Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 89 Romantisme Bang Fathur


__ADS_3

Sehabis mandi, Mbak Nindya perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi, lalu keluar dari sana dengan badan masih berlilit handuk besar putih dan rambut berbalut handuk kecil yang dibentuk seperti sebuah sanggul. Tujuannya agar rambut segera kering.


"Ibu...." Nisa yang terlentang nyaman di atas empuknya kasur bang Fathur langsung menyambut kemunculan ibunya. Mbak Nindya tersenyum.


"Iya. Kenapa nak? Kamu mau mandi?" tanyanya kepada putri kesayangan.


"Nggak ah bu, dingin." Annisa menjawab sambil duduk. Kakinya berayun-ayun menyentuh kasur bagian bawah, sementara tangannya menopang pada permukaan tempat tidur dengan interior HPL mewah. Matanya menatap ke sekitar ruang kamar kembali.


"Eh, tidak dingin lho Ca, ini kamar mandinya om Fathur ada air hangatnya," ujarnya sembari membuka pintu kamar mandi kembali.


"Masa iya bu? Apa kamar mandinya seperti punya tante Naura?" Annisa bertanya sambil melompat ke lantai.


"Iya sama nak, lihatlah kemari!" ucap mbak Nindya lagi.


"Kalau begitu Nisa mau mandi bu ah...." Gadis cantik itu mulai tertarik.


"Oke, ibu ajari yaaa..., Biar hangat putaran inj arahkan ke titik merah, tetapi jangan kelewat putar ke titik merah besar nak, cukup di titik yang kecil-kecil ini saja." Mbak Nindy mencobakan kran dengan gayanya. Mungkin bagi sebagian orang Indonesia, fasilitas seperti itu tidak lagi tergolong mewah. Namun, bagi mereka yang bertahun-tahun tinggal di rumah berdinding kayu yang berada di tengah perkebunan. Ini adalah hal baru, istimewah rasanya bisa ikut menikmati.


"Oke ibu, terima kasih," ucap Nisa sambil mulai melepaskan dua kuncir karet kecil di rambutnya. Sementara Mbak Nindy langsung menutup pintu kamar mandi dan kembali ke dekat tasnya diletakkan. Tidak lupa seperti anjuranku, dia menyemprotkan sedikit parfum ke badan dan pakaian yang akan dikenakannya, tak lupa dia memoles sedikit wajahnya dengan make up. Kemudian dia memakai celana jeans pinsil cream dan mengenakan baju tunik kekuningan. Rambutnya yang masih basah dia keringkan lagi dengan handuk di kepalanya yang sudah dia lepaskan. Lalu menyisirnya dengan rapi, menguraikan hingga nampak rambut lebat hitam pekat terurai hingga di bawah bahu. Dia sedikit mematung di depan kaca meja rias. Seakan tak pernah menyadari bahwa sebenarnya dia terlahir dengan fisik yang begitu cantiknya. Namun karena keadaanlah dia terlanjur tidak begitu peduli dengan semua itu.


"Caaa..., Nisaaa..., apakah ibumu sudah...," Bang Fathur berhenti bicara dan juga berhenti melangkah masuk ke kamar lebih dalam. Dia berhenti sekitar tiga langkah di depan pintu, dan menatap takjub kepada mbak Nindya yang berdiri di bawah sinar lampu kamar, nampak begitu mempesona malam ini.


"Sudah mandi?" Bang Fathur bertanya disertai senyum kecil. Jantungnya berdegup, sedangkan jakunnya seketika bergerak karena menelan ludah.


"Sudah. Tapi Nisa masih di kamar mandi." Mbak Nindya menjawab dengan suaranya yang lembut. Bang Fathur hanya mengangguk kecil mendengarnya. Matanya sedikit membelalak heran.


"Bukankah katanya tadi dia tidak mau mandi ya?" tanyanya keheranan. Mbak Nindya tersenyum manis melihat ekspresi bang Fathur.


"Dia mau mandi karena kamar mandimu begitu bagus." Mbak Nindy menjelaskan dengan sedikit ragu. Ada rasa malu di hatinya.


"Owh. Ehmmm, apa abang boleh masuk?" Bang Fathur sedikit ragu bertanya. Kedua tangannya berekspresi berlebihan sembari mengedikkan kedua bahu dan memasang wajah lucu.


"Ini kamarmu bang." Mbak Nindya menjawab.


"Bukan, eee..., maksud abang, apa abang boleh mendekat ke Nindy sebentar?" Bang Fathur lagi-lagi bertanya dengan ekspresi lucu sekali. Mbak Nindya seketika menoleh kepadanya.


"Eh tidak-tidak-tidak, Nindya mau keluar saja." Mbak Nindya meletakkan kembali sebuah sisir di tangannya dan segera menghindar menuju pintu. Dia ingin keluar, nampak tidak sanggup jika hanya berduaan saja bersama laki-laki itu di dalam sebuah kamar yang full AC. Namun lagi-lagi, laki-laki agresif itu menangkap dan menarik tangan kirinya.


