
Seperti yang dijanjikan yuk Zaidar, dia sudah datang ke rumahku ketika aku baru menyelesaikan sholat Subuhku. Kesibukan sedikit terasa di Subuh ini. Yuk Mairoh yang menginap di rumah sudah selesai membuatkan sarapan dan teh hangat. Mbak Nindya sudah selesai menyapu rumah, dia lantas menggelar karpet indah bernuansa merah dengan ukuran besar. Ayah sudah duduk di kursi teras samping sambil menikmati kopi hitam dan aneka kue kering. Yuk Zaidar datang dengan empat orang perias lain untuk membantunya. Ibuku bolak-balik menyiapkan segala keperluan di rumah. Aku sudah selesai mandi atas suruhan yuk Zaidar. Kemudian mulai didandani perlahan-lahan. Sementara ibu didandani oleh yuk Yati, adik kandung yuk Zaidar.
"Nindya kalau sudah siap semua, tolong kamu bawa bu Mira sama Nisa, kita berdandan di sini semua ya." Aku mendengar ibu bicara kepada mbak Nindya yang gelagapan.
"Masa kami juga harus didandani buk?" Dia ragu bertanya.
"Iya dong, semuanya akan cantik hari ini. Cepat bawa Nisa dan ibumu." Ibu kembali mengingatkan mbak Nindya yang belum bergerak. Badannya malah menghadap ibu dengan sempurna.
"Apa boleh kami berdandan sendiri bu?" Mbak Nindya bertanya lagi.
"Tidak. Kita sudah menyewa tukang rias pengantin, jangan disia-siakan." Ibu menjawab tegas. Aku hanya diam.
"Oh.... kalau begitu, apa kami boleh...." Mbak Nindya ragu-ragu ingin melanjutkan bicaranya.
"Kenapa Nin? Bilang saja nak." Ibu melihat kegelisahan mbak Nindya.
"Bolehkah kami didandani di sana saja?" Mbak Nindya menunjuk ke arah villa tempat tinggal mereka.
"Silahkan saja." Ibu bicara kepada Nindya.
"Eh yuk Zaidar, tolong dong ada yang merias ke villa sana." Ibu bicara kepada yuk Zaidar. Lantas yuk Zaidar mengirim dua orang asistennya ke villa untuk mendandani ketiganya. Aku mulai didandani bagian wajah dan leher. Pakaianku hanya selembar kain sarung.
"Bee..., wajah kameramen yang...."
"Eh keluar sana keluar abangnya...," Aku memotong kalimat bang Zamy yang tiba-tiba masuk ke kamar. Aku mengusirnya tiba-tiba karena merasa malu sedang tidak mengenakan baju tetapi hanya kain sarung saja atas saran yuk Zaidar.
"Kok langsung ngusir?" Bang Zamy bingung dan terbengong melihat ke arahku.
"Pergilah abangnyaaa..., buruan adek lagi dandan nih. Ihhh...." Aku kalang kabut. Malu tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhku memperlihatkan separuh badanku tak berpakaian. Betisku yang putih jenjang segera kusembunyikan dengan sisa sarung yang bisa ditarik. Tanganku menarik jilbab di dekat yuk Zaidar lalu segera menutupi sebagian dada atas dan leher yang terbuka. Ibu dan periasnya hanya tersenyum-senyum saja. Yuk Zaidar terkikik sambil membisikkan sesuatu di telingaku.
"Nanti malam juga semua akan terbuka dokter...." Zuk Zaidar mencubit gemas pipiku yang seketika memerah.
"Iiihhh..., apaan sih ayuk...." Aku mencubit balik ke pinggang yuk Zaidar yang rata. Ibu dan perias lainnya tertawa cekikikan. Bang Zamy masih terpanah melihatku. Aku semakin malu dibuatnya.
"Kau kurus sekali Bee..., sampai keluar begitu tulang selangka di dekat lehermu. Bisa naro kopi itu mah...." Bang Zamy bercanda. Aku tahu dia tahu leher jenjang sepertikulah yang banyak didambakan para laki-laki. Aku meraih plastik tisu beserta isinya di dekat kakiku lalu melemparkan ke arah bang Zamy.
