Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 94 Malam Pertama Pasangan Baru


__ADS_3

Hujan rintik mengiringi kepergian ayah, ibu, bang Rahman dan Afni untuk pulang ke rumahku dari rumah mbak Nindya. Sehabis belanja dan pulang mancing, ayah dan ibu rupanya kembali ke rumah mbak Nindya, berpamitan habis Ashar dan bahkan sudah mendekati Magrib. Begitu juga dengan Bang Rahman dan Afni, mereka juga kembali untuk berpamitan pula.


Sesampai di sana, nampak semua sisa perhelatan sudah rapi dan dibereskan oleh EO yang disewa ibu. Mbak Nindya tak lupa sudah mencuci bersih semua riasan di wajahnya. Wajahnya semakin nampak cantik dan berseri-seri alami menyandang status baru, istri pak dosen Fathur, bukan janda lagi. Nampak indah kecantikan natural seorang wanita meski tanpa sekolah tinggi. Andai saja gelarnya sarjana, pekerjaannya kantoran, niscaya kecantikannya akan sangat serasi dengan kecerdasan yang sebenarnya dia miliki. Tapi tidak! Kecantikan wanita itu tidak bisa hanya dinilai dari tingkat sekolah dan gelarnya saja, tetapi kebesaran hati sang pemilik jiwa itu sendiri.


*****


Mbak Nindya masih beres-beres di dalam rumah, dia tidak bisa diam. Wajahnya yang putih bersih dengan rambut dilipat ke atas dengan penjepit merah bergerigi menyisakan separuh rambut yang tergerai di belakang kuping kiri dan kanannya. Sisa rambut yang tergerai semakin menambah keseksian leher jenjangnya. Selangkanya yang menyembul membentuk lubang kecil yang mampu menampung sebuah telur ayam kampung khas wanita langsing. Lehernya yang berhias dua lilit emas semakin membuat bang Fathur menahan nafas untuk tidak segera menyapu bersih bagian itu dengan lidah dan ciuman liarnya.


"Nin, istirahatlah nak, dirimu itu ratunya hari ini." Ibu memeluk mbak Nindya dari belakang.


"Iya bu, Nindy segera istirahat setelah menyusun piring-piring ke lemari. Mbak Nindya perlahan berbalik dan menghentikan aktivitasnya. Dia dengan sedikit ragu beralih memeluk ibu, erat sekali. Nampak keduanya sangat merasakan kenyamanan dalam ikatan keluarga baru.


"Terima kasih tante sudah...," dia berucap perlahan.


"Aku ibumu sekarang nak, panggil ibu, Fathur memanggilku ibu, kau pun sudah menjadi bagian dari hidup Fathur, maka kau anakku sekarang." Ibu bicara sambil menepuk-nepuk pundak mbak Nindya, aroma wangi seorang pengantin baru tercium oleh hidung ibu yang tajam.


"Iya bu, terima kasih sudah menerima Nindya dengan segala kekurangan." Mbak Nindya bicara lagi diikuti jatuhnya air mata tulus karena telah diterima dengan ikhlas sebagai bagian dari anggota keluarga ibu.


"Tidak, kau tidak ada kekurangan Nindy, mungkin waktu sedang menguji kesabaranmu dulu. Bagi ibu, dirimu wanita hebat kok, jagalah Fathur, jagalah hatinya agar selalu bahagia." Ibu melepaskan pelukan, jempol kanan ibu seketika mengelap air mata di pipi kiri mbak Nindya. Tangan kiri mbak Nindya pun memegang erat tangan ibu. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Ibu pamit sayang ya, kami tidur di rumah Naura malam ini, Subuh baru ke Mentok. Nanti kalo Rahman menikah, kalian pulang tiga hari sebelum hari H ya...." Ibu bicara lagi dengan lembut.


"InsyaAllah bu..., kalau mau hajatan Nindy malah siap datang seminggu sebelumnya biar bisa bantu beres-beres...."