"Kamu mau ngapain? Lepaskan ah, malu, sabarlah sedikit." Mbak Nindya berusaha melepaskan pegangan bang Fathur dengan tangan kanannya. Namun Bang Fathur malah menutup pintu dengan kakinya.


"Abang sudah lama ingin melakukan ini Nin," ucap Bang Fathur kemudian.

__ADS_1


"Melakukan apa? Ayo keluarlah Nisa ada di kamar mandi. Nanti dia keluar mendadak kan tidak enak." Mbak Nindya kembali mencoba melepaskan pegangan tangan duda tampan itu.


"Abang ingin melakukannya sekarang denganmu, seperti yang ada di film-film romantis itu." Bang Fathur bicara dengan mata tajam yang menghujani kedua mata teduh yang sedang khawatir.


"Iya, tetapi tidak sekarang." Mbak Nindya cepat menjawab.


"Sekarang." Bang Fathur menarik mbak Nindya ke hadapannya. Dia menarik kekasih pujaan itu berdiri menghadap ke kaca besar meja rias. Tangannya perlahan turun ke bawah, dia memasukkan tangan kanan ke saku celananya. Sebuah kotak segenggaman tangan berwarna merah bahan bludru halus ditariknya. Mbak Nindya terkejut dan menatapnya heran.


"Maafkan abang, baru sempat sekarang memberikannya." Bang Fathur berbicara lembut dengan senyum luwes yang menampakkan gigi putihnya.


"Apa itu?" tanya mbak Nindya heran.


"Yang tidak abang berikan kepadamu di malam pertunangan kita," dengan santai bang Fathur menjawab.


"Maksudmu?" tanya Mbak Nindya lagi.


"Sini...." Bang Fathur kemudian mendekatkan diri lagi ke mbak Nindya, menyibakkan rambut wanita kesayangan ke samping bahu kiri. Dia membuka sambungan kalung emas khas Gunung Kawi yang terkenal di wilayah Bangka Belitung, perlahan tangannya yang halus memasangkan kalung seberat lima puluh mata itu ke leher putih berbulu halus bagian tengkuknya. Satu buah tahi lalat hitam menyembul seujung sapu lidi terlihat pula oleh bang Fathur. Mbak Nindya sekilas menatap diri sendri di depan kaca.


"Besar sekali, terima kasih banyak ya bang," ujarnya lirih kepada calon suaminya. Matanya yang mulai berkaca-kaca menatap bang Fathur dari kaca di hadapan mereka.


"Ini juga untukmu." Bang Fathur kemudian mengeluarkan gelang emas dua puluh empat karat dari kotak yang sama. Dia menarik tangan kanan mbak Nindy. Diciumnya sesaat lalu dipasangkannya gelang motif biji cabe seberat tiga puluh mata. Mbak Nindy tak mampu berkata-kata lagi.


Sebenarnya dia ingin sekali membeli kalung dan gelang emas seperti itu. Namun dia merasa begitu malu untuk sekedar pergi ke toko emas. Seakan semua mata akan menatapnya dan saling berbisik mengatakan kalau dia anak haram, anak lahir di luar pernikahan, atau omongan orang bahwa dia tidak layak berpakai emas seperti itu. Dan kini, keinginan besarnya itu terpenuhi sudah tanpa dia pernah meminta sekalipun.


"Aduh dek kebesaran...." Bang Fathur tersenyum bicara. Lalu dia menarik keluar lagi cincin itu dan akhirnya dia memindahkan dan menyematkan ke jari tengah pujaan hatinya. Itupun masih nampak sedikit longgar.


"Nanti abang bantu untuk menaikkan berat badan sekitar tujuh kilo lagi." Bang Fathur tertawa lebar melihat jari-jemari yang langsing sekali. Mbak Nindy kemudian menyembunyikan jarinya.


"Kenapa?" tanya Bang Zamy dengan mata memicing heran.


"Jemari kuku adek jauh lebih buruk dan kotor jika dibandingkan jemari abang." jawab mbak Nindy malu.


"Abang tidak mau membahas itu, semoga kamu suka ya sayang dengan pemberian abang yang tidak seberapa itu..., dan kalau Nisa sudah selesai mandinya, langsung keluar saja, kita akan makan malam bersama." Bang Fathur menarik handle pintu akan keluar, namun tiba-tiba kali ini, mbak Nindya yang melangkah cepat mengejar langkahnya, tangannya meraih baju kaos pendek berkerah bagian belakang yang dipakai bang Fathur. Bang Fathur pun berhenti. Dia tersenyum bahagia dan heran.