"Pergilah cerewet...." Bang Zamy dengan santainya menangkap tisu yang kulemparkan. Kemudian meletakkannya di lantai dekat ibu duduk. Ibu mengambilnya. Kemudian bang Zamy segera keluar tanpa bicara lagi. Aku kembali melepaskan jilbab di leherku. Namun sekitar lima puluh detik dia pergi tiba-tiba langsung masuk lagi dengan sebuah kotak emas bludru berwarna merah di tangannya. Aku mencoba meraih mengambil jilbab yang kulemparkan ke tempat tidur. Namun bang Zamy malah menghalanginya.
"Ini abang pesan seminggu lalu, baru diambil tadi di toko emas Gunung Kawi, rencana mau dipakaikan nanti saat...." Bang Zamy menghentikan bicaranya. Dia lama menatapku yang hanya bisa terdiam dengan hanya berpakaian kain sarung. Yuk Zaidar menjauh sedikit melihat-lihat ke dekat ibu dan periasnya, mereka seakan tak melihat ulah bang Zamy yang berdiri di hadapanku memakaikan sebuah kalung emas cantik dengan liontin bertuliskan 'Bee'. Aku menahan nafas yang terasa aneh. Walaupun mencoba bersikap wajar dan biasa saja, aku pun bisa merasakan degup jantung laki-laki yang akan menjadi suamiku ini.
"Oke..., semakin cantik saja lebahku ini. Cantik kan bu kalungnya...." Bang Zamy bicara ke ibu yang langsung menoleh.
"Ya ampun sayang..., kalian so sweet sekali.... Romantis tis tis...." Ibu menggoda kami.
"Iya dong bu, iya kan sayang?" Bang Zamy menatapku penuh arti. Dia juga menahan nafas sepertiku. Aku tidak menjawabnya, hanya memberikan kode agar dia segera keluar. Dia mengacak-acak kepalaku sedikit kasar. Aku tahu, dia hanya menutupi rasa tak biasa yang kami rasakan. Debaran nakal yang sedikit sulit dikendalikan. Dia keluar kamar sambil menutup pintu kamar pengantin. Yuk Zaidar kembali mendekatiku.
"Ayuk suka sekali melihat kalian, romantis sekali...." Yuk Zaidar langsung bicara terus terang.
__ADS_1
"Mereka mah suka begitu yuk, sok romantis, padahal keduanya sering sekali berantem, sampai ngambek-ngambekan, nanti baikannya sampai nangis-nangis, pulang ke Mentok sendiri-sendiri, masing-masing mengadu. Sudah dari kecil begitu, keduanya nggak bisa dipisahkan tapi. Ini si Naura, abangnya pergi kemah saja sampai demam tinggi dulu yuk. " Ibu bicara kepada yuk Zaidar, sementara aku hanya diam, mencoba menenangkan debaran jantung yang sangat tidak beraturan.
"Owh begitu ya bu, pantesan. Mereka cocok sekali pokoknya." Yuk Zaidar selesai mendandani bagian leherku.
"Bu dokter mana beha yang ayuk bilang kemarin. Sudah dibelikah? Beha berbusa tebal dan kencang." Yuk Zaidar menanyakan bhku.
"Itu yuk." Aku menunjuk ke arah kantong putih berisi bh yang baru kubeli.
"Sebenarnya tanpa beha begini juga, punya bu dokter sudah bagus, kencang dan besar sih. Bu dokter rajin olahraga ya?" Yuk Zaidar bicara diselingi tanya.
"Iya yuk." Aku menjawab.
"Coba berdiri. Ayuk pasangkan atau pasang sendiri behanya?"
"Pasang sendiri saja yuk." Aku lantas berdiri dan memakai bh baru. Yuk Zaidar kemudian memakaikan baju daleman putih. Aku sudah bisa menurunkan kain sarung ke pinggang. Sudah lebih satu jam, baru selesai bagian leher dan bersih-bersih bagian wajah saja. Yuk Zaidar mengikat rambutku. Lantas mulai me'make up' bagian wajah. Aku membiarkan yuk Zaidar bekerja dengan bebas, aku menuruti semua yang dikatakannya. Hampir jam setengah enam pagi, barulah make up di wajahku terlihat sempurna. Yuk Zaidar kemudian memasangkan gaun pengantin berwarna putih. Aku semakin cantik saja dengan mahkota di kepala. Setelah berkali-kali memperhatikanku di depan kaca akhirnya yuk Zaidar merasa lega.
