Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 32 Gangguan Sore


__ADS_3

Sehabis sholat Zhuhur, bang Rahman berpamitan langsung pulang ke Mentok. Dia memberikan kembali kameraku yang dipakainya mengambil gambar saat akad tadi. Ayah dan bang Zamy pamitan pergi ke kolam pemancingan Di Bangka Botanical Garden, sebuah objek wisata yang berada di pinggir oantai Pasir Padi. Katanya mereka ingin melepaskan penat. Yuk Mairoh setelah selesai merendang ayam kampung sudah pula berpamitan pulang ke rumahnya. Katanya suaminya mau mengajak ziarah kubur karena besok sudah mulai puasa. Mbak Nindya, tante Mira dan Annisa ada di villa. Kami tidak menganggunya sama sekali karena takut mereka sedang istirahat. Pak Rohim terus saja bersih-bersih. Ada saja yang dia kerjakan, seperti tak pernah mengenal lelah.


Ibu menemuiku yang sedang duduk di kamar sambil melihat foto-foto dan video di laptop. Tiba-tiba di salah satu video yang terakhir aku menatap jelas papa mencium rambut dengan dagunya penuh kasih sayang kepada tante Mira di kursi rodanya. Mereka berada persis di bawah rambutan, jauh dari keramaian saat tamu sedang dibagikan souvenir pernikahanku. Aku menjadi ingat bisikan papa saat sebelum akad berlangsung.


"Naura...,"


"Iya pa."


"Papa izin, setelah akadmu selesai papa ingin menikah dengan Miranti." Aku kaget bukan kepalang. Namun karena di suasana yang sibuk, aku tidak mampu berkata-kata lebih banyak lagi. Aku mengira setelah aku sah, ayah akan benar-benar menikah. Namun entah mungkin ayah berubah pikiran, maka pernikahannya tidak benar-benar terjadi.


"Naura. Apa yang sedang kau lakukan nak?" Ibu masuk sambil membawa tiga buah kado di tangannya.


"Melihat-lihat foto pernikahan barusan bu." aku menjawab sambil menggeser-geserkan foto demi foto dan juga beberapa video yang belum diedit.


"Alhadulillah semua sudah selesai sekarang. Ibu merasa plong nak, lega rasanya. Kalian bisa saling menjaga lebih baik lagi ketika sudah sah menjadi suami istri." Ibu bicara sambil duduk di pinggir ranjang pengantinku. Ibu meletakkan ketiga kado di sana.


"Iya bu alhamdulillah." Aku menjawab, kemudian tanpa menutup laptop aku berjalan menuju ibu dan duduk di depannya.


"Ini nak, ibu tidak punya kado lagi, insyaAllah kebutuhan apapun kalian bisa beli. Hanya saja, ibu punya sebuah kalung turunan. Ini diberikan nenek kalian dari pihak ayah. Katanya kalung ini dibelikan nenek buyutnya Zamy masih di zaman penjajahan Jepang. Waktu itu kakek buyutnya Zamy menjabat sebagai 'Besirah' atau mungkin setingkat bupati saat ini. Ini dibeli kakek buyut sebagai hadiah kepada nenek buyut yang melahirkan kakekmu. Belinya jauh ke Pagar Alam, harus berjalan kaki lima hari lima malam dari daerah Kaur Bengkulu ke sana. Buyutmu membawa jualan ke sana, ada damar, cengkeh, minyak nilam, dan gaharu. Katanya mereka berjalan berombong-rombongan, bila malam tiba numpang menginap di teras-teras rumah warga, belum ada mobil waktu itu, paling hanya dengan gerobak yang ditarik seekor sapi sebagai pengangkut barang...." Ibu menjelaskan kisah klasik yang menemani kalung emas 24 karat itu. Aku memegangnya. Kutaksir beratmya sekitar seratus gram. Motifnya motif padi.


"Berarti sudah berapa tahun ya bu...?" Aku menimang-nimang kalung dimaksud di telapak tanganku.


"Entahlah sudah lama sekali, namun warnanya sedikitpun tidak berubah."


"Owh...."


