
"Mira.... Miranti.... Apa kau mengenaliku?" Tante Erlinda mendekat ke arah wanita lumpuh di dekat kursi kayu. Nindya membiarkan kami masuk.
"Nenek...." Tiba-tiba dengan berlari-lari sambil melompat-lompat keluar dari kamar depan seorang gadis kecil yang cantik. Rambutnya dikepang dan dijepit pita merah. Dia memakai gaun ungu dengan gembira. Senandungnya tiba-tiba berhenti melihat kehadiran kami. Perlahan dia malah memegang tangan Nindya yang sudah berdiri di belakang neneknya duduk. Wanita di kursi itu mengabaikan tante Erlinda yang bahkan sudah sujud di pahanya. Dia malah nanar, lekat matanya menatapku dan dokter Nina bergantian.
"Adek..., siapa namanya sayang? Ayo ikut tante bermain di luar." Aku mencoba merayu gadis kecil agar tidak melihat kegaduhan.
"Tidak mau." Dia menepis tanganku. Wanita lumpuh itu menatapku tak henti.
"Mira, tolong bicaralah. Kau tukar dimana anakku?" Tante Erlinda malah kembali memohon. Namun wanita lumpuh itu melenguh membuang muka ke samping.
"Mira, maafkan aku." Tiba-tiba pak Ram sudah siuman dan berlutut kepada tante Mira. Tante Mira hanya menatap tajam ke arah keduanya. Keluarga tante Erlinda menunggu saja di luar rumah. Sedangkan aku masih berdiri mematung di dekat mereka. Sesekali kuajak senyum gadis kecil yang lucu namun nampak ketakutan.
"Mira, Mira tolong bicaralah. Tolong maafkan aku Mira." Pak Ram kembali memohon.
"Aku tak menyangka jika kau akan jadi seperti ini. Ada apa denganmu? Kenapa dengan badanmu?" Pak Ram, seorang laki-laki yang ketika berjalan mulai dari gerbang masuk hingga keluar lagi dari rumah sakit besar milik pemerintah, orang menunduk menatapnya. Kini sesenggukan menangis, mengiba di depan seorang wanita lumpuh berperawakan dekil di tengah hutan.
"Ampuni aku. Bicaralah Mira. Bicaralah...." Pak Ram masih bersimpuh. Tante Erlinda diam mematung. Dia berdiri menggigit jempol tangan dan menggerak-gerakkan kaki kanan ke lantai..
"Maafkan kami Mira. Dan tolonglah, bayi kami kamu tukar kemana?" Tante Erlinda kembali mendekati tante Mira. Tante Mira perlahan memutar kepalanya. Dia menegakkan dagu dengan angkuhnya.
"Bukankah kalian memilikinya? Bukankah dia ada bersama kalian? Apa yang kalian tanyakan? Aku tidak mampu memahaminya. Maklum aku hanya wanita miskin, anak seorang kuli bangunan yang untuk bisa menjadi perawat saja tertatih berdarah-darah mengumpulkan rupiah. Aku yang dimana-mana selalu saja diperlakukan seperti sampah...." Perlahan-lahan suara tante Mira keluar dari mulutnya.
"Kau pasti telah menukarnya!" Tante Erlinda meradang. Namun tante Mira masih saja santai.
"Untuk apa aku melakukannya."
"Kau pasti melakukannya. Dulu sehari dia masuk inkubator jelas-jelas golongan darah A, kenapa bisa berubah menjadi B? Katakanlah, kau tukar dengan siapa?" Tante Erlinda kembali berteriak.
"Aku tidak melakukannya. Aku tidak merasa perlu melakukannya." Tante Mira acuh menjawab.
"Kau bohong Mira! Kau ingat dulu kau pernah mengancamku." Tante Erlinda emosi.
"Bagaimana mungkin aku bisa mengancam seorang putri Gubernur. Bicaralah yang masuk akal." Tante Mira tersenyum sinis. Dia memotong ucapan tante Erlinda.
"Mira, tolonglah Mira, dimanakah kau tukar anak kandung kami?" Pak Ram yang memohon saat ini.
"Anak kandung? Bukankah kau tak menginginkan anak kandung?" Tante Mira semakin sinis. Dia menatap melecehkan pak Ram.
"Apa maksudmu?" Pak Ram bertanya.