"Alhamdulillah selesai. Kau sempurna bu dokter. Kau pengantin wanita tercantik selama tiga puluh tahun ayuk mencontok." Yuk Zaidar bicara lagi. Aku hanya tersenyum mengambil handphone dan sekali selfie. Aku juga terpanah sendiri di depan kaca. Aura kecantikanku begitu terlihat. Memukau dan sangat mempesona.
"Bayuuu..., ambil foto pengantin wanitanya sendiri nak." Yuk Zaidar memanggil Bayu memotoku. Aku kemudian diarahkan bak seorang model di atas tempat tidur. Segala gaya dicobakan.
"Mana pak dokternya, kita dandan." Yuk Zaidar meminta dipanggilkan bang Zamy.
"Sebentar yuk, biar aku saja yang panggilkan." Ibu berdiri dari kursi. Dia sudah selesai juga dengan riasannya. Ibu begitu cantik elegant.
"Sekalian tolong panggilkan bapak ya bu, asistennya yuk Zaidar mengingatkan.
"Zamy..., pergi sana mau dipasangkan riasan sama yuk Zaidar." Ibu menemui bang Zamy yang baru selesai mandi. Bang Zamy menurut, dia masuk ke kamar pengantin. Ketika melihatku, tak urung dia mampir dan berbisik.
"Bee sayangku..., kecantikanmu sempurna." Dia mencium kepalaku yang sedikit berat karena sanggul dan lainnya. Aku hanya memainkan hidungku tanpa merasa perlu menjawabnya. Dua orang perias dari villa sudah pula kembali.
"Bu dokter saudarinya masyaAllah cantik sekali ketika dirias. Dia itu bertahun-tahun tidak pernah memakai riasan, katanya hanya memakai bedak tabur bayi setiap habis mandi." Seorang perias berbicara kepadaku.
"Alhamdulillah...." Aku menjawab.
"Tapi suaminya kok seperti agak galak ya bu dokter...?" Perias satunya lagi ikut nimbrung. Aku seketika menoleh ke arahnya.
"Suaminya?"
"Iya dari tadi suaminya menunggu, dia bolak-balik memperhatikan istrinya. Seperti agak tidak sabaran orangnya. Dia bahkan masih bertopi di dalam rumah." Perias itu berpendapat lagi. Aku terkesiap. Aku segera keluar menuju villa. Mengabaikan kehadiran mama dan papa.
"Naura kau cantik sekali nak, mirip sekali dengan mama." Mama meneriakiku yang dengan tergopoh menuju villa. Kuangkat bagian bawah gaun pengantin yang sedang kupakai. Namun aku tiba-tiba terhenti melihat mbak Nindya dimasukkan ke dalam mobil APV hitam di bawah pohon, tangannya terikat ke belakang, nampak dua orang lelaki memeganginya. Aku mencoba mendekat, namun secepat kilat mobil itu meninggalkan pekarangan rumahku. Aku tidak berpikir panjang lagi. Aku berlari ke dalam rumah mengambil kunci mobil dinas ayah yang terparkir di luar pagar. Tak lupa menyelipkan sepucuk pistol yang kuambil dari dalam mobilku di garasi. Beberapa pekerja katering heran melihatku. Lalu tanpa menunggu mesin panas aku mencoba menyusul ke arah mobil tadi menghilang. Mobilnya menuju arah Pasar Pagi. Keramaian dan adanya parkir liar membuat aku mampu menyusul dengan jarak seratusan meter dari mobil itu. Kulihat mobilnya mengarah ke arah museum timah. Aku menyusulnya. Aku mencoba menelpon bang Zamy namun nomornya tidak aktif. Aku menghubungi ayah, ibu, mama dan papa tetapi semua tidak menjawab. Tak lama kemudian handphoneku yang memang tadi batereinya tinggal 16% menjadi mati total. Aku tidak mempunyai charger walaupun bisa melakukan pengisian daya di mobil. Aku terus membuntuti mobilnya. Aku mengemudi dengan gaun pengantin yang kugulung bagian bawahnya. Kulirik sendal jepit yang kukenakan. Berlainan warna. Aku terus saja mengejar mobil APV yang membawa mbak