
Mentari telah bersinar. Kupu-kupu cantik perlahan menghisap sari-sari bunga di taman, air embun jatuh perlahan karena ayunannya. Tak ada lagi suara kokok ayam jago, berganti sudah dengan kebisingan jalanan. New Normal kata pemerintah, sekolah dengan zona hijau sudah boleh bertatap muka. Muntok, Bangka Barat salah satu kabupaten yang menerapkan aturan itu. Anak SMA pun sudah memulai kegiatan di sekolah dengan sistem shift-shift-an.
"Afni! Bangunlah, hari sudah siang jangan bermalas-malasan di tempat tidur." Ibunya membangunkan dengan menggedor-gedor pintu kamar anak gadisnya yang tidak terkunci.
"Iya iya iya bu." Gadis itu menguap beberapa kali, dia menggeliat dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Gadis cantik itu terkantuk-kantuk menuju kamar mandi, sikat gigi dan membasahi sekujur badannya yang putih, bersih dengan satu tanda lahir sejempol di bawah ketiak kanan. Bernyanyi-nyanyi kecil dia menghabiskan hampir sepuluh menit di kamar mandi.
"Afni! Ya Allah naaakkk..., ayo cepat sarapan. Hari ini bibi tidak masuk. Ibu mau buru-buru ke kantor, ayahmu sudah pergi. Makanlah dan jangan lupa kunci pintu." Ibunya seperti seorang ibu pada umumnya, dikatakan cerewet di pagi hari, seperti burung murai batu yang kepengen kawin saja mulutnya mengingatkan anak dara yang sengaja berlambat-lambat bangun, mandi, darapan dan hal lainnya.
"Iya bu...." Gadis itu keluar kamar mandi dengan melilitkan handuk putih di badan, handuk kecil berwarna ping muda nampak melilit di kepala. Dia habis keramas. Sebuah kalung dengan liontin bertuliskan RA nampak bergoyang-goyang di dekat bawah lehernya yang nampak berlubang seksi karena tulang selangka tanda kelangsingan badannya.
Jam setengah tujuh pagi, ibunya yang bekerja sebagai seorang senior sipir penjara sudah melangsat ke kantor dengan motor N-Max hitam berlist kuning keemasan. Ayahnya sudah pula pergi ke Komplek Peltim mengendarai mobil Avanza biru milik mereka. Dia seorang Kepala Divisi Akuntansi di PT. Timah, tbk yang beroperasi di Bangka Barat. Tinggal dia sendiri di rumah besar itu. Dia yang bekerja sebagai salah seorang guru Biologi di SMA Negeri 1 Muntok. Namun rumahnya hanya berjarak sekitar belasan meter dengan gerbang sekolah. Hanya halaman rumah dan jalan lintas yang membatasi. Afni Rekaningtias, S.Pd., dia seorang guru ASN lulusan 2019. Wajahnya cantik sepintas mirip artis Ayu Tingting namun dia lebih mungil dan bahkan lebih cantik. Dia mulai memilih baju PDHnya sambil bersenandung kecil. Memakai riasan seperlunya saja. Mengeluarkan isi tas hitamnya dan memindahkan ke tas merah hati pula. Dan setelah semuanya beres, dia kemudian menyebrangi jalan menuju ke gerbang sekolah tempat dia mengajar.
"Hai bu Ayuuu...," Penjaga sekolah tersenyum ramah menyambutnya. Iya, karena sekilas mirip Ayu Tingting, Afni sering dipanggil Ayu Tingting, baik oleh rekan kerja maupun siswa-siswinya di sekolah.
"Hai pak Firman" Afni menunduk sedikit tanpa merusak padanan jilbab kekinian yang dia kenakan, dan tersenyum ramah kepada pak Firman. Lalu perlahan menuju ruang kantornya dan sampai bahkan tidak sampai dua menit.
