
Sesampainya ke dekat mobil yang diparkirnya di pinggir jalan, bang Zamy sejenak berpikir dan kembali masuk ke kantor harian Bangk@pos. Berbeda dengan sebelumnya, kini dia diperlakukan dengan sangat ramah. Pegawainya menjadi sangat responsif. Dia disuruh duduk menunggu. Sambil menunggu dia asyik dengan handphonenya.
Tidak sampai lima belas menit kemudian, datanglah seorang laki-laki berkacamata dengan lensa yang tebal berambut keriting. Pahanya yang kurus membuat jeans kepanjangan yang dia kenakan semakin membuatnya nampak tidak rapi. Di pergelangan tangannya nampak tulang-tulang menyembul berhimpitan. Dia tersenyum menampakkan giginya yang kuning menghitam bekas kebanyakan merokok.
“Maaf pak, saya Opid editor berita yang terbit hari ini.” Dia bersalaman kepada bang Zamy yang menyambutnya dengan anggukan kepala.
“Jujur berapa Anda dibayar untuk memberitakan berita yang tidak bermanfaat ini? Apakah telah Anda telusuri dulu siapa Shelly, benarkah dia positif covid-19? Saya tidak akan segan-segan melaporkan orang-orang yang berusaha menjatuhkan saya tanpa sebab yang jelas.” Bang Zamy langsung ke pokok permasalahan. Dia duduk santai di sofa tamu sambil menatap Opid yang masih berdiri. Opid hanya diam. Nampak dari matanya dia memang terlibat dalam kesalahan.
“Bicaralah, jangan hanya lantang bicara melalui jari jemari saja. Saya ingin mendengar konfirmasi dari penulis laman depan ini.” Bang Zamy kembali memperlihatkan judul besar di koran yang ada di meja ruang tamu itu, dengan santainya, bang Zamy masih menunggu Opid bicara.
“Pak, maaf pak, memang salah kami tidak menelisik kebenarannya lebih dulu. Karena Bapak lumayan dikenal di sini, jadi apapun berita tentang Bapak pasti menarik bagi pembaca. Harusnya kami….” Pak Opid yang kira-kira berusia di atas bang Zamy itu terbata-bata bicara dengan bibirnya yang kering mengelupas.
“Kesalahan itu tidak disengaja, tetapi kalau disengaja itu bukan kesalahan. Tetapi cara licik pewarta untuk mendapatkan uang. Berapa Anda dibayar? Anda mau bicara atau mau menunggu surat panggilan dari kepolisian?” Bang Zamy bangkit dari duduk santainya. Dia berdiri sedikit berjongkok ke arah meja tamu. Matanya menatap tajam ke arah pak Opid yang mencoba tersenyum.
“Jangan pak, kasihan anak istri saya. Kasihan orang tua saya. Saya ini tulang punggung keluarga." Pak Opid tersenyum memelas. Guratan urat leher di kening semakin membuatnya nampak tua.
“Untuk apa saya mengasihani keluarga orang yang tidak punya belas kasih kepada Saya dan keluarga?” Berpura-pura sombong, bang Zamy menanggapi.
“Tolong pak, tolonglah….,” Pak Opid ikut duduk di sebelah bang Zamy sambil menangkup kedua telapak tangan. Dia memelas mengibakan.
Pangkalpinang adalah kota kecil, yang berita orang sekelas bang Zamy akan sangat cepat menyebar. Dia keponakan Wakapolri dan memiliki banyak uang untuk sekedar menghukum orang sesat seperti dirinya….
“Apa kontribusimu agar tidak ada laporan ke pihak kepolisian?” Bang Zamy mulai membuka diri. Dia juga tidak tahan melihat orang menghiba kepadanya.
“Apa ya pak, bapak bilang saja mau apa?” Pak Opid tersenyum ramah.
“Kamu pasti punya akun facebook resmi, mohon konfirmasi bahwa Saya dan istri tidak terinveksi Covid-19. Dan besok seperti yang terbit hari ini, bagaimana pun caranya lembar pertama koran harus ada judul besar yang intinya Saya dan Istri Negatif Covid-19.” Bang Zamy memberikan permintaan. Pak Opid sejenak diam.
"Jika tidak, kita akan kembali berjumpa lain waktu, mungkin di pengadilan." Bang Zamy menambahkan.
“Baiklah pak, baik. Besok akan ada di koran kita pak perihal itu.” Opid cepat menanggapi.
“Baiklah, jika benar omonganmu, besok masalah kita clear.”
“Bagaimana anda kenal Shelly?” Bang Zamy berbisik sebelum pergi.
“Dia tetanggaku pak.” Pak Opid menjawab, langkah bang Zamy kembali terhenti. Dia mundur, berbalik dan kembali bertanya.
“Kapan biasanya dia ada di rumah?”
