
"Halo pak..., bagaimana kabarnya?" Papa bertanya ramah dan sopan kepada mantan Gubernur dua periode sekaligus mantan mertuanya.
"Baik alhamdulillah. Apa semua sudah beres?" Kakek bertanya kepada Papa.
"Beres? Apanya? Pengobatan Dirga?" Papa kelihatan bingung.
"Lha Ga? Sudah ditanda tangan belum berkas-berkas balik namanya?" Kakek bertanya heran kepada Dirga yang masih sedikit bingung.
"Hehe..., saya belum sempat ketemu pak Ram saat kena tusuk kek." Dengan senyumnya Dirga menjawab.
"Kenapa bisa begitu?" Kakek mengerutkan keningnya.
"Anu kek, waktu mencari rumah om Ram, saya melihat ada Nindya di butik. Saya langsung mampir, saya sudah senyum-senyum dari jalan, eh Nindyanya tidak mengenali karena Dirga kan pakai masker. Nah sekalian saja maksudnya mau ngejutin Nindy, eh malah ada laki-laki usil yang mau melecehkan dia." Dirga menjelaskan sedetil-detil kejadiannya.
"Owh..., wanita saja kau cepat lihatnya. Ini nih pak Ram. Mantan suami ibumu." Kakek menunjuk dengan jempolnya ke arah Papa yang masih sedikit bingung.
"Maksudnya bagaimana pak?" Papa bertanya kepada kakek.
"Begini Ram, Ini nih awalnya si Dirga sengaja dijemput oleh notaris langganan Bapak, si anu siapa itu namanya..., Hemzz..., Viktor! Iya Viktor." Kakek menjelaskan.
"Iya, terus?" Papa serius menunggu kakek melanjutkan.
"Nah dia sengaja menghasut agar Dirga mengambil semua harta mendiang ibunya, semua dia akan bantu untuk balik atas nama Dirga katanya. Tetapi rupanya ada berapa bidang tanah kosong dan bangunan beli jadi waktu kalian menikah dulu, malah diubahnya atas namanya sendiri oleh si Viktor."
"Tanah yang dimana itu pak?" Papa menyela.
"Yang di Gunung Muda, lahan kosong yang katamu mau dijadikan tempat wisata pertanian, itu kan ada lima hektar atas nama Erlinda, eh sudah atas nama dia semua. Nah bapak mau tuntut itu si Viktor, dan biar namanya balik atas nama kamu saja Ram, semua yang pernah diambil Erlinda itu bapak kembalikan lagi ke kamu...." Kakek ikut duduk di kursi dekat keduanya.
"Tidak usah pak. Biarlah kasihkan saja ke Dirga, dia anak kandung Erlinda yang bahkan tidak mendapatkan kasih sayang sama sekali." Papa bijaksana menjawab.
"Owh tidak perlu semuanya. Sebagian sudah saja hibahkan ke yayasan amal. Ada beberapa aset sudah saya serahkan ke Dirga. Rumah kalian dekat menara RRI itu sudah Bapak jual dan uangnya saya belikan ruko tempat Dirga buka kantor notaris. Nah separuhnya Bapak kembalikan lagi." Kakek bicara.
"Owh iya kalau begitu." Papa menjawab disertai anggukan kepala.
"Kalau begitu ayo mampir dulu ke rumah saja pak. Biar lebih enak ngobrolnya...." Papa menawarkan yang disambut anggukan kepala oleh Kakek. Dirga berdiri menurut saja dengan sebuah tongkat berkaki segitiga.
"Ini obatnya sudah Nindya tebus yah." Mbak Nindya yang baru turun dari ojek habis menebus obat menghentikan langkah mereka.
"Ini Nindya, anakku sebelum menikah dengan Erlinda pak." Papa mengenalkan mbak Nindya kepada Kakek. Mbak Nindya malah menunduk malu.
"Aku sudah lama tahu tentang mereka Ram." Kakek bicara mengagetkan Papa.
