
"Idak mungkin itu asli kak. Masa karena hal sepele kau benar-benar ceraikan adek, idak mungkin nian kaaakkk….” Mbak Vioni terduduk di teras tepat di hadapan bang Fathur berdiri.
“Ini asli Vio, berapa kali sidang kamu tidak hadir, dan sekarang semuanya sudah terjadi. Terimalah semuanya yang terjadi ini, karena semua terjadi akibat ulahmu juga.” Bang Fathur bicara tegas.
“Tolong kak, jangan cak ini kak, idak sanggup nian aku cerai dengan kakak tu. Tolonglah….” (Tolonglah kak, jangan seperti ini kak, aku benar-benar tidak sanggup kalau bercerai dengan kakak, tolonglah….) Mbak Vioni masih duduk di lantai teras samping. Bang Fathur sudah duduk di kursi dengan wajah memerah menahan emosinya.
“Vio…, entah bagaimana bentuk otakmu itu saat ini, kau seorang dosen, namun aku bingung dengan jalan pikiranmu. Kenapa sikapmu masih seperti dulu. Bagaimana mungkin kau ke sini meninggalkan anakku di sana. Kemana otakmu kau taro?” Dengan nafas tidak teratur bang Fathur sedikit melunak intonasinya. Namun bahasanya masih sedikit pedas.
“Dio aman samo neneknyo.” Mbak Vioni menjawab singkat.
“Iya aman sih aman. Tetapi tidak punya otak kamu ke sini. Bukankah surat cerai sudah dikirimkan ke alamat rumah orang tuamu...? Tolonglah punya malu sedikit. Jangan mengganggu kehidupanku lagi. Setelah ketuk palu, aku dan kamu adalah orang asing. Kamu silahkan mau menikah lagi, aku pun akan segera menikah….” Dengan menahan nafas agar tidak meluap amarahnya, bang Fathur kembali berbicara.
“Dengan cewek yang kato kau lah kau nikahi dulu tu ye….?” Mbak Vio bertanya dengan sedikit sinis.
“Benar. Aku sudah melamarnya.” Santai bang Fathur menjawab.
"Apo dio kerjo dio tu?" Mbak Vio menatap bang Fathur lagi. Namun bang Fathur malah membuang muka ke sebelah garasi kiri.
“Petani biasa namun aku sangat menyukainya. Oh ya bersiaplah Vio, Zamy akan mengantarmu ke Pelabuhan Tanjung Kalian, dan jangan lagi datang ke rumah ini, pergilah juga dari kehidupan kami, selamanya...,” Bang Fathur bicara. Bang Zamy yang mendengarnya dari ruang makan seketika tersedak.
Anter sendiri kenapa? Kok melibatkan aku?
Bang Zamy merutuk dalam hati. Dia kemudian berjalan masuk ke ruang tamu. Ibu dan aku tersenyum menyambutnya.
“Ya Allah naaakkk..., semakin gendut saja perutmu. Pipi sudah kayak bakpao.” Ibu mencubit pipi bang zamy. Aku terkikik mendengarnya.
“Itu tuh yang pipi bakpao, kesayangannya ibu.” Bang Zamy menunjuk ke arahku dengan bibirnya.
“Wajar dongg..., Naura memang hamil kalau dia langsing saat hamil itu yang perlu dicurigai.....” Ibu menjawab membelaku. Aku manyun ke arah bang Zamy yang nampak mengangkat kedua bahu dengan memainkan bibirnya.
“Owh ya, kita makan yuk, ibu sudah masak menu spesial untuk kesayangan ibu.” Ibu bicara sembari memegang lengan kiriku.
“Masak apa bu?” Tak urung aku bertanya kalau yang dibicarakan masalah makanan.
“Asam pedas telur ikan Talang-talang….” Ibu menjawab.
“Mantaaappp….” Bang Zamy duduk di sebelahku. Sementara ibu kembali ke dapur untuk menyiapkan makan kami. Matanya sesekali melirik ke arah bang Fathur dan mbak Vioni yang masih saja berdrama. Bang Fathur marah, tapi relung hatinya masih merasa sangat iba melihat pujaan hatinya beberapa tahun lalu itu. Dan saat ini, dia benar-benar tidak bisa menerimanya lagi.
“Ini ambillah, di rekening ini ada dua ratus lima puluh juta, pinnya masih 123456, saya sudah menjual kedua mobil dan rumah di Jogja. Gunakanlah sebagian untuk keperluan Royyan sekolah….” Bang Fathur membuka dompet dan memberikan sebuah ATM bank BUMN kepada mbak Vio yang masih terisak menangis.
