
Dua buah mobil polisi sudah memasuki area kebun karet. Seperti penjelasanku sebelumnya kepada bang Zamy, mereka langsung menuju pondok papan yang reot. Begitu mendengar suara mobil polisi, Irwan yang menahan sakitnya mencoba bersembunyi. Dia menggeser perlahan sambil duduk menuju rimbunnya pohon pisang.
"Percuma Wan, niatmu menyakitiku sudah terlalu jauh." Aku mengingatkan Irwan yang mencoba kabur dengan tertatih. Hanya tiga langkah dia kuat berlari, kemudian dia menyerah, terduduk lemas di atas dedauan mati. Mobil polisi sampai, diikuti mobil bang Zamy. Kulihat ayah dan ibu menyusul bang Zamy yang setengah berlari menujuku.
"Naura? Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi dek?" Bang Zamy memelukku erat sekali dari belakang.
"Tolong bawakan air di mobil bang, mbak Nindya belum siuman juga. Entah obat apa yang mereka paksa masukkan." Aku meminta bang Zamy mengambil air mineral yang selalu sedia di dalam mobilnya. Tak sampai satu menit dia kembali dengan dua botol air mineral di tangan.
"Tolong langsung abang percikkan ke wajah mbak Nindy." Aku meminta lagi. Bang Zamy membuka tutup botol dan mengikuti saranku. Dia memercikkan air mineral ke wajah mbak Nindya. Tak lama berselang, mbak Nindy pun bangun. Dia kebingungan.
"Mbak Nindy tidak perlu khawatir. Kita sudah aman sekarang." Aku berbicara kepada mbak Nindya.
"Dimana mereka?" Mbak Nindya seperti masih mengigau menanyakan sosok penculiknya.
"Itu, mereka akan berhadapan dengan hukum." Aku menunjuk ke arah pak Anang dan temannya yang sudah diborgol polisi.
"Pak tolong jangan bawa saya ke kantor polisi pak. Kasihan anak saya sedang sakit pak, tolong pak...." Pak Anang menangis meminta pak polisi agar tidak memborgolnya. Tak lama kemudian mobil papa datang. Turun dari dalamnya papa, mama dan dokter Nina dengan pakaian yang sangat mewah. Mereka berjalan cepat menuju ke arahku.
"Kenapa Naura? Ada apa nak?" Papa mengkhawatirkanku. Lalu ayah dan ibu segera menceritakan kejadiannya kepada papa seperti yang tadi kuceritakan kepada mereka sebelumnya. Papa lantas mendekati pak Anang yang masih merengek menangis.
"Pak, maafkan saya pak. Maafkan saya. Saya benar-benar khilaf!" Pak Anang berlutut di hadapan papa yang gemerutuk giginya menahan emosi.
"Plak!" Satu tamparan mendarat di wajah pak Anang.
"Menyesal aku mempekerjakan dan mempercayaimu selama ini. Kau bahkan menyakiti dua orang putri kandungku sekaligus."
"Plak!" Satu tamparan lagi papa hadiahkan kepada pak Anang. Pipinya memerah. Bibirnya mengeluarkan darah. Aku menarik lengan papa menjauhi pak Anang. Emosi papa meluap-luap dibuatnya.
"Kau kacaukan semuanya Anang. Apa salahku? Mengapa kau lakukan semua ini kepada anak-anakku?" Ayah marah bahkan dengan menitikkan air mata. Wajah putihnya menjadi merah padam. Pak Anang bangkit kembali mendekati papa.
"Pak, tolong bantu bebaskan aku kali ini saja. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Aku terpaksa pak. Aku sedang membutuhkan uang untuk operasi Rani...." Pak Anang menangis seperti anak kecil. Papa mengabaikannya.
"Pak polisi. Bawa saja dia." Papa mendorong pak Anang yang masih mencoba mendapatkan maaf dari papa. Papa lantas berjalan dan duduk memeluk mbak Nindya.
