
Jam sebelas siang bang Zamy telah pulang setelah sebelumnya berpamitan mau ke kantor. Aku sempat curiga karena dia sudah pergi dari jam sembilan, tetapi seseorang datang ke rumah jam sepuluhan dengan membawa berkas untuk ditandatangani.
"Maaf bu, pak Zamynya ada?" Gadis cantik mengenakan rok pendek dengan batik seragam rumah sakit bertanya kepadaku.
"Dia belum sampai ke kantor ya? Padahal sudah pergi dari jam sembilan." Aku menjelaskan sedikit bingung.
"Oh baiklah bu, mungkin bapak sudah pergi bersama bu Indri ke lokasi."
"Ke lokasi? Kemana?"
"Owh bapak tidak bilang ya bu. Hari ini jam dua kita ada meeting di Hotel Swiss dengan investor untuk penambahan alat kesehatan. Makanya ini revisi proposal harus sudah selesai sebelum pertemuan." Bu Lidya menjelaskan.
"Musim begini masih ada meeting langsung?" Aku penasaran.
"Karena investornya dari China tidak mungkin kita pakai Zoom. Makanya di hotel besar, supaya lebih enak mengatur jaraknya tempat duduk nantinya." Bu Lidya menjelaskan lagi.
"Ohhh...." Aku melongo saja.
"Iya bu." Lidya membenarkan duduknya karena kedua paha putih mulusny terbuka lebar waktu dia duduk.
"Bu Lidya sudah menelpon bapak?" Beberapa saat kemudian aku bertanya.
"Sudah bu, tapi tidak diangkat."
"Oh..., oke permisi sebentar ya, saya coba menelponnya." Aku berpamitan ke dalam mengambil handphone dan mencoba menghubungi bang Zamy. Namun beberapa kali aku mencobanya, tetap telpon bang Zamy tidak tersambung. Bu Lidya pun akhirnya berpamitan pulang kembali ke kantor tanpa berhasil mendapatkan tandatangan.
***
"Assalamualaikum sayang? Kenapa cemberut?" Bang Zamy bersalam dan memegang bahuku dari belakang. Dia kemudian meletakkan kunci mobil di gantungan shabby dan membuka baju, meletakkannya ke sandaran sofa. Lalu kembali mendekatiku. Aku belum memberikan senyum cantikku sejak dia datang. Kupasang muka datar kali ini. Ada sedikit kegelisahan dan rasa curiga singgah di hati. Apa mungkin dia malah pergi bersama Indri duluan ke hotel dan sesuatu telah terjadi.
"Aaahhh...." Aku tak sengaja mendesah kesal. Bang Zamy menatapku bingung.
"Kenapa beibh? Abang salah ya?" Bang Zamy mencium keningku. Kemudian memeluk pundakku dengan erat.
"Kenapa? Kok Diam? Apa ada sesuatu yang salah? Katakanlah sayang." Bang Zamy tidak putus asa membujukku.
"Abang darimana? Tadi katanya mau ke kantor, tapi kok tidak ada di kantor?"
"Kok tau abang tidak ke kantor?" Bang Zamy berjongkok memegang pahaku. Aku memiringkan badan tak mau menatapnya.
"Indri siapa? Usia berapa? Bagaimana orangnya?" Aku bertanya dengan nada tidak suka.
"Hah? Indri? Owh dik Indri. Hemmm..., dia staf bagian penganggaran. Dia seksi sekali sayang, badannya tinggi semampai, putih, hidung mancung, masih gadis, bicaranya lembah lembut lagi...." Bang Zamy menjelaskan dnegan berapi-api.
"Ah sudahlah." Aku memotong bicaranya dengan kesal, lalu berdiri dari sofa dan pergi menuju ke kamar.
"Eh puasa-puasa tidak boleh ngambekan dong. Mau abang kenalkan sama bu Indri ya....?" Bang Zamy menyusulku.
__ADS_1
"Ogah." Aku menjawab ketus dan melemparkan diri ke kasurku yang empuk. Bang Zamy tersenyum bernyanyi-nyanyi kecil mengambil handphonenya di ruang keluarga tempat dia meletakkan tadi. Lalu membuka hp dan memperlihatkan kepadaku seorang wanita di pertemanan facebooknya bernama 'Indri Sekseeeh'
"Ooohhh Indri..., kau cantik sekaliii. Owh Indri aku terpesona menatapmu...." Bang Zamy memberikan handphonenya kepadaku. Aku meliriknya, nampak seketika olehku seorang wanita bertubuh tambun dengan lima lipatan di perutnya. Kutaksir berat badannya mungkin hampir satu kwintal. Hidungnya tidak tampak lagi tertutupi pipinya yang super chubby. Ditambah rambut pendek dengan poni dora dia semakin kelihatan menggemaskan. Kulitnya gelap, namun tidak dengan giginya.
