Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 24 Protektif


__ADS_3

Esok harinya setelah kejadian pelemparan kaca mobilku bagian belakang, bang Zamy membawa mobilku ke bengkel dan aku ke rumah sakit menggunakan mobil dinas.


"Selalu waspada ya Bee...," Bang Zamy masih saja mengkhawatirkanku saat turun dari mobil ke klinik.


"Eh bang..., Naura sudah menemukan orang yang tepat untuk menemani Naura di rumah." Aku bicara karena baru ingat.


"Siapa?" Bang Zamy berbalik ke arahku.


"Mbak Nindya, Annisa dan tante Miranti. Bukankah sebaiknya kita membawa mereka ke tempat yang layak. Jangan dibiarkan hidup di tengah hutan tanpa sosialisasi." Aku bicara dari kursi kemudi. Kulihat bang Zamy sejenak berpikir lalu menjawab.


"Nanti saja kita bicarakan." Aku pun berlalu.


Dari klinik aku menuju rumah sakit umum, jadwalku kontrol pasien rawat inap mulai jam tujuh pagi. Tiba di rumah sakit aku absen sidik jari, bersiap sebentar dan ditemani 2 perawat mulai keliling kontrol pasien rawat inap. Tidak ada yang janggal, semua berjalan seperti biasa. Hanya aku melihat satu orang tua pasien yang mencurigakan dan terlihat gugup melihatku. Dia selalu menatapku namun ketika aku menatapnya dia langsung mengalihkan pandangan.


"Rani kapan rencana operasinya dok?" Laki-laki mencurigakan itu bertanya. Dia ayah Rani, salah satu pasienku sudah rawat inap 2 hari. Setelah melihat hasil CT scan Rani, dia harus melakukan tonsilektomi atau operasi amandel karena ada pembengkakan parah dan berulang.


"Menunggu konfirmasi dari dokter bedah dan hasil laboratorium yah pak." Aku tersenyum menjelaskan.


"Terima kasih dok." Dia berterima kasih sambil menarik jaket hitam yang dikenakan.


"Ngomong-ngomong kenapa wajah dan telapak tangan bapak luka-luka?" Aku tak bisa menahan penasaran.


"Ini dok, buru-buru mau ke sini semalam, motorku tergelincir." Dia menjelaskan. Aku hanya mengangguk.


"Mir, nanti bersihkan dan kasih obat buat bapaknya si Rani." Aku bicara ke perawat yang bersamaku.


"Siap bu dokter." Mirna menjawab.


"Tidak perlu dok, hanya luka gores saja." Bapaknya Rani mencoba menolak.


"Tidak apa-apa pak, agar tidak infeksi." Aku tersenyum dan berlalu.


Sekitar setengah jam berkeliling, aku kembali ke belakang meja para perawat. Menuliskan laporan beberapa tindakan kontrol. Dan baru saja aku hendak meninggalkan meja perawat setelah menandatangani berkas laporan, Mirna memanggilku.


"Dok! Apa ini catatan dokter?" Dia memberikan selembar kertas post it berwarna kuning, yang nampak beberapa bekas lipatan.


"Apa itu?" Aku menerimanya, lalu kubaca dengan teliti itu alamat rumahku di Jalan Baru. Namun aku tidak merasa menuliskannya.


"Dimana kau menemukan ini Mir?" Aku bertanya lagi.


"Di ruangan pasien Rani." Aku kembali ke ruangan Rani dirawat. Gadis kecil itu hanya kebingungan sendirian. Nenek yang menjaganya sedang mencuci kainnya di kamar mandi. Aku mencari ayahnya Rani. Namun sosok itu telah menghilang. Kucoba ke ruangan kontrol CCTV di lantai atas, kulihat dia mengarah masuk ke ruangan Direktur dengan terburu-buru. 2 menit kemudian dia keluar lagi masih dengan tergesa-gesa. Aku semakin curiga. Dia pasti mengetahui sesuatu yang terjadi di rumahku tadi malam. Bekas lukanya sangat janggal, tidak seperti bekas luka orang yang jatuh dari motor. Aku mencarinya ke dekat parkiran, namun terlambat, sebuah mobil Avanza hitam langsung memberikan tumpangan, mereka keluar dari rumah sakit. Aku sejenak mematung. Memikirkan langkah apa yang sebaiknya akan kulakukan. Akhirnya aku menuju ruangan Direktur rumah sakit, pak Ram, ayah kandungku.