"Ya Allah naaaak..., beres-beres terus yang ada di pikiranmu, perkara beres-beres sudah ada orang-orangnya nanti, datang saja kalau mau seminggu sebelumnya, tapi jangan terlalu bekerja keras...." Ibu malah mencubit pipi kiri wanita pemalu itu. Dia kembali tersenyum merekah mengimbangi senyum ramah ibu.


"hehehe...." Mbak Nindya tersenyum manis.


"Baiklah Nin, ibu pamit. Eh, jangan lupa segera berikan ibu cucu yang banyak." Ibu berbisik ke telinga mbak Nindya. Seketika wajah lugu nan cantik itu memerah mukanya. Hanya senyum kecut menahan rasa malu yang dia berikan. Tak ada lagi sepatah kata untuk jawaban. Sementara ibu, malah tersenyum senang sambil mengajak mbak Nindya bersalaman. Mbak Nindya mencium punggung tangan mertuanya yang sedikit usil. Mereka kembali berpelukan. Bergantian ayah, bang Rahman dan Afni bersalaman dan ikut pamit. Mereka juga tidak lupa berpamitan sama tante Mira dan Annisa. Sementara Papa masih di masjid.


"Fathuuurrr....! Owwhh Fathuuur...." Ibu usil melihat bang Fathur baru keluar dari kamarnya mbak Nindya sehabis tidur siang karena kelelahan.


"Bu, mau kemana sudah siap-siap begitu?" tanyanya sambil berjalan mendekat, dia menyibakkan rambut depan dengan tangan kiri. Sesampai dekat ibu, tangan kanannya langsung menggamit pinggang mbak Nindya yang semakin malu dibuatnya.


"Tidur di rumah Naura, mau tidur di sini pasti kau usir nantinya...." Ibu menambahkan. Bibirnya mengulum senyum.


"Ah ibu bisa saja. Tidak akan kena usir kok bu, tetapi masa iya ibu tega mau mengganggu abang sama Nindy?" Bang Fathur tersenyum nakal. Muka Mbak Nindya kembali tersirap.


"Tuh kan...." Ibu mengolok dengan hidungnya.


"Hahaha...." Semua ikut tertawa.


Bang Fathur menunduk mencium tangan Ibu dan Ayah. Dia juga berpelukan dengan bang Rahman, dan bersalaman dengan Afni. Kemudian keduanya mengantarkan keluarganya hingga ke dekat mobil, melambaikan tangan mengucapkan selamat jalan dan hati-hati. Mungkin dalam hati bang Fathur bicara pergilah bu..., jangan dulu kembali malam ini, abang ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.


*****


Seperginya rombongan ibu, mbak Nindya perlahan melepaskan pelukan tangan bang Fathur di pinggangnya. Dia kemudian buru-buru masuk rumah dan kembali menyusun perabotan yang dikeluarkan untuk acara pernikahannya. Beberapa perabotan yang tidak disediakan oleh EO. Bang Fathur tersenyum melihat ulah mbak Nindya yang nampak menghindarinya. Dengan senyum masih tersungging dia pergi mencuci muka, kemudian kembali dan duduk bersila persis di samping mbak Nindya yang semakin menyibukkan diri dengan kegiatannya. Tante Mira tersenyum melihat keduanya, sedangkan Annisa sudah di kamar membaca-baca sendiri buku bergambar yang dibelikan bang Fathur tempo hari.


"Perlu bantuan sayang?" Bang Fathur mencolek paha yang berbalut celana jenis Paper Bag Pants itu. Mbak Nindya menggeser duduknya, menjauh sedikit dari bang Fathur karena merasa risih. Namun usaha itu hanya menjadi sia-sia karena bang Fathur otomatis ikut menggeser duduknya ke arah sang istri. Dia sengaja melakukan itu, mencoba menggoda. Saking dekatnya, mbak Nindya yang juga bersila depan lemari kaca menyusun piring-piring keramik ke lemari bagian bawah bersentuhan lutut dengan bang Fathur. Hanya kain celana yang mereka pakai saja sebagai sekat.