Nindya, namun karena harus menunggu beberapa mobil lewat baru bisa menyeberang, aku kehilangan jejak mobilnya. Pas di persimpangan aku kebingungan, ragu memilih ke kanan atau ke kiri. Akhirnya kuputuskan belok kanan, karena jika mobil APV tadi belok kiri, pasti masih terlihat di kejauhan. Namun sejauh mata memandang tidak nampak mobil di sana. Aku dengan bersusah payah mengenakan baju pengantin melewati simpang kantor pos. Beruntung di depan lampu merah lumayan lama. Aku kembali melihat mobil tadi jauh di barisan paling depan. Kurekam langsung nomor polisinya. BN 1917 DQ. Lampu hijau menyala, namun masih sekitar dua buah mobil di depanku, lampu sudah merah kembali. Aku terpaksa harus menunggu lagi. Seorang polisi bermotor berhenti di sampingku. Aku membuka kaca jendela. Kuklakson polisi di sampingku. Dia menoleh dan membuka kaca helm.
"Pak! Tolong ikuti mobil APV hitam di depan. BN 1917 DQ. Dia menculik saudariku."
"Kenapa mbak?" Polisi itu tidak begitu jelas mendengarkanku. Kepalanya dia julurkan lebih dekat kepadaku.
"Tolong buntuti mobil APV hitam plat BN 1917 DQ. Dia menculik kakakku." Aku berteriak sekuat yang aku bisa. Beberapa pemotor di belakang pak polisi heran menatapku.
__ADS_1
"Ah yang benar mbak?"
"Iya pak. Tolong."
"Berapa tadi platnya?"
"BN 1917 DQ"
"Oke. APV hitam ya?"
"Iya pak cepat." Aku meneriaki pak polisi yang langsung tancap gas. Beruntung dia tidak menabrak sebuah mobil yang mengarah ke kanan, berlawanan arah dengan laju motor pak polisi. Aku ikut-ikutan mengabaikan lampu merah, mencoba mengejar lagi. Beberapa kendaraan yang terganggu dengan ulahku seketika ramai membunyikan klakson. Namun aku tidak menghiraukannya. Bagiku saat ini adalah keselamatan saudariku. Aku kembali melaju. Kulihat polisi yang tadi kuteriaki malah berhenti di pinggir jalan. Dia sedang menelpon. Aku mengabaikannya dan terus melaju. Badanku terasa sudah basah karena keringat. Di dalam mobil dinas ayah, dengan gaun pengantin, bisa dibayangkan bagaimana gerahnya yang kurasakan. Aku terus mengemudikan mobilku, melihat dengan jeli kemungkinan mobil yang kukejar malah berhenti di pinggir jalan. Namun sudah lebih setengah jam aku berjalan, belum ada tanda-tanda bakal menemukan mobilnya. Aku sudah sampai di gang jagung Selindung Baru. Persis di depan gerai tanpa penghuni dekat bioskop Bes Sinema aku menghentikan laju kendaraanku. Aku kebingungan. Rasanya sangat muatahil aku melakukan pengejaran sendiri. Lebih baik aku segera pulang, pasti di rumah mereka sudah sangat mengkhawatirkanku. Aku memutar melalui jalan pintas ke arah rumahku. Jalan menuju ke arah stadion Depati Amir Pangkalpinang. Namun saat aku berada di persimpangan jalan. Kulihat ada pita yang sama persis dengan pita penghias souvenir pernikahanku. Aku tergerak lagi untuk mencarinya. Dalam pikiranku, ini bukan suatu kebetulan, tetapi satu tanda dari mbak Nindya bagi siapa saja orang yang melakukan pencarian kepadanya. Aku membelokkan mobil ke arah kerabut. Sebuah perkampungan baru di pinggir perkotaan. Aku melewati jalanan berhutan. Hanya ada sesekali saja aku melihat kendaraan yang melintas. Mungkin karena waktunya masih terlalu pagi sedangkan anak sekolahan masih diliburkan karena virus corona. Dengan keberanian bercampur aduk dengan kekhawatiran, aku terus menyusuri jalan. Berharap menemukan kembali sebuah