"Assalamualaikum pak."


"Waalaikumsalam nak, duduklah." Ayah melepas kaca matanya. Dia tersenyum menatapku.


"Maaf pak...."


"Ini papamu Naura." Papa mengingatkanku agar tidak bicara formal saat hanya berdua.


"Iya pa, maaf lancang, tadi Naura melihat ada orang tua pasien keluar dari ruangan papa beberapa menit yang lalu."


"Orang tua pasien?" Siapa?" Papa nampak berpikir.


"Tadi barusan, ada seorang laki-laki tinggi, agak kurus berjaket hitam keluar dari ruangan ini." Aku bicara sambil sibuk mendeskripsikan dengan tanganku.


"Owh pak Anang. Iya dia dari sini." Papa menjawabku.


"Kenapa ya pa?" Aku bertanya lagi.


"Lho kok tumben kamu agak 'cerudik'?" Ayah bertanya kepadaku. (cerudik bahasa Bangka artinya kepo atau kurang lebih kepengen tahu urusan orang).


"Maaf pa, maksud Naura...."


"Dia hanya minta uang ke papa, katanya musim corona dia tidak punya penghasilan."


"Minta uang kenapa? Untuk apa?" Aku semakin penasaran.


"Ya untuk biaya hidup. Anaknya lagi dirawat kan? Pasien Naura kan? Dia semakin tidak bisa bekerja karena hal itu. Dia itu seorang duda dan tulang punggung keluarga Naura." Papa menjelaskan.


"Terus dia itu siapanya papa?"


"Heran deh kamu nak. Pindah saja ke rumah papa sana biar kenalan sama tukang kebun, pembantu rumah, sopir, satpamnya. Hehe...." Papa terkekeh.


"Serius pa, dia itu siapa?" Aku bertanya lagi.


"Untuk apa?" Papa malah penasaran dan balik bertanya.


"Ada perlu dan penting sekali." Aku menjawab.


"Sama satpam? Keperluan apa?" Papa mengerutkan kening.


"Owh dia satpam di rumah papa?"


"Iya pak Anang sudah puluhan tahun jadi satpam di rumah, dua tahun terakhir istrinya meninggal karena kanker usus. Dia menjaga di rumah hanya malam saja, siangnya dia ngojek online. Makanya kamu harus sering ke rumah. Atau pindah saja sekalian. Biar bisa bersama ayah dan ibu kandungmu." Ayah tersenyum menjelaskan.


"Owh...." Aku mengangguk-angguk paham.


"Eh ngomong-ngomong, katanya Naura mau menikah sama dokter Zamy ya? Belum ada ini proposal ke papa untuk menjadi wali." Ayah berdiri mendekatiku.


"Dokter Zamy sangat baik. Dia pasangan yang pas buatmu." Ayah duduk di ujung meja menatapku.


"Jadi papa setuju jika Naura menikah dengan bang Zamy?" Aku terbelalak bahagia.

__ADS_1


"Kalian sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidup sendiri." Papa memelukku.


"Terima kasih pa. Bagaimana dengan mama?" Aku mencoba mengorek informasi.


"Kalian baru bertemu, belum mengenal sifat asli masing-masing. Bagaimana pun pendapat mamamu, Naura hanya butuh wali seorang ayah kandung. Papa selalu siap. Jangan pedulikan hal lainnya."


"Bagaimana jika mama tidak setuju pa?"


"Pengalaman hidup sudah mengajarkan papa banyak hal. Maka yakinlah dengan orang yang sudah kenal lama dengan kita. Jangan seperti papa, meninggalkan Mira hanya demi mamamu. Baik dan santun saat berpacaran, namun setelah menikah, semua sifat aslinya keluar. Ah sudahlah..., ayah berjanji akan mendukung setiap keputusanmu." Papa menjanjikan. Ada ketukan di pintu. Dokter penyakit dalam, dokter Hendrik masuk dengan berkas di tangan.