“Dia biasa pulang malam pak. Jam-jam sebelas atau bahkan sampai jam dua Subuh.” Pak Opid menjawab pasti.
“Minta nomor handphonemu, dan temani aku malam ini. Kita akan bertindak seperti seorang detektif swasta menangkap penjahat.”
Bang Zamy berbisik besar kepada pak Opid yang mengangguk patuh. Setelah itu bang Zamy menepuk pundak kirinya dan berlalu pergi meninggalkan kantor media cetak lokal itu. Dia menuju kantor karena ada beberapa dokumen yang harus dia selesaikan hari ini juga.
*****
Jam 11 siang Nina datang ke ruangan kerjaku. Pasien sudah tidak ada lagi yang menunggu.
“Bagaimana kabarmu Nin?” Aku memeluknya hangat.
“Baik Alhamdulillah, tapi sekarang sudah sering mendapat gangguan dari Saudaramu.” Dia mengeluh tidak begitu serius.
“Hemzzz saudaraku banyak. Boleh tau yang mana?” Aku memutar kursi menghadapnya yang sudah duduk di kursi pasien di depanku. Dia memutar-mutar kursi dengan kedua tangan berada di saku.
“Itu si Dirga. Kakek juga pusing dibuatnya, tapi dia anaknya baik banget kok.” Nina menjelaskan.
“Oh yang itu. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku sudah lama tidak berjumpa dengan laki-laki agak usil itu.” Aku membayangkan wajah Dirga yang selalu ceria tanpa beban hidup.
“Dia baik-baik saja, Sudah persiapan, menunggu keluar izin dari Kemenkumham, dia buka kantor Notaris di ruko yang dibelikan kakek, dan dia masih saja penasaran mencari siapa ayah biologisnya.” Nina memberi penjelasan kepadaku.
“Oh begitu, kakek sehat?”
“Iya sehat, dia bilang Naura mungkin ‘kalahan’ di hamil muda. Makanya jarang sekali ke rumah kakek."
“Nantilah, insyaAllah weekend kami main ke sana. Eh, 'betewe' ada rasa-rasa bakalan jadi ipar saya nih….” Aku menggoda Nina.
__ADS_1
“Gak lah…, Oh ya kemarin saya lihat Zamy bawa pancing ke BBG? Tumben dia bawa motor sendiri.” Nina mengalihkan pembicaraan. Aku mengerutkan kening keheranan. Perasaan kemarin kami menghabiskan waktu seharian di dalam kamar hotel. Memadu kasih bahkan sampai empat kali. Bagaimana mungkin Nina melihat dia membawa pancing ke Bangka Botanical Garden. Sebuah kebun wisata yang memiliki kolam pemancingan, aneka tanaman musiman dan sayuran. Tempat peternakan sapi yang paling besar di Kepulauan Bangka.
“Ah masa sih? Mungkin kamu salah orang kali Nin....” Aku membantah.
“Beneran saya lihat Zamy, tapi hanya lihat melalui mobil.” Nina masih ngotot.
“Dia berkaca mata?” Aku mulai curiga.
“Kurang jelas sih, tapi dia pakai helm ‘Mandra'" Nina mendeskripsikan dengan tangannya.
“Kamu yakin?" Aku memastikan lagi.
“Yah Naura, saya kenal Zamy sudah berabad-abad kali….” Nina kembali ke sikapnya saat berteman denganku dulu.
“Tunggu sebentar.” Aku lantas melakukan panggilan video ke bang Fathur.
“Ya ada apa adindaku sayang…,” Dia memainkan bibir dan giginya menggangguku.
“Bang, abang kemarin mancing ke BBG ya?” Langsung ke point permasalahan aku bertanya.
“Iya dooong, habis di rumah tidak ada pekerjaan. Mau gangguin kamu, kamunya sembunyi. Mau merayu Nindy, dia sudah pulang. Jadi yaaa..., mancing sajalah tapi gak dapat seekorpun. Hahaha..., kenapa memangnya? Mau ikut mancing? Nih abang sudah siap mau pergi ikut papamu.” Dia menunjukkan lokasinya yang sudah berada di rumah papa.
“Oke deh pergi sana. Jangan ganggu mbak Nindy yaaa....”
“Ih sewot saja. Dia saja tidak marah….” Dia membalas judes sekali. Lalu aku mengarahkan kamera ke arah Nina yang ternganga kaget. Lalu dia mendorongkan hp ke arahku lagi yang segera menghentikan panggilan.
“Itu bukan Zamy? Itu Zamy kan?” Nina bingung sendiri setelah melihat seseorang yang barusan ada di video.
“Itu kakak saya yang dulu saya pernah cerita tinggal di Yogyakarta.” Aku tersenyum menjelaskan.
“Yang menikah sama orang Palembang?”