“Aku ke sini bukan nak mintak duit kak.” Masih terisak mbak Vio menangis. Namun tangannya menerima rekening berwarna biru bercampur warna emas itu.
“Sudahlah, ambil saja dan pulanglah. Nanti diantar Zamy ke pelabuhan. Lewat laut saja agar tidak lama.”
“Idak usah diantar, aku pacak pesan gojek.” Mbak Vio perlahan bangkit.
“Jangan, di tempat asing terlalu berbahaya naik gojek. Bersiaplah, nanti Zamy bisa mengantarmu.” Suara bang Fathur melunak.
“Ngapo idak kak Fathur bae yang ngenter? Apo kau masih ado raso denganku ye?” Dengan level percaya diri yang belum menurun, mbak Vio bertanya penuh harap.
“Sudah pergilah.” Bang Fathur mengabaikan.
“Zamyyyy….!!!” Dia memamggil bang Zamy seketika.
“Siap boss….!” Bang Zamy datang dengan tergesa-gesa.
“Bos bas bos, tolong anterin Vio ke Pelabuhan sebentar, langsung belikan tiket VIP.” Dengan gaya boss bang Fathur memerintah.
“Oke boss….” Bang Zamy masuk ke dalam ruang tamu, mengambil kembali kunci mobil. Sementara mbak Vio masuk dan mengambil tasnya. Sejenak dia berpamitan dan memohon maaf ke ibu sambil menangis. Aku mendekat mau bersalaman, tapi tetap saja dia menolak. Malah bang Zamy yang menyambut uluran tanganku yang dikacangin. Ibu malah tersenyum melihat ulah bang Zamy yang bahkan menciumi tanganku setelah diabaikan mbak vio.
Baru saja bang Zamy mau mengeluarkan mobil, tiba-tiba bang Rahman datang dengan mobil Hiluxnya. Bang Zamy seketika keluar dari mobilnya dan menemui bang Rahman.
“Eh jangan matikan mesin mobilnya, dirimu disuruh ibu mengantarkan mbak Vio….” Bang Zamy berbohong bicara sama bang Rahman yang hanya nyengir kuda mendemgarkan.
“Dasar ok. Pasti ka yang disuruh, tapi ngape laju ku ni yang kenak e….” (Dasar ya. Pasti kamu yang disuruh tapi kenapa kok aku yang kenanya.) Bang Rahman memutar mobil dan turun sesaat. Dia membuka pintu mobil ketika mbak Vioni sudah dekat. Mbak Vioni tidak berpamitan sama sekali kepada bang Fathur yang malah masuk ke dalam kamar mandi, dia menahan kencing sudah dari kecamatan Simpang Teritip tadi. Tidak lama kemudian bang Rahman pergi membawa pengganggu yang seketika diam diberikan ATM berisi uang. Masih tidak ada yang berubah. Uang baginya nomor satu.
*****
__ADS_1
Bang Zamy sengaja menunggu bang Fathur keluar dari kamar mandi belakang.
“Hiyaaaa…, katanya tidak cinta lagi wooo..., tapi kok nangis ditinggal pergi wooo….?” Bang Zamy menggoda.
“Mana ada abang nangis, orang hanya pipis.” Bang Fathur berkilah.
“Halaaahhh…, bu…, Bee..., lihatlah bang Fathur sudah bengkak matanya habis menangisi kepergian mbak Vio, hahaha….” Bang Zamy memanggil kami dengan suara keras.
“Plak” Seketika mendarat sebuah tendangan kaki ke pantat bang Zamy. Bang Fathur gregetan dibuatnya. Bang Zamy berlari menghindar dan memeluk ibu dari belakang.
“Ah sudahlah jangan saling ganggu. Ayo makan.” Ibu menarik kursi-kursi ke belakang. Kami seketika berdiri. Seperginya mbak Nindya, seketika itu perut kami rasanya keroncongan.
“Jadi sebenarnya mantanmu itu mau balikan apa mau duit saja sih bro?” Bang Zamy menatap bang Fathur yang mulai menyendok kuah asam manis telur ikan.
“Entahlah…, jangan-jangan nanti datang lagi….” Ibu menimpali.
“Abang panggilkan polisi kalau dia datang lagi.” Bang Fathur bicara kesal.
“Naura, sini nak duduknya dekat ibu, masa mau duduk dekat cowok usil itu terusss….” Ibu menarikku ke dekat kursi di sebelah kanan duduknya.
“Dia benar-benar tidak bisa jauh dariku ibu, pesonaku ini membuat Naura tergila-gila.” Bang Zamy dengan dagunya yang runcing kembali menggodaku.