"Ah tidak-tidak-tidak. Papa tunggu saja di luar biar mama yang menanyakan kepada Mira." Tante Erlinda mencoba mendorong badan pak Ram ke arah pintu. Namun pak Ram bertahan.
"Apa maksudmu Mira?" pak Ram bertanya kebingungan.
"Maksudmu apa? Bagaimana kau bisa lupa dengan sms-sms yang kau kirimkan ketika aku memberitahumu bahwa aku hamil Ram. Aku hamil darah dagingmu. Namun kau tak peduli. Bahkan kau menyarankan agar aku aborsi saja. Bagaimana mungkin seorang dokter hebat menyarankan kekasihnya untuk aborsi hanya demi menikahi gadis belia, anak seorang pejabat. Gadis magang ingusan seorang anak Gubernur. Kau belum menikah waktu itu. Kau masih pacaran sembunyi-sembunyi dengan Erlinda. Kau bilang agar aku aborsi. Bagaimana mungkin aku akan melakukannya. Aku telah berdosa berzina denganmu. Aku tidak mungkin melakukan dosa besar lagi. Aku tidak akan membunuh darah dagingku sendiri. Tidak." Tante Mira menangis sejadi-jadinya. Bahunya bergetar hebat dipelukan Nindya. Pak Ram menatap tante Erlinda tajam. Dia memegang bahu tante Erlinda yang hanya bisa menunduk.
"Apa yang telah engkau lakukan Linda?" Pak Ram menahan emosinya. Dia melepaskan pegangan di bahu tante Erlinda dengan kasar. Lalu kembali berbalik menatap tante Mira.
"Mira, demi Tuhan aku tidak pernah tahu kalau kau hamil." Pak Ram kembali bicara kepada tante Mira.
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Sedangkan kau membalas setiap smsku dengan begitu angkuhnya. Kau bilang lupakan aku, aku akan segera menikah dengan Erlinda, putri Gubernur itu. Dan aborsilah di rumah sakit swasta. Nanti kau akan membayar tagihannya." Tante Mira kembali menangis hebat. Dia meluapkan emosinya yang mungkin tertunda sekian lama. Puluhan tahun lamanya.
"Aku benar-benar tidak tahu kalau kau hamil Miranti."
__ADS_1
"Bohong!" Tante Mira memotong. Lantas pak Ram menatap mata tante Erlinda lagi penuh emosi.
"Apa kau yang telah melakukan ini?" Pak Ram ingin memukul istrinya.
"Papa jangan!" Dokter Nina masuk. Dia mencoba melerai. Pak Ram menurunkan tangannya.
"Apa yang telah engkau lakukan dengan sms itu?" Pak Ram menahan amarah. Giginya gemerutuk, matanya mulai memerah.
"Mira katakanlah kau tukar dengan siapa anakku?" Tante Erlinda bicara lagi.
"Mira kau cukup katakan kau tukar dengan siapa bayiku waktu itu. Lalu kami akan pergi." Tante Erlinda kembali bertanya. Tante Erlinda mulai tak nyaman.
"Aku tidak melakukannya." Masih santai tante Mira menjawab.
"Kau bohong. Kau pasti menukarnya. Sebelum kau berhenti bekerja di sana dan menghilang, kau bisikkan di telingaku ancamanmu."
"Apa ancamanku yang masih kau ingat putri Gubernur yang hebat?" Tanye Mira menyepelekan.
"Kau bilang waktu itu. 'Jika Ram tidak mau mengasuh anak kandungnya denganku. Kau pun tidak akan pernah mengasuh anak kandungmu sendiri." Begitu tante Erlinda menirukan ancaman tante Mira yang hanya tersenyum sinis? Nindya dan aku saling berpandangan. Sementara tante Erlinda menahan emosinya. Tante Mira hanya bicara santai.
"Benarkah Mira kau punya anak dariku?" Pak Ram ragu-ragu bertanya. Tante Mira memegang tangan Nindya dengan erat.
