
Beberapa jam sebelumnya...,
Ayah marah besar setelah mengetahui Bang Zamy diculik ketika menemui bawahannya bernama Faisal, seorang kepala laboratorium di Rumah Sakit yang dipimpin oleh Bang Zamy. Dialah dalang yang bekerja sama dengan Dokter Jo dalam penyekapan. Amarah ayah meledak ketika ibu menelpon dan mengkhawatirkan sambungan telpon denganku yang terputus tiba-tiba. Ayah kemudian menelpon abang kandungnya yang hingga kini masih menjabat sebagai Wakapolri, dan akhirnya menelpon langsung Kapolda Bangka Belitung agar segera menindaklanjuti kasus kami. Kapolda pun bergerak cepat, menurunkan banyak personil kepolisian dan tenaga-tenaga ahli di bidang IT. Sebuah layanan provider yang selama ini bekerja sangat lamban dan berbelit-belit memberikan data keberadaan lokasi sebuah nomor telepon seluler berada, di bawah instruksi Wakapolri semua bergerak cepat bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam melacak titik terakhir keberadaanku. Dan mereka mendapati sinyal terakhirku masih di Menumbing Heritage Hotel dengan mobil yang tidak terkunci.
*****
Dirga, lagi-lagi dia yang melihatku dibekap orang ketika menuju parkiran. Namun dia yang ingin segera membuntuti lagi-lagi menemui jalan buntu. Dia kesusahan mengeluarkan mobil yang terparkir di dalam hotel Menumbing Heritage yang masih ramai. Setelah sempat menemukan kunci mobilku yang terjatuh sekitar dua meter dari mobil, akhirnya dia melaporkan lagi ke pihak kepolisian. Namun laporannya nampak begitu susah ditanggapi. Akhirnya lagi-lagi dia menghubungi Bang Zamy. Dan kembali, dengan kekuatan instruksi Wakapolri, bahkan kapolda pun ikut turun langsung ke lapangan dalam penelusuran. Berawal dari titik CCTV di depan hotel, berlanjut ke semua titik-titik CCTV yang mencurigakan pun ditelusuri. Minimarket-minimarket pinggir jalan semua diminta tolong melihat pergerakan mencurigakan. Dan setelah memeriksa lebih dari seratus lima puluh titik CCTV, akhirnya didapatkan sebuah mobil bakterbuka pengangkut sampah yang dikelola oleh pihak swasta berwarna kuning, gerakannya mencurigakan dengan dua orang di atas baknya. Pihak kepolisian dibantu tim Cyber akhirnya berhasil menangkap nomor plat mobilnya. Lalu tidak sulit bagi seorang Kapolda untuk melacak kepala pemilik bank sampah swasta itu yang akhirnya setelah dicek dan ditelpon lagi ke sana kemari, ke semua karyawan yang membawa pulang mobil pick up dengan selalu membunyikan nyanyian saat beroperasi itu, dicurigai, Edwinlah yang memakai mobil pick up dengan plat nomor polisi dimaksud, BN 2312 DQ. Polisi segera menyambangi rumahnya dan mendapati Edwin yang baru pulang ke rumah dengan mobil peangangkut sampah. Edwin begitu terkejut melihat sudah ada beberapa orang polisi menunggunya di rumah. Tak ada waktu lagi baginya beralibi, tak ada waktu lagi baginya berkompromi. Tak ada waktu lagi untuk melarikan diri. Akhirnya setelah mendapatkan puluhan kali bogem mentah dari Bang Zamy yang ikut ke sana, dia membuka suara, dimana telah membuangku. Namun sebelum diborgol dan dibawa ke mobil polisi Edwin yang izin berganti baju segera menelpon ketiga temannya untuk segera membuang mayatku agar waktu mereka untuk bisa meloloskan diri lebih panjang. Namun ketiganya tidak berhasil menemukanku yang saat itu bersembunyi menahan diri untuk bertahan hidup, di bawah potongan ilalang yang sudah mengering.