"Kalau Naura tidak ingin memakainya bisa disimpan saja, nanti berikan sebagai hadiah kepada anak perempuan atau menantumu. Itu kalau diuangkan nilainya sangat fantastis lho nak." Ibu menyarankan. Aku mengangguk dan kembali meletakkan kalung ke wadahnya. Kulihat ada suratnya dengan tulisan yang sudah agak buram namun masih terbaca dengan ejaan zaman dulu. Kemudian kulihat ibu membuka satu kado lagi.


"Dan ini sayang, ibu sudah membagi jatah kalian masing-masing dari uang yang ibu pegang dari kiriman kalian setiap bulannya bekerja di klinik juga sewa apoteknya. Ibu bagi empat karena ibu menganggap Naura tetap seperti anak kandung sendiri meski sebenarnya Naura adalah menantu. Jatah Zamy dan Naura ibu gabung di satu kartu Tahapan BCA ini." Ibu memberikan kartu berwarna biru bertuliskan debit Paspor BCA Blue.


"Ibu simpan saja, kalau uang mah, di tabungan Naura alhamdulillah masih banyak ibu." Aku menatap ibu, berusaha menolak pemberiannya.


"Ya bedalah sayang. Terimalah, ini dari ibu dan ayah, katanya mau buat yayasan peduli lansia dan anak yatim..., gunakan saja, nanti setelah menikah dan punya anak keperluan kalian akan semakin banyak." Ibu memberikan kartu itu beserta buku saku dan selembar kertas keterangan kecil. Ibu memberikan kode awal kartu dan memintaku segera mengubahnya. Aku mengangguk dan menyimpan kartu di dompetku. Lalu ibu memberikan satu kado lagi namun tidak membukanya.


"Ini ibu berikan sebagai mertua kepada menantu tersayang." Ibu memberikan kado sambil berdiri. Tak lupa dia mengecup keningku.


"Apa pula ini bu?" Aku bertanya heran.


"Segera berikan ibu cucu yang banyak...." Ibu keluar kamar dan meninggalkanku yang masih kebingungan. Aku penasaran, lantas kubuka kado terakhirnya. Seketika wajahku merona sendiri. Ibu menghadiahkan aku sebuah lingerie berwarna cream bermerk Bordelle yang harganya mencapai dua puluh juta rupiah. Aku malu dibuatnya.


"Ibuuu...." Aku memanggil ibu dan melongokkan kepala di pintu kamar.


"Pakai nanti malam ya..., ibu mau saat pensiun nanti dikelilingi cucu yang ramai...." Ibu tersenyum penuh arti menuju kamar utama. Aku semakin malu saja dan segera menyimpan lingerie hadiah ibu ke dalam lemari paling bawah. Aku tidak ingin bang Zamy menemukannya.


***


Sehabis Ashar bang Zamy dan ayah barulah pulang dari mancing. Mereka membawa dua ekor ikan gurame besar.

__ADS_1


"Bu guramenya bawa ke Mentok saja, buat berbuka besok, untuk sahurnya ibu jadi kan bawa rendang ayam kampung?" Ayah memberikan ikan kepada ibu sekaligus bertanya.


"Itu rendangnya sudah ibu taro di 'tupperwore', siap dibawa. Ayah mandilah dulu, lalu biar tidak kemalaman sampai rumah kita segera berangkat." Ibu bicara kepada ayah yang langsung menuju kamar utama.


"Ibu mau pulang ke Mentok?" Aku kaget.


"Iya sayang. Kasian nanti si Rahman makan sahur sendiri. Lagian besoknya ibu juga ada rapat lagi. Mau ada pemangkasan anggaran kegiatan untuk dialihkan ke penanganan covid-19. Ayahmu juga jam sembilan ada video konferensi beberapa kepala cabang dengan kantor wilayah."


"Masa sih acaranya barengan begitu?" Aku mulai curiga. Ibu hanya tersenyum.


"Ya memang sering kan acara ibu dan ayah berbarengan?" Ibu bicara sambil tersenyum.


"Jangan lupa alarm sahur dibuat agar terbangun." Ibu menyarankan.


"Sudah distel kok bu." Aku menjawab.