"Pergilah sana bang...," dengan rasa tidak nyaman, mbak Nindya menyuruh sang suami menjauh. Dia tidak menyukai degup jantung dan debaran di hati terlalu dekat dengan laki-laki yang sudah menikahinya.


"Lho? Kok ngusir? Abang mau membantu kok," bernada protes bang Fathur malah menyandarkan badannya ke mbak Nindya. Kali ini mereka bertemu punggung. Bang Fathur menggoyang-goyangkan badan yang menyebabkan badan mbak Nindya ikut bergoyang. Tante Mira yang kebetulan lewat menuju ruang tamu tersenyum.


"Nin, biar ibu yang bereskan. Ajak suamimu makan, ibu tidak lihat Fathur makan setelah jam sepuluh tadi." Tante Mira mendekati keduanya.


"MasyaAllah mertuaku begitu perhatian. Terima kasih bu." Bang Fathur berdiri, tersenyum bergantian melihat tante Mira dan istrinya. Tante Mira memegangi tangan Mbak Nindya agar berdiri. Gantian tante Mira membereskan perabotan yang tidak begitu banyak lagi yang belum disusun.


"Mau makan?" Mbak Nindya terpaksa menatap mata suaminya meski hanya sesaat saja. Dia bertanya ke Bang Fathur yang seketika menoleh ke belakang. Lalu kembali menatap istrinya.


"Nanya abang atau ada orang lain tak kasat mata di belakang abang?" sengaja dengan usilnya Bang Fathur menggoda. Mbak Nindya melenguh berlalu menuju meja makan, dia menahan senyum. Bang Fathur mengikuti.


"Mau makan tidak?" Lagi-lagi mbak Nindya bertanya.


"Ibu mau makan tidak?" dengan sengaja bang Fathur bertanya dengan suara keras ke arah ibu.


"Kok nanya ibu? Bagaimana sih kalian?" Tante Mira tersenyum geli melihat anaknya mulai diusilin bang Fathur.


"Anak ibu sih gak jelas nanyain siapa mau makannya." Bang Fathur duduk di kursi.


"Emang ada orang lain?" Mbak Nindya malah bertanya.


"Iya makanya abang bingung."


"Nah berarti Nindy nanya abang."


"Nah makanya lain kali harus jelas dong manggilnya, Bang mau makan tidak? Sayang mau kopi? Gitu lho yaaang manggilnya biar lebih romantis." Bang Fathur bicara sambil tangannya menahan tangan mbak Nindya yang meletakkan piring berisi nasi di hadapannya.


"Apaan si abang? Malu sama ibu ih, nanti ibu menoleh...," dengan suara pelan mbak Nindya mencoba melepaskan tangannya. Namun Bang Fathur malah menarik tangan itu dan mendekatkan wajah sang istri mendekatinya. Wajah mereka berdekatan. Dan dengan gesit Bang Fathur mencium pipi mulus itu. Satu kecupan hangat di bibir singgah pula dengan mulus. Lalu Bang Fathur melepaskan tarikan tangan oleh istrinya itu dengan lembut.


"Ai loph yu sayang...." Bang Fathur berbisik halus hampir tidak keluar dari mulutnya. Namun bisikan itu mampu membuat jantung mbak Nindy kembali berdebar-debar kencang merasa bahagia. Dia tidak membalas, namun langkahnya seakan melompat-lompat karena kegirangan. Dia mengambilkan segelas air putih hangat dan meletakkan di depan suaminya, kemudian dia membuka tudung saji.


"Abang mau lauk apa?" Mbak Nindya menawarkan dengan hati bergetar-getar nyaman.

