
Adzan Subuh telah berkumandang. Ayah dan bang Zamy pergi ke masjid dekat rumahku yang masih melaksanakan sholat wajib berjamaah. Sebelum masuk masjid jamaah disemprot cairan disinfektan, di depan rak sandal dekat tempat wudhu jamaah wajib cuci tangan, membawa sajadah masing-masing dengan jarak minimal 1 meter di dalam masjid.
"Bangunlah nak..., Subuh..., Subuh..., yuk Subuh sayang." Ibu membangunkanku seperti seorang anak kecil. Aku malah menutup mukaku dengan bedcover dan mencoba tidur lagi.
"Assalamualaikum...." Terdengar suara ayah dan bang Zamy masuk rumah pulang dari masjid. Aku segera bangun. Ibu sudah selesai sholat dan kembali ke dapur. Aku bergesas melaksanakan sholat. Setelah itu berjalan menyusul ibu.
"Sudah sholat nak?" Ayah menyapaku. Beliau sudah menyalakan telivisi. Beritanya lagi lagi masih seputar corona. Sementara bang Zamy sudah duduk di sofa dekat ayah, lekat matanya ke hape. Menonton siaran ulang pertandingan sepak bola. Tangan kirinya memegang hp yang diletakkan di lutut kiri sedangkan tangan kanannya mengepal-ngepal gemas sendiri melihat para pemain yang kurang perhitungan menurutnya.
"Sudah yah, barusan. Oh ya ayah mau minum apa biar Naura siapkan." Aku berhenti sambil mendekati ayah, mataku ikut tertuju ke layar tv.
"Begitulah akibatnya kalau kemudi berada di tangan orang tak punya SIM." Ayah menggumam perlahan mendengar banyak tenaga medis kembali menjadi korban akibat covid-19. Bang Zamy berhenti menatap hp. Ia ikut menatap ke layar tv.
"Yah, ayah mau minum teh apa kopi?" Aku kembali mengulang.
"Corona corona...." Jawabnya sambil menurunkan kain sarung dan geleng-geleng kepala.
"Ayah mau minum corona?" Aku kesal sendiri dibuatnya. Bang Zamy cekikikan. Dan ayah masih belum menyadari pertanyaanku. Akhirnya kutinggalkan saja mereka berdua menuju dapur, membantu ibu.
"Abang nggak ditanya mau minum apa?" Bang Zamy menggangguku yang sudah berjalan.
"Nggak!" Aku menjawab ketus dan mencemberutinya.
"Kenapa sih kok nggak?" Bang Zamy menggodaku lagi
"Sudah hapal! Kopi susu hangat suam kuku jangan terlalu manis...."
"Cakeeeeppp!!!"
"Huh!" Aku berlalu.
Sesampainya di dapur ibu sudah siap dengan sepiring buah-buahan. Aku membuatkan kopi susu kebiasaan bang Zamy, tak lupa menyeduhkan teh hangat ke teko bulat, hadiah teman ketika pulang dari Thailand dulu. Kubuatkan sekitar 4 cangkir belimbing untuk dinikmati bersama.
"Naura, tolong diiris dulu bolu gulungnya nak, kemudian letakkan ke piring ini ya." Ibu meletakkan sebuah piring ceper keramik putih dengan list keemasan.
"Oke bu." Aku mengambil bolu gulung di dalam 'tupperwore' persegi panjang di atas meja. Kuletakkan di atas tatakan plastik sintetik, mengiris dan langsung menyusunnya. Selesai.
"Bu..., sudah cakep kan?" Aku memperlihatkan hasil potongan bolu gulungnya. Ibu mendekat, tangannya melepaskan celemek yang dipakai waktu mencuci sedikit gelas dan piring kotor.
"Mana coba ibu lihat?" Beliau berujar.
"Nih!" Aku menyodorkan piringnya ke arah ibu.
"Nah ini baru betul. Nggak kayak dulu anak gadis ibu motongnya masih sama plastik bungkusnya dan dengan pisau tumpul. Haha...." Ibu mencubit pipiku.
"Sudah ah bu, masa lalu..., biarlah masa laluuu...." Aku membalas dengan mengikuti irama lagu dangdut Eri S. Ibu hanya tersenyum.
