Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 55 Ke Rumah Papa


__ADS_3

----Bang Zamy dalam imajinasi Author. Senyum yang meluluhlantakkan hati para wanita--



Naura dalam imajinasi Author saat di rumah bersama Zamy. Dia di luar rumah mengenakan hijab



"Sayaaaanggg..., sudah siap belum?" Bang Zamy untuk ke sekian kalinya bertanya kepadaku. Dia mengajak silahturahim ke rumah papa. Dia sudah begitu merindukan Annisa.


"Iya tunggu yaanggg..., nggak sabaran sekali nih jadi suami." Aku berjalan sambil membawa kaus kaki yang belum sempat kupakai, juga sebuah tas kecil di tangan.


"MasyaAllah Bee..., dirimu semakin cantik saja sih sayang...." Bang Zamy menatapku terpanah. Aku hanya menjulurkan lidah mendengar pujiannya.


"Sudah cantik dari orok lho bang...." Aku bercanda. Bang Zamy tersenyum lebar.


Melihat tanganku masih memegang kaus kaki, dia lantas mengangkat pinggangku dan mendudukkan di kursi santai dekat pintu masuk dapur.


"Kenapa sih main gendong-gendong segala, tadi katanya buru-buru." Aku keheranan. Dia tak menjawab, malah menggigit lutut kiriku dengan gemas, nampak bekas gigitannya meninggalkan basah air ludah pada gamis merah hati yang kukenakan.


"Sini kaus kakinya." Dia mengambil kaus kaki di tanganku. Lalu sambil berdiri dengan lutut dia memasangkan kaus kaki untukku.


"Waaawww..., bulu di jempol kakimu ini dek, membuat pergolakan tiba-tiba saja." Dia mencium jempolku sesaat. Aku hanya tersenyum manja melihat tingkahnya, kuelus rambutnya yang wangi tersisir rapi.


"Terima kasih bang Zamy cintaku, sayangku, jantung hatiku...," Aku mencubit pipi bawahnya yang sedikit kasar bekas jambang yang selalu tercukur rapi. Bekas jambang tipis itu adalah pesonanya yang kesekian bagiku. Bagian pembangkit naluri di atas singgasana cinta kami. Ranjang pengantin.


"Cium sedikit dong...," Dia tertawa menampakkan giginya yang putih. Nampak sedikit lesung pipi kecil di pipi kanannya. Aku hanya menaikkan hidungku tanda menolak untuk menciumnya. Dia bangkit mencium keningku, lalu tangannya perlahan mengelus perutku yang belum nampak membuncit.


"Kalau maminya nggak mau, papi cium calon dedeknya saja aaah...," Bang Zamy berjongkok mencium perutku. Tangan kirinya memeluk erat pinggangku.


"Sehat-sehat ya calon baby papi...." Dia bicara pas di perutku. Aku kembali mengelus rambutnya. Bahagia sekali rasanya menikmati momen-momen yang spontan saja tercipta karena keusilannya. Momen yang menambah energi cinta dalam jiwa. Membangkitkan kesejukan hati untuk selalu bersama.


"Sudah yuk, katanya mau pergi ke rumah papa, terus sore mau ke reunian sekolah." Aku menarik ketiak bang Zamy, dia bangkit lagi dan mencium pipiku.


"Oke yuk. Eh nanti adek ikut kan ke acara reuninya abang? Nggak banyak kok yang hadir paling hanya belasan." Bang Zamy bertanya sambil memakai sepatunya.


"Malu ah...," Aku menjawab.


"Lho kok malu? Kenapa? Abang malah bangga lho membawamu." Bang Zamy menatapku heran.


"Nanti yang hadir semuanya cowok, kan nggak enak adek nimbrung-nimbrung begitu." Aku beralasan.


"Ada kok ceweknya yaaanggg.... Lagian kan ada abang. Abang tidak akan membiarkanmu diacuhkan dan merasa sendirian." Bang Zamy kembali menyahut lembut.


"Bener ya. Awas nanti sibuk sendiri sama teman-temannya, istri seperti kambing congek." Aku bicara mengancam sambil mengunci pintu rumah, karena yuk Mairoh masih libur kerjanya.


"Iya deh, janji pokoknya mah." Dia mengacungkan jari kelingking dengan gaya Nisa, lalu setelah berpamitan sama pak Rohim bang Zamy memegang tanganku menuju garasi samping. Dia membukakan pintu lagi untukku.