__ADS_1


"Apa saja." dengan santai dan terus menatap wajah cantik istrinya bang Fathur menjawab singkat. Nampak di meja makan lauk rendang daging sapi, ayam goreng, satai ikan tenggiri, telur balado, tumis buncis mix ampla, wartel dan udang, sambel, aneka lalapan. Kesemuanya adalah menu lebih dari katering. Sebagian sudah dibungkus dan dibagi-bagi Papa ke jamaah masjid.


"Daging mau?" Mbak Nindya mengangkat sendok makan berisi rendang di mangkok.


"Mau." segera bang Fathur menjawab.


"Apa lagi?" sejenak menoleh, Mbak Nindya bertanya lagi.


"Terserah." Bang Fathur menjawab sambil menopangkan kedua sikunya ke meja. Kedua jempolnya menari indah sambil bertepuk-tepuk kecil. Matanya semakin nakal memandangi tubuh istrinya yang menggiurkan berbalut tunik putih itu.


"Lho kok terserah?" bingung, Mbak Nindy tertahan menuangkan lauk ke piring suaminya. Dia kemudian menatap suaminya.


"Ehm." Bang Fathur mengangguk.


"Ambil sendiri saja ya bang." Mbak Nindya menawarkan pilihan. Dia menggeser-geser beberapa mangkok berisi lauk ke arah Bang Fathur.


"Adek tidak makan?" Bang Fathur bertanya setelah mengangguk.


"Nanti saja." dengan singkat Mbak Nindya bertanya. Dia kemudian duduk di kursi depan Bang Fathur. Mereka berhadapan namun bersekat meja makan. Bang Fathur mulai akan menyuap.


"Ini siapa yang masak nasi?" tiba-tiba Bang Fathur berhenti mengangkat sendok, nasi tidak jadi menyentuh mulutnya. Mbak Nindya memandang heran.


"Adek yang masak sendiri." Wanita tangguh itu menjawab cepat.


"Sepertinya ini basi deh sayang, baunya tidak enak...." Bang Fathur menurunkan sendok ke piringnya kembali.


"Ih nggaklah. Nggak mungkin basi bang."


"Yaaahhh..., mana tau basi atau tidak kalau tidak dirasa. Nih cobain sendiri." Bang Fathur menunjuk ke sendok makan di piringnya.


"Nanti Nindy ambil sendiri di mejikom." Mbak Nindya mau beridiri mencicipi nasi, rasanya tidak masuk akal, dia tidak pernah mengalami nasi basi selama ini.


"Ini saja." Bang Fathur mendorong piringnya.


"Mana sini sendoknya."


"Biar abang yang pegang sendoknya, abang yang suapin." Mbak Nindya tidak ingin berdebat, dia membuka mulut dengan malu-malu. Setengah sendok nasi beserta lauknya masuk ke mulut. Bang Fathur tersenyum melihatnya. Begitu bahagia dia melihat wanita lugu itu tersenyum malu. Semakin membuat dia ingin segera tiba waktu malam saja. Dan entah karena terlalu malu, Mbak Nindya malah tersedak. Spontan Bang Fathur memberikan air putih, dia meminumkan dengan sedikit khawatir sambil menepuk-nepuk pundak. Tante Mira hanya menoleh sebentar dan menyelesaikan kembali menyusun tikar batang padi ke atas lemari kaca. Setelah beres semuanya lalu dia keluar, menjauh dari pengantin baru yang sedang nampak begitu kompak dan serasi.


"Duduk di sini sayang. Maaf menggodamu terlalu jauh sampai kesedek begini." dengan raut muka sedikit menyesal Bang Fathur menatap istrinya.


"Tadinya mau menelan buru-buru. Sekarang abang makanlah." Mbak Nindya berdiri. Namun bang Fathur kembali menahannya.