"Maafkan aku. Semua kulakukan demi kebahagiaan Erlinda, namun nyatanya dia juga tetap tidak bisa benar-benar bahagia mengambil hak orang lain. Betapa tidak jaminannya harta berlimpah jika hatinya kosong, semuanya masih akan terasa hampa." Kakek mendesah panjang habis berwejangan.
"Bagaimana Bapak mengenal mereka?" Papa kembali bertanya.
"Aku yang memberikan mereka lahan untuk berkebun, tetapi mereka tidak boleh kembali menampakkan wajah di hadapanmu." Kakek jujur dan membayangkan kilas masa lalu.
"Maafkan aku Ram." Kakek nyata bersedih hatinya mengingat kejahatan masa lalu.
"Semua sudah terjadi Pak, semoga kita bisa menjadi orang yang berguna di hari tua." Papa menunduk dan meraih tangan Nindya menuju mobil. Sementara kakek dan Dirga dibantu sopirnya kakek menuju mobil mereka. Mereka membuntuti mobil Papa untuk ikut ke rumah.
Tak butuh lama, setelah hampir lima menit berjalan melewati gang dekat masjid Muhajirin Pangkalpinang, mereka tiba di rumah Papa. Sesampainya di rumah, Kakek langsung menuju tante Mira yang tercengang tidak menyangka akan bertemu lagi dengan seorang Gubernur yang telah menekannya agar hidup saja di hutan dan jangan bertemu muka lagi dengan Papa.
"Bapak? Kenapa Bapak ke sini?" Tante Mira serasa tidak percaya melihat laki-laki itu sekarang hadir di halaman rumanya, mendekatinya dengan senyum yang jarang terlihat saat dia menjabat dulu.
"Iya Mira, maafkan Bapak. Sungguh Bapak tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini." Kakek mengulurkan tangan yang disambut tante Mira dengan sedikit ragu-ragu.
__ADS_1
"Buku tabungan yang dulu Bapak kasihkan, masih ada hingga sekarang. Tidak satu rupiah pun aku gunakan." Tante Mira bicara serius.
"Masa begitu?" Kakek setengah tidak percaya.
"Bahkan aku berpikir saat bertemu Bapak, akan kukembalikan." Tante Mira melanjutkan bicaranya.
"Tidak, jangan Mira, jangan, tolong jangan dilembalikan. Uang itu pasti sudah bertambah banyak sekarang. Rekeningnya tidak mati karena masih sering ada permohonan konfirmasi setiap tahunnya dari pihak bank. Pakai saja untuk keperluan hidupmu dan keluarga." Kakek benar-benar memohon.
"Aku tidak bisa menerimanya pak. Dari dulu, sejak kurir bapak mengantarkannya secara diam-diam, aku tidak mau menerimanya. Tetapi malah bingung bagaimana cara mengembalikannya." Tante Mira bersungguh-sungguh atas rekening yang pernah diberikan Kakrk untuk keperluan hidupnya.
"Jangan Mira, jangan kembalikan. Bahkan..., kalau memungkinkan, gantikanlah Erlinda dalam kehidupanku yang sepi ini. Gantikanlah kehadirannya dalam sisa usiaku Mira. Gantikanlah jiwanya, gantikan menjadi lebih baik sepertimu. Gantikanlah kehidupannya menjadi teratur dan rendah diri. Anggaplah aku ayahmu, anggaplah laki-laki rentah yang pernah bersalah ini adalah orang tuamu, gantikanlah posisi Erlinda, tolonglah Miranti...." Kakek mengeluarkan air mata tulusnya. Betapa senjanya semakin sepi saja akibat ulahnya di masa dulu. Beginilah kalau suka menebar cinta akan menuai sesal di kemudian hari. Yang nampak anaknya hanyalah Erlinda, dan baru diketahui anak biologisnya adalah Nina. Sungguh terasa kacau kehidupannya. Apalagi saat anak satu-satunya dari pernikahan yang sah meninggal dunia. Serasa hidupnya benar-bear hampa. Sedangkan istrinya? Hingga kini dia tidak tahu apakah masih hidup atau mati.