“Iya, tapi sudah cerai. Sekarang dia jadi dosen di UBB.”
“Benarkah?” Wajahnya berubah sumringah.
“Iya, katanya begitu.”
“Bangeeet, tapi dia lebih cerewet dan agak hitam sedikit.” Kepalang tanggung aku langsung menjelaskan.
“Hemmm…, dia tinggal dimana?” Jiwa kepo Nina kembali keluar.
“Sementara di rumahku.”
“Benarkah? Kapan kamu mau ngundang saya makan malam? Sekalian kenalanlah.” Nina mencubit pipi chubyku.
“Ah kamu sih, emang saudaraku jualan, boleh dipilih-pilih.” Aku merengut mematahkan gairah keponya.
“Hemzzz…, bukan begitu sih, katamu silaturahmi itu memanjangkan umur, saya mau dong umur panjang.” Dia membuat alasan cerdas kali ini.
“Huh telaattt....” Aku menyoraki Nina yang tersenyum semangat keluar ruangan. Aku menghela nafas dalam dan hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala membayangkan, dia akan kembali mencoba berlomba mendapatkan bang Fathur dengan mbak Nindya. Tapi mbak Nindya tidak begitu ambisi, bahkan dia Nampak biasa saja dan tidak ada sinyal menyukai secara dewasa sosok bang Fathur. Ah, terserahlah, jodoh itu di tangan Tuhan. Aku kembali melihat ke layar komputerku, seorang pasien rujukan sedang menuju ke ruangan.
*****
“Bu, Nisa tidak mau ikut ke kebun, dia sama ibu ya di rumah.” Mbak Nindy bicara sama tante Mira yang perlahan sudah mulai bisa berjalan tanpa tongkat. Dia hanya memegang dengkulnya saat berjalan.
“Iya nak, pergilah.” Ibu mengizinkan mbak Nindya ikut bersama papa ke kebun. Mereka naik mobil pickup carry menuju ke sana, setelah mbak Nindy terjatuh menabrak mobil rental bang Fathur, papa membeli sebuah mobil pick up untuk mengambil bahan jualan di kebun. Mbak Nindya sudah naik ke belakang mobil dengan bak terbuka itu.
“Eh mbak, mbak di depan saja sama om Ram, biar saya yang di belakang.” Bang Fathur naik juga ke mobil pick up.
Demi mendapatkan hati mbak Nindya apapun dilakukan bang Fathur….
“Bapak saja di depan sama ayah. Saya enak di sini banyak angin.” Mbak Nindy berkilah polos. Padahal dia ingin membiarkan bang Fathur yang dihormatinya lebih nyaman duduk di sebelah papa.
"Ah, biarlah saya di belakang saja...." Bang Fathur menarik mbak Nindya biar turun.
"Jangan pak. Bapak di depan sama ayah, Saya sudah biasa kok...." Mbak Nindya tidak mau turun. Dia mengatur letak karung dan beberapa peralatan ke kebun. Mendengar keduanya, akhirnya papa keluar mobil dan melihat ke arah keduanya.
__ADS_1
“Ayah masih ada yang harus dilakukan ke bank Sumsel Babel Nindy, berkenaan dengan pensiun dini kemarin, kau pergilah dulu sama Fathur, nanti ayah menyusul dengan motor.” Papa mencari alasan agar keduanya bisa duduk bersama di depan.
“Eh kalau begitu nanti saja perginya, Nindy nunggu ayah.” Mbak Nindy masih mencoba menghindari kontak dengan bang Fathur yang memang semakin agresif pendekatannya.
“Nggak harus nunggu om kok, ayo saya bisa membawa mobil ini.” Bang Fathur pindah ke kursi kemudi.
“Pergilah nak, dia orang baik kok.” Papa bicara kepada Nindya. Papa paham benar mbak Nindy yang masih begitu sensitif dengan kedekatan laki-laki. Trauma di masa lalu belum benar-benar hengkang dalam alam bawah sadarnya.
“Kalau begitu Nindy mau ajak Nisa ya yah.”
“Boleh, tapi tadi dia nggak mau katanya.” Papa menjawab. Lalu papa memanggil Nisa dan membujuknya agar ikut. Dan dengan muka cemberut Nisapun naik ke mobil pickup yang dikemudikan bang Fathur. Dia berada di sebelah kanan mbak Nindy.
“Kita seperti keluarga ya Nis….” Bang Fathur iseng bicara ke Annisa. Dia membelai rambut Nisa sesaat sebelum harus mengoper gigi menelusuri tanjakan ke kanan setelah pasar pagi menuju Museum Timah Pangkalpinang.
“Kalau oom mau jadi ayah Nisa kita kan memang keluarga.” Nisa bicara lagi dengan lugunya. Mbak Nindy seketika menutup mulut anaknya dengan telapat tangan. Dia menunduk malu.