"Abang tahu adek juga lapar, tapi tidak mau makan bersama abang. Ayolah, abang ini suamimu, jangan malu-malu dan kaku lagi. Kita makan bersama yuk." Bang Fathur berdiri, mengambil piring, menyendok nasi dan memberikannya ke Mbak Nindya. Mbak Nindya yang memang hanya makan tiga sendok jam sepuluhan tadi menurut saja. Mereka kemudian mengisi lauk dan perlahan keduanya mulai makan sambil sesekali berbicara tentang beberapa hal, sekarang mereka kelihatan akrab tanpa beban. Mbak Nindya pun perlahan-lahan mulai bisa bernafas lebih normal. Mengabaikan getaran di hati dari perasaannya yang begitu sayang dengan sang dosen yang sudah menikahinya.


*****


"Nin, Annisa katanya mau ikut kakek sama nenek menginap di rumah kakek yang lama." tiba-tiba Papa berdiri setelah menghabiskan sisa teh di gelasnya. Dia menatap tante Mira yang sudah siap dengan tas kecil berisi selimut dan mukenah.


"Hah? Gak mungkin yah. Annisa kan tidak mau tidurnya pisah sama ibu. Iya kan nak?" Mbak Nindya kaget dan langsung konfirmasi ke gadis kecil yang nampak cantik dengan balutan gaun ping dan pita keemasan di atas kepalanya.


"Mau bu, Nisa mau ikut kakek dan nenek ke rumah kakek yang lama. Kemarin sore itu kan Nisa sudah diajak kakek ke sana. Di sana ada Raffa kok buat teman Nisa." diluar dugaan ibunya, gadis kecil itu menjawab dengan mata berbinar. Dia bahagia dan semangat mau ketemu Raffa.


"Raffa?" alis Mbak Nindya naik tinggi keheranan.


"Iya, di rumah kakek itu kan ada anak seusia Nisa juga bu. Dia baik sekali kok. Ibu kemarin sih terlalu sibuk, kaktus kecil cantik kemarin itu dikasih sama dia." Nisa menjelaskan kepada ibunya.


"Siapa Raffa yah?" Mbak Nindya balik bertanya ke Papa.


"Anaknya Pak Rais yang sejak surat-menyurat rumah itu dikembalikan Pak Ezo ke Bapak, dia bapak minta menjaga dan merawat rumah." dengan tenang Papa menjawab.


"Lha kan ada yang jaga kenapa harus ke sana?" semakin bingung Mbak Nindya bertanya.


Entah dia pura-pura tidak tahu kalau ayah, ibu dan anaknya, sebenarnya memberikan waktu untuk mereka bisa bercengkerama dengan leluasa tanpa harus mengkhawatirkan sesuatu.


"Pak Rais mengundang mau bakar-bakar seafood, sekalian saja kami menginap di sana." Papa menjelaskan.


"Ah kalau ada acara Nindy juga mau ikut dong."


"Lha jangan, yang diundang hanya ayah sama ibumu dan Nisa." Papa menjawab lagi.


"Jadi kami tidak diundang ya pak?" Bang Fathur yang sedari tadi hanya mendengarkan, melirik dengan senyum kepada istrinya sambil bertanya kepada Papa.


hanya basa basi saja....


"Kalian jaga rumah." Papa menjawab sambil berjalan membawa kunci mobil menuju keluar rumah.


"Siaaappp...." Bang Fathur tersenyum menjawab, sedangkan Mbak Nindya nampak kebingungan.


Masa iya ada orang ngundang pilih kasih....


Namun saat dia mau bertanya lebih banyak, tante Mira, Papa dan Annisa sudah masuk ke dalam mobil, mereka melambaikan tangan dan berlalu. Tinggallah Bang Fathur yang kegirangan mencolek pinggang ramping wanita yang semakin merasakan debaran di hatinya.