“Halaaahhh…, sok ganteng.” Aku mencibirnya, sementara dia hanya tersenyum lebar menampakkan giginya yang rapi. Kami mulai menikmati menu masakan ibu, sayur darat kates mengkal campur kacang panjang dan daun katu, sambel belacan, ikan asin dan asam pedas telur ikan. Begitu nikmatnya perpaduan ini. Membuatku semakin lahap saja.
“Dek, sudah kelihatan belum?” Ibu tiba-tiba bertanya tentang kehamilanku.
“Apanya?” Berpura-pura tidak paham aku malah balik tertawa.
“Si calon dedek bayinya. Laki-laki apa perempuan….?” Ibu menatapku. Aku dan bang Zamy bertatapan penuh misteri.
“Ibu bilang saja, mau anak laki-laki apa perempuan?” Bang Zamy bergaya bertanya kepada ibu.
“Halah, macam tau je bebikin yang laki ape puan.” (Halah…, seperti bisa saja mau buat laki-laki atau perempuan.”) Ibu mencemooh bang Zamy yang tersenyum lebar.
“Kalau disuruh milih ibu mau cucu perempuan apa laki-laki?” Bang Zamy tidak puas menggoda ibu.
“Hemzzz…, laki-laki kan sudah ada Oyyan. Semoga saja yang ini anak perempuan.” Ibu menatapku penuh harap.
“Benarkah?” Mata ibu membalak yang membuat urat-urat lehernya menyembul kebiruan.
“Iya, baru juga malam kemarin kami USG.” Bang Zamy menambahkan.
“Benarkah? Anak perempuan….?” Masih belum percaya ibu kembali mengulangi pertanyaan.
“Iya, insya Allah….” Aku menjawab.
“Alhamdulillah ya Allah….” Ibu berdiri dengan tangan kanan masih penuh berisi nasi. Dia memelukku dari belakang. Mencium pipiku berkali-kali.
“Hemzzz…, awas saja nanti kalau dedeknya sudah bisa jalan dan mecahin keramik-keramik cantik di situ, jangan teriak-teriak….” Bang Fathur menimpali sambil tangan kirinya menunjuk ke arah aneka keramik cantik ibu yang tersusun rapi di dalam lemari besar ruang keluarga.
“Ah gampang, mama papanya kan bisa menggantinya dengan yang baru.” Ibu tersenyum saja menjawab.
“Mami Papi bu….” Bang Zamy protes.
“Halaaaahhh…, beda a doang mau protes saja kau baaang-baaang….” Ibu menggeleng-gelengkan kepala. Sementara aku semakin asyik saja makan. Bahkan ibu sudah menambahkan nasi ke piringku kembali.
“Sudah bu, jangan tambahin nasinya, dia harus mengurangi nasi. Lihat tuh sudah kayak….”
“Kayak apa?” Aku memotong pembicaraan bang Zamy sambil menampakkan tinjuku yang sudah agak mirip petinju.
“Kayaaakkk…, “
“Kayak apa?” Aku menantangnya.
“Nggak jadi deh, takut kena tinju.” Bang Zamy kembali melanjutkan makannya.
“Ih…, kalian ini masih saja seperti dulu.” Ibu mengomel sedikit sambil membawa piring kotor bekas dia makan.
__ADS_1
*****
Sementara itu, di sebuah butik yang berada di deretan jalan dekat Gedung Nasional, seorang laki-laki masuk ke butik dengan memakai topi.
"Cari apa bang? Masuklah." Mbak Nindya dengan ramah menyambut.
"Cari gamis untuk istriku. Dia sama tingginya dengan mbak. Laki-laki bertopi itu memegang bahu mbak Nindya. Mbak Nindya menjauh karena merasa tidak enak. Laki-laki tadi kemudian mengambil beberapa gamis dan membawanya dekat mbak Nindya dekat meja kasir yang biasa didudukinya. Sementara di pojok sebelah kanan, seorang laki-laki lain mengenakan masker melirik gelagat kurang baik dari pengunjung yang baru masuk.
"Ini berapa mbak?" Laki-laki bertopi bertanya sambil mengangkat gamis dengan penggantungnya.
"Itu dua ratus lima puluh satu set dengan jilbabnya bang." Mbak Nindya menjawab. Dan dengan ramah laki-laki itu mendekati mbak Nindya.
"Boleh nggak ini dicobakan sedikit mbak." Laki-laki itu bertanya lagi.
"Boleh." Setelah sempat ragu-ragu mbak Nindya menjawab. Lalu laki-laki itu mencoba mengepaskan baju ke badan mbak Nindya. Saat di dekat payudara mbak Nindya dia sengaja sedikit menekankan tangannya. Mbak Nindya segera menjauh lagi. Mukanya mulai tersirat merah.
