Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 56 Reuni Menjengkelkan


__ADS_3

Sehabis sholat dzuhur, bang Zamy mengajakku ke Istana Laut pantai Pasir Padi. Sebuah restaurant yang menjorok ke tengah laut, didesain persis seperti sebuah kapal besar. Di Istana laut inilah biasanya panitia-panitia kegiatan yang diselenggarakan oleh pemda atau pemprop membawa nara sumber yang berasal dari luar daerah. Menu yang disajikan berupa panganan kearifan lokal, aneka isi laut yang sangat fresh. Ikan, kepiting, cumi segar disiapkan masih benar-benar fresh bahkan terkadang masih hidup. Pelanggan memilih sendiri sesuai selera, ditimbang, lalu dimasak saat itu juga. Jika tidak memesan terlebih dahulu, memang harus ekstra sabar menunggu masakan khas Bangka ini sampai disajikan dan bisa dinikmati.


Setelah melewati padang ilalang yang tumbuh lebat, berbunga putih melayang-layang tertiup angin di antara pohon-pohon kelapa yang sudah tinggi menjulang tanpa buah lagi. Tibalah kami ke jalan aspal pinggir pantai. Bang Zamy mengajakku ke Istana Laut untuk reuni dengan teman-teman seangkatan dari Bangka semasa kuliah di Jogja dulu. Nampak ombak menari-nari berlatar langit biru dan awan putih yang berarak. Jiwaku terasa damai menatapnya. Mataku yang tertiup angin saat membuka jendela kaca mobil terasa sedikit perih dengan nuansa mengantuk. Sejauh mata memandang hamparan laut lepas dengan deburan ombak sedang pasang, menjadikan perjalanan kami semakin romantis saja. Sungguh pesona alam yang sangat indah di negeri Kepulauan ini. Kami menimmati semuanya di perjalanan sambil sesekali erat berpegangan tangan.


"Tuh yaaaanggg si Juan sudah datang rupanya." Sambil memarkir mobil di bawah pohon ketapang bang Zamy menunjuk ke dalam Istana laut. Nampak olehku beberapa laki-laki seusia bang Zamy sudah melambaikan tangan. Tak ada lagi yang memakai masker dengan sebenarnya. Ada yang maskernya sudah di atas kepala, ada yang malah diikatkan ke kening dan rata-rata mereka bermasker di dagu dan leher. Bang Zamy memegang erat tanganku saat mulai memasuki restoran yang dituju.


"Halo pak dokteeeerrr..., waw wajahnya semakin bersinar saja sejak menikah. Ya nggak kawan-kawan?" Si Joan yang tadi melambai-lambai berdiri menyambut kehadiran kami. Seketika aku menghitung. Sudah ada sembilan laki-laki dan empat orang wanita cantik yang tak satu pun memakai jilbab. Paras mereka putih bersih cantik seperti para selebritis.


"Makanya lu cepat nikahnya Jooonnn..., biar muka ikut glowing seperti dokter Zamy." Alvin bersalam dengan bang Zamy sambil menggoda Joan yang hanya nyengir kuda sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Mereka menyambut kami ramah termasuk teman wanita mereka. Kecuali satu orang yang nampak sibuk dengan hapenya.


"Cantik sekali istrimu Zam, apa dia punya saudari yang belum menikah?" Joan yang hitam manis itu berbisik keras di telinga bang Zamy. Bisikannya sengaja dia keraskan agar terdengar oleh teman-temannya.


"Limited edition istri gua mah. Dia hanya satu-satunya di dunia." Bang Zamy menjawab santai, dia memegang bahuku yang duduk persis di sebelah kanannya. Di sebelah kirinya, duduk Shelly, gadis cantik dan seksi dengan baju berwarna silver sedikit terbuka. Dialah yang cuek menyambut kehadiran kami. Dia asyik dengan gadjet sambil menggoyang-goyangkan badannya. Paha kanannya yang putih mulus menimpa paha sebelah kiri. Bibirnya berlipstick merah hati dengan make up sempurna, sungguh menakjubkan.


"Selera lu ketinggian, makanya gak dapat istri." Andien, salah satu gadis di sana mengejek Joan.