"Ayo masuk beibh...." sebuah ciuman di pipi kembali mendarat. Mbak Nindya meraba bekasnya, lalu ikut masuk ke dalam rumah dengan senyum tertahan. Baru saja Bang Fathur mengunci pintu rumah, tiba-tiba terdengar adzan Isya berkumandang, dia pun segera mengambil sarung dan peci juga kunci motor dan bersiap ke masjid.

__ADS_1


"Tunggu..., pakai sarung baru ya bang...." Mbak Nindya segera ke kamar dan kembali dengan sarung merah kehitaman kotak-kotak kecil di tangannya. Dia menyerahkan ke Bang Fathur.


"Dari siapa?" sempat tercengang melihat ekspresi istrinya berlarian mengambilkan sarung untuknya, Bang Fathur bertanya heran.


"Adek beli sendiri buat abang." dengan malu-malu, menundukkan wajah dengan kaki sedikit bergoyang dan kedua tangan sudah di belakang, Mbak Nindya menjawab.


"Waw, terima kasih istriku. Kapan belinya ini?" Bang Fathur langsung mengganti sarung yang sudah dia pakai tadi.


"Seminggu lalu." Mbak Nindya tersenyum menjawab.


"Baru juga ya?" Bang Fathur memperhatikan kain sarungnya sambil berdecak kagum.


"Bagus sekali warnanya, nyaman pula bahannya dipakai." Uhhh..., begitu pandai Bang Fathur memuji. Mbak Nindya tersenyum senang.


"Adek mikir buat kasih sesuatu ke abang sampai nggak tidur tiga hari tiga malam lho." Mbak Nindya bicara jujur sambil menatap suaminya dengan bahagia.


"Ah masa segitunya." Bang Fathur mengelus rambut istrinya sesaat. Lalu beranjak pergi menuju masjid terdekat. Sementara Mbak Nindya tersenyum kebar karena merasa bahagia pemberiannya dipakai Bang Fathur.


Tuh kan kalau tidak ada orang lain Mbak Nindya bisa leluasa tersenyum....


*****


Sehabis sholat Isya, Mbak Nindya membereskan gelas dan piring di ruang tamu, membawa dan mencucinya di wastafel sederhana di dapur rumahnya.


"Assalamualaikum...," terdengar salam dan suara pintu depan terbuka. Bang Fathur telah pulang dari masjid.


"Waalaikumsalaaammm...." Mbak Nindya menjawab sambil membilas-bilas perabotan dengan air keran yang bersih. Dalam hatinya terbesit keinginan berlari ke depan, membukakan pintu dan menyalami suami setiap selesai sholat, namun semuanya hanya ada dalam imajinasinya saja. Kakinya terlalu berat untuk melangkah keluar. Wajahnya terlalu malu untuk memberikan sebuah senyuman menyambut sang pujaan datang. Ayalnya saja yang berjalan. Dia dipeluk dan dicium kening oleh suaminya setelah dia mencium tangan. Ayalnya saja yang sejenak terlintas untuk datang menemui suami langsung dan menawarkan secangkir minuman.


Ah..., terlalu memalukan! Bagaimana kalau dia cuek? Bagaimana kalau dia menolak? Bagaimana nanti kalau dikiranya aku kegenitan? Alangkah malunya aku nanti.


Mbak Nindya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendesah perlahan. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan pula.


"Sayaaang, kenapa tidak besok saja mencuci piringnya? Sudah malam, kamu pasti capek...," sebuah bisikan halus dan pelukan lembut dari belakang seketika mengagetkannya. Hatinya langsung berdesir tak karuan. Jantungnya berdegup-degup kencang. Dia menyelesaikan cucian gelas terakhir dan mengetuskan ke rak di piring di samping wastafel. Dia berbalik perlahan, kembali tersirap menatap wajah tampan sudah berada persis di depannya. Dia menahan nafas lama dan menghembuskannya.