*****
Pencarian kemudian dimulai, petunjuk utama adalah pistol yang berada di badan Edwin ketika disergap itu adalah milikku, itu seri hanya dimiliki olehku di Pangkalpinang. Bahkan Bang Zamy membeli dengan seri yang berbeda.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini anj!!!!ng?" Bang Zamy dengan mata memerah menahan emosi berteriak kepada Edwin sebelum dia diborgol dan dinaikkan ke mobil polisi. Edwin hanya diam.
"Plak! Plak! Plak!" Pukulan sekuat tenaga kembali mendarat ke pipi laki-laki berperawakan sedang dengan rambut tebal tak terurus.
"Jawab! Siapa yang telah menyuruhmu menculik Naura. Siapa? Jawablah siapa?" sungguh urat leher Bang Zamy sampai menyembul saat berbicara. Dia begitu marah. Karena Edwin hanya menunduk tanpa menjawab kakinya seketika melayang ke bagian wajah. Darah mengucur dari hidung dan mulut.
"Sudah pak Dokter, nanti kita pasti dapatkan informasinya. Jangan kotori tangan Bapak nanti kami akan mengurusnya." Kapolda yang agak tunduk dengan keluargaku karena mengetahui hubungan kekeluargaan dengan Wakapolri menyabarkan Bang Zamy yang masih naik turun dadanya karena emosi.
"Pergilah Zam, pergilah ikuti anak iblis ini. Dimana dia telah membuang putriku." Ayah dengan sisa kesabaran berair mata menangis. Tangannya sudah berkali-kali ikut menampar Edwin. Akhirnya mereka berangkat ke tempat dimana Eswin dan kedua temannya telah membuangku. Allah Maha Baik, kamipun ditemukan ditengah hutan dalam keadaan sudah melahirkan.
*****
"Beee..., makan dulu sayang...." Bang Zamy sambil menggendong putra kami datang dengan sepiring nasi dan lauk pauknya. Nasi putih yang basah berkuah bening telur puyuh, bayam dan wartel. Dua potong besar ikan gabus/haruan yang dibakar bumbu ikut menemani. Aku yang sedang berbaring di sofa ruang keluarga sambil membaca novel di aplikasi NovelToon seketika menegakkan badan. Kuletakkan handphone ke meja dan menerima piring keramik putih berlist emas itu.
"Barusan pak Kapolda menelpon, katanya tidak ada lagi yang tersisa semua orang yang terlibat dalam penculikan kita beberapa hari lalu." Bang Zamy mulai membuka obrolan.
"Benarkah?" Sejenak aku menatapnya.
"Iya."
"Siapakah sosok bu Risma?" Aku meletakkan sendok dan konsentrasi menunggu jawabnnya.
"Hemzzz..., agak lucu sih Beee..., betapa dunia ini dalam satu peristiwa menghubungkan manusia dengan manusia yang tidak masuk akal." Bang Zamy ikut duduk bersamaku. Dia tak henti hanya berjarak beberapa detik saja mencium pipi putra pertama kami yang pulas di gendongan.
"Maksudnya sayang?" keningku berkerut mendengarnya.
"Iya. Dokter Jo itu rupanya iparnya pak Victor, seorang pengacara kepercayaan kakekmu, kakek Ezo. Adik kandungnya pak Victor menikah dengan Dokter Jo. Nah setelah ditelusuri dan ini yang membuat kakekmu menjadi shock berat. Ternyata bu Risma adalah nenekmu yang dulu pergi begitu saja meninggalkan kakekmu." dengan tangan kanan mendeskripsikan Bang Zamy memulai bercerita.
"Apa? Maksudnya bagaimana bang?" untung aku tidak tersedak karena kaget. Rasa tidak percaya di senja usia kakek muncul kembali nenek yang katanya pernah pergi tidak tahu rimbanya.