"Jangankan istri dia mah, pacar saja tidak punya." Dika menimpali. Yang lain tertawa terbahak-bahak.


"Duuuhhh..., ngeneeesssnya Jooonn..." Habis tertawa, Shelly ikut mengejek, tapi matanya sempat singgah ke wajah tampan bang Zamy. Aku sudah menandainya, harus hati-hati dengan gadis satu ini, batinku. Kemudian mereka mulai nampak semakin akrab, bernostalgia dengan masa lalu mereka. Terbahak dalam suasana indah. Aku menyesuaikan diri, saat wajar tertawa aku ikut tertawa, ketika ditanya kewajibanku hanya menjawab. Namun nampak olehku tatapan Shelly ke bang Zamy sangat tidak wajar. Sesekali dia menulis pesan, lalu terdengar mendadak bunyi hp bang Zamy yang diletakkannya di meja. Aku mencoba menjaga hatiku untuk tidak khawatir dan selalu mempercayai suami yang sudah menitipkan benih cintanya di rahimku. Mendengar pesan masuk di hp bang Zamy, Shelly menoleh ke arah bang Zamy, namun dia tidak menggubrisnya, malah semakin asyik dengan keseruan cerita di antara mereka. Aku pura-pura tidak memperhatikannya, meski berkali-kali Shelly bertingkah agak aneh.


"Pesanan datang...," Andri bersorak melihat empat orang pelayan datang membawa pesanan mereka di kiri kanan tangan. Aneka olahan sea food yang menggugah selera. Beruntungnya perutku masih terasa kenyang, jadi aku bisa menjaga wibawa di depan teman-teman bang Zamy. Sekejap saja setelah keempat pelayan bolak-balik, tersaji di meja panjang ada kepiting besar saos tiram, Udang rebus bumbu beserta kecap cabe cuka untuk cecelan, rebus siput Gong-gong, Bakar bumbu ikan kakap kualitas ekspor empat ekor, Shelly meletakkan satu di antara dia dan Bang Zamy.


"Ini Zam." Dia menyodorkan ikan bakar bumbu lebih dekat lagi ke bang Zamy yang hanya tersenyum mengangguk.


"Terima kasih." Jawabnya. Dan entah kenapa aku tidak suka momen itu. Kulirik lagi ada empat piring cumi goreng tepung krispi beserta saosnya. Ikan Jebung bakar besar dua ekor, serta enam piring cah kangkung bawang putih. Tak sampai di situ, pelayan kembali datang dengan mangkok besar lempah ikan seminyak. Perutku semakin keroncongan. Bang Zamy tersenyum kepadaku, namun aku kurang meresponnya. Ada rasa tidak nyaman tiba-tiba menyeruak. Mungkin saja, ini adalah titik kecemburuanku yang muncul tiba-tiba. Kuluapkan ketidaknyamanan rasa itu dengan menyeruput hampir segelas besar air es dogan tanpa gula. Bang Zamy melongo saja menatapku.


"Ayo ayo ayo kita makan dulu, nanti lanjut ngobrolnya. Mumpung boss sawit yang traktir." Kaka menoleh ke arah Hairul yang memiliki kebun sawit yang luas. Dia keturunan Jawa yang sudah memiliki istri dan dua orang anak.


"Tenaaanggg, kalau duit saya kurang, kan ada pak dokter...." Hairul menjawab sambil menatap bang Zamy.


"Boleh boleh boleh...." Bang Zamy langsung menyanggupi. Dia mengupas capit kepiting besar yang sudah dikeprok, lalu mengambil dagingnya dan menyuapkan kepadaku. Aku menerimanya dengan sedikit rasa malu.


"Kau masih seperti dulu Zam, romantis sekali. Jadi ingat masa...."


"Sit suiiiitttt jadi pengen cepat-cepat melamar gadis oranggg..., kalau melihat kemesraan bapak dan ibu dokter...." Joan memotong ucapan Shelly. Joan memandang tajam ke arah Shelly, nampak dia tidak suka melihat gadis itu. Aku menatap bang Zamy yang masih nampak biasa-biasa tanpa menanggapi ucapan sahabat wanita di sebelahnya duduk.