"Sudah yuk, kita sarapan dengan ayah dan abangmu di depan." Ibu mengajakku sembari membawa teko air teh dan nampan berisi 4 gelas keramik cantik. Sedangkan aku membawa piring bolu gulung dan segelas kopi susu kesukaan bang Zamy. Kami meletakkan semuanya di meja ruang keluarga. Ayah melirik kopi susu yang kubawa.
"Nah ini dia ni yang sudah semerbak sepagi ini." Ayah mengangkat gelas kopi susunya.
"Eiiittthhh ayah itu kopi susunya bang Zamyyy...." Aku protes. Kulihat bang Zamy menatapku tersenyum sambil menyetop omonganku. Dia menahanku dengan mengangkat telapak tangan kanan.
"Ah masa giliran kopi susu Zamy doank yang dibuatkan...." Ayah ngedumel sambil meletakkan kopi susunya lagi ke meja.
"Minumlah ayah, Naura akan buatkan lagi buat bang Zamy. Lagian ayah sih tadi ditanya mau minum apa jawabnya corona-corona melulu." Aku ikut ngedumel sedikit.
"Lho kapan Naura nanyanya? Ngak ada kan ya Zam, nggak ada Naura nanya ayah mau minum apa?" Ayah meminta pembelaan kepada bang Zamy.
"Iya yah, perasaan memang ayah nggak ditanya-tanya mau minum apa tadi." Bang Zamy bicara santai saja. Matanya melirikku penuh kemenangan. Aku menggeretakkan gigiku ke arahnya, mataku membelalak besar. Lalu tanpa peduli dengan bang Zamy yang tertawa puas menggodaku, aku kembali ke dapur membuat kopi susu lagi. Sementara ibu? Kulihat beliau sudah memengang kendali tontonan. Tak ada covid-19 lagi. Remote sudah di tangannya. Tontonan beralih ke ustad yang merukyah orang dengam doa dan spontan partisipan menjadi sembuh. Program yang masih pro dan kontra di kalangan ummat. Termasuk aku secara pribadi.
Subuh perlahan berlalu, hari semakin menanjak menuju pagi. Matahari perlahan menampakkan diri di ufuk timur, memberi harapan baru kepada setiap insan di bumi.
***
"Naura cepaaatttt dong naaak. Ibu mau beli belut dulu di Pasar Pagi sebelum pulang ke Mentok." Ibu meneriakiku yang sedang memakai masker.
__ADS_1
"Iya iya iya ibu...." Aku dengan cekatan mengenakan kaus kaki, memakai sendal jepit dan menuju ibu yang sudah siap di atas motorku. Tak butuh lama, sekitar 3 menit kecepatan 40 km/jam, melintasi jalan tikus kami sudah sampai. Karena lokasi rumahku memang berada di belakang pasar pagi.
Sudah lebih satu jam aku mengikuti saja ibu berbelanja. Di tanganku sudah banyak sekali kantong-kantong tentengan. Awalnya ibu hanya mau beli belut saja karena tidak ada jualannya di Mentok, tetapi akhirnya semua diborong, mulai dari ikan teri nasi, nila, gabus, lele, tuna dan juga tenggiri.
"Lha kata ibu hanya mau beli ikan belut doank...?" Aku heran melihat ibu yang sudah duduk pula dekat tukang jualan jengkol.
"Mumpung ke Pangkalpinang lho Naura, enak belanja di sini murah-murah. Di sini jengkol 30 ribu sekilo, lha di Mentok 40 ribu lho nak. Ibu untung 10 ribu hehe..." Ibu terkekeh bahagia. Aku hanya tersenyum, rupanya jiwa seorang wanita itu sepertinya memang ditakdirkan untuk senang berbelanja. Ibu asyik memilih jengkolnya, yang ada berlubang sedikit saja, langsung dia singkirkan dari hadapannya. Ada yang kempes agak layu dia kasih ke tukang jual.
