Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 71 Dokter Jo


__ADS_3

Sepulangnya dari klinik, aku dan bang Zamy menikmati malam yang dingin di teras dapur. Di meja ada sekotak martabak manis khas Bangka dengan coklat keju Wijsman yang menggoda. Ada pula dua gelas kopi susu yang masih mengepulkan asapnya yang meliuk-liuk tersapu angin.


Dari arah kami duduk nampak pula Fredy sedang berbincang dengan seorang temannya yang datang dengan motor Ninja berwarna hitam. Mereka juga menikmati sekotak martabak yang sama dengan yang sedang kami nikmati, kami berikan sehabis beli saat pulang kerja di klinik.


"Sayang, adek sangat kasihan melihat Nina sekarang, dia nampak sangat terpukul." Aku bicara disela-sela menikmati martabak hangat itu. Bang Zamy menghirup kopi susunya perlahan, dia menatapku.


"Karena keadaan ibunya?" Dia bertanya singkat, lalu meletakkan kembali gelas kopi susunya ke meja.


"Bukan hanya itu sayang, dia itu rupanya status bibinya Naura." Aku menjelaskan. Bang Zamy seketika menatapku lagi, mukanya yang mengkerut heran hampir membuat alisnya bersatu.


"Maksudnya gimana sih Bee?" Kebingungan, bang Zamy bertanya lagi.


"Tadi di kantor dia menangis di ruangan adek, menceritakan semuanya. Rupanya ayah biologisnya adalah kakek."


"Kakek? Kakekmu?" Alis bang Zamy menyatu, kebingungannya sempurna. Kedua matanya fokus menatapku.


"Iya. Kakek dulu begitulah kehidupannya. Menebar benih dimana-mana, tanpa berpikir untuk menyiram, memberi puput apalagi merawatnya. Dia malah menyarankan membuang tunas yang perlahan menyembulkan daun kecilnya." Aku menjelaskan.


"Kakekmu sungguh luar biasa Bee...." Bang Zamy tersenyum menyindir sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Luar biasa apanya? Maksud abang bejadnya?"


"Ah entahlah. Seakan tidak mungkin semua terjadi, namun pusaran kemelut kehidupan kalian, memang bersumber dari kakek dan ayahmu."


"Mungkin sudah garis nasibnya seperti ini." Aku mendesah-menarik nafas panjang.


Seketika hening, hanya hembusan angin yang menerbangkan dedauan kering saja yang terdengar. Bang Zamy memukul-mukulkan tangan kanannya ke paha kanannya yang terangkat di atas paha kiri. Sementara aku menarik jaket tanpa dikancingkan yang menutupi piyama tidur lengan pendek.


"Ayo masuk sayang, udara malam ini terasa lebih dingin." Bang Zamy berdiri, membawa kotak martabak dan gelas minumannya. Aku mengikuti masuk setelah merapikan sepatu suami kesayangan yang tidak dibawanya masuk ke dalam. Angin bertiup kencang menerbangkan kembali dedaun kering, menciptakan aroma mistis. Sepertinya malam ini akan turun hujan.


*****


"Assalamualaikum...." Terdengar suara bang Fathur sambil membuka pintu dapur. Dia bersiul-siul kecil melepaskan sandal kulit Carvil warna coklat muda dengan tali coklat kehitaman.


"Senang sekali bro?" Bang Zamy menyapa bang Fathur setelah menjawab salam.


"Iya dong Zam...." Bang Fathur melepaskan baju kaos abu-abu gelap yang dipakainya sambil berjalan mendekat ke kami. Dia langsung mencomot sepotong martabak.


"Apa gerangan bahagia banget begini?" Bang Zamy kembali bertanya kepada kakak sulungnya itu.


"Hehe..., Proposal sudah diacc brooo...." Sumringah bang Fathur menjawab.

__ADS_1


"Proposal apaan?"


"Lamaran brooo..., lamaraaannn.... Abang sudah melamar Nindy ke om Ram dan diterima. Sekarang tinggal merayu ibu sama ayah segera meridhoi dan menjadwalkan pernikahannya, melamar dengan resmi...." Senyum bang Fathur terus mengembang berbicara. Ini mungkin yang dinamakan puber ke dua. Atau hanya pelampiasan saja karena selama ini mendapatkan istri yang berperangai tidak sesuai kehendaknya.


"Cepat amat sih bang, baru juga kenal." Aku menjulurkan lidah ke arahnya.


"Takut nanti dia diambil orang...." Bang Fathur menjawab sambil berdiri.


"Bilang saja sudah...." Bang Zamy mau mengoloknya, namun melihat tatapan mataku dia menghentikannya.


"Mandi dulu ah...." Bang Fathur berdiri sambil mengibas-ngibaskan baju ke badannya. Aroma terapi menyebar di seluruh ruang keluarga. Aku menutup hidung menahan diri agar tidak muntah. Sementara bang Zamy tersenyum-senyum sambil berdecak-decak dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Oh ya Zam, selamat ya...." Bang Fathur kembali berteriak dan melongokkan kepalanya di pintu kamar. Dia hanya dengan handuk putih di badan. Di tangannya sudah ada sikat gigi berodol.