"Ini darah dagingmu. Jika tidak percaya kau bisa melakukan tes DNA. Kau tahu Ram? Berapa kali aku tergoncang karena ulahmu? Setiap kali harus mengisi formulir masuk sekolah. Aku bingung dan malu ketika harus mengisi nama ayahnya. Hingga Nindya selalu diolok teman-temannya, dari TK dia sudah dihina anak haram, tak punya ayah. Dia seringkali pulang dengan lengan berdarah karena dilempar teman sekolah dengan batu. Dia mengadu diolok-olok karena tak punya ayah. Buku sekolahnya disobek-sobek. Alat tulisnya dibuang-buang. Hingga akhirnya Nindya bahkan tak sanggup harus terus sekolah sampai menamatkan SMA. Kau tau Ram? Kau tahu bagaimana perasaanku waktu itu, ditambah lagi ketika Nindya harus menikah dengan wali hakim? Kau tahu Ram betapa kesedihanku bertambah ketika dia dilecehkan keluarga suaminya dan berujung perceraian? Kau tahu bagaimana rasanya menikmati harus membesarkan anak sendiri di luar pernikahan. Sekarang karena semua kehidupan di luar seakan melecehkan kami. Kami memilih berdiam diri, menepi dari keramaian. Mengasingkan diri dari pandangan sinis orang-orang." Tante Mira bicara panjang. Nindya ke dalam kamar mengantar anaknya. Lalu keluar lagi mendekati tante Mira. Dia menatap pak Ram dan kami bergantian.
"Maafkan aku nak..., Maafkan aku. Sungguh ayah tidak pernah tahu kalau Mira hamil. Ayah tidak pernah mengirim sms yang dimaksud." Pak Ram bersimpuh di kaki Nindya yang hanya mampu menangis. Pak Ram ingin memeluk Nindya namun Nindya malah menghindar. Dia bingung menghadapi kenyataan saat ini. Tak pernah terbayangkan dia akan menyaksikan momen seperti ini. Mengetahui siapa ayah kandungnya setelah bertahun-tahun dirahasiakan ibunya.
"Maafkan aku Mira. Maafkan aku papa. Memang aku yang kebetulan melihat sms masuk dan membalasnya langsung tanpa sepengetahuan papa. Itu sudah lama sekali. Waktu itu aku benar-benar dibutakan mata hatinya. Aku menghapus semua sms itu dan tak sekalipun mengatakan kepada papa." Tante Erlinda terbata memelas ampun.
"Plak!" Tangan pak Ram tiba-tiba melayang ke pipi kiri tante Erlinda.
"Berhentilah Ram, tak ada gunanya lagi semua itu." Tante Mira memperingatkan.
"Maafkan aku Mira. Benar demi Allah aku bersumpah tidak pernah tahu kalau kamu hamil." Pak Ram kembali memohon maaf.
"Rasanya tak ada lagi bedanya antara membencimu seumur hidup dengan memaafkan." Tante Mira menjelaskan.
"Mira dimana anakku? Kau tukar dengan siapa?" Kembali tante Erlinda bertanya.
"Baiklah. Aku juga tidak ingin merasa bersalah hingga menemui akhir hayatku." Tante Mira mulai bicara. Kami fokus mendengarkan.
"Dulu..., Waktu mereka sama-sama di ruangan NICU aku yang kebetulan piket berkesempatan menukar dua bayi bermasalah di inkubator. Anakmu Erlinda kelebihan bilirubin dan sudah disinar biru. Ada lagi seorang bayi bermasalah dengan saluran pernafasan. Dia lahir prematur. Waktu itu hanya ada 3 pasien bayi di NICU. 1 orangnya seorang laki-laki."
"Siapa nama orang tuanya Mira?" Tante Erlinda memotong. Pak Ram menatap tante Mira dan tante Erlinda bergantian. Entah apa yang ada dibenaknya saat itu.
"Aku tidak tahu. Aku lupa."
Bagaimana bisa kau lupa? Kau pasti ingat dia anak siapa?" Tante Erlinda mencak-mencak lagi.
"Kau tidak bisa memaksaku harus mengingatnya." Tante Mira bicara sinis. Nindya memberikan sepaket obat yang sudah dibukanya kepada tante Mira.
"Minum ibu, sudah jam dua belas. Kau harus minum obat sebelum makan." Lalu tanpa basa basi tante Mira menenggak empat jenis obat yang diberikan Nindya.
"Kalian pergilah. Ibu akan istirahat." Nindya bicara hati-hati. Dia tidak pernah benar-benar menatap ke arah kami. Sering menunduk. Sepertinya dia pemalu sekali.