"Ini bu Indrinya?" Aku tersenyum menatap bang Zamy.
"Kalau teman abang di kantor iya, itu Indrinya." Bang Zamy memeluk leherku sambil duduk. Aku terkakak dengan sendirinya.
"Adek mulai cemburuan ya? Senangnyaaa..., abang dicemburuin. Tapi jangan dengan bu Indri juga lho Bee..., kesannya gimanaaa.... gitu...." Bang Zamy kembali mencium rambutku.
"Eh kok bisa tau masalah Indri segala kenapa?" Bang Zamy bertanya antusias.
"Tadi bu Lidya ke sini membawa berkas." Aku menjawab.
"Owh.... Bilangnya abang pergi sama bu Indri ya? Hahahaaa...." Bang Zamy terkekeh lucu.
"Nggak lucu tau bang." Aku mencubit lengannya karena malu sendiri telah berprasangka buruk dan cemburu kepada bu Indri. Bang Zamy kemudian menceritakan semua tentang kesombongan Karo SDM di Polda Babel dan juga semua kejadian yang dia temui beberapa jam tadi. Aku hanya tersenyum bahagia. Aku merasa tidak perlu mencemaskan bang Zamy akan tergoda dengan bu Indri lagi. Namun aku tetap harus waspada agar jangan sampai mata bang Zamy fokus ke rok Lidya.
"Bang kalau Lidya itu siapa?"
"Lha kok nanya Lidya pula? Dia kan yang datang kemari?"
"Iya. Maksud adek dia kerja bagian apa?" Aku bertanya serius. Bang Zamy menatapku.
"Dia di kantornya juga. Jabatanya Kepala Bidang Perencanaan, nah kalau sama dia abang harus waspada."
"Suka apanya? Abang sukanya sama permen berbungkus rapi milik sendiri, bukan permen terbuka, yang mungkin sudah bercampur pasir, dihinggap lalat serta meleleh penuh bakteri. Abang kan suka yang higienies." Bang Zamy beranalogi sesaat. Aku pun mengerti maksudnya.
"Janji yaaa...." Aku menjulurkan jari kelingking seperti Nisa mengajakku berjanji. Bang Zamy tersenyum geli mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingkingku.
"Sayaaang, cukup berikan abang senyuman hangat di setiap pagi. InsyaAllah sepanjang hari senyum itu akan selalu mengikuti, maka tak ada tempat lagi untuk senyum-senyum lain yang menggoda." Bang Zamy menasihatiku. Aku bahagia sekali mendengarnya.
"Om! Tante!" Di luar tiba-tib terdengar suara Nisa memanggil. Kami kemudian memgatur duduk agak berjauhan, bahkan bang Zamy langsung turun dari Sofa.
"Assalamualaikum tanteee..., oommm..., Nisa boleh masuk tidak?"
"Waalaikumsalam tidaaakkk...." Bang Zamy menjawab sambil berjalan menuju pintu dapur. Aku mengulum senyum.
"Aih oommm pelit, kenapa Nisa tidak boleh masuk?" Nisa bicara masih di depan pintu. Mukanya cemberut sambil memakai sendalnya kembali.
"Maksud oom tidak boleh tidak jadi masuuukkk...." Bang Zamy menangkapnya yang hampir berlari melangkah kembali menuju ke villa.
"Mau kemana?"
"Mau pulang main sama nenek dan kakek. Kata om Nisa tidak boleh masuk." Gadis kecil itu bicara dengan polosnya.
"Sama kakek?" Bang Zamy dan aku kebingungan. Kami bertatapan.
__ADS_1
"Iya di rumah ada kakek lho. Nisa dibawain coklat banyak segini gini...." Nisa menyetel kedua telapak tangannya menggambarkan banyaknya coklat yang dia punya.
"Kakek yang mana?" Aku ikut bertanya heran.
"Yah tante mah dipanggil-panggil kakek tadi pagi tidak keluar. Makanya kakek datang ke tempat Nisa. Ayo kalau tidak percaya kita ke sana." Nisa menarik tangan bang Zamy.
"Eehhh..., main tarik tarik saja ini anak. Om Zamy pakai baju dulu dong. Kan maluuu..., pakai singlet doang...." Bang Zamy mencubit hidung Nisa yang langsung memerah.