"Saya izin pamit pak Ram dan dokter Hen." Aku mundur selangkah lalu berbalik menuju pintu, keluar.


"Jaga diri dan selalu waspada ya dok." Papa mengingatkanku. Aku meninggalkan ruangan pak Direktur menuju poli anak. Jam 9 pagi jadwalku di sana.


***


Aku menelpon bang Zamy dan menceritakan kecurigaanku yang berawal dari kenaehan melihat tatapan mata pak Anang kepadaku saat aku kunjungan kontrol ke pasien Rani, anaknya. Juga menceritakan apa yang disampaikan oleh papa.


"Iya tapi hati-hati kita belum punya bukti, jangan gegabah ya Bee dan tetap waspada." Bang Zamy mengingatkanku. Aku mengangguk yang pastinya tidak mampu dilihat bang Zamy melalui panggilan telepon.


"Abang kapan rencana mengunjungi mbak Nindya?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa? Naura mau ke sana ya? Habis Ashar abang sudah selesai di sini, tapi kan mau ke klinik. Bagaimana kalau malam?" Bang Zamy memberikan pilihan.


"Jangan malamlah bang, malam juga musim corona ini pasien begitu banyak, kan takut menuju rumah mbak Nindya di tengah hutan terlalu larut."


"Kan ada abang nanti yang nemenin. Abang malah sering ke sana malam-malam pakai motor."


"Nanti saja bang, nunggu jadwal kita tidak full." Aku menyerah sendiri. Padahal ingin sekali mengajak ketiganya tinggal di rumahku. Selain bisa menjadi teman, aku prihatin Nisa yang belum sekolah hingga usia segitu.


"Okelah kalau begitu...." Bang Zamy menjawab.


"Iya." Aku merespon singkat.


"Eh Bee...." Baru saja hendak mematikan telpon terdengar lagi suara bang Zamy.


"Apa bang?" Aku menjawab.


"Kenapa ya abang sudah sangat merindukanmu." Dia bicara lagi.


"Halaahhh...." Aku gemes mendengar hal berlebihan seperti itu.


"Beneran."


"Ah sudahlah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Tok tok tok" tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu. Petugas Dini masuk dengan berkas rekam medis pasien.


"Ini daftar pasiennya dok. Saya suruh tunggu lima pasien. Selebihnya saya suruh pulang dan nanti dihubungi bila hampir tiba giliran temu dokter. Perawat Dini menginformasikan.


"Iya terima kasih bu Dini. Kita mukai lima menit lagi ya...." Aku menjawab.


"Oke dokter." Perawat Dini keluar ruangan lagi. Aku membaca berkas rekam medis beberapa pasien. Setelah selesai aku memanggil Dini.


"Bu Dini ayo kita mulai dengan pasien pertama."


"Baik dokter." Perawat Dini memanggil pasien, aku telah siap dengan tugasku kembali.


***


Pukul 15.00 WIB aku selesai bertugas dan karena tidak ada hal yang lain lagi aku segera menuju parkiran untuk pulang. Sesampainya di sana aku melihat dokter Nina seperti sengaja menungguku. Dia bersandar di depan mobil dinasku.


"Hai Naura, bagaimana kabarmu?" Dia berdiri tersenyum kepadaku. Aku membalasnya.


"Alhamdulillah sehat Nin, bagaimana denganmu?" Aku mendekatinya.


"Kurang begitu baik. Ini waktu yang sangat berat bagiku." Dokter Nina menatapku.


"Lho kok bisa. Ayo mending kita ngobrol di kantin, aku yang traktir." Aku mengajaknya ke kantin. Dokter Nina langsung bergerak, berjalan mensejajariku. Kami turun tangga lagi ke kantin di sebelah parkiran, namun dibatasi tembok beton. Hanya ada pintu 50 senti penghubung dari belokan tangga menuju ke sana.


"Pesan apa dok?" Mbak Yem langsung mendekati kami yang duduk berhadapan di kursi paling pojok.