__ADS_1
"Mira, tolonglah, sekali lagi tolonglah aku, siapa orang yang kau tukar anaknya denganku." Tante Erlinda bicara lagi. Namun tante Mira sudah naik ke bahu Nindya, dia akan ke kamar. Dan sekelebat mata pak Ram masuk mengikuti. Kudengar pak Ram meraung-raung, menangis di dalam kamar.
"Maafkan aku Miranti, maafkan aku nak. Maafkan aku orang yang tak berguna ini. Maafkan aku."
"Pergilah Ram, tunggulah hingga nyawaku di tenggorokan. Nanti akan kuputuskan memaafkanmu atau membuatmu menyesal seumur hidup." Suara tante Mira terdengar lirih namun menyayat tajam. Pak Ram keluar kamar sambil menangis.
"Tolonglah Mira, kau pasti ingat siapa nama orang tuanya...." Kembali tante Erlinda melongokkan kepala ke dalam kamar. Seorang gadis kecil, meringkuk dan sudah memeluk neneknya yang lumpuh dengan ketakutan.
"Pulanglah, aku tidak ada yang bisa dikatakan lagi." Tante Mira menjawab.
"Aku tidak akan pulang, sampai kau mengatakannya. Anakku kau tukar dengan siapa? Kau cerdas. Kau pasti masih ingat nama orang tuanya. Tante Erlinda bahkan mengancam tidak akan pulang. Sementara cucu tante Mira semakin ketakutan.
"Baiklah. Demi cucuku yang ketakutan melihatmu. Kau pulanglah. Carilah dokumen di rumah sakit tempatmu melahirkan. Carilah orang dengan identitas sesuai hari kelahiran. Lihatlah laporan tulis tanganku. Anakmu kutukarkan dengan anaknya."
"Kau sebut saja dia. Kau pasti ingat siapa orangnya."
"Berusahalah sedikit, apa kau tak malu betapa ringkihnya jiwamu yang tak mau sedikitpun berusaha mengepakkan sayap tetapi ingin terbang tinggi. Kau masih memalukan seperti saat menginginkan laki-laki yang hampir menjadi suami orang. Pergilah." Tante Mira mengusir tante Erlinda.
"Sudah kubilang Mira, aku tidak akan beranjak dari sini sampai kau menjelaskannya. Tidak mungkin aku membongkar dokumen yang sudah dua puluh delapan tahunan. Kau juga tahu, masa dokumen akan dihancurkan setelah dua puluh tahun melalui pemeriksaan." Tante Erlinda menangis frustasi. Dia memaksa tante Mira berbicara. Tante Mira melihat cucunya yang semakin ketakutan. Entah trauma apa yang dimilikinya.
"Baiklah. Kau lupa bahwa kau pernah sama-sama melahirkan seorang putri di hari yang sama dengan teman SMAmu?" Tante Mira mengingatkan tante Erlinda.
"Apa mungkin itu dengan bayinya Sofie?" Tante Erlinda terganga.
"Tetapi bayinya Sofie kan hilang diculik tak pernah ditemukan hingga sekarang." Tante Erlinda terdengar putus asa. Dia terduduk di dekat pintu kamar rumah kayu tante Mira. Tante Erlinda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia bahkan mulai menarik-narik rambutnya sendiri. Tante Erlinda menangis tersedu. Dokter Nina mencoba membangunkan tante Erlinda dari duduknya.
"Ayo ma kita pulang dulu...." Dokter Nina merayu.
"Kau pulang duluan saja nak. Mama masih menunggu Mira bicara jujur." Tante Erlinda masih berharap.
"Pergilah, aku semakin muak denganmu. Aku ingin istirahat." Tante Mira meneriaki dari dalam kamar.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau jujur atas semuanya." Tante Erlinda masih memaksa.
"Sifatmu tidak berubah sama sekali. Masih keras kepala dan ingin menang sendiri. Carilah anakmu yang kutukar dengan anaknya Sofie...." Tante Mira mencoba berbaik hati.
"Tapi dia telah diculik orang dan tak ketemu sampai kini...." Tante Erlinda mengingatkan.