"Silahkan nyonya Zamy...." Dia membenarkan ujung gamis bawahku yang terlalu dekat dengan pintu mobil bagian bawah.


"Terima kasih Hritik Roshanku...," Aku kembali mengacak-acak rambut bagian belakangnya. Dia hanya mengolokku dengan menaikkan hidungnya yang mancung.


"Huuu..., jauh gantengan abang dari Hritik Roshan." Dia selalu protes jika aku memanggilnya seperti nama pemain film Ramboo itu. Aku ikut memanggilnya Hritik Roshan karena kata Maya waktu SMA, bang Zamy kalo sepintas mirip sama aktor dari India itu, waktu itu aku malah tidak tahu siapa Hritik Roshan.

__ADS_1


Bang Zamy sejenak memanaskan mesin, lalu kami pergi ke daerah Gedung Nasional, bertamu ke rumah baru papa di dekat rukonya berada.


*****


Sekitar sepuluh menit kemudian kami sampai di rumah papa. Mobil diparkir di pinggir jalan persis di depan rumah papa. Namun baru saja kami akan turun, nampak keluar dari rumah papa, pak Wahyu dan tante Sofie dengan pakaian muslimnya. Mereka tidak nampak begitu akrab dengan papa.


Kami tidak langsung turun, hanya berdiam diri di mobil dan menyaksikan mereka naik mobil sedan Grand Livina plat merah terparkir di depan mobil kami. Tante Sofie sempat mengedarkan pandang ke sekeliling. Entah apa yang dibicarakannya sama pak Wahyu. Setelah mereka pergi, kami bersalam. Annisa langsung keluar dan menghambur ke pelukan bang Zamy. Seperti anak dan ayah yang lama terpisahkan, Nisa memeluk leher bang Zamy dengan riang di dalam gendongan.


"Om tau nggak om, Nisa tu kangeeeennn banget sama om Zamy." Nisa bicara manja kepada bang Zamy. Aku diacuhkannya sesaat.


"Sama tante Naura, apa Nisa nggak kangen?" Bang Zamy menoleh ke arahku setelah sebelumnya mereka berdua beradu kening. Nisa menoleh sejenak, kemudian dia berbisik ke telinga bang Zamy.


"Hah? Masa? Kok bisa kangen sih..., tapi hanya sedikiiiit. Hahahahaaa..., yaaang, Nisa kangen lho katanya, tapi hanya sedikit. Kasian deh...." Bang Zamy menggodaku. Aku berpura-pura merajuk melihat ke Nisa.


"Biarin dia nggak kangen sama tante. Tante nggak mau bawa lagi ke TransStudio." Aku menjalin kedua lengan di dada, kepalaku melengos setelah sesaat menatap Annisa. Melihat gelagatku, seketika Nisa turun dari gendongan bang Zamy.


"Om om om, hemzzz..., setelah Nisa pikir-pikir, Nisa sepertinya lebih kangen kepada tante dokter deh." Dia berlari ke pangkuanku, menghadap ke arah bang Zamy, Nisa berdiri di sela-sela kedua pahaku, aku mencium ramburnya yanh menyentuh wajahku. Papa, tante Mira yang sudah bisa tertatih berjalan dengan tongkat tertawa bahagia melihat tingkah Nisa. Tak lama kemudian mbak Nindy yang habis bersalam dengan kami langsung pergi menuju ke dapur tadi berteriak halus ke Annisa.


"Niiisss..., ajak tante sama om makan dulu."


"Nggak usahlah mbak. Kami baru saja makan di rumah." Bang Zamy menjawab langsung. Aku menggamitnya tidak setuju.


"Menu apa mbak?" Aku bertanya sambil berjakan masuk ke dapurnya yang tidak begitu luas. Mbak Nindy membuka tudung sajinya.


"Ini menu hari raya, rendang daging sapi sama soto kakinya masih ada dan sudah dipanaskan. Tapi mbak tadi menumis sayur kesukaanmu lho begitu tahu kalian mau ke sini." Mbak Nindy menunjuk sebuah mangkok berisi tumis genjer ikan teri dengan irisan bawang putih, tomat kancing dan cabe rawit. Seketika air ludahku naik ke pipi. Perutku seakan sudah lama tidak diisi, mendadak keroncongan. Kusendok nasi yang banyak beserta sayur genjernya. Hanya itu saja, tanpa daging dan lauk lainnya. Aku mulai makan dengan lahap sekali. Sesaat saja piringku telah kosong, tapi masih ada rasa ingin makan, seketika aku berdiri ingin menambah nasinya.