"Saya mie ayam bakso saja mbak, pakai ceker dua ya. Minumnya jeruk hangat jangan terlalu manis." Aku menjelaskan.


"Baik dok. Bu dokter Nina mau makan apa?" Mbak Yem mengarahkan pandangan ke arah dokter Nina.


"Samakan saja mbak." Dokter Nina menjawab. Mbak Yem mengangguk ramah dan pergi ke arah dapur kantin menyiapkan pesanan kami. Sementara kami mulai bertatapan satu sama lain.


"Kemarin aku menemui Zamy di rumahnya." Dokter Nina mulai bicara. Aku diam mendengarkan.


"Aku marah dan merindukan dia karena beberapa hari nomornya tidak aktif. Lalu dapat info katanya pulang dari Mentok hari itu. Aku menemuinya dan mencoba kembali mengajaknya menikah. Namun rupanya aku telah salah sangka selama ini. Kusangka Zamy mencintaiku dan menganggapku lebih dari sekedar sahabat." Air Mata dokter Nina perlahan menitik. Aku mendekatkan kotak tisu ke arahnya. Kubiarkan dia berbicara tanpa sedikitpun menyela. Aku diam mendengarkan.


"Aku malu setelahnya. Aku malu kepadamu Naura. Rupanya Zamy tidak menyukaiku lebih dari seorang teman. Dia perhatian selama ini karena terbiasa melayani curhatku sejak kuliah dulu. Dia tidak pernah menolak permohonanku karena sudah menganggapku seperti adiknya, sepertimu. Intinya, selama ini aku hanya cinta sendiri. Aku telah bertepuk sebelah tangan. Aku telah berharap terlalu banyak kepadanya walaupun sedari dulu aku sebenarnya juga menyadari kalau aku tidak pantas untuknya." Dokter Nina berhenti bicara, dia menarik nafas panjang sambil mengelap matanya dengan tisu. Mbak Yem datang dengan pesanan kami.


"Silahkan bu dokter cantik...." Mbak Yem meletakkan masing-masing pesanan di hadapan kami, lalu pergi.


"Ayo Nin kita makan dulu." Aku mengajak dokter Nina menikmati mie ayam bakso ceker. Nina menurut saja.


"Kalian kapan akan menikah?" Dokter Nina tiba-tiba bertanya sambil menikmati makanan kami. Aku menatapnya.


"Saya?" Aku balik bertanya sambil menghentikan makanku.

__ADS_1


"Iya. Naura dan Zamy kapan menikah?" Dokter Nina kembali bertanya.


"Belum pasti. Kami masih menunggu waktu yang pas di musim pandemi corona ini." Aku menjawab. Kulihat wajahnya datar saja mendengarkan jawabanku.


"Mumpung aku sudah menyerah untuk mendapatkan Zamy, segeralah menikah." Dokter Nina bicara perlahan setelah minum dua teguk air jeruk hangat. Dia tersenyum.


"Bagaimana denganmu?" Aku mencoba menyelidik. Kembali terngiang ucapan papa bahwa pak Anang adalah satpam malam di rumah mereka. Dan teror semalam serasa sangat aneh.


"Aku? hehe..." Dia tertawa kaku.


"Iya, bagaimana denganmu jika kami menikah." Aku kembali bertanya.


"Walaupun memang sulit, tetapi aku sudah muak berusaha merebut hati Zamy, namun selalu gagal karena hatinya telah bersamamu. Aku akan melupakan semuanya. Aku ikhlas jika dia bersamamu." Dokter Nina bicara sambil menyandar ke belakang kursi. Kembali kami bertatapan. Aku mencoba memastikan bahwa ucapannya bukan hanya di bibir.


"Apa kau yakin Nin?" Aku bertanya kepada dokter Nina lagi.


"Yah..., tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Hanya berdoa semoga Allah kirimkan seorang dokter baru yang tampan, mapan dan dermawan seperti di film-film Korea itu ke rumah sakit ini, atau minimal di rumah sakit yang ada di Pangkalpinang. Lalu dia naksir kepadaku, dan kami bersama menikmati hari tua yang bahagia selamanya." Dokter Nina tertawa renyah. Seperti bebannya berkurang dengan bicara terbuka kepadaku.