"Maafkan papa nak. Entah derita apa lagi yang kau alami karenaku. Kau selalu menjadi korban." Papa memeluk mbak Nindya yang masih pucat pasi.
"Kau tidak apa-apa Naura? Kau hebat sekali nak. Bagaimana kau bisa bertahan dan melumpuhkan ketiga laki-laki ******** ini?" Papa menatapku dari tempatnya memeluk mbak Nindya. Ibu memelukku dengan erat sekali. Bang Zamy dan ayah berjalan mendekat ke arah Irwan yang masih sembunyi di belakang lebatnya rumpun pisang.
"Halo Irwan..., lama kita tidak berjumpa...." Bang Zamy menarik Irwan ke dekat pondok tempat kami duduk. Tiga orang polisi saling berpandangan ketika melihat Irwan.
"Pak Irwan? Kenapa disini? Bagaimana mungkin?" AKBP Herman keheranan melihat Irwan yang terduduk lemas dengan dua luka.
"Katanya kau cuti buat liburan kenapa bisa begini? Inilah yang seringkali membuat institusi kita menjadi buruk dalam pandangan masyarakat. Oknum sepertimulah yang harus dilenyapkan agar tidak mengotori lembaga kepolisian!"
"Plak! Plak! Plak!" Tiga tamparan sambil duduk diberikan pak Herman kepada Irwan.
"Bawa dia ke kantor polisi. Borgol!" Pak Erman memerintahkan bawahannya yang langsung memborgol tangan Irwan.
"Tunggu pak. Handphonenya Irwan ada padaku. Mohon beri waktu kepadaku untuk memindahkan data-data penting." Aku memperlihatkan hp Irwan kepada pak Erman yang langsung mengangguk.
"Siap bu. Kami beri waktu lima menit, ibu kemudian ikut ke kantor untuk membuat laporan." Pak Erman mengingatkanku. Aku hanya mengangguk. Lantas kubuka beberapa pesan whatapp yang berhubungan denganku. Kujadikan foto tangkap layar dan mengirimkannya ke hp bang Zamy. Bukti-bukti panggilan dan adanya foto-fotoku sedang berhenna di galerinya Irwan. Aku harus bersiap jika kemungkinan itu terjadi. Di Indonesia ini hukumnya sedikit membingungkan. Makanya aku tidak boleh kehilangan bukti. Keluarga Irwan orang terpandang. Maka segala kemungkinan esok hari bisa saja terjadi.
Selesai mengirimkan file-file foto, aku memberikan handphone Irwan ke pak polisi. Dan menghapus jejak obrolan dengan nomor bang Zamy. Sebelum digiring masuk ke mobil polisi, Irwan sempat membisikkan sesuatu di telinga dokter Nina. Aku tidak tahu apa. Namun kutangkap wajah dokter Nina seketika menjadi pias. Pak Anang dan temannya ikut digiring menuju mobil polisi.
"Bu, tolong aku bu, tolong bebaskan aku." Pak Anang memohon kepada mama. Namun mama hanya diam menahan amarah serta kebencian.
"Cepat bawa saja dia pergi pak." Mama bicara tegas kepada pak polisi.
"Bu Erlinda, tolong selamatkan saya kali ini. Aku tidak ingin dipenjara. Tolonglah bu...." Pak Anang masih memelas. Namun mama angkuh dibuatnya.
"Bu Erlindaaa..., kutunggu kau datang menyelamatkanku. Atau aku akan membeberkan semua rahasiamu." Pak Anang dengan meronta dikekang polisi dua orang meneriaki mama. Kami berpandangan satu sama lain mendengar kalimatnya yang terakhir.
"Hey Erlinda! Lunasi hutang janjimu. Katamu kau akan memberiku uang sepuluh juta atas jasa mengantar barang kiriman perdukunanmu ke rumah Naura! Tapi sampai sekarang kau hanya membayar lima juta. Lunasi Erlindaaa...." Pak Anang histeris sebelum polisi mengangkatnya masuk ke dalam mobil. Kami kaget dibuatnya. Terlebih aku dan papa.