"Sudah sarapan bu?" Pak Decky seorang guru olahraga yang sejak dia masuk ke sekolah ini selalu berusaha mendekatinya, bertanya lembut. Namun melihat perangainya, Afni tidak tertarik sedikitpun.
"Sudah pak." Afni mengangguk dan sibuk menyiapkan materi untuk masuk di jam pertama ke kelas XI IPA 2.
"Padahal saya mau pesankan makanan lho lewat Go Food lho...." Pak Decky mencoba merayu lagi. Namun Afni nampak tidak tertarik sama sekali.
"Tidak usah pak, terima kasih."
"Oke deh..., Pak Decky pun berlalu menuju kursinya kembali. Beberapa orang guru hanya cecikikan. Mereka tahu persis kalau pak Decky yang usianya sudah hampir kepala empat itu terlalu sering diacuhkan. Namun dia tetap berusaha. Setelah Decky menjauh, Afni membuka handphonenya yang bergetar dari tadi.
"Malam Minggu depan, abang akan datang melamarmu ya..., tolong sampaikan sama orang tuamu." Hatinya berdebar membaca pesan itu. Rian, pacarnya sewaktu SMA yang sekarang juga sudah bekerja di bagian pengolahan bijih timah. Begitu lulus SMA dia tidak kuliah, tetapi magang di perusahaan biji pasir hitam itu di Mentok, lalu diangkat menjadi karyawan tetap melalui tes. Setamat SMA mereka tetap berpacaran dari jarak jauh, Muntok dan Palembang, karena Afni lulusan sebuah Universitas Negeri di Indralaya.
"Kok tiba-tiba mau melamar?" Dia membalas pesan whatapp itu dengan sedikit menaikkan alis. Bingung.
__ADS_1
"Bukannya kamu yang sudah beberapa kali minta dilamar dulunya, bagaimana sih cinta?" Masuk lagi pesan dari Rian, kekasihnya.
"Bukan begitu Rian. Aku merasa kita sudah tidak cocok lagi Yan." Afni menjawab pesan dengan konsentrasi mengetik.
"Apa maksudmu?" Masuk lagi pesan baru. Ada emoticon kebingungan di sana.
"Maafkan aku Rian, tapi aku merasa tidak mungkin bisa menikah denganmu." Dengan deg-degan menanti reaksi dari Rian, Afni sejenak menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Decky menoleh ke arahnya dengan perasaan penuh tanda tanya.
"Iya alasannya kenapa? Mengapa dari minggu-minggu kemarin kamu malah mengajak putus terus?" Masuk lagi pesan Rian. Afni tidak segera menjawabnya.
"Apa karena aku pernah jalan sama cewek lain selama kamu kuliah? Itukan dulu sayang. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Lagian itu hanya iseng, tidak untuk diseriusi kok." Afni membaca kembali pesan baru dari pacarnya sejak SMA itu.
"Maaf Rian, maaf seribu maaf, tetapi sejak kamu berselingkuh, hatiku memang mulai ragu. Dan jujur, saat ini hatiku telah terisi dengan laki-laki lain. Aku mulai mencintainya karena memang, setelah hatiku mencoba dan mencoba berdamai dengan caramu berselingkuh, hatiku tak bisa menerima lagi Maafkan aku Rian. Carilah gadis yang lebih segalanya dariku, kita putus mulai saat ini." Dengan hati deg-deg-an Afni menulis dan mengirimkan pesan kembali.
"Terserah, aku menganggap kita tidak putus. Aku akan tetap melamarmu minggu depan."
"Jangan lakukan hal bodoh Yan, itu hanya akan mempermalukan kita berdua, juga keluarga." Wajah Afni berubah, dia merasa kesal dengan mantan pacarnya itu.
"Dewasalah, kau boleh selingkuh dengan wanita lain, mengapa aku harus tetap setia kepada laki-laki sepertimu?" Kepalang tanggung, akhirnya dia memberanikan diri untuk yakin dengan keputusannya berpisah dengan Rian.