pertanda dari mbak Nindya. Benar saja, sekitar lima belas menit menuju pemukiman aku kembali melihat potongan pita yang sama. Karena di sana ada sebuah jalan aspal ke kiri. Aku menghentikan laju mobil dan mundur sebentar. Kemudian aku membulatkan tekad masuk ke jalan aspal ke kiri menurutkan insting persaudaraanku dengan mbak Nindya. Dua ratus meter setelah masuk, aku melihat seluas mata memandang pohon karet yang tidak begitu terawat. Di tengahnya ada sebuah rumah papan setengah ambruk. Aku melihat sebuah motor dari kejauhan menuju ke sana. Dengan spontan aku mundurkan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Kecurigaanku semakin besar. Mbak Nindya ada di sana, karena sekilas aku melihat sebuah mobil APV yang baru parkir menggeret sesosok tubuh wanita. Baju itu, baju yang dibelikan ibu kemarin. Aku melihatnya menyentuh permukaan tanah. Kemudian dengan mengendap-endap di antara rumput dan semak belukar, aku merayap dengan gaun pengantin yang sangat spesial. Warna putihnya sudah bercampur dengan warna tanah. Aku tak peduli. Lantas berbekal sabuk hitam yang kuperoleh sejak mulai kelas satu Sekolah Dasar berlatih dengan senpai Swendi di Puput Muntok, sabuk hitam yang kudapatkan di Palembang dengan bibir bawah pecah, bawah mata biru akibat berhadapan dengan seorang Kowal dari Lampung. Waktu itu aku seorang mahasiswa sedang liburan semester. Aku dengan hati yang berdegup kencang kembali sembunyi-sembunyi mendekati pondok kayu di hadapanku. Sungguh momen yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup, aku tiarap diantara semak belukar kebun karet terlantar dengan menggunakan gaun pengantin dan penuh make up.
"Dasar kalian ******! Aku bayar kalian untuk menculik Naura, bukan wanita ini!" Aku yang semakin dekat dengan mereka menghentikan gerakanku. Kupingku awas menangkap suara mereka. Aku menarik platuk pistolku dengan sedikit gemetar. Siaga dengan segala kemungkinan.
"Maaf pak. Kami tidak sadar kalau telah salah culik. Tapi mereka berdua memang sangat mirip. Kami susah sekali membedakannya. Yang nampak hanya wanita ini tadi, persis seperti yang kami foto kemarin." Aku mendengar suara yang sepertinya sudah tidak asing lagi. Namun aku tidak bisa mengingatnya dengan cepat.
"Kalian buta ya? Apakah kalian tidak berpikir dia mengenakan pakaian pengantin di hari pernikahannya." Kudengarkan lagi suara bentakan seseorang. Dan aku kembali memasang kupingku dengan begitu awasnya. Satu suara itu lagi, seakan aku sering mendengarnya.
"Maaf pak. Kami benar-benar minta maaf." Kembali terdengar suara yang aku kenal. Aku tersentak. Aku mengenal suara penculiknya. Tidak akan salah lagi. Dia penjaga malamnya di rumah papa. Ayahnya Rani, seorang pasienku dengan penyakit radang amandel. Pak Anang, iya aku yakin itu adalah suara pak Anang. Sekelebat di otakku langsung menduga-duga siapa yang telah menyewa pak Anang untuk menculikku namun salah sasaran karena wajahku mirip dengan mbak Nindya.
"Kalau bukan Mama, ini pasti ulahnya si Nina." Aku bergumam.
"Kacau kita kalau sudah begini. Aku hanya ingin kalian menculik Naura dan meninggalkannya di sini. Karena dia tidak boleh menikah dengan orang lain. Dia seharusnya menjadi milikku." Kembali suara bentakan dari suara seseorang yang kukenal.
"Sekarang kita apakan wanita ini pak?" Suara pak Anang terdengar gugup.