__ADS_1
"Apa? Pak Anang bilang apa Linda? Bagaimana mungkin kau yang melakukan itu dulu hah? Kau ingin menyakiti putri kandungmu sendiri?" Papa dengan emosi bertanya kepada mama. Mama malah berkacak pinggang.
"Apaan sih pa? Orang seperti pak Anang dipercaya." Mama dengan santainya menjawab.
"Iya. Sekarang aku lebih percaya perkataan pak Anang daripada perkataanmu Linda." Papa kembali marah.
"Kenapa? Untuk apa kau lakukan itu semua? Apa yang engkau incar?" Papa masih emosi. Dipegangnya kepala mama dengan kuat. Mama malah menjadi semakin tidak karuan.
"Aku tidak melakukannya!" Mama malah membentak papa, dan melepaskan tangan papa dengan kasar.
"Pak Anang mengatakan sebuah kebenaran. Aku yakin itu. Apa maumu dengan mengirimkan guna-guna ke anak kandung sendiri hah?" Papa masih membentak mama yang semakin marah. Ayah datang menarik lengan papa.
"Duduklah pak Ram, hilangkan amarahmu sejenak. Mari kita jernihkan pikiran kita." Ayah bicara sambil sesekali menatapku. Papa menurut saja. Dia duduk di balok kayu yang akan dipukulkan pak Anang tadi ke kepalaku. Ibu mulai menggandengku dan mbak Nindya menuju mobil.
"Eh mbak Nindy, tadi kamu pingsan saat kutemui. Tetapi aku bisa menemukanmu karena melihat potongan pita souvenir di jalan. Bagaimana mungkin itu terjadi?" Aku penasaran. Mbak Nindya sejenak berhenti. Dia menatapku dan ibu bergantian.
"Tadi waktu diculik aku tidak pingsan Naura. Waktu itu aku ingin membuang bekas kelebihan pita souvenir yang dimainkan Nisa. Belum sempat membuangnya, mereka sudah menangkapku. Karena kuatnya genggaman tangan waktu meronta ingin melepaskan diri pita menjadi tidak terlepas di tanganku. Diperjalanan aku mencari cara untuk meloloskan diri, namun tidak bisa karena salah satunya terus memegangku dengan kuat. Akhirnya karena tidak mampu meloloskan diri sendiri, kucari ide yang lain, kuyakin pasti ada yang akan menemukanku. Aku berpura-pura berdahak lalu seolah akan membuangnya di dalam mobil. Melihat itu mereka membuka kaca sejenak. Nah kulemparkan pita saat itu. Dan karena aku terus berontak, mereka mengusapku dengan sapu tangan yang basah. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi." Mbak Nindya menceritakan kronologis penculikannya. Aku mendengarkan dengan seksama, begitu juga dengan ibu.
"Ma, Mbak Nindy silahkan duluan ke mobil. Aku perlu bicara sebentar dengan Irwan." Aku berpamitan menuju mobil polisi yang membawa Irwan dalam kondisi di borgol.
"Sudahlah Naura. Kita semua akan mengantarmu ke kantor polisi. Nanti juga di sana kamu bisa menemui Irwan." Ibu mengingatkanku. Aku menurut saja, mengurungkan niat menemui Irwan saat itu. Kami sampai dan bersandar ke badan mobil yang masih terkunci.
"Tunggu!" Ayah melambaikan tangan sambil berdiri membuka kunci mobil dari tempatnya. Pintu terbuka, kami masuk ke dalam mobil dan membiarkan pintunya tetap terbuka. Kami bertiga duduk di kursi tengah. Mobil yang kukemudikan sudah dibawa oleh salah satu polisi.
"Tidak pernah terbayangkan, baju pengantin dengan sewa lima puluh juta, akan dikenakan dalam keadaan seperti ini...." Ibu merengkuh kepalaku, menyandarkan ke bahunya. Sementara tangan kiriku, memegang tangan kanan mbak Nindya.