"Iya, adek kan tidak tahu dimana keberadaan nenekmu, alias istri sah kakek Ezo. Nah rupanya ketika menghilang kakekmu alias ibu Risma itu malah hidup bersama dengan pak Victor, pengacara kepercayaan keluarga pak Ezo." Bang Zamy menatapku lekat, mencoba menjelaskan sedetil dan semudah dimengerti olehku. Aku pun mencerna kalimat itu dengan baik.
"Hah? Tetapi bagaimana mungkin?" Aku masih belum percaya.
"Iya benar."
"Kok bisa begitu?" Nasiku mulai mengembang dianggurkan.
"Entahlah, kalau melihat wajah ayu nenekmu rasanya tidak mungkin dia akan berbuat sekejam itu kepadamu. Bukankah kamu cucu pertamanya?" Bang Zamy menggeleng-gelengkan kepala kembali.
"Apa alasannya dia ingin menghabisiku?" Aku benar-benar tidak habis pikir.
"Yah itu tadi. Nenekmu dijejal otaknya sama pak Victor agak mengambil alih semua warisan kakekmu yang sudah dibagi-baginya untukmu, untuk Dirga dan untuk Nina."
"Tapi kenapa mereka hanya mengincar adek?"
"Semua berkepentingan, kompromi dalam sebuah rencana besar. Nenekmu baru menyadari bahwa lebih setengah warisan keluarga kakekmu kembali berubah atas namamu. Bahkan rumah besar yang didiami kakekmu sekarang dulu atas nama kakekmu, sekarang sudah atas nama Yayasan Amal."
__ADS_1
"Kenapa kok tiba-tiba dia datang lagi?"
"Entahlah, namun menurut keterangannya di kantor polisi, dia tergiur mengambil hartamu karena dia memiliki anak di luar nikah dengan pak Viktor."
"Apa? Tua-tua masih zina?"
"Dia pergi dari kakekmu waktu muda lah yaaannkkk"
"Owh." Aku bicara sambil menyendok nasi yang hampir habis. Pikiranku mengembara ke percakapan bersama kakek di ruang kacanya. Aku mendesah, menggeleng-gelengkan kepala dan tetap tak mampu mencerna isi otak orang lain. Segera kuhabiskan makanku.
*****
Melihat aku sudah selesai makan, Elza pun datang membereskan. Sedangkan aku, sejak kejadian mengerikan itu, begitu mendapat perlakuan istimewah. Bang Zamy seperti merasa bersalah dan sangat berdosa mengenangkan peristiwa pahit yang kualami. Makanya hingga kini, tak ada satu kalipun dia menyakiti fisik maupun psikisku. Bahkan seekor nyamuk pun akan diburunya jika menggigitku. Bang Zamy, sebagai Direktur Rumah Sakit besar di Pangkalpinang, tidak ada lagi yang mengganggunya sekarang, Dokter Jo dan orang suruhannya sudah mendekam di penjara. Dan di bawah kepemimpinan tangannya sekarang rumah sakit sudah terakreditasi A.
*****
Yang lain?
Tak lama setelah kelahiran putra pertama kami, Aunty Cantikku, Dokter Nina menikah dengan Dokter Zein dengan wali hakim. Sedangkan Dirga, kakakku itu masih melajang hingga sekarang, namun kantor advokatnya semakin ramai dan terkenal. Katanya pula dia lagi dekat dengan seorang janda kembang yang masih muda, baik, dan cantik bekerja di Pemprov. Bangka Belitung, dia ditinggal selingkuh. Tetapi aku tidak tahu siapa. Karena dia masih merahasiakannya.
Ibu dan ayahku?
Ibuku sudah menyelesaikan segala administrasi pensiun dini, dia bersama kami di Pangkalpinang sekarang, kebetulan ayah juga pindah menjadi Manajer Pemasaran di kantor bank BUMN cabang Pangkalpinang. Hanya sesekali pulang ke Mentok. Katanya akan kembali menetap ke Mentok hingga anak pertama kami Ayaaz sudah sekolah SMA. Ibu ingin merawat dan menjaganya, ibu ingin membalas malam kelam di saat kelahirannya tanpa kehadiran orang lain. Ibu merasa, ibu sangat sedih dan merasa berdosa membayangkan semua kisah memilukan yang kualami di malam pekat itu.