"Sudah selesai. Tinggal mencu...." Mbak Nindya tak mampu melanjutkan kata-katanya. Bibirnya tiba-tiba saja sudah dibekap oleh bibir suaminya. Mereka sejenak terdiam, hanya bunyi kecupan lembut di bibir yang terdengar. Mbak Nindya terpesona, sungguh kecupan indah yang menggetarkan sanubarinya. Dia merasakan keindahan rasa. Entah kenapa tiba-tba saja dia begitu ingin memeluk laki-laki di hadapannya. Dan dengan jemari tangan yang masih lembab, diulurkan tangan menyeberang pinggang kokoh itu. Jemarinya terpaut erat. Wajahnya dia benamkan tepat di dada sang suami. Dan ternyata dia menyadari bukan hanya dia yang merasakan debaran dan getaran yang nyaman, karena dia merasakan degup jantung laki-laki yang kini turut memeluk erat bahunya dari belakang, berdetak dengan cepat, tak beraturan.


"Tolong bimbing Nindy agar bisa menjadi istri yang menyenangkanmu bang Fathur." begitu saja, tanpa terencana kalimat itu meluncur mulus menembus telinga Bang Fathur yang tersenyum dan mengelus-elus rambut istrinya. Dagunya menopang di atas ubun-ubun. Kemudian dia mengecup lembut kening sang istri.


"..., dan ajari abang pula, biar bisa selalu membuatmu bahagia." Bang Fathur balik bicara. Mbak Nindya tersenyum mengangguk. Keduanya saling tatap. Sungguh kemesraan itu tak harus direncanakan. Suasana hati dan lingkungan akan membawa melodi hati pada irama yang bahagia. Tak perlu diajarkan bagaimana cara berkasih, karena jiwa yang sudah terpaut tali pernikahan yang sah dengan kedua hati saling terbuka akan mengeratkan keinginan untuk bahagia bersama. Bang Fathur perlahan membantu melepaskan tali celemek putih di leher Mbak Nindya. Lalu perlahan dia merebahkan kekasih hati ke pangkuan, membawanya yang hanya mampu terdiam itu menuju peraduan. Hujan tak lagi rintik-rintik di luar, namun sudah berganti hujan deras yang menghalangi semua pendengaran. Curahnya yang lebat terdengar seakan mau merobohkan atap saja. Hujan yang disertai angin kencang.


"Di luar badai, semoga saja tidak mati lampu malam ini...," Mbak Nindya yang tadi sempat berdiri dari sofa untuk mengintai keluar kamar bicara kepada Bang Fathur sekembalinya dia ke kamar.


"Hamdulillah hujan, soalnya sudah hampir tiga minggu hujan tidak turun." Bang Fathur menanggapi. Dia sudah melepaskan kain sarung dan baju koko dari masjid tadi. Peci pun sudah kembali tergantung di paku dekat meja rias. Kini, dia hanya mengenakan celana Baggies putih dengan list hijau. Atasan hanya kaos tanpa kerah berwarna abu-abu muda. Sedangkan Mbak Nindya masih dengan tunik kemeja putih agak tipis dengan bawahan jeans hitam. Nampak Mbak Nindya seperti kebingungan harus mengerjakan apa di saat pertama kali berduaan dengan sang suami di dalam kamar. Akhirnya karena merasa risih harus duduk di kasur, dia memilih duduk sambil merapikan meja rias dengan alat-alat make up seadanya yang sebenarnya sudah berjejer dan tertata rapi. Dia malah merapikan jarum-jarum pentul yang berhamburan dalam cup persegi kecil di rak meja. Dia tusukkan satu per satu ke bantal jarum persegi delapan berwarna hijau bercorak aster kuning. Bang Fathur mendekati istrinya sehabis menyisir rambut dan menyemprotkan parfum ke badannya.


