kepada mbak Nindya yang terduduk lemas karena takut.


Merasa diabaikan dan setelah gagal membuka pintu teras depan dan dapur, tante Sofie melongok mengintip dari sebuah jendela yang terbuka. Dia melihat bang Fathur sedang berjongkok mencoba menahan tubuh mbak Nindya yang terkulai lemas.


"Tersisa satu peluru untukmu Zamy. Terimalah ini." Tante Sofie mengarahkan pistolnya kembali.


"Awwwhhh...! Sakiiittt..., set*n kalian semuanya." Tante Sofie terjatuh dengan sisa peluruh yang belum sempat dia tembakkan. Bahu kanannya mulai mengeluarkan darah.


"Ibu tenanglah, bekerja samalah dengan kami, nanti kami akan mengobati luka ibu. Ibu ditahan karena melakukan perbuatan yang membahayakan nyawa orang lain." Seorang polisi mendekat. Dia menendang pistol tante Sofie. Lalu dua orang mengangkat dan membimbingnya masuk ke dalam mobil polisi. Seorang polisi datang mengambil pistol sebagai barang bukti dengan beralaskan kantong kresek biasa. Suasana rumah mbak Nindya mulai ramai. Aku hampir bersamaan datang dengan bang Zamy. Tante Sofie yang melihat bang Zamy keluar dari mobil mengerutkan keningnya.


"Mengapa ada dua Zamy?" Dia menunjuk wajah bang Zamy dari jarak dekat. Kakinya mencoba menerjang. Bang Zamy hanya mengelak mundur. Lalu tante Sofie menoleh ke arah bang Fathur yang ikut mengantarkan ke mobil polisi.


"Kenapa ada dua Zamy pak polisi? Apakah aku sedang bermimpi.... Hahahahaaa..., ada dua Zamy rupanya. Zamy mana yang membunuh anakku Irwan. Zamy mana ya pak? La la la la la..., aku punya dua Zamy..., Aku punya dua Zamy.... Zamy itu banyak sekaliii..., dia itu seperti hantu. Zamy ada dimana-mana. Naura ada dimana-mana juga.... Naura juga ada dua. Lalalala.... Naura dan Zamy sudah gilaaa...." Tante Sofie sudah menampakkan kelainan jiwa. Stressnya mungkin sudah mendekati ke arah gila.


"Ayo bu naiklah." Polisi menuntunnya dengan iba.


"Pak, kenapa ada darah? Bapak terluka?" Tante Sofie melihat darah di tangan kiri polisi yang menggotongya di sebelah kanan.


"Pak polisi ada duaaa..., pak polisinya juga lukaaa, pak polisi bajunya samaaaa...." Tante Sofie bernyanyi gembira. Kemudian moodnya seketika berbalik.


"Anakku? Mana anakku? Aku punya anak? Aku tidak punya anak lagi.... Aku mau punya anak? Anakku ada kan pak polisi? Apa aku punya anak?" Dia menangis masuk ke dalam mobil. Aku mencoba mendekatinya yang sudah duduk di kursi mobil polisi diapit polisi yang tadi membawanya.


"Tanteee..., aku akan menemuimu nanti, pergilah dulu. Semoga tante bisa sehat kembali." Aku menggenggam erat jemarinya. Air mataku menetes tak tertahankan lagi


melihat wanita yang selalu memanggil Nora atau Dora. Sepertinya kehidupannya selama ini penuh dengan tekanan dan kesedihan.


"Siapa kau? Mengapa kau menangis? Jangan menangis ya...." Dia nampak kebingungan. Kemudian Polisi pamit membawanya pergi.


"Nora nangis polisi nangissss...." Tante Sofie kembali bernyanyi dengan bertepuk-tepuk tangan, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan persis seperti anak TK baru masuk sekolah. Dia kembali bersorak riang. Sementara polisi yang menemaninya berpandangan, dan menatap kasihan.

__ADS_1


Istirahatlah sejenak dan cepatlah kembali. Karena senyawa kimia yang merusak sel saraf otak pasti ada alasannya.... Sholat lima waktu, berbuat baik dan berpikir positif tidak akan membuatmu menjadi pikun atau kehilangan kendali otak....


(besambung)


__ADS_2