"Kau ikhlas melepas bang Zamy untukku?" Aku masih mencoba menelisik di balik omongannya.


"Ikhlas atau tidak, aku tidak punya hak memaksakan orang lain untuk mencintaiku." Dokter Nina menjawab. Aku tersenyum mengangguk.


"Nin?"


"Ya?"


"Sebagai orang-orang yang selalu bicara ilmiah. Apa kau percaya sihir?" Aku penasaran dan ingin melihat reaksinya. Dia santai dan menatapku.


"Aku sudah mendengarnya, dan aku sudah yakin kau akan menanyakannya. Semalam kau mendapat kiriman seperti benda untuk guna-guna kan?" Dokter Nina bicara agak sinis.


"Apa kau menuduhku?" Dia bertanya dengan senyum lucu.


"Aku punya alasan untuk mencurigaimu." Aku jujur mengatakannya. Dia tidak kaget mendengarnya, santai dan hanya bermain dengan ekspresi yang menganggap itu lucu.


"Aku tidak sebodoh itu. Tidak menyukaimu bagiku cukup dengan tidak lagi mengakrabimu, bukan malah membencimu. Kita orang-orang terpelajar, harus mampu membedakan salah dan benar dengan logika berpikir orang-orang terpelajar pula." Dokter Nina bijaksana menceramahiku yang hanya diam sambil sesekali meneguk jeruk hangat yang mulai dingin.


"Bagaimana perasaanmu setelah semalam menerima parcel tak diinginkan? Pasti menyeramkan. Yaaa..., hanya orang-orang dungu yang di zaman secanggih ini, masih percaya perdukunan." Dokter Nina tertawa.


"Aku pun berpikir begitu, kau tak mungkin melakukannya." Aku menjawab.


"Terima kasih Naura, masih percaya kepadaku. Dan terima kasih traktirannya. Ayo pergi jika sudah selesai." Dokter Nina melihat jam tangannya. Aku melambaikan tangan memanggil mbak Yem, membayarnya dan kami bersiap pergi.


"Kau ambil shift jaga ya Nin sekarang?" Aku bertanya sebelum masuk mobil.


"Iya sambil mengisi waktu, menghibur diri dicampakkan calon suamimu...." Dokter Nina menjawab tersenyum. Aku tersenyum lalu meninggalkan rumah sakit, pulang.


***


Sesampainya di rumah bang Zamy sudah bersama dua orang laki-laki. Mereka langsung berdiri melihat kedatanganku.


"Nah ini pak Nauranya. Naura kenalkan ini yang kekar seperti Ade Ray ini namanya Fredy, usinya masih 23 tahun, rumahnya di dekat sinilah. Dia selama ini satpam di Jaguar. Karena virus corona makanya dia dirumahkan, karena tak ada lagi aktivitas di sana. Dia mulai kerja di sini malam ini. Jaganya malam saja. Dia sabuk hitam lho Naura. Sabtu Minggu mengajar karate di lapangan Merdeka." Fredy mengangguk kepadaku yang membalasnya dengan senyuman.


"Dan ini pak Rohim, bapak selama ini jualan sayur di Pasar Pagi, tapi karena sepi terus beliau cari kerja, beliau tetangganya dokter Zein. Nah pak Rohim bantu bersih-bersih di taman, siang hari sambil jaga-jaga. Nanti bergantian sama Fredy yang jaga malam." Bang Zamy menjelaskan sambil bergantian menatapku, Fredi dan pak Rohim. Aku hanya mengangguk.


"Silahkan lanjutkan dengan bang Zamy ya pak Rohim dan Fredy. Saya mau masuk dulu." Aku berpamitan. Sementara mereka langsung melanjutkan obrolan. Saat mereka mengobrol aku sempat mendengar suara mobil kembali datang. Rupanya bang Zamy menambah memasang CCTV. Hatiku membatin kalau bang Zamy sedikit berlebihan. Kemudian ada lagi tukang empat orang datang membawa kawat berduri. Katanya mau masang kawat berduri di atas tembok pagar belakang tempat orang menyelinap. Juga mengecat ulang pos satpam di dalam pagar sebelah pintu teralis.