"Apa pula baaanggg-baaanggg...." Bang Zamy menoleh sambil bertanya. Dia meletakkan handphonenya ke atas meja.


"Tadi abang dengar-dengar di pemancingan BBG, bapak-bapak bercerita, katanya Dewan Komisaris, Direksi dan Dewan Medik sudah sepakat untuk memberhentikan Direktur PT RSBT yang tersandung korupsi dana pengembangan pembangunan."


"Tersandung kasus? Kok abang tidak pernah cerita sih?" Aku bertanya ke bang Zamy yang kelihatan santai mendengarkan perkataan bang Fathur.


"Itukan kemarin masih rahasia. Abang tidak mau berbagi informasi rahasia kantor yang belum jelas kepastiannya." Bang Zamy membela diri. Aku memasang wajah cemberut.


"Ya..., mereka sih bilangnya kandidat terkuat bakalan jadi pengganti Direktur Utama RSBT ya Zamy...." Bang Fathur bicara kemudian nyeloyor pergi meninggalkan aku yang menatap tajam mata bang Zamy. Bang Fathur menutup pintu kamarnya, bernyanyi-nyanyi kecil kembali menghidupkan kran air di kamar mandinya.


"Kok memandang seperti itu, kenapa?" Bang Zamy bicara sambil tersenyum. Betapa senyum menawannya itu sangat menggangguku.


"Kenapa sudah main rahasia-rahasiaan sekarang?"


"Itukan belum jelas sayang, kalaupun nanti kebenaran, abang sih sebenarnya mau kasih kejutan."


"Halah...," Aku memanyunkan bibirku. Sedkit kecewa karena mendengar informasi itu bukan dari bibir seksinya. Namun aksiku yang mencemberutinya harus terhenti, karena dia seketika menarik lenganku menuju kamar. Di malam yang dingin, habis bercengkerama, dan menyaksikan dia sudah menggosok gigi, melepaskan baju kaos dan trainingnya. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pasti dia akan menyeretku dalam kehangatan yang indah. Kehangatan yang akan semakin melekatkan keharmonisan kami berdua. Yang pasti kami tidak sedang memasang lampu disko untuk bermain catur.


*****


Aku menuju ke ruang kerjaku setelah selesai berganti pakaian pergi tadi dengan pakaian kerja sekarang. Setiap hari aku menyiapkan tiga stel pakaian. Pakaian datang langsung kuganti dengan pakaian kerja ketika sampai ke kantor. Sehabis kerja aku pun kembali dengan pakaian khusus untuk pulang. Di masa pandemi ini semua tenaga medis memang harus lebih waspada. Apalagi dengan kondisiku yang sedang hamil. Bang Zamy, Ibu dan ayah sudah berkali-kali membujukku agar segera resign saja dari ASN, dan kalau ingin mengabdikan ilmu bisa dengan tetap praktik di Klinik Honey Bee saja. Karena risikonya jauh lebih kecil daripada ketika berada di rumah sakit umum daerah. Namun dengan alasan bisa menjaga diri, aku tetap mempertahankan diri untuk bekerja.


"Apa sih nak yang kau kejar lagi. Ini peganglah ATM ibu uang hasil setoran-setoran kalian, dan berhentilah jadi ASN. Kau sedang hamil, lebih berisiko dari orang biasa." Ibu bahkan pernah memberikan ATMnya kepadaku.


"Bukan karena uang bu, kalau masalah uang alhamdulillah kita sudah tercukupi, tapi ya kalaupun harus resign dari ASN, Naura rasa bukan sekarang waktunya. Biarkan Naura mengabdi lebih lama di rumah sakit." Aku memelas. Ibu hanya mampu menarik nafas berat dan menyimpan lagi ATMnya yang kutolak ke dalam dompet.


*****

__ADS_1


"Enak banget ya dokter Naura, dengar-dengar suaminya akan jadi Direktur RSBT menggantikan Dokter Prapto yang ternyata ada temuan aliran dana ke rekeningnya dari Pemenang Tender proyek pembangunan pengembangan gedung...." Seorang perawat bicara tanpa melihat kehadiranku sama sekali.


"Iya kalau jadi. Tapi kata kakak iparku yang bekerja di sana, banyak juga suara yang mendukung dokter Jo, dia selama ini mengincar posisi dokter Zamy, tapi belum ada rekomendasi jajaran sana. Sekarang malah ada kesempatam lebih bagus, dia mulai mendekati para dewan direksi." Perawat lain menimpali.


"Dokter Jo yang dulu kasus itu ya?" Salah seorang perawat yang mengenakan face shield bertanya. Dia menoleh ke temannya dan menghentikan kegiatannya yang sedang menulis laporan.