Bang Fathur dan Mbak Nindya?
Mereka bahagia menikmati hari-hari menunggu masa-masa perkembangan janin dengan hati riang. Bang Fathur sering mengantarkan Mbak Nindya tutorial tatap muka paket C ke SKB Pangkalpinang, terkadang membantunya mengikuti kelas jarak jauh melalui zoom meeting. Bang Fathur ingin mewujudkan mimpi istrinya itu yang sangat ingin menjadi guru TK. Annisa sudah pula mendaftar ke TK Aisyiah 2 Pangkalpinang meskipun hingga kini belum tatap muka juga dengan gurunya. Namun dibantu Bang Fathur, Mbak Nindya, Papa dan Tante Mira dia sudah mampu mengeja huruf demi huruf baik alpabet maupun hijaiyah, dan sudah bisa menghitung pula.
Kakek?
Kakek menikmati masa tua ditemani Dirga, dan benar bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Dengan segala lika-liku, akhirnya kakek dan tante Sofie yang dulu pernah berdosa, akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Tante Sofie sudah diceraikan oleh pak Bayu yang sekarang sudah menjadi pengganti imam masjid Lapas Tua Tunu Kelas II.A. Dia mulai menikmati hari tua dengan bertaubat.
Irwan?
Bang Rahman dan Afni?
Mereka masih berbulan madu, menikmati masa indah sebagai pasangan baru. Keduanya dalam usaha mendapatkan keturunan. Ibu sudah sering mengingatkan untuk segera punya banyak cucu.
Adapun satpam ganteng kami, Fredy yang berhasil mengalahkan rampok komplotan pak Viktor suruhan nenekku mendapat kenaikan gaji besar dari Bang Zamy. Dia sepertinya ada rasa suka dengan anak sepupu ibu yang baru datang dari Bengkulu, Elza. Dan gayung bersambut, Elza juga menyukai Fredy. Kami sudah mendukung hubungan keduanya, bahkan menyilahkan kalau mereka ingin segera menikah dan tinggal bersama di villa kami.
Royyan?
Sesekali Bang Fathur mengajaknya video call melalui whatapp adiknya yuk Vioni. Yuk Vioni tidak pernah mengganggu Bang Fathur lagi. Dia diam karena sudah disumpal uang. Entahlah, jika melihat storyWAnya, dia sudah mulai sering jalan bersama seorang laki-laki.
Dan Nurbaety?
Betty sejak mengetahui Bang Fathur menikahi janda beranak satu, seorang petani, tidak tamat SMA dia hampir pingsan. Dan sekarang tak sekalipun dia menegur atau menjawab teguran Bang Fathur ketika di kampus. Dia melihat Bang Fathur seperti seorang musuh. Berpaling seolah-olah membenci seorang mantan padahal berpacaran saja tidak dan bertemu saja masih baru. Lucu dan menggelikan. Rekan kerja Bang Fathur malah sering menggoda dia selingkuh dari Betty, namun insan ganteng akademisi itu hanya menjawab dengan senyum kegelian.
*****The End*****
Terima kasih sudah membaca karya receh Author ini hingga tamat. Mohon maaf jika kurang puas atau menyisakan rasa kurang nyaman.
JANGAN LUPA BACA
Ganti Suami (PF Kuning)-Tamat
__ADS_1
Kemelut Cinta Ann (PF Kuning)-Tamat.
Istri Ketiga (*******) PF Kuning)
Naik Ranjang (PF Pena Hijau)
Dan readers tercinta:
Tetap patuhi protokol kesehatan di masa pandemi covid-19 ini di manapun Anda berada, terutama jangan lupa 3Mnya:
Mencuci tangan dengan sabun;
Menjaga jarak;
Memakai masker
GAMBAR
Ekpresi saat berjuang melahirkan sendirian
Saat Bang Zamy ngantor
__ADS_1
Bersama Ayaaz