"Memangnya Irwan itu siapa bu?" Dengan polosnya mbak Nindya bertanya kepada ibu. Ibu menatapku sambil tangannya meraba tisu di dalam tas. 3 helai tisu dibasahinya dan ibu mengelap-ngelap wajahku yang kotor dan berkeringat.
"Dia temannya Naura, entah bagaimana hubungan sebenarnya hanya Naura dan Irwan yang tahu." Ibu memegang pundak kiriku. Sesekali dia memgang-megang riasan di kepala yang sudah miring dan acak-acakan.
"Kalian pacaran ya dek?" Mbak Nindya masih saja penasaran. Aku mengatur ulang posisi dudukku menjadi lebih tegak.
"Sebenarnya kami tidak ada hubungan apapun. Memang dia sepertinya suka dengan Naura, tetapi sifat dan sikapnya yang masih kekanak-kanakan, sedikitpun tidak menarik hati Naura." Aku menjelaskan dengan ibu dan mbak Nindy.
"Apa dia psikopat ya?" Ibu tiba-tiba saja bertanya lagi. Aku hanya tersenyum.
"Naura? Kau baik-baik saja?"
"Nindy? Kau tidak apa-apa?" Ayah bertanya setelah sesaat dia duduk di kursi kemudi. Ayah mengangkat bahu, dan bernafas yang panjang, lalu perlahan menghembuskannya.
"Agak kacau keluarga mama papamu Naura." Ayah menatapku sambil menenggak air mineral.
"Sepertinya iya ayah." Aku santai menjawab sambil melihat papa, mama dan dokter Nina berjalan menuju mobilnya yang diparkir di depan mobilku yang dikemudikan ayah. Bang Zamy sudah pergi duluan bersama polisi. Dia ingin memastikan kalau Irwan yang seorang oknum tidak mendapatkan perlakuan istimewah.
"Ayah tak habis pikir, mamamu mengirimkan paket guna-guna hanya karena dia ingin hubunganmu dengan Zamy segera berakhir. Dia berharap tidak menyakiti Nina yang sudah diasuhnya selama dua puluh delapan tahun." Ayah kembali bicara sambil menghidupkan mesin mobil.
"Dia bilang begitu yah?" Aku penasaran.
"Percaya tidak percaya dengan omongannya. Katanya jika Nina tidak menikah dengan Zamy, maka Naura juga tidak boleh."
"Kok begitu banget ya? Katanya anak orang nomor satu dulunya di Bangka Belitung. Seorang yang terpelajar. Tetapi pemikirannya sangat dangkal." Ibu menggerutu.
"Katanya Zamy sepertinya susah dibujuk. Dia pernah meminta Zamy mengusir bu Mira dan...," Ayah menatap ke arah mbak Nindya.
"Saya ya pak. Iya dia kan pernah datang-datang mengusir kami kan Naura." Mbak Nindya bicara sambil menatapku. Aku melihat mereka sudah mendekati mobil. Papa menemui ayah yang sudah membuka kaca pintu depan.
"Kemana ni pak Rey? Saya antar dulu setan betina ke rumah. Nanti aku menyusul ke kantor polisi." Papa bicara kepada ayah.
"Terserah pak Ram saja, atau percayakan saja kepada saya dan Zamy nanti di kantor polisi. Kurasa di sana tidak akan lama. Pak Ram tunggu saja di rumahnya Naura. Pernikahan harus tetap dilaksanakan. Bagaimanapun keadaannya. Aku sudah menelpon penghulu agar tetap menunggu di rumah." Ayah bicara menyarankan.
"Baiklah. Aku akan menunggu di rumah Naura saja. Naura...? Nindya? Kalian baik-baik saja nak? Ayah malu kepada kalian. Entah bagaimana lagi mendidik wanita itu, dia tak pernah berubah. Berbuat sesuai pemikirannya saja." Papa menatap kami bergantian.
"Iya pa, Naura tidak apa-apa." Aku menjawab. Mbak Nindya hanya mengangguk saja. Mama menatap tidak suka ke arah kami. Dia menghadap ke