"Hemzzz, yaaanggg nanti kita mau ke Istana Laut lho. Sisakan ruang buat udang super A saos tiram, capcay kangkung, Kakap merah bakar dan lempah kuning ikan seminyak sama apa tuh..., eeemmm.... cumi goreng krispiii...." Bang Zamy yang dari tadi sudah lama diam-diam berdiri di pintu memperhatikanku, bicara mengagetkan. Aku seketika pura-pura menatapnya gusar.


"Ooommm..., om Zamy kemana kek?" Terdengar suara Nisa dari ruang tamu.


"Di dalam, biarlah jangan ganggu mungkin omnya sedang makan." terdengar jawaban dari tante Mira.


"Sa Nisaaa..., siniii..., om di dapur lagi lihat ada orang yang sedang makan seperti sepuluh hari tidak bertemu nasi." Bang Zamy menjawab pula dari dapur. Nisa berlari menuju ke dapur.


"Sudah sudah sudah Nisa main di luar saja dulu. Jangan ganggu tante lagi makan...." Mbak Nindya mengusir Nisa dengan jarinya.


"Om terima kasih, ini kembaliannya." Nisa meletakkan uang sekitar delapan puluh ribuan lebih ke atas meja. Di tangannya sudah sedikit meleleh es krim kesukaannya. Nisa berlari keluar sambil menjilat es krimnya.


"Eh mau kemana? Sini saja kita lihat tante makan. Tuh liat tuh, masyaAllah..., sedapnyeee...." Bang Zamy menirukan gaya Ipin Upin. Aku seolah tak mendengar celotehannya. Menganggap tak ada pula dia menatapku, asyik tanpa mempedulikan godaannya.


"Om, kenapa tantenya sudah sepuluh hari tidak makan nasi?" Nisa berjalan mendekati bang Zamy, kemudian duduk di pangkuannya. Aku menahan senyum.


"Om tidak tau kenapa. Tanya saja sama yang kelaperan tuh." Bang Zamy menunjuk ke arahku.


"Tante kenapa kelaperan?" Dengan lugunya keponakan cantikku bertanya.


"Om tidak kasih duit sama tante." Aku menjawab bercanda.


"Owh, ini banyak duit tante...." Nisa memberikan uang kembalian belanja es krimnya tadi kepadaku. Aku tersenyum, berdiri membawa piring ke wastafel dapurnya mbak Nindya. Kemudian mencuci tanganku, mengambil tisu dan mengelap mulut.


"Huh! Uang segitu mana cukuuuppp..., tante makannya banyak sekarang." Bang Zamy menjawab. Nisa menanggapi dengan serius, lantas segera pergi ke kamar dan membawa amplop coklat yang tebal.


"Kalau ini cukup tidak tante? Ini banyak uangnya." Dia menyerahkan amplop itu kepadaku yang seketika kaget berpandangan ke bang Zamy. Mbak Nindya yang sedang mencuci piring menoleh dan seketika mendekati Nisa.

__ADS_1


"Ya Allah Nisaaa..., kenapa kau ambil pemberiannya? Tadi kan sudah ibu tolak berkali-kali. Kembalikan saja. Kapan sih dia memberikannya kepadamu?" Mbak Nindya nampak kaget. Matanya melihat ke arah pintu luar.


"Ma, papa, siapa yang menerima pemberian uang dari bik Sofie?" Mbak Nindya bertanya kepada papa dan tante Mira. Mukanya nampak kurang suka.


"Tidak ada. Kan sudah kamu tolak dan kembalikan tadi sama dia." Papa menjawab.


"Tapi ini ada di Nisa." Mbak Nindya memperlihatkan amplop yang sudah kuberikan tadi.


"Allahuakbar Nisaaa..., kapan kamu menerima uangnya sih nak?" Tante Mira juga nampak todak suka. Nisa memegang kaki bang Zamy, dia nampak kebingungan.


"Itu tadi dikasih, katanya simpan buat beli es krim." Nisa menjawab terpatah-patah. Aku dan bang Zamy hanya diam. Mata kami berpandangan tak mengerti.