"Bagaimana usaha percetakanmu Dit? Semakin rame saja kulihat." Bang Zamy menatap Didit yang dari tadi tidak banyak bicara. Sesekali dia hanya menelpon seseorang. Duda berambut ikal itu nampak kurang menikmati reuni mereka. Dia alumni Akuntansi di Universitas Ahmad Dahlan.


"Alhamdulillah Zam, sedikit demi sedikit, mulai berkembang." Didit sangat merespon bicara dengan bang Zamy. Sambil membuka udang rebus besar, dia melanjutkan.


"Doain insyaAllah sebentar lagi datang mesin cetak buku." Didit semangat membuka lagi obrolan.


"Wah semakin jadi pengusaha hebat dong Dit, traktir kita di sini lagi ya nanti." Vina menyahut.


"Gampaaanggg..., tapi bantuin promo dong ke kantor-kantor pemprov tempat kamu...." Didit menjawab. Viba menampilkan jempol kanannya.


"Semoga sukses Dit, dan kalau sudah ada mesin cetaknya infokan ya. Ini nih istri saya paling suka menulis naskah novel. Dia dari SD memang sudah suka baca tulis. Kadang maksa-maksa saya yang pinjam buat dia yang baca. Kan kalo pinjam itu maksimal tiga buah buku di perpustakaan. Nah dia sehari itu bisa habis membaca enam buku lho." Bang Zamy menepuk-nepuk pundakku. Aku tersenyum mengangguk.


"Tapi kok jadi dokter mbak? Kenapa tidak jadi guru sastra saja?" Shelly bertanya tanpa ekspresi. Mereka bergantian menatapku dan Shelly, juga bang Zamy.


"Lha kamu Shel? S1 Bahasa Jerman UNY tapi kok kerjanya jadi Senior Sales Asistant Manager Yakult di wilayah Bangka Belitung sih, kan nggak nyambung. Apalagi lu gak suka minum Yakult, maunya susu putih." Joan menyerang Shelly yang hanya cuek bebek diskak mat sama Joan. Tak ada yang menyahut lagi, mereka melanjutkan makan. Aku membuka cangkang udang, namun belum terkelupas yang di tangan, bang Zamy menyuapiku dengan seekor udang kupas yang sudah dia celupkan ke sambel kecap.


"Huuuhhh..., mau dong disuapin." Didit menggoda kami.

__ADS_1


"Ah lu Dit, istri sudah cantik-cantik dipulangin." Joan yang memang nampak paling heboh diantara mereka menjawab.


"Percuma gua doang yang sayang, dia mah kagak. Mau duitnya saja. Tiap jam ganti gincu, sebentar-sebentar kelayapan gak jelas. Mending dipulangin." Didit menjawab serius.


"Lho Dit...? Curhatnya di diari bukan di meja makan." Anggita berseloroh. Mereka tertawa bersama. Hanya Shelly yang nampak tidak begitu responsif terhadap obrolan.


"Eh yang tadi serius lho Dit. Bilangin kalau sudah siap cetak buku. Beneran saya mau nerbitkan novel istri. Nanti tinggal ngurus ISBNnya saja. Naskahnya sudah banyak lho, Yang dia kirim ke penerbit satu."


"Lulus nggak?"


"Lulus sih, tapi terbitnya sampai nunggu puluhan taun, berkarat tuh naskah. Mending cetak sendiri, distribusi sendiri untuk kepuasan dianya. Iya nggak yaaang?" Bang Zamy mencolek jemariku. Aku hanya tersenyum.


"Serius nanya Zam, bener ya istri lho suka nulis naskah novel?" Didit bertanya kurang percaya.


"Iya serius. Ini saja dia ada iseng nulis naskah di sebuah platform online." Bang Zamy semangat menjelaskan.


"Itu dibayar nggak sih?" Vina bertanya sambil mencongkel siput gong-gong dengan tusuk gigi. Dia menatapku.


"Ada sih dibayar, tetapi tidak seberapa lah kalau itunya." Aku menjawab jujur.


"Masa sih? Apa kalian kekurangan uang dari sekedar menjadi dokter Zam?" Shelly bertanya tidak manusiawi. Aku tersenyum cantik menanggapi. Vina merengut memasang muka masam ke arah Shelly.