"Ini layu dibuang saja kenapa sih bang." begitu katanya. Tukang jengkol hanya mengangguk-angguk tersenyum. Sementara aku? Jari-jariku mulai memucat bahkan membiru gara-gara menenteng kantong-kantong belanjaan ibu. Seandainya saja ibu bilang tadi mau belanja banyak, aku pasti akan membawa keranjang belanja. Selesai membeli jengkol ibu menelusuri barisan jualan di emperan kaki lima.
"Tuh unji unji unji berapa harganya unji, minta 3 biji saja...." Ibu menunjuk-nunjuk ke atas lapak pedagang seorang nenek tua yang terbuat dari karung bekas.
"Apa bu?" Penjualnya malah bingung.
"Ini nek...," Ibu menyentuh sayuran merah pengasam masakan. Namun sayang nenek tua malah tidak melihatnya karena tiba-tiba saja ada LSM membagi-bagikan masker kain gratis
"Mana? Apa? Ibunya mau beli apa?" Neneknya kembali fokus ke ibu.
"Itu tuh bunga unji...." Ibu memegang unji yang ditujuknya tadi.
"Owh ini ya bu?" Neneknya terkekeh sambil ikut memegang dagangannya yang dimaksud ibu.
"Iya nek itula, tuh namanya unji di kampungku." Ibu malah menjelaskan.
"Memang ibu dari kampung mana?" Nenek meladeni.
"Bengkulu nek, saya aslinya Bengkulu kerja di Bangka dapat laki orang Bangka. Kami di Bengkulu menyebut sayur ini namanya unji." Ibuku merasa perlu menjelaskan semuanya. Senyumku semakin mengembang melihat tingkahnya.
"Owh..., kecombrang bu ini namanya di sini." Nenek tua itu menimbang 3 biji kecombrang. Memasukkannya ke kantong dan memberikan kepada ibu.
"Berapa nek?" Ibu membuka dompet sambil bertanya.
"12 ribu buk." Jawabnya pelan.
"Terima kasih bu semoga umur panjang, murah dan lancar rejekinya, sehat selalu anak gadis cantiknya. Aamiin." Nenek berterima kasih dan menatapku. Aku hanya mengangguk tanpa senyum. Karena akan mubazir juga senyumku karena sedang memakai masker.
"Ayo bu sudah bu, sudah berat nih." Aku memperlihatkan belanjaan ke ibu. Namun ibu malah mengedipkan mata ke arahku.
"Naura kalau capek, duduk tunggu saja ibu di sini. Ibu mau beli asam jawa sama terasi yang enak di sana." Ibu menunjuk ke arah dalam pasar sambil mulai berjalan menjauhiku.
"Cepetan ya bu, Naura ada janji nemenin Direktur menerima bantuan APD dari PT. Timah." Aku sedikit meneriaki ibu sehingga beberapa orang pedagang di dekatku spontan menatapku dengan wajah kebingungan.
"Oke oke oke oke..., tunggu ya...." Ibu melambaikan tangan ke arahku. Aku hanya mengangguk tipis. Dan dari kejauhan aku masih sempat melihat ibu menunduk dan membeli aneka sayuran lagi. Aku kembali menggeleng-gelengkan kepalaku. Sementara menunggu ibu, aku meletakkan belanjaan ibu ke cantelan motor lalu kembali lagi ke tempat dimana ibu meninggalkanku tadi.
"Hey Nora!" Tiba-tiba saja aku mendengar suara tante Sofie yang sudah berada di dekatku. Kulihat si Irwan bersamanya, tersenyum ke arahku.
"Hai tante, borong ya tante....?" Aku berbasa basi melihat tentengan kantong-kantong di tangannya Irwan.
"Iya sekalianlah belanja buat stok seminggu. Soalnya tante pagi-pagi sudah harus masak buat si Irwan dan papanya sebelum berangkat ke kantor."
"Owh begitu ya tante." Aku menjawab. Irwan diam saja. Dia hanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik tukang jualan pisau dapur serba guna.
"Eh ngomong-ngomong Laura di sini ngapain? Kalo belanja tapi kok tidak ada belanjaannya." Tante Sofie sibuk memeriksa belakang tempatku duduk. Semen pinggiran pedagang kaki lima. Tidak ada sekantong pun belanjaan.