"Kasus apa ya?" Petugas laki-laki ikut kepo mendekat.


"Itu tu..., kasus yang mobil Ertiga putih bergoyang di Kaki bukit dulu...."


"Masa iya dia saingan dokter Zamy? Gak level dong. Dokter Zamy kan sepuluh betul, dokter Joooo....?" Perawat lain ikut nimbrung.


"Dengar-dengar sih begitu. Dokter Jo orangnya ambisius, dia bahkan sudah malas untuk mengoperasi pasien lagi. Dia mau full di manajemen saja." Seorang perawat berkawat gigi menimpali sambil mengancingkan APD jas hujannya yang terbuka setengah.


"Kok kamu tau banyak soal Dokter itu?" Temannya heran.


"Hehe..., kami pernah menikmati dua jam bersama dalam satu kamar."


"Hah? Satu kamar apa satu selimut?"


"Satu desah nafasshhh..., tapi itu duluuu...." Perawat berkawat gigi tertawa tanpa sesal, membuka aibnya sendiri di depan rekan-rekannya yang seketika menyoraki dengan mulut ber-huuu ria.


Diam-diam aku mendengarkan perawat mulai berdesas desus saat duduk di meja pelayanan. Pasien memang tidak ramai, hanya satu dua orang saja. Mereka tidak menyadari kalau aku sedang mengisi laporan sehabis berganti pakaian. Setelah selesai menggoreskan paraf, aku berlalu begitu saja tanpa bicara.


"Dok! Dokter Naura, Nili yang paling semangat membuka percakapan dengan rekannya tadi memanggilku. Aku menoleh sambil mengangguk.


"Bawa ke dalam laporan medik pasien yang sudah ada." Aku bicara sambil membuka pintu ruanganku. Mereka saling pandang lalu mendesis menutup mulut masing-masing.


"Kita tertangkap basah suka bergosip...." Seseorang tertawa cekikikan.


*****


Sementara di tempat lain, bang Zamy sudah siap untuk menghadiri undangan pemberian bantuan ke karyawan kontrak rumah sakit. Dia memegang surat yang dia tandatangani sendiri menuju Aula Pertemuan di gedung kantor atas. Sesampainya di sana sudah hampir hadir semua karyawan kontrak. Di barisan depan dia melihat beberapa 'pasukan merah' biasa di sebut, entah itu dari Dewan Komisaris, Direksi dan Dewan Medik semuanya disebut pasukan merah. Dokter Harjono Septian alias Jo yang jauh lebih tua dari bang Zamy duduk mesra di antara kursi para pasukan merah sekitar sepuluh orang.


"Hei dok, sini!" Dokter Hilmi yang juga hadir ke sana memanggilnya. Dia duduk di kursi barisan kedua bersama dokter Helmi. Mereka mengenakan masker meski jarak sudah lumayan jauh dari satu orang ke lainnya. Tak lama bang Zamy masuk, pintu aula ditutup, pembawa acara, seorang staf bidang SDM sudah mulai membuka acaranya. Bla bla bla...,


"Selanjutnya kita akan dengarkan sambutan dari pihak Rumah Sakit kita...." Pembawa Acara menatap ke barisan tamu tempat rombongan bang Zamy duduk. Bang Zamy hampir saja mau berdiri, dia sudah menyiapkan sambutan sendiri di otakknya sejak semalam. Karena dalam benaknya jika tidak ada Direktur Utama yang sudah ditangkap polisi, otomatis dia yang menghandle semua beban kepemimpinan sementara belum ada Direktur Utama pengganti.


"Kepada bapak pelaksana tugas Direktur Utama, Dokter Harjono Septian disilahkan...." Pembawa acara melanjutkan. Seketika Dokter Jo berdiri, menoleh ke kiri kanan belakang sambil meletakkan kedua tangan di dada, mohon izin berdiri ke depan. Dia berjalan tegak menuju mimbar untuk memberikan sambutan. Wakil Direktur Operasi dan PU itu dengan gesit membuka kertas yang tadi terselip di saku jasnya. Dia mulai berpidato dengan lantang, bahwa di tangannya akan terjadi perubahan dan peningkatan besar terhadap perkembangan dan kinerja rumah sakit ini. Di tangannya dengan konsep-konsep millenial dia mampu memimpin anak perusahaan PT. Timah, tbk ini dengan gebrakan-gebrakan baru. Dan melihat semangat Dokter Jo berpidato para karyawan kontrak dan beberapa petinggi yang hadir termasuk pak Deni Firmansya selaku Komisaris bertepuk tangan dengan meriah. Mereka tidak menyadari, kalau pemberian bantuan kepada karyawan kontrak di masa pandemi covid-19 ini adalah ide bang Zamy yang disetujui pak Presiden Direktur sendiri. Bang Zamy ikut bertepuk tangan meskipun dia sedikit dibingungkan dengan status baru Dokter Jo sebagai Plt. Direktur Utama.


*****

__ADS_1


__ADS_2