"Dasar anj!ng kau. Aku menunggumu hampir tujuh tahun...." Balasan diterimanya sebuah kalimat dengan kata-kata kasar. Afni hanya menarik nafas panjang.
"Kau menunggu dengan sisa-sisa hatimu. Bukan hanya sekali, kata ibu kau bahkan sering berganti-ganti cewek lain." Mulai membuka hal-hal yang selama ini dia sembunyikan, dengan berpura-pura tidak tahu kecurangan-kecurangan yang kekasihnya itu lakukan, Afni terbawa emosi.
"Set@n, bab! kau. Dasar cewek matre. F*ck You!" Balasan terakhir dari Rian dibacanya.
Selang beberapa detik, story Rian mulai nampak. 'Iblis yang nyata itu adalah wanita yang meninggalkan pacarnya yang setia menunggu hingga enam tahun lebih.'
Afni membaca saja pesan itu, beruntung dia mengaktifkan mode laporan baca menjadi mati. Jadi dia tidak ketahuan telah membaca story mantan kekasihnya. Bel tanda masuk berbunyi. Dia meletakkan hp ke dalam tas, membawa beberapa buku materi menuju ke kelas XI IPA 2.
__ADS_1
"Bu maaf, tadi ada yang mengantarkan ini untuk ibu." Pak Malik memberikan sebuah kantong berisi kotak makanan.
"Terima kasih dari siapa pak?" Afni bertanya kebingungan, namun dia menerima kantong itu.
"Tidak tahu bu, dia hanya bilang tolong kasihkan bu Afni." Pak Malik menjelaskan.
"Oh iyalah terima kasih pak." Afni membawa kantong itu menuju kelas tempatnya mengajar. Begitu sampai ke ruang kelas dia melihat anak-anak sudah siap belajar, mereka mengikuti protokol kesehatan masa pandemi covid-19 dengan memakai masker semua, dia juga membenarkan masker yang dipakainya. Lalu Afni sebentar menyempatkan membuka hp untuk dimode silent, namun tak sengaja dia melihat sebuah pesan muncul.
"Selamat menikmati sarapannya bu guru cantik."
Afni tersenyum manis setelah membaca pesan dari bang Rahman. Hatinya berdegup kencang sesaat, bahagia sekali meski hanya membaca sebaris pesan.
"Terima kasih kirimannya bang." Dia menghamburkan emoticon love sebanyak-banyaknya. Kelas kemudian dimulai dengan wajah siswa-siswinya yang nampak semangat belajar melihat gurunya yang semangat lagi cantik.
*****
Sementara itu, di saat yang bersamaan, seorang laki-laki berbadan tegap, hitam, berbaju bengkel dengan marah melemparkan topi keselamatan di kepalanya yang berwarna kuning ke lantai. Seketika topi itu pecah, separuh bagian-bagian kecil menghambur ke beberapa arah.
"Kenapa bro?" Salah satu temannya mendekati.
"Afni mutusin saya."
"Nggak usah bingung, yang malam Kamis minggu kemarin kamu ajak.ke rumah tak kalah cantik kok sama ibu guru itu." Temannya mencoba menggoda.
"Itu tidak serius bro, sampingan saja karena Afni tidak mau kuajak keluar." Rian menjawab sembari duduk. Dia menurunkan resliting baju bengkelnya hingga ke dada.
"Akan kucari tahu dan kubuat celaka laki-laki yang dicintainya." Dia berbisik dalam hati sambil melepas sepatu bengkel. Tak lama kemudian dia berbaring di pabrik pengolahan pasir hitam menjadi bahan baku timah yang berbentuk dan siap dikirim. Hatinya masih bergejolak hebat. Serasa ada bagian penting dari hidupnya telah terenggut orang lain.
Jangan bekhianat kepada orang yang ikhlas mencintai dan menerimamu apa adanya. Karena jika dia tersakiti, dia akan pergi menjauh dan mungkin tak akan pernah kembali lagi.
__ADS_1
(bersambung)