"Kekurangan sih tidak mbak Shelly. Tapi yaaa..., namanya hobi kan begitulah." Bang Zamy menjawab kurang suka.


"Mbak? Masa sekarang lho manggil gue mbak sih Zam? Kesannya gue kayak mbak-mbak jamu itu lho." Shelly kembali membangkitkan ketidaknyamananku. Aku menatap bang Zamy yang memberi pertanda dari matanya agar aku tetap tenang. Apa sih maunya gadis satu ini. Masa iya dia minta dipanggil sayang? Itu kan panggilan bang Zamy hanya untukku. Hatiku sedikit tersulut amarah dan rasa cemburu.


"Oke Zam, nanti kalau sudah datang alatnya. Kita cetak bukunya deh." Didit bicara meyakinkan.


"Gratis satu buku ya?" Joan menimpali.


"Mau ding."


"Pengen baca gua."


"Jangan lupa untukku...."


"Sisakan satu bro, langsung tanda tangan ya."


Teman-teman bang Zamy semua serentak merespon. Aku tersenyum bahagia. Hanya Shelly yang tidak menanggapi. Dia malah tertangkap olehku, sengaja menyenggol tempat tusuk gigi yang seketika jatuh dan bergulir keluar meja. Bang Zamy spontan akan menangkap tempat tusuk giginya, namun terlepas, dia menunduk akan mengambilnya di dekat kaki meja, tapi malah membuat keningnya beradu dengan kening Shelly yang seketika dengan sengaja ikut menunduk saat bang Zamy akan mengangkat wajahnya dari balik meja. Aku yang ikut menunduk melihat bang Zamy mengambil tusuk gigi melihat kesengajaan itu. Bang Zamy menoleh kepadaku yang seketika menggigit bibir atas karena menahan marah dan cemburu.


Bang Zamy duduk kembali, dia menangkap sinyal ketidaknyamanan hatiku. Kemudian dia menuju kran cuci tangan di sudut depan toilet resto, lalu mengeluarkan uang satu juta dari dompetnya.


"Pak boss kelapa sawit, gue tambahin dikit ya." Dia tersenyum menatap Hairul.


"Lho kok buru-buru Zam?" Hairul bertanya. Yang lain ikut melihat ke arah kami.


"Lupa kalau jadwal hari ini mau nganterin tante Mira ke totok saraf." Bang Zamy berkilah. Aku melihat ekor mata Shelly menatap ke arahku.


"Buka We a ya Zam, iseng aja nemu. Jadi inget wak...."


"Zam, lain kali kita ke pantai ya, bakar-bakar. Yang mau ikut wajib bawa pasangan." Joan kembali memotong ucapan Shelly yang seketika berdiri menuju toilet, dia menatap tak senang ke arah Joan yang dua kali sudah dengan sengaja memotong pembicaraannya.


"Masih ngebet aja tuh betina mau sama lu." Joan menyenggol bang Zamy dengan badannya. Dia berjalan mengambil tisu yang dari tadi ada di depan kursi Shelly. Mulutnya menunjuk Shelly yang sudah keluar dari toilet dan sedang menatap dirinya di depan kaca belakang resto. Nampaknya dia sengaja berlama-lama karena tidak ingin menemui kami yang telah bersiap akan pergi.

__ADS_1


"Dulu saja Zamy nggak doyan, apalagi sekarang sudah sering ganti oli..., gua aja kagak sudi...." Joan melampiaskan ketidaksukaannya sama Shelly. Yang lain diam hanya tersenyum-senyum memaklumi.


"Maaf gue yang ajak, kirain sudah tobat dia." Vina akhirnya menyahut."


"Ya sudah habisin semua nih yang sudah dipesan, mubazir." Hairul bicara lagi.


"Oke..." Mereka menjawab kompak.


"Duluan ya semuanya. Sampai jumpa lain waktu, assalamualaikum....." Bang Zamy melambaikan tangan kepada teman-temannya. Aku tersenyum mengangguk ikut berpamitan kepada mereka. Bang Zamy menggenggam tanganku menuju mobil. Sementara menunggu mesin panas dia mencium perutku.


"Mana hape abang?" Aku menengadah tangan meminta handphone bang Zamy.