Tante Mira, Papa dan mbak Nindya saling bertatapan bingung. Mereka tidak pernah menyangka kehidupan orang nomor satu di Kepulauan Bangka Belitung dalam kurun waktu sepuluh tahun akan seterpuruk itu hatinya.
"Mari lupakan masa lalu yang buruk pak. Kita bangkit menghadapi masa depan." Papa bicara bijaksana di tengah keheningan yang tercipta. Kakek mengangguk lalu menghirup teh manis yang dari tadi sudah dituangkan oleh mbak Nindya. Mereka kemudian melanjutkan ngobrol tanpa menyadari semua berkas yang sudah dibuka oleh Dirga sejak datang belum juga selesai ditandatangani Papa.
Waktu akan merubah gelap menjadi terang, waktu pula yang membawa luka dan kesakitan menjadi tawa dan kebahagiaan. Waktu kadang berpihak, namun seringkali juga bermusuhan dengan hati dan akal sehat segelintir manusia. Tinggal kita memantapkannya dengan akal. Mau berdiri tegak kepada yang lurus atau terombang-ambing dalam kenistaan.
*****
Di Mentok, Bang Fathur merasakan kerinduannya kepada sang pujaan hati yang pemalu, Nindya. Dia sudah lama tidak berkabar kepada calon istrinya itu. Kalau harus menunggu mbak Nindya yang duluan berkabar? Itu sebuah kesia-siaan. Namun karena masih asyik bersama keluarga besar, dia coba menahan kerinduan itu dengan menarik nafas sedalam-dalamnya dan membuangnya perlahan.
*****
Waktu menunjukkan pukul dua siang. ibu sudah menghamparkan tikar batang padi setelah sebelumnya dialasi dengan plastik tipis yang lebar. Mumpung lagi di Mentok kami menyempatkan diri makan bersama di pinggir pantai. Ayah pun menyempatkan diri meninggalkan kantor dan menyuruh pak Gultom, seorang mantri senior yang Pjs alias Penjabat sementara di kantornya. Bang Zamy, Bang Rahman dan bang Fathur bersama-sama membawa semua makanan yang disiapkan ibu dari rumah. Bude Marni ikut pula menyusun aneka makanan yang sudah diambil dari dalam mobil bang Rahman.
"Coba ya bu kita rencanakan minimal dua minggu sekali buat acara ke pantai begini." Aku bicara kepada ibu sambil melepaskan sandal dan bersiap duduk. Tiba-tiba saja bang Zamy meletakkan bantal cinta karakter Micky Mouse ke bawah pantatku. Empuk sekali.
"Hati-hati sayang, meski di pasir, di sini banyak juga pecahan kaca." Dia menahan tangan kiriku saat membenarkan posisi duduk. Kemudian meletakkan sebuah bantal yang diambilnya dari mobil ke samping kiriku, itu bantal kubawa dari Pangkalpinang saat ke Mentok pagi tadi.
"Kalau ibu sih tiap hari begini juga mau, kumpul keluarga besar di pinggir pantai...." Ibu bicara sambil membantu bude membuka aneka menu. Ayah sudah memegang kemplang udang dari Toboali yang terkenal enak di Kepulauan Bangka. Mulutnya sudah mulai bergoyang-goyang mengimbangi sensasi kemplang dan saos cabenya yang menggigit. Bang Rahman sudah melemparkan tali dan memain-mainkan reel pancingannya bersama bang Fathur. Melihat keasyikan dua saudara itu bang Zamy pun melepas sandal dan akan menemui keduanya. Namun belum sempat dia ke sana, ibu menariknya duduk kembali di dekatku.