"Hemzzz..., baru abang sadari, rupanya tak harus ke awan untuk melihat bidadari...." Bang Fathur memeluk Mbak Nindya kembali dari belakang sambil bicara merayu. Mereka kembali menghadapi kaca besar seperti waktu di Mentok, di kamar Bang Fathur, saat Bang Fathur memasangkan perhiasan.


"Kapan? Dimana abang melihatnya?" Mbak Nindya mendongak bertanya.


"Sekarang, di ruangan ini. Ada seorang bidadari cantik yang telah memukau penglihatan abang."


"Hihihihiii...," sambil menutup mulut Mbak Nindya terkikik geli mendengan jawaban suaminya.


"Maksudnya Nindy? Hahaha..., kalau bidadari seperti adek, tidak ada orang yang akan mau sama bidadari."


"Buktinya ada, apa abang bukan orang?"


"Bukan begitu...," kembali Bang Fathur menghentikan bicara Mbak Nindya dengan membungkamnya pakai kecupan sambil berjongkok. Keduanya berpagutan sesaat. Lalu Bang Fathur kembali mengangkat tubuh ringan itu ke atas pembaringan. Dia mengganti lampu dengan lampu tidur berwarna kehijauan. Di luar hujan semakin deras, ruangan berAC ditambah lampu yang temaram, betapa syahdunya mereka menikmati malam pertama. Bibir ketemu bibir, remasan demi remasan di jemari dan bahkan payudar* yang seketika mengencang. Lidah Bang Fathur begitu lincah menari di seputar wajah, leher hingga ke sekujur tubuh kekasih halalnya. Kesemuanya membuat Mbak Nindya menggelinjang kenikmatan. Malam ini, di bawah temaram lampu tidur dan lebatnya hujan, Mbak Nindya tidak lagi menjadi sosok yang begitu pemalu. Dengan hati yang ikhlas dia bahagia melayani dan bahkan membalas setiap sentuhan, lenguhan dan bahkan erangan sang suami. Bagaikan dua musafir kehabisan air di padang pasir. Di ujung perjalanan mereka menemukan sumber mata air yang jernih dan dingin. Dahaga itu, dahaga hati yang lama kerontang, seketika terpuaskan, bersama mereka menikmati setiap tetes air tanpa membiarkannya untuk terjatuh sia-sia dan hilang ditelan lautan pasir.


"Terima kasih sayang, terima kasih atas semuanya, dirimu begitu hebat melayani abang. Kita bersih-bersih dulu, nanti akan ada ronde ke tiga."


"Haaaahhhh?" terbeliak mata Mbak Nindya menatap sang suami yang begitu hebat memandunya berkasih, lalu dia berjalan menuju kamar mandi, tanpa sehelai benang pun. Sementara laki-laki agresif itu masih tertelentang dengan nafas ngosh-ngoshan.


*****


Waktu belum lagi menunjukkan pukul sembilan malam, tiba-tiba saja, Bang Fathur sudah kembali menarik istrinya lagi, masuk ke dalam selimut yang tebal. Sementara di luar hujan semakin deras, sedangkan selimut itu kembali bergerak-gerak beraturan.


"Abang mau anak tiga lagi."


"Adek sudah tua, cukup satu."


"Tiga lagi."


"Dua saja."


"Baiklah."


Dan selimut itu pun perlahan menurun, keduanya kembali terpuaskan untuk yang ketiga kalinya.


Entahlah jam berapa mereka akan tidur....


Dan entah pulalah, pada ronde keberapakah pertandingan akan usai....


Hanya mereka dan Tuhan saja yang tahu....

__ADS_1


(bersambung)


Mohon maaf atas keterlambatan update, alhamdulillah anak saya sudah pulih dan sedikit demi sedikit saya bisa lanjutkan menulis. Tetapi mungkin juga tidak bisa up setiap hari, karena jadwal Author masih full mengejar target membersamai operator se-Kab. Bangka Barat menyelesaikan sinkronisasi dapodik. Terima kasih. Salam Literasi! 😊


__ADS_2