"Buat apa? Kamu cemburu ya sayang?" Bang Zamy langsung memberikan handphonenya. Aku membuka kunci pola dan membuka aplikasi whatapp. Nampak beberapa pesan dari rekan kerja, pasien dan lainnya. Aku fokus mencari pesan dari nama Shelly namun tidak ada nama shelly.


"Kenapa sih sayang? Sia-sia saja jika kamu cemburu." Bang Zamy menggelitiki pinggang kananku. Aku melepaskan tangannya sedikit kasar. Mata bang Zamy membelalak. Tak pernah aku sekasar ini.


"Awww, galak sekali sih sekarang...." Mobil Bang Zamy mulai mundur dan mengklakson kepada teman-temannya. Mereka melambai-lambaikan tangan. Kami pun meninggalkan reuni yang menyebalkan itu. Reuni yang membuat hatiku menjadi tak nyaman. Aku terbelalak saat melihat pesan dari nomor yang tidak tersimpan di hp.


"Masih ingat foto-foto ini? Aku sering tersenyum sendiri lho Zam mengingatnya." Captionnya membuat dadaku meninggi. Kuklik foto-foto yang dia kirimkan. Sekitar sepuluh buah foto saat mereka kuliah dulu.


"Shelly siapa?"


"Tadi itu temannya abang, Shelly namanya." Bang Zamy tersenyum menjawab.


"Maksudku itu siapanya kamu?" Aku bertanya kesal karena merasa cemburu melihat foto-foto mesra mereka berdua meski itu sudah lama berlalu.


"Yaaa..., dia pernah bersama abang di masa lalu. Paling hanya hitungan bulan." Bang Zamy menjawab menatapku sejenak, kemudian kembali fokus mengemudi. Aku semakin kesal dibuatnya.


"Dia mantanmu?"


"Seperti Nina, kami tidak ada ikrar yang mengikat."


"Perlukah membawa istri di reuni bersama mantan?" Aku masih tersulut emosi. Dadaku sesak menahan amarah. Bang Zamy menatapku sesaat, kemudian dia menepikan mobil, menetralkan giginya dan memasang leting kiri.


"Kenapa berhenti?" Aku semakin marah. Namun dia diam saja. Matanya menatap sayang ke arahku. Dia malah merapikan jilbabku. Aku menepiskan tangannya. Memberikan handphonenya dengan kasar.


"Ayo jalaaaan. Aku mau pulang, mau istirahat. Kalau tau begini, reunian yang dihadiri oleh mantanmu yang ganjen, sempat-sempatnya beradu kening, seperti mau berciuman saja. Menjijikkan. Pasti tadi aku tidak mau ikut." Marahku semakin tidak terkontrol. Terbayang lagi bagaimana saat mereka bertemu jidat.


"Ayo cepetan pulaaanggg...." Aku hampir merengek minta bang Zamy segera menjalankan mobilnya. Namun dia masih saja diam.


"Atur nafas dulu, istighfar sayang. Berpikirlah yang positif, Bee..., jangan melihat masa lalu abang bersama orang lain. Ikuti dan percayalah ke abang. Sungguh yaanggg..., tak ada ruang lagi buat bahkan setengah orang pun di relung hati abang. Sekarang kehadiranmu sudah memenuhkan segala kebutuhan dan keinginan hidup abang. Apalagi ada yang di sini, buah cinta kita. Dia pasti akan semakin melengkapi kebahagiaan abang." Bang Zamy mengelus perutku lagi lalu meraih bahu kananku. Dengan sabar dia kemudian meremas jadi jemariku sambil menyandarkan badanku ke bahu kirinya.


"Ayo kita pulang." Aku kembali duduk dan bicara manja. Bang Zamy menatapku lembut.


"Terima kasih Bee sayang."


"Untuk apa?"


"Untuk kecemburuanmu itu...."


"Nih hape abang, hapus dan blokirlah." Dia kembali bicara menambahkan sambil mengembalikan hapenya kepadaku. Namun aku masih membisu. Dadaku masih tetap menyisakan rasa cemburu.


*****

__ADS_1


Kalau cemburu ekspresinya makin cantik kali ya?



__ADS_2