"Itu bohong! Yang membuang bayi Sofie itu adalah suaminya sendiri. Dia membuangnya ke depan pintu sebuah rumah besar sekitar jam 3 pagi. Aku tahu semuanya. Aku mengenal suami Sofie sangat dekat. Dia bahkan bercerita alasan membuang bayi perempuan mereka. Katanya itu bukan anaknya Bayu. Bayu menikahi Sofie saat sudah berbadan dua." Kami saling berpandangan. Bagaimana mungkin pak Bayu suaminya tante Sofie akan berbuat senekat itu. Membuang bayi istrinya dengan laki-laki lain, kemudian berpura-pura mengusahakan agar mengambilku di rumah ibu yang menemukanku. Berpura-pura menghambat dokumen adopsiku. Semuanya hanya pencitraan saja. Agar tante Sofie benar-benar yakin bahwa pak Bayu bukanlah dalangnya.
"Bagaimana mungkin semuanya benar seperti omongan tante Mira? Apakah semua penuturannya bisa dipercaya?" Aku pertama kalinya selama di rumah kebun ikut mengajukan pertanyaan. Semua tiba-tiba menatapku. Tante Erlinda bahkan berdiri dan memegang pundakku. Dia menarikku ke kamar tempat tante Mira berada.
"Jadi maksudmu, bayi yang ditemukan ibu Nia di depan rumahnya adalah bayiku? Dan Nina adalah anaknya Sofie?" Tante Erlinda meminta kejelasan lagi. Tante Mira menatapku.
"Kau punya cukup memori untuk mengolah kata-kataku Erlinda." Tante Mira melepaskan tongkatnya, dia perlahan merebahkan badannya di tempat tidur yang tipis.
"Jika itu benar, berarti anak kandungku ada di sini kan Mira?" Tante Erlinda memegang erat tanganku. Aku hanya diam. Pak Ram ikut mendekatiku.
"Berarti, kau ini anak kandungku nak dokter...." Pak Ram meraba pipiku. Air matanya mulai menghiasi kelopak matanya. Aku hanya diam. Entah ada banyak perasaan bergejolak. Gembira, sangat gembira jika ini berita benar. Aku menemukan orang tua kandungku. Namun di sisi hati yang lain. Ada perasaan sedih teramat dalam. Untuk alasan apa? Aku juga belum memahami.
"Mira, jika omonganmu benar, maka ini, ini Mira, ini bayiku yang kau tukar dulu...." Tante Erlinda menarik tanganku mendekati tante Mira.
"Aku sudah menduganya. Sekarang pergilah. Eh iya, selain tes DNA, kau bisa mengecek anak kandungmu. Aku ingat waktu mengganti popoknya. Di paha kanan atas dia memiliki 5 tahi lalat melingkar." Tante Mira nenjelaskan. Deg! Jantungku berdebar. Tak ada seorang pun tahu kecuali ibu ayah dan ketiga kakakku. Kalau tante Mira mengetahui posisi tahi lalatku yang unik. Berarti tidak salah lagi. Akulah anak kandung pak Direktur dan tante Erlinda yang telah ditukar.
__ADS_1
"Nak dokter, apakah kau memiliki tahi lalat seperti dimaksud?" Tante Erlinda menanyaiku. Pak Ram ikut menunggu jawabanku. Dokter Nina mulai menatapku tak senang. Nindya sesekali menatapku. Jika aku balas menatapnya dia akan mengalihkan pandangan, begitu juga dengan gadis kecilnya. Aku tidak sanggup berkata-kata lagi. Hanya anggukan kepala perlahan yang mematangkan kepercayaan diri. Aku memang anak pak Direktur dan tante Erlinda. Mereka memelukku. Sedangkan dokter Nina, perlahan menjauh, meninggalkan kami dengan membawa mobil yang ditumpangi bersama tadi. Sopir dibuat kebingungan. Siang menjelang pagi pun berganti, panas teriknya matahari menyengat kulit-kulit kami. Daun-daun di perkebunan bergoyang riang tertiup angin. Pucuk-pucuk dahan kayu menjulang melambai-lambai menghantarkan kesadaran kami akan indahnya harmoni alam. Syahdu, ditengah cericit suara burung gereja kasmaran, temaram nyanyian dahan-dahan bergoyang tertiup angin. Hatiku ikut bergemuruh. Tak hanya riang, namun seakan mendapati sebuah luka baru.