"Maaf bang, keluarlah dari sini sebelum saya berteriak karena abang mau melecehkan saya." Mbak Nindya mengusir laki-laki bertopi yang dia rasa tidak sopan itu.
"Heiii..., jangan sembarangan bicara kamu ya. Siapa juga yang selera dengan wajah kampungan sepertimu. Baru jadi pelayan butik saja belagu...." Laki-laki tadi melemparkan ke lantai beberapa gamis yang tadi dipegangnya.
"Plak! Plak" Dua tamparan tiba-tiba mendarat di pipinya secara berlawanan.
"Siapa kau set^n? Apa urusanmu hah?" Laki-laki bertopi marah seketika. Dia mencoba memukul orang yang menamparmya, namun laki-laki di hadapannya terlalu tinggi untuk dia yang sedikit stunting.
"Cepat ambil gamis di lantai itu, kasihkan dengan benar!"
"Hei anj!ng, kalau aku tidak mau apa yang akan kau lakukan?" Tiba-tiba saja laki-laki bertopi mengambil pisau lipat di pinggang kirinya, menusukkan ke paha kiri dengan menariknya sekuat tenaga. Kemudian dia berlari meninggalkan butik. Sementara laki-laki tinggi yang terkena tusukan tadi, seketika terduduk.
"Auhhh sakitnyaaa...." Darah mulai mengalir di lantai butik dari paha laki-laki itu. Mbak Nindya yang ketakutan segera berlari ke rumahnya yang tidak jauh dari butik. Dia memanggil Papa yang langsung membawa mobil dan segera melarikan pengunjung butik yang telah menolong anaknya dari pelecehan.
"Nin, tutup butiknya dan susul ayah ya." Papa bicara kepada mbak Nindya.
"Ayah akan membawanya kemana? Nanti Nindya tidak tahu jalan."
"Kalau begitu cepat tutup butik dan pamit sama ibumu. Ayah tunggu di sini." Papa bicara kepada mbak Nindya yang segera melakukan apa yanh dikatakan Papa. Tak lama kemudian, dia sudah kembali dan duduk di mobil bersama laki-laki yang terluka.
"Buka saja dik maskernya kalau sempit bernafas." Papa menyarankan kepada laki-laki yang terluka.
"Mbak Nindya." Laki-laki itu memanggil.
"Hah? Kau kenal anakku?" Papa kaget dan menatap ke spion tengah.
"Iya aku pernah bertemu sekali dengannya." Laki-laki itu menurunkan maskernya ke dagu. Nampak wajah tampannya yang pucat. Sementara darah di paha masih mengucur deras.
"Dirga? Kau di butikku sudah dari tadi?" Mbak Nindya mengembangkan senyumnya.
"Iya mbak." Dirga menjawab pelan.
Papa seketika menghentikan mobil, dan mundur sesaat, kemudian belok ke kiri.
"Kita ke mana pak?" Mbak Nindya bertanya.
"Ayah baru ingat di belakang ini ada Puskesmas besar.
"Baiklah, terima kasih pak." Dirga menjawab sambil menahan sakit.
"Terima kasih kau telah menolongku untuk yang kedua kalinya." Mbak Nindy bicara lembut sekali. Senyumnya kembali mengembang.
"Dua kali?" Papa bertanya sambil melihat ke spion lagi.
"Iya yah. Ini Dirga yang dulu menolong Nindy saat diculik anak buah pak Bayu." Mbak Nindya menjelaskan. Seketika Papa menghentikan mobil dan mengulurkan tangan ke belakang.
"Terima kasih ya nak atas pertolonganmu dulu." Papa tidak berbasa-basi, dengan tulus dia berterima kasih.
Iya pak, tapi tolong agak cepat mengemudinya, aku mulai pusing pak." Dirga menekan keningnya yang mulai berkunang-kunang.
"Iya iya iya....," Papa kemudian memacu mobil dengan cepat. Sementara Dirga meringis menahan sakit di lukanya yang mulai terasa pedih sedikit dingin dengan badan semakin melemas. Tiga menit kemudian Papa menurunkan Dirga dan menggendongnya di belakang. Entah kekuatan darimana tiba-tiba tubuh Papa begitu enteng menggendong Dirga yang bahkan tubuhnya lebih tinggi darinya. Sementara mbak Nindya bingung mau ikut atau tidak. Karena Papa meninggalkan mobil dalam keadaan mesin masih hidup dan dia hanya bisa menutup pintu saja tanpa bisa mematikan mesin mobil apalagi memindahkan posisi parkirnya.
__ADS_1
*****
(bersambung)