“Maaf ya pak, anak saja belum mengerti apa-apa.” Mbak Nindya mengangguk sesaat ke arah bang Zamy.
“Lepaskanlah tanganmu di mulutnya, biarkan dia bebas bicara. Lagian aku suka mendengar omongannya barusan.” Bang Fathur mulai melancarkan serangan. Namun mbak Nindya malah merasa tidak nyaman sendiri. Perlahan dia membuka jemarinya dari mulut Annisa.
"Ibu kenapa sih, kan Nisa hanya berandai-andai." Nisa protes menatap ibumya.
"Tapi kalau om mau serius bagaimana?" Bang Fathur bicara dari hati kecilnya.
Dasar kakak lelakiku satu ini, begitu agresif dan terbuka....
"Tuh lihat, foto siapa itu besar-besar di dinding?" Mbak Nindy menunjuk ke beberapa spanduk si tembok jalan yang mereka lewati. Nisa menoleh.
"Ah foto tidak cantik." Nisa menjawab jutek, sementara bang Fathur hanya tersenyum kecil. Dia paham benar bahwa mbak Nindy hanya mencoba mengalihkan pembicaraannya barusan.
*****
“Waaaawww enaknye dikebun niii….” Bang Fathur senang sekali ketika sampai di kebun. Dia menggerak-gerakkan badan karena pegal membawa mobil yang sungguh tak pernah dia kemudikan. Paling hanya mengemudikan mobil Hilux miliknya bang Rahman yang dia bawa. Itu jauh lebih nyaman daripada membawa mobil carry bak terbuka tahun lama.
“Om suka ya?” Nisa bertanya sambil ikut menggeliat.
“Iya dong, hawanya masih sangat asri. Nisa suka tidak?” Bang Fathur menarik membetulkan baju Nisa yang terangkat habis menggeliat.
“Nisa sudah bosan di sini terus dari dulu om, tidak ada roti, tidak ada pizza, tidak ada brownies seperti yang sering dibawain om Zamy….” Bang Fathur tersenyum mendengar keluhan Nisa.
"Om Zamy suka bawain makanan ya?"
"Iya, om Zamy dari dulu baik banget orangnya." Nisa semangat menceritakan kebaikan bang Zamy.
"Nisa diajaknya jalan-jalan lho om...." Mata gadis kecil itu kembali berbinar-binar.
"Nisa mau jalan-jalan lagi?"
"Mau dong om."
“Maunya kemana coba om dengar?”
“Mau ke Hypermart, main di 'timzon', atau ke Trans Studio, atau naik kapal terbang nguuunggg….” Nisa mencobakan naik pesawat dengan tangannya.
“Kapal terbang? Pesawat maksudnya?”
“Iya.” Nisa menjawab, sementara mbak Nindy tersenyum melihat keakuran keduanya.
“Oke deh, nanti insyaAllah om ajak ke sana sepuasnya. Sekarang naik kapal terbang yang alami dulu.” Bang Fathur mengangkat tubuh Nisa dengan memegang kaki dan dada hingga ke pangkallengan. Dia menerbangkan Nisa dengan posisi telungkup, membawanya berlari-lari kecil melawan arah angin, hingga rambut halus gadis kecil itu tersibak-sibak. Senyumnya merekah. Dia keluarkan tangan dari pelukan bang Fathur, dan bersorak gembira.
“Tuhaaannnn…, berikan Nisa seorang ayah seperti oom Fathuuur, dia bisa membuat Nisa terbang ke angkasa rayaaa.., horeeee….” Bang Fathur membawanya berlari di antara segala jenis tanaman yang ada. Belalang-belalang hijau sontak terbang melarikan diri ketika bang Fathur melewatinya. Burung-burung gereja yang mencari sisa-sisa jagung tua ikut berhamburan terbang ke udara dan hinggap lagi di ranting-ranting pohon atau tanah yang jauh. Alam yang indah mengembalikan kematangan jiwa bang Fathur yang sempat rapuh. Di tanah basah ini, di sela-sela dedaunan menyapa, dia mengembalikan hati, untuk kembali menjadi seorang yang berarti bagi keluarga.
Tunggulah, aku akan melamarmu Nindya, apapun statusmu, bagaimanapun riwayat pendidikanmu, itu bukan masalah....
“Horeeee…., ibuuu...!!! bu, lihatlaaahhh..., lihatlah Nisa yang bisa terbang dengan indah…, lihatlah buuu..., lihatlah, Nisa sangat bahagiaaa....” Nisa berteriak memanggil ibunya yang tak mampu menjawab, namun hanya mampu berurai air mata.
Terima kasih ya Allah, Kau hadirkan orang-orang baik di sekelilingku....
__ADS_1
Dia bergumam sambil menyeka air mata.
(bersambung....)