"Iiihhh.... om ini bagaimana sih, kenapa juga tidak pakai baju. Sama tante Naura saja yuk. Kita temuin kakek. Kasian..., Kakinya kakek luka banyak." Nisa menarikku yang langsung mengambil sendal jepit dan pergi menuju villa. Hatiku menjadi tidak nyaman, deg deg-an.
"Tapi sssttttt..., jangan berisik kakeknya baru tidur." Nisa meletakkan jari telunjuknya ke bibir. Aku hanya mengangguk. Bang Zamy sudah menyusul, dia kembali mengenakan baju kaos sambil berjalan.
"Kapan sih datangnya kakek? Kakek yang mana?" Aku penasaran.
"Tadi tante..., kata kakek sudah memanggil-manggil dan mencel belnya rumah tante berkali-kali, tapi tidak dibukain pintu."
"Owh yang tadi. bukan Nisa yang main-main dengan bel waktu tante lagi mandi?" Aku mengingatnya.
"Bukan. Nisa tidak mencet-mencet bel kok hari ini." Nisa menjelaskan. Kami hampir sampai ke villa, namun baru saja sampai di depan teras, tiba-tiba saja muncul sebuah mobil sedan silver masuk ke depan teras dapur. Mama turun dan memberi aba-aba ke sopir agar mobil parkir di bawah pohon rambutan dekat pagar. Seketika Kudorong Nisa agar masuk ke dalam villa.
"Masuk dan tutup pintunya ya nak. Jangan dibuka kalau bukan om atau tante yang datang." Nisa hanya mengangguk pelan. Mata polosnya nyata kebingungan. Aku dan bang Zamy kembali ke rumah.
"Naura!!!" Mama memanggil seperti seorang tukang tagih hutang. Aku masih diam, agar mama tidak melihat kehadiran kami dari arah villa.
"Nauraaa.... hei Naura!" Kemudian mama nyelonong masuk ke dalam rumah yang memang terbuka. Bang Zamy menungguku yang berjalan di belakangnya. Lalu memegang tanganku dan kami berjalan sejajar lebih cepat.
"Ada apa lagi ya Bee, puasa-puasa begini masalah lagi masalah lagi." Bang Zamy tersenyum kaku sambil menggelengkan kepala.
"Jangan bilang kalau Papa ada di atas, Adek yakin kakek yang dikatakan Nisa itu Papa." Aku bicara perlahan lalu masuk ke dalam rumah.
"Ram! Kau pasti sembunyi di sini Ram. Aku yakin kau di sini." Aku menemukan mama di dalam rumah dengan langkah terburu-buru membuka kamar demi kamar.
"Tante! Apa yang tante lakukan di dalam rumah ini? Tidakkah tante punya sopan santun?" Bang Zamy emosi melihat tingkah mama yang bolak balik membuka pintu demi pintu bahkan membantingnya dengan keras.
"Apa? Masa rumah anak sendiri harus sopan santun. Dimana papamu Naura? Kau sembunyikan dimana tua bangka itu hah?" Aku diam saja, hatiku rasanya panas sekali melihat tingkahnya. Namun untuk marah? Aku masih mencoba menahan emosiku. Tak ingin pahala puasaku berkurang.
"Kenapa diaaammm....? Kemana kau sembunyikan tua bangka itu Naura? Kenapa juga dia tidak segera mati saja...." Mama mendekatiku. Aku hanya diam.
"Ini semua karena kalian! Kalian yang membawa wanita lumpuh sialan itu ke sini."
"Plak!" Mama menampar pipi kiri bang Zamy. Aku kaget bukan kepalang. Bang Zamy mengelus pipinya dan melihat ke arahku. Tangan mama terangkat lagi ingin memukulku. Bang Zamy menahannya dengan gigi gemerutuk.
"Berhenti tante! Dia istriku. Tidak ada seorangpun yang boleh menyakitinya. Termasuk kau yang pernah melahirkannya." Bang Zamy membanting tangan mama dengan keras. Lalu menarik tangan mama dan mendorongnya keluar. Bang Zamy mengunci pintu.
"Maaf Bee...." Bang Zamy menatapku lalu duduk di kursi makan dengan membawa segelas air. Dia minum meredakan emosi. Aku mengintip melalui tirai, mama masih memaki-maki hingga masuk ke dalam mobil kembali. Tak lama kemudian mereka pergi. Yang nampak hanyalah pak Rohim dengan sebuah kedik di tangan, terbengong-bengong melihat ulah mama.
***
__ADS_1