"Maaf mbak. Memangnya uang itu dari siapa?" Lama terdiam akhirnya aku bertanya juga. Mbak Nindy mendekatiku dan bang Zamy. Kami duduk di sofa sederhana yang ada di ruang keluarga mereka.


"Anu dik, tadi barusan sebelum kalian datang. Bibi sama paman datang ke sini."


"Bibi sama paman?"


"Iya bibi sama pamannya si Rio mantan suaminya mbak datang. Katanya tolong kalau ada panggilan atau orang membawa ke pengadilan jangan mau. Takutnya nanti malah pengadilan memutuskan si Nisa diambil oleh Rio. Nah kalau tidak hadir Nisa tetap sama mbak. Pokoknya katanya jangan mau bersaksi apapun nanti."


"Panggilan untuk apa?" Bang Zamy bingung.


"Katanya misalnya ada. Makanya tadi papa kejar itu untuk kasus apa? Mereka tidak menjawab jelas, hanya bilang misalnya ada. Papa tidak maulah. Mereka pikir kita ini bodoh." Papa menjawab. Aku dan bang Zamy berpandangan lagi.


"Owhoo..., Hemzzz..., bagaimana ya pa menjelaskannya. Ini ceritanya rumit dan panjang." Bang Zamy bicara setelah mengenangkan sesuatu.


"Apa nak? Ceritakanlah." Tante Mira antusias mendengarkan.


"Begini yang sebenarnya telah terjadi pa, mbak Nindy dan tante Mira ya, di KTP nama laki-laki yang menikahi mbak Nindya adalah Rio Rahardi, padahal itu KTP disabotase oleh pak Wahyu. Orang asli bernama Rio Rahardi itu anak kandungnya wanita yang pura-pura menjadi mertuanya mbak Nindy, si Rio ini ada di Riau dan tidak tahu apa-apa. Mereka diupah oleh pak Wahyu dan bu Sofie karena yang berbuat jahat kepada mbak Nindya dulu itu adalah seorang oknum polisi bejad nama aslinya Irwan. Dialah dalang penculikan Naura yang salah sasaran dan sekarang masih menunggu keputusan pengadilan. Tetapi karena mbak Nindy waktu itu habis pingsan dan ketakutan, dia tidak melihat Irwan mantan suaminya ada di sana. Dialah dalang yang sebenarnya." Bang Zamy berhenti sejenak. Mbak Nindya hampir tidak bernafas selama mendengarkan penjelasan bang Zamy. Otaknya mengimbangi penjelasan cepat bang Zamy. Hatinya mengikuti mengeja kata per kata hingga kalimat per kalimat.


"Owh, jadi nama ayahnya Nisa itu yang benar Irwan, tetapi dia pakai KTP atas nama Rio Rahardi?" Mbak Nindya membelalakkan matanya bertanya. Rautnya masih menyisakan kebingungan.


"Iya mbak." Aku yang menjawab.


"Papa akan melaporkan hal itu ke polisi, atas tuduhan penipuan dan pemalsuan dokumen." Papa bereaksi. Walaupun suaranya santai namun nafas di dadanya sedikit tersengal.


"Jadi bibi Sofie itu adalah mertuaku yang sebenarnya?" Mbak Nindya masih terbengong-bengong. Aku dan bang Zamy hanya menganggukkan kepala.


"Bayu itu bisa kena jerat juga sebenarnya, menurut Mira, Bayulah yang telah membuang Naura yang ditukar dulu."


"Wahyu pa." Aku nyeletuk.


"Iya, Wahyu tapi dia juga lebih sering dipanggil Bayu. Waktu remaja dia itu dipanggil Bayu sampai sekarang masih banyak yang memanggilnya seperti itu.


"Owh." Aku mengangguk.


"Apa kita akan laporkan juga sebelum berlangsung persidangan kasus penculikan dan ancaman pembunuhan?" Tante Mira meminta pendapat.


"Nanti papa akan pikirkan lagi." Papa menjawab, sementara mbak Nindya masih terbengong saja. Dia nampak kesal sekali setelah mengetahui faktanya.


"Dasar manusia ibl!s itu, otaknya penuh tipu daya...." Mbak Nindya merutuk lirih. Aku dan bang Zamy terdiam, berpandangan dan mencerna suasana.


*****

__ADS_1


__ADS_2