"Terima kasih banyak bang untuk semuanyaaa..., terima kasih atas keikhlasannya. Entah bagaimana nanti adek bisa membalas semua kebaikan abang selama ini...." Mbak Nindy memeluk bang Fathur dari belakang, dia begitu harunya hingga menitikkan air mata kembali.


"Tidak sulit untuk membalas semua itu," balas bang Fathur dengan senyuman.


"Apa yang harus adek lakukan untuk abang?"


"Jadilah istri abang yang patuh, berikan abang keturunan yang sholih dan sholihah, berhentilah bekerja sendirian di kebun, upahkan saja semuanya, berhenti melayani langsung pembeli di butik, kita bayar pegawai saja, dan..., dampingi abang selalu hingga tiba masanya nanti, kita dipisahkan oleh maut." Bang Fathur bicara sambil memutar badannya. Dia kemudian memeluk hangat Mbak Nindya yang seketika terisak-isak.

__ADS_1


"Terima kasih bang sudah menerima adek yang banyak kekurangan ini," dengan masih terisak mbak Nindya bicara.


"Kurangmu tidak banyak sayang, hanya satu saja saat ini." Bang Zamy menatap mbak Nindy yang serius mendengarkannya.


"Apa itu bang?" tanya Mbak Nindya lagi.


"Dirimu belum sah menjadi istri abang..., andai sajaaa...." Bang Zamy mencubit pipi Mbak Nindya yang seketika bersemu merah mendengar ujaran bang Fathur tadi.


"Ibuuu...." Annisa keluar dengan handuk melilit di tubuhnya, melihat ada bang Fathur seketika tangannya menutupi bagian dada atas yang tidak tertutupi handuk. Rambutnya nampak basah dengan mata memerah kelamaan bermain air. Beruntungnya keduanya sudah tidak berpelukan lagi. Hanya berhadap-hadapan saja dalam jarak sesenti.


"Tadi oomnya sudah keluar, kok masuk lagi?" tanya Annisa dengan polos.


"Om lupa bilang sama ibumu agar segera bergegas keluar, kita mau makan dan nanti berkenalan sama tante Afni." Bang Fathur menjelaskan. Itu jawaban spontan namun mengandung kebenaran.


"Owh begitu. Oke deh, Nisa akan buru-buru berpakaian dan segera ikut keluar." Nisa duduk jongkok menghadap ke dinding mencari pakaiannya di tas yang dibawa mbak Nindya dari Pangkalpinang.


"Oke, segera ya Caaa...." Bang Fathur bicara sambil secepat kilat mengecup pipi kanan mbak Nindya.


"Ai loph yu," ujarnya bahagia telah berhasil mencuri sebuah ciuman. Kemudian dia langsung kabur ke luar dari kamarnya sendiri yang saat ini dihuni mbak Nindya dan Annisa. Sementara Mbak Nindy sejenak memejamkan mata, menarik nafas dalam, perlahan tangannya meraba pipi bekas ciuman calon suami tersayang. Lalu tanpa dia sadari, kedua ujung bibirnya memanjang, melahirkan seutas senyum indahnya yang memancar serentak dengan hadirnya gelombang cinta di hatinya yang terasa begitu menyejukkan, gelombang yang hadir menusuk jantungnya untuk pertama kali dia rasakan selama hidupnya.


"Inikah bahagia itu? Badan serasa melambung tinggi ke udara dengan rasa nyaman yang lembut tiba-tiba datang menyapa," ujarnya pelan.


*****


Sementara ibu yang tidak sengaja melihat bang Fathur keluar kamar dengan senyum bahagia segera mencubit pinggangnya.


"Sudah ibu bilang, kamarmu sama Rahman, jangan ganggu Nindy." ucap ibu kepadanya.


"Hahahaha..., iya iya tau ibu, sakit dong, Abang juga hanya nanyain sisir doang sama Annisa." Bang Fathur melepaskan cubitan ibu.


"Alasanmu mengada-ada, nggak mungkin di kamar Rahman nggak ada sisirnya!" ujar ibu dengan nada tinggi menggoda.


"Iya beneran bu." Bang Fathur masih berkilah demi menutupi rasa malunya.


"Ibuuu... ini ada lima butir sisir di kamar saya...." Bang Rahman tiba-tiba sudah berdiri di depan kamarnya, memperlihatkan lima butir sisir berwarna biru satu set, semua jenis sisir ada.


"Tuh!" Ibu geregetan, dia mencubit pipi kanan bang Fathur, sementata bang Fathur mendekati bang Rahman dan meninju bahu kirinya.


"Aowww..., sakit tau...." Bang Rahman mengelus bekas tinjuan bang Fathur.


"Makanya kerja sama yang baik dong," balas Bang Fathur.

__ADS_1


"Hahaha...." Keduanya kemudian tertawa bersama, ibu menggelengkan kepala sambil tersenyum bahagia melihat kedua anaknya masih nampak akur-akur saja.


**(bersambung)**


__ADS_2