"Kalau sudah ada satpam, tidak usah pagar tinggi-tinggi dengan kawat berdurilah bang. Kesannya berlebihan." Aku membicarakannya dengan bang Zamy saat dia masuk mengambil beberapa keperluan.


"Apa salahnya berusaha...." Sederhana sekali jawabannya. Aku hanya diam menyaksikan kesibukannya mengurus rumah setelah kejadian malam kemarin.


"Tadi Naura ketemu Nina...," Ditengah kesibukannya bolak balik ke dalam dan ke luar rumah membeli keperluan yang dibutuhkan tukang, pak Rohim dan Fredy, aku sempatkan lagi berbicara.


"Mau ngapain lagi dia?" Bang Zamy berhenti sejenak. Dia membuka baju kaosnya yang sudah basah karena keringat, kemudian karena singlet juga sudah basah, dia membuka singlet itu lalu mengelapkan ke wajahnya.


"Ih dokter kok jorok...." Aku berdiri, lalu berjalan menuju kamar. Kubuka laci lemari, kuambilkan satu buah handuk putih halus yang biasa kugunakan mengeringkan rambut. Kulemparkan ke arahnya. Bang Zamy menangkap handuknya lalu mulai mengelapkan ke wajah dan sekujur badan.


"Tadi membahas apa ketemu Nina?" Bang Zamy duduk di sampingku. Bau keringat bercampur dedoran menyeruak. Aku menutup mulut dan hidungku dengan tisu.


"Halaahhh..., perasaan abang tidak bau ah." Dia malah mencium-cium badan bahkan ketiaknya sendiri. Aku mengalihkan pandanganku dari tubuhnya. Pikiranku 'sedikit nakal' sejak tahu kalau kami bukan saudara kandung dan telah jujur saling mencintai.


"Ya iyalah bau keringat sendiri, nah orang lain yang mencium baunya tersiksa...." Aku beralibi untuk memalingkan muka.


"Xixixixi...." Tiba-tiba yuk Mairoh cekikikan mendengarkan aku mengomel.


"Tidak bau kan yuk?" Bang Zamy meminta dukungan yuk Mairoh.


"Tidak pak dokter...." Yuk Mairoh menjawab sambil mengambil baju bang Zamy yang dibukanya tadi.


"Tidak dari jarak 100 meter." Aku menambahkan. Yuk Mairoh kembali tertawa dan kembali ke dalam membawa baju dan singlet berkeringat.


"Issshhh..., sudah mulai cerewet sekaliii..., bang Zamy berdiri, melemparkan handuk ke pangkuanku. Selangkah berjalan kemudian dia berhenti dan menoleh kepadaku.


"Nanti tidak boleh cerewet-cerewet ya...." Dia mengancamku.


"Nanti kapan?" Aku menjawabnya.


"Setelah ijab qabul!" Dia mencubit hidungku. Terasa agak lengket karena keringat. Aku spontan mengelapnya dengan handuk yang kupegang.


"Wuuuakkk...." Bau keringat seakan tertelan. Aku muntah kosong. Bang Zamy senyum-senyum meninggalkanku. Seseorang memanggil dari arah luar rumah.


"Pak Zamy! Dahan kedondong yang sudah keluar pagar dipangkas semua ya...?"


"Ya pak pangkas semua." Bang Zamy menyahut, kemudian dia menuju ke kamarnya dan tanpa singlet keluar lagi, lalu sambil berjalan, dia mengenakan kaos yang baru terbuka lipatannya, bau parfum menebar sesaat. Dia berganti baju dan kemudian keluar rumah lagi mengawasi orang-orang yang sedang bekerja. Aku ke kamar untuk sejenak istirahat sebelum pergi ke klinik Honey Bee. Mengabaikan melodi Chain Saw memotong dahan-dahan pohon. Kami lupa dengan kisah pertemuanku dan dokter Nina.

__ADS_1


__ADS_2