"Sudah Naura taro di motor tante...." Aku menjawab.
"Lho kok pakai motor? Kemana itu mobil 'Alpat'nya? Sudah dijual ya? Kenapa? Apa dokter juga kena imbas karena korona?" Tante Sofie bertanya panjang lebar.
"Nggak tante, kan rumah Naura dekat." Aku tersenyum menjawab. Sementara Irwan masih diam saja. Hanya sesekali dia tersenyum kepadaku. Mungkin merasa malu sendiri memperdayaku agar bisa main ke rumah orang tuanya.
"Memangnya dimana rumahmu Lora?" Tante Sofie meletakkan belanjaannya di sampingku. Dia ikut duduk di dekatku.
"Naura bu, Naura. Namanya dokter Naura." Irwan menjawab ibunya.
"Iya begitulah maksud ibu. Naura." Tante Sofie menjawab.
__ADS_1
"Tuh rumahku di belakang sana tante, tapi mutarnya lewat jalan tembus ke Lapangan Merdeka. Jadi nggak mesti lewat lampu merah." Aku mencoba menjelaskan. Namun tiba-tiba saja aku melihat wajah tante Sofie berubah. Matanya melihat ke kanan dengan nanar. Aku pun menoleh dan mendapati ibuku sudah ada di sana.
"Lho jauh benar si kutil kucing belanja di sini. Apa nggak ada yang murah jualan di Mentok? Apa sudah nggak punya duit? Makanya..., sudah tahu anak banyak, masih saja belagu mau ngangkat-ngangkat anak, huh seandainya saja...." Tante Sofie mencibir ke arah ibu.
"Apaan lho sapi budeg? Lu yang belagu datang jauh-jauh sok-sok nangis kehilangan anak...," Ibuku menjawab jutek. Tidak tampak lagi mereka ini keluarga bermartabat. Tidak tampak lagi kalau ibuku adalah seorang kepala OPD di pemkab. Bangka Barat. Emosi merek meradang. Membuat akal sehat mereka tak lagi bekerja sempurna.
"Hey kur*p! Aku bukannya pura-pura kehilangan anak, memang waktu itu aku kehilangan bayiku berumur 3 hari. Lu tu ya...." Tante Sofie berkacak pinggang bicara lantang. Beberapa orang sudah hadir mengerumuni kami.
"Sudahlah bu. Ayo ayo kita pulang." Irwan menarik lengan ibunya. Namun tante Sofie masih ngotot bertahan.
"Lha tapi kan sudah tes DNA, itu bukan anakmu. Dan karena bayinya di rumahku, maka aparat dan lainnya mengizinkan kami mengasuhnya." Ibu semakin mendekat. Dia meletakkan belanjaannya yang kembali banyak. Aku dan beberapa orang yang berada di sana kebingungan. Masalah apa yang mereka bahas. Hanya saja, sepintas aku bisa merasakan bahwa yang sedang mereka bicarakan adalah aku.
"Dasar Muna muna muna, harusnya kau lebih berperasaan, aku yang baru kehilangan bayiku, harusnya kau berikan gadis kecil itu kepadaku...." Tante Sofie masih marah-marah. Tangannya menunjuk-nunjuk wajah ibuku yang hanya diam.
"Dasar sinting, sudah tahu bukan anaknya, masih ngotot mau diambil, dasar lo....!"
"Lu tu yang gila, coba dulu kasihkan ke saya bayi itu. Sekarang mana? Hah? Mana bayinya? Jadi apa dia sama lu? Paling juga jadi gembel." Tante Sofie kembali ngomel-ngomel. Beberapa tukang parkir bahkan sudah berdatangan meleraikan. Aku yang terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba hanya bisa termangu. Beberapa orang sudah menenangkan ibu dan tante Sofie.
"Awas ya hantu..., kalau bukan aku ada undangan penting jam 9 nanti, sudah kuhajar kau." Tante Sofie kembali meradang. Lalu masih dengan nafas ngos-ngosan dia berpamitan denganku. Irwan, walaupun dia seorang polisi hanya mampu diam. Mungkin saja dia sudah tahu sifat ibunya. Aku lantas berpikir, jangan-jangan emosi ibunya yang labil benar-benar terjadi. Kasihan sekali Irwan dan ayahnya.