"Jangan diabaikan kata orang zaman dulu. Tidak boleh mancing selama istri masih hamil." Ibu masih berkomentar.
"Nih mending makan ini." Ibu memberikan semangkok bakso daging buatan sendiri, ditambah tulang iga yang baru. Bang Zamy nurut lagi mengambil baksonya. Dia mulai mengaduk-aduk mendinginkan kuahnya. Setelah dirasa agak dingin dia malah menyuapiku yang pertama. Ibu melirik ayah penuh arti.
"Kenapa? Mau disuapi juga? Sini sendoknya." Ayah menggoda ibu sambil memperlihatkan saos sambel kemplang di depannya. Ibu menjulurkan lidah.
"Weeekkk...." Ibu keki dibuat ayah.
"Coba ayah tu sesekali seperti mereka." Ibu menyesali sambil tersenyum.
"Masa itu sudah lewaaaattt...." Ayah melempar ibu dengan sebuah buah ketapang yang jatuh. Ibu membalasnya dengan melemparkan buah itu lagi. Sementara aku selalu mengangakan mulut setiap kali sendok bang Zamy mendekati mulutku. Aku orang yang sangat sederhana. Begini saja rasanya sangat nyaman kurasakan. Disuapi suami di bawah teduhnya pohon ketapang pinggir pantai. Duduk bersama beralaskan tikar dan bantal yang empuk. Mataku perlahan mulai terasa mengantuk karena ditiup derasnya angin. Aku menutup mulut karena sudah menguap beberapa kali.
"Ngantuk ya dek?" Ibu yang mendengar aku menguap langsung bertanya.
"Sedikit...." Aku menjawab, namun mataku sudah terasa sangat berat. Bang Zamy kemudian mengembalikan mangkok bakso ke bude Marni, lalu menarik badanku dan merebahkan ke kedua pahanya yang sudah dialasi bantal.
"Tidurlah sayang." Bang Zamy mengelus pipi kananku dengan jemari tangan kanannya. Sesekali tangan kirinya juga mengelus perutku yang rebahan ke arah kiri. Aku terlelap dalam belaian kekasih hati yang begitu pengertian. Sementara ibu dan ayah juga bude Marni sudah sibuk menyalakan arang di tunggu besi yang kami bawa dari rumah. Persiapan membakar ayam dan ikan jebung yang besar-besar.
Langit biru berhias awan putih berarak. Diselingi cericit burung gereja yang melompat-lompat di pasir putih bertaburan bekas belahan kelapa muda. Sesekali terdengar lewat beberapa kendaraan yang menoleh ke arah kami. Bang Rahman sudah mengangkat seekor ikan gulame sebesar dua jari. Begitu bahagianya dia. Padahal ikan sebesar itu tidak sebanding dengan umpan udang super istimewah yang dipakainya. Sementara bang Fathur, sedikit menjauh dan duduk berjongkok di bawah pohon ketapang berjarak sekitar lima meter dari kami. Di tangannya dia sudah melakukan panggilan video.
*****
Annisa yang sudah berkali-kali memanggil ibunya, namun kurang mendapat respon karena mbak Nindya sedang membantu Dirga membukakan beberapa lembar berkas yang harus ditandatangani ayah, berlari-lari menuju ruang tamu tempat ibunya berada.
"Ibu ibu ada telpon video." Annisa memberikan smartphone yang baru dibelikan bang Fathur untuknya.
__ADS_1
"Bagaimana mengangkatnya?" Mbak Nindya bingung sendiri.
"Sini mbak, begini nih, tinggal mbak tekan sedikit gambar telpon hijau tarik ke kanan." Dirga mencobakan. Seketika tersambung. Wajah bang Fathur langsung berubah sesaat sambil mengerutkan kening melihat wajah keduanya bahkan hampir bersentuhan.
"Lagi dimana dek?" Bang Fathur menatap wajah mbak Nindya yang begitu dekat dengan Fathur, rupanya kameranya menggunakan kamera depan. Bang Fathur merasa cemburu.