"Nah gitu dong. Istri sholihah banget ini." Ibu menggodaku. Aku kembali malu dibuatnya.


Tak lama berselang, ayah dan bang Zamy sudah sama-sama selesai mandi. Ibu sudah dari jam tiga sore sebelum azan Ashar mandinya. Aku pun telah fresh tadi setelah ibu pergi dari kamarku, aku langsung mandi. Bang Zamy membantu membawakan semua barang ayah dan ibu. Dua buah koper besar dan tas peralatan memancing beserta tas pancingnya. Satu dus pisang matang di batang yang ditebang pak Rohim siang tadi. Pisang Jantan/Pisang jambi kesukaan ibu.


"Baik-baik sayang ya kalian berdua. Semoga pernikahan kalian senantiasa sakinah mawaddah warohmah...." Ibu memelukku erat dan mencium pipiku. Ayah dan bang Zamy juga berpelukan. Aku menyalami ayah yang membalas dengan mengacak-acak jilbabku.


"Aamiin...." Kami semua menjawab.


"Naura..., jangan lupa yang tadi sayang ya." Ibu memberikan kode mata denganku.


"Ibu dan Naura ada rahasia apa berdua?" Bang Zamy bertanya penasaran. Dia menatapku dan ibu bergantian.


***


"Abang mau kopi susu tidak? Biar Naura buatkan." Aku menawarkan kepada bang Zamy yang setelah masuk langsung menutup pintu teras samping. Dia menyandarkanku di belakang pintu. Kedua tangannya ikut menempel di pintu menghadang pergerakanku.


"Hahahaha...., akulah Arjunaaa..., yang telah menculik Dewi Sintaaa...." Bang Zamy bicara seperti suara raksasa di film-film legenda.


"Ih apaan sih lebay sekali abang mah...." Aku mendorongnya sekuat tenaga. Bang Zamy melepaskanku. Aku lantas berjalan menuju dapur, mengambil sebuah panci kecil di laci kitchen set, mengisinya dengan air galon dan meletakkannya di tunggu kompor tanam pabrikan Jepang. Namun belum sempat aku menyalakan apinya, bang Zamy yang dari tadi mengikuti tiba-tiba tangan kirinya memegang sebelah belakang hingga bahuku. Tangan kanannya agresif menangkap kedua kakiku. Seketika dia menggendongku dan membawaku menuju ke kamar pengantin.


"Ih apaan sih abang, siang-siang begini....," Aku mencoba melepaskan diri. Namun bang Zamy tersenyum menggelengkan kepala ke arahku. Jangankan melepaskan gendongan, dia bahkan semakin erat mengangkatku lebih tinggi di dadanya. Dia mencoba mencium bibirku, namun aku segera memalingkan wajah. Aku 'ngap-ngap' menahan nafas dan merasa heran sendiri dengan nafasku yang ikut memburu dan tertahan.


"Hemmm.... begitu ya...." Bang Zamy mendehem begitu mendapati aku memalingkan wajah saat hendak diciumnya. Kami sudah tiba di kamar pengantin. Tanpa menurunkanku terlebih dahulu, bang Zamy menghidupkan AC biasa di dinding kamar. Kemudian dia keluar lagi membawaku ke ruang keluarga dan dengan tangan kanannya dia menarik AC Floor Standing ke kamar. Terdengar suara rodanya mengikuti kami ke kamar pengantin.


"Ya Allah abaaang..., buat apa sih pakai AC banyak-banyak begini." Aku melepaskan diri, kali ini bang Zamy membiarkan saja. Dia berjalan menutup pintu dan meletakkan AC Floor Standingnya persis di bawah tivi kamar, arahnya persis ke tempat tidur.


"Untuk apa sih bang?" Aku risih dibuatnya.


"Musim corona Bee sayaaanggg..., cuaca panas begini enakan ngadem. Kalau panas nanti kita keringatan, kalau keringetan kan muncul daki. Daki-daki campur keringat lagi..., nah itu tuh yang biasa didatangi coronaaa...." Bang Zamy mulai 'ngeracau'. Pembicaraannya sudah tidak logis lagi.