"Nora, lain kali kita sambung lagi ya obrolannya. Maaf tiba-tiba saja ada orang gila datang...." Tante Sofie meninggalkanku dan kerumunan. Matanya tajam menatap mata ibu yang hanya mengelus dada beristighfar.
"Ibu ada apa sih sama tante Sofie kok sepertinya kalian benar-benar saling membenci?" Aku bertanya sambil memapah ibu. Barang-barang belanjaannya pun sudah kuambil tadi. Kupinta kunci motor, kami menuju parkir di pinggir jalan, lalu aku menyusun barang, menghidupkan kontak motor dan membonceng ibu pulang.
"Maafkan ibu Naura, ibu khilaf tadi. Wanita itu dimanapun dan kapanpun selalu mencari keributan kalau bertemu ibu. Terkadang ibu malu sendiri dibuatnya." Ibu menjelaskan di perjalanan pulang.
"Memangnya apa masalahnya bu?" Aku pernasaran. Ibu menghela nafas panjang dan menghembuskannya.
"Seperti yang ibu bilang kepadamu, setelah sehari Naura masuk di dalam kehidupan kami, heboh beritanya di koran si Sofie itu kehilangan bayi perempuan pertamanya yang baru berumur 3 malam. Katanya ada yang menculik bayinya. Sedangkan di rumah kami juga heboh karena mendapatkan bayi. Maka dia langsung datang ke rumah bahkan sempat-sempatnya menuduh kami sengaja menculik anaknya karena tidak punya anak perempuan...."
"Apa tante Sofie orang Mentok juga?" Aku memotong pembicaraan ibu.
"Iya, dia asli dan lama di Mentok, sebelum pindah ke Pangkalpinang suaminya itu masih menjabat sebagai kasi di kantor pencatatan sipil. Karena alasan kasihan sama istrinya yang kehilangan anak pertamanya, sedangkan kami tidak memberikan bayinya waktu mereka ingin mengadopsimu, sepertinya suaminya sengaja mempersulit dokumen administrasi adopsi."
"Apa ada kemungkinan Naura anak mereka yang hilang bu?" Aku menghentikan laju motor dan membukakan pintu. Mbak Mairoh yang buru-buru ke arah pintu pagar langsung kukasih kode agar menjauh.
"Itulah sangka mereka. Kau anak mereka yang diculik."
"Terus?" Aku semakin penasaran.
"Mereka bahkan sudah 3 kali mengulang-ulang melakukan tes DNA. Dan hasilnya tetap bayi mungil itu bukan anak mereka." Ibu menjelaskan.
"Karena hasil lab mengatakan Naura bukan anak mereka, akupun sudah keberatan memberikan pengasuhanmu kepada mereka, maka sejak saat itu perangai si Sofie begitu buruk kepadaku." Ibu menambahkan.
"Ibu mengenal Tante Sofie dengan baik. Bagaimana bisa begitu?" Aku kembali bertanya.
"Dia teman SMA ibu dulu saat di Mentok." Ibu menjawab.
"Kasihan juga tante Sofie ya bu."
"Kasihan sih kasihan, tetapi harusnya dia bisa sadar dan sabar anaknya sudah tidak ketemu." Aku hanya mengangguk sambil membawa barang-barang belanjaan. Sementara ibu terus saja ngomel-ngomel sendiri.
"Hey..., kenapa ibumu sudah baca puisi pagi-pagi Naura?" Ayah bercanda melihat ibu yang kelihatan kesal sekali. Namun ibu langsung ke kamar mandi, dan berganti pakaian, begitupun aku.
"Tadi di pasar ketemu nenek lampir...." Ibu menjawab ketus.
"Naura, Naura..., ibumu kenapa?" Ayah perlahan-lahan bicara padaku.
"Tadi ketemu tante Sofie yah."
"Sofie mana?"
Sofie ibunya Irwan."
Owh pantas saja." Ayah berlalu menuju garasi, beliau membersihkan beberapa sampah kertas. Sementara aku merasa semakin kebingungan.
__ADS_1