"Halo pak. Bapak dimana itu? Indah sekali pak di pantai ya?" Mbak Nindya tertawa kecil melihat background bang Fathur menelpon, dia mengabaikan wajah masam lawan bicaranya.
"Iya lagi di pantai sama Ayah, Ibu, Naura, Zamy, Rahman semuanya sedang di Mentok."
"Owh bapak ke Mentok ya." Masih dengan polosnya mbak Nindya bertanya.
"Iya nak, bapak lagi di Mentok." Bang Fathur menjawab.
"Kok nak?"
"Lha Nindy sendiri panggil abang, pak pik puk begitu terus." Intonasi bang Fathur sudah naik satu oktaf, ditambah tadi dia melihat Mbak Nindya dekat sekali dengan seorang laki-laki. Rasanya dia mau langsung naik tiga oktaf saja.
"Iya maaf bang." Mbak Nindya mulai sadar. Namun senyum bang Fathur belum juga mengembang seperti biasanya. Wajahnya masih menekuk kaku.
"Adek lagi dimana?"
"Di rumah."
"Sama siapa?"
"Dirga."
"Iya Dirga itu siapa?"
"Itu yang nolongin Nindy saat diculik dulu..."
"Hah? Nindy masih sering bertemu sama dia?"
"Nggak bang."
"Lha terus tadi ngapain berdekatan begitu."
Si abang ih, emang cepat menduga-duga, soalnya abang Fathur mah memang agak gesit orangnya, main nyosooorrr saja kalau sudah deket mbak Nindy. Disangkanya Dirga juga gitu kali....
"Diajarin cara buka telponan abang." Mbak Nindya menjawab.
"Kan sudah abang ajarin sehabis beli..."
"Sudah itu nggak pernah dipegang lagi. Takut rusak kalau salah-salah pencet." Mbak Nindya bicara dengan polosnya. Sementara bang Fathur menahan senyum saja. Dia bisa bernafas lega.
"Kamu tidak diapa-apain sama dia?"
"Ya digituin, makanya dia ke sini."
"Hah? Digituin gimana Nindy?" Bang Fathur sewot mendengar jawaban mbak Nindya.
"Ya dibantuinlah, dia kan membantu Nindy, tadi ada orang usil gerapa gerepe mau nyobain baju buat istrinya, tau-tau mau melecehkan. Beruntung ada Dirga lagi, dia bantuin tapi dia kena tusuk pisau." Mbak Nindy menjelaskan.
"Kenapa tidak kamu kabarkan ke abang sih Nin. Bagaimana orangnya sudah ketemu?"
"Katanya sudah dibawa warga ke polisi, dia kan mau kabur, ngebut, nabrak kepala mobil orang, dan orang-orang curiga ketika menggeledah badannya dikhawatirkan mabuk, ada pisau masih berdarah." Mbak Nindya bercerita kronologis penangkapan pelaku yang mau melecehkannya. Dia mendengar cerita itu dari orang yang ngontrak ruko Papa sebelah rukonya.
__ADS_1
"Ya Allah Nindy, lain kali kalau kamu ada masalah, cepat hubungi abang ya, abang ini kan calon suami kamu." Bang Fathur berteriak-teriak kencang bicara di pinggir pantai. Suaranya dibawa angin. Mbak Nindya hanya mengangguk tersenyum. Bang Fathur kemudian mematikan sambungan Video, hatinya berdenyut merindukan wajah yang begitu lugu dan polosnya. ingin dia segera menemuinya, dan memberikan kerinduan pula untuk wanita yang telah mencuri hatinya, sepenuhnya. Langit semakin biru, bahkan menjadi tiga warna berbeda. Biru muda, biru sedikit gelap dan biru kehijauan paling bawah. Bang Fathur kembali ke dekat kami lalu menceritakan semuanya.
*****