"Huh, kuliah dimana sih bang dulunya? Kok pandai mengarang begitu? Yang ilmiah dooong..., hihihiii...," Aku menertawakannya sembari membuka kunci pintu kamar.

__ADS_1


"Mau kemana?" Bang Zamy menahanku.


"Haus, adek mau minum."


"Bukankah ada beberapa botol air mineral dan beberapa kaleng aneka jenis minuman lainnya di sana....?" Bang Zamy tersenyum sambil menunjuk ke arah kulkas mini bar merk Sharp yang ada di sebelah lemari bajuku. Aku ikut tersenyum.


"Adek mau minum air suam-suam kuku...." Aku masih mencoba berdalih. Padahal aku memang sengaja ingin keluar kamar. Dadaku serasa sesak terbakar. Jantungku berdebar-debar hebat. Hormon cinta sepertinya telah datang menguasai potongan jiwaku. Aku bahkan sampai berkeringat dingin dibuatnya. Sungguh adrenalin ini telah memicu debaran jantungku menjadi semakin tak karuan. Sepertinya aku sungguh sedang merasakan jatuh cinta. Rasa cinta yang benar-benar mengaktifkan respons yang luar biasa menarik pada sepotong daging yang menguasai jasad dan jiwaku, hati. Tak pernah aku merasakan gejala seperti ini. Bang Zamy, sungguh dia telah merangsang meningkatnya adrenalin dan kartisol dalam tubuhku. Dadaku bergemuruh seakan mau meledak saja, jantungku berdetak sangat kencang, sangat berbeda dari biasanya saat aku bertatapan mata dengan bang Zamy dengan status saudara. Kini, sebagai seorang istri sahnya aku malah tak sanggup menatap matanya. Ada gelora asmara yang coba aku samarkan dengan pelarian sementara. Aku harus menyusun gelombang perasaan ini agar bunganya tidak terlalu tampak semerbak dan subur. Debaran ini semakin menjadi-jadi. Bang Zamy tersenyum sambil menurunkan tanganku pada handle pintu. Dia menggenggamnya erat dan meremasnya perlahan-lahan. Aku seakan ingin tersedak dibuatnya karena menahan nafas yang teramat dalam.


"Permisi bang. Adek penasaran, mau mencicipi rendang ayam kampung yang dimasak yuk Mairoh tadi." Aku kembali mendorong bang Zamy yang malah semakin mendekatkan wajah ke wajahku. Wajahku pasti sudah memerah seperti udang rebus. Terasa seperti kesemutan dari pundak ke ubun-ubun hingga telingaku. Aku mencoba melarikan diri dari bang Zamy. Aku tidak ingin ketahuan kalau endorfin atau zat kimia di otakku juga sudah meningkat. Perasaanku mulai ingin mengimbangi pergerakan bang Zamy. Bang Zamy dengan nafas yang mulai memburu perlahan tangan kirinya mengelus pipiku. Sementara tangan kanannya masih meremas-remas jemariku. Tidak ada lagi perlawananku untuk melarikan diri. Aku bahkan memejamkan mata saat bang Zamy mulai perlahan mencium bibirku yang hangat. Lembut dan menggetarkan. Aku menahan nafas bahkan hingga telingaku tak mampu mendengarkan apapun lagi selain desah nafas kami berdua. Aku merasakan detak jantungku pun telah memilih untuk memompa darah ke seluruh tubuh dengan fokus di area genitals. Denyutan-denyutan nakal secara natural hadir pula di pojok-pojok kehangatan. Hatiku berdebar semakin tak karuan, aku merasakan kenyamanan dari stimulasi secara fisik yang bang Zamy hadirkan. Aku menatap mesra laki-laki kasmaran di hadapanku, laki-laki yang selama ini begitu setia menjagaku, yang santai dan berkharisma, sungguh tak kusangka rupanya bisa berubah 'sangat nakal' di suasana yang tepat.


"Sayaanggg..., menualah bersamaku..., temanilah aku dalam suka dan duka. Hingga nanti, bila saatnya telah tiba, hanya gundukan tanah di atas liang lahat yang memisahkan jasad kita, namun tidak dengan jiwa kita yang senantiasa menyatu." Bang Zamy berbisik lembut di telingaku. Aku terbuai. Sungguh tak menyangka laki-laki usil yang selalu kurindukan dulu, keromantisannya menghujam tajam menghentak jiwaku. Aku menatap matanya..., mata tajam namun dengan tatapan tulus berbicara dari hati. Kuberikan senyum terbaikku.


"Semoga kita diberikan umur panjang yang barokah, dan Allah meridhoi untuk kita menua bersama...." Aku menjawab dengan tangan yang spontan menggapai pipi kiri laki-laki di hadapanku, aku mengelus-elus kulit putih bersih dan halus itu. Kemudian perlahan menurunkannya, lantas jemariku berhenti sendiri di bibir bang Zamy. Jempol kananku naik turun bermain di bibirnya nan gagah. Sepertinya hormon dopamin yang dihasilkan otak tengahku sebagai neurotransmitter bekerja dengan sangat baik. Ada gairah seksual yang hadir sendiri memenuhi otakku. Aku sedikit menjinjitkan telapak kaki. Kumiringkan sedikit kepalaku ke kanan. Kukalungkan lengan kiriku di lehernya, kupegang pipi kiri suamiku lagi dengan tangan kananku. Lalu perlahan dengan penuh perasaan, kusentuh bibirnya dengan bibirku. Ada lenguhan halus dan manja keluar dari mulutku tanpa kusadari. Bang Zamy membalasnya, tidak hanya sekali, tetapi berulang-ulang, aku membiarkan saja dan bahkan lebih cenderung menikmati sentuhan-sentuhan hangat dari bibirnya. Lalu dia memelukku dengan erat, kemudian kembali menggendongku dan meletakkanku dengan lembut di atas kasur pengantin yang bertabur bunga. Betis putih jenjangku yang tersingkap saat diturunkan kubiarkan begitu saja. Bang Zamy kelihatan semakin 'nakal'. Dia melepaskan baju kaos di badannya, hingga tinggal singlet putih yang tak mampu menutupi tubuh kekarnya. Aku dengan sisa-sisa rasa malu, diam tanpa kata memandangi tubuhnya yang gagah. Kubiarkan dia perlahan mendekatiku dengan sedikit 'aksinya', lalu kubisikkan kata-kata manja tepat di telinga kirinya.


"Sayaaang..., aku siap menjadi pelengkap hormon serotonin dalam hidupmu...." Wajah bang Zamy semakin merona.


"Ting tooonggg...."


"Ting tooonggg...."


"Ting tooonggg...."


Tiba-tiba saja suara bel rumah berbunyi menghentikan aksi kreatif kami merajut pengalaman personal yang menyenangkan. Kami serentak duduk. Sama-sama memasang kuping dan bang Zamy meletakkan telunjuk di mulutnya, memberi kode agar diam saja. Namun bel kembali berbunyi, berkali-kali.


"Ting tooonggg...."


"Ting tooonggg...."


"Ting tooonggg...."


Bang Zamy memungut baju kaos dan segera memakainya. Mulutnya berdecik tidak suka.


"Siapa sih kurang kerjaan benar. Ganggu orang saja." Bang Zamy menggumam sambil menatap ke arahku. Aku hanya tersenyum sambil merapikan pakaianku.


"Ting tooonggg...."


"Ting tooonggg...."


"Ting tooonggg...."


Bel masih saja berbunyi.


"Iya iya iya..., siapa sih?" Aku mendengar suara bang Zamy berjalan ke arah pintu teras depan.


"Doraaa....! Aku tahu kau di rumah. Buka dong pintunya...."


Aku kaget ketika tiba-tiba saja pintu jendelaku diketok-ketok dengan keras sekali.

__ADS_1


"Doraaa.... Doraaa buka pintu dong...." Rasanya aku merinding dari ujung jempol kaki sampai ke anak rambut yang baru tumbuh kemarin. Itu tante Sofie. Untuk apa dia datang ke rumah? Aku bangkit dengan perasaan campur aduk, mencari jilbab, keluar kamar menyusul bang Zamy untuk menemui ibunya Irwan yang sekarang masih mendekam di penjara.


***


__ADS_2