"Terserah kalian. Habisi saja! Jangan sampai meninggalkan jejak. Jika selesai baru kalian mendapatkan bayaran." Deg! Darahku berdesir marah. Aku berdiri, dan tak sengaja menginjak bambu basah.
"Krak!" Suaranya keras terdengar. Aku segera kembali tiarap. Tiga orang terburu-buru muncul mencari-cari ke arahku. Aku menahan nafas. Melalui celah-celah rerumputan, aku tersirap. Seorang laki-laki dengan jeans biru berkaos hitam itu, aku sangat mengenalnya. Dia memegang pistol di tangan kanannya.
"Cepat habisi saja, setelah itu kalian bakar saja bersamaan dengan pondok ini." Kudengar perintah dari laki-laki itu kepada pesuruhnya.
"Iya pak." Suara pak Anang terdengar menyahut. Aku kembali merangkak perlahan. Merayap menyapu rumput dan kayu-kayu puntung menghitam. Seekor ulat bulu bahkan sempat mencium pipiku. Aku menepisnya tanpa rasa takut lagi. Kulihat laki-laki itu sudah menyisipkan pistolnya ke pinggang sebelah kiri.
"Ini kesempatanku melumpuhkannya." Gumamku. Lantas dengan jarak sekitar sepuluh meter, aku menembak kaki laki-laki jahat itu.
"Awww..., siapa di sana?" Kulihat dia terjatuh dan ditimpa motornya yang berisik. Dia mencoba menarik pistol di pinggangnya namun aku terlalu takut mengambil resiko. Kuhadiahkan satu timah panas lagi di lengan kanannya.
"Nauraaa....!"
"Hai Irwan, lama kita tidak bertemu. Semoga berkesan atas hadiahku kali ini ya." Dengan gagah berani aku mendekati Irwan yang sudah tak berdaya. Lalu aku mengambil pistol di pinggang kirinya. Kubuang pelurunya. Dan akupun spontan meraba saku celana jeansnya. Kuambil handphonenya. Aku ingin segera menghubungi bang Zamy dan lainnya. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan aku dan mbak Nindya. Namun baru saja aku memencet nomor bang Zamy tiba-tiba di belakangku pak Anang siap memukulku dengan balok besar. Aku refleks menghindar. Kayu itu bahkan mengenai lututnya Irwan. Dia semakin mengaduh kesakitan. Merasa gagal memukulku, temannya pak Anang ikut mengarahkan kayu panjang ke arah leherku. Aku menghindar dengan berjongkok sedalam mungkin. Dan karena merasa terpojok. Aku kembali menarik pelatuk pistolku. Peluru sudah bergeser pada tempat yang tepat.
"Dor!" Betis kanan pak Anang berkenalan dengan timah panas pula. Aku yang sangat ketakutan merasa tidak perlu takut lagi. Kuarahkan lagi satu peluru ke temannya pak Anang yang siap menuju mobil untuk melarikan diri.
"Dor!" Kembali satu timah panas bersarang di betis seorang laki-laki. Dia masih nekat. Dengan tertatih menyeret kaki yang luka berdarah bekas tembakan menuju mobil. Namun belum sampai sepuluh langkah berlari dia menyerah sendiri. Terkulai lemas di tanah. Aku melanjutkan menelpon bang Zamy. Menjelaskan posisiku sekarang.
"Kembalikan handphoneku Naura. Atau kau akan tahu akibatnya nanti." Irwan yang tergeletak di tanah masih sempat mengancamku. Aku mencibir ke arahnya. Kemudian aku menyobek baju kaos yang dikenakannya dengan jariku yang kuat. Kutarik hingga sobek dan kubagi dua. Lantas dengan cekatan aku mengikatkan pada luka Irwan. Aku tak menggubrisnya lagi. Di kejauhan aku sudah bisa mendengar suara sirene mobil polisi. Kudekap tubuh mbak Nindya yang masih terkulai lemas karena pingsan. Kuselipkan pistol di gaun pengantinku yang sudah tidak berwarna putih lagi. Inilah gaun pengantinku, putih kekuningan karena tanah, bercampur merah darah. Ini tak kan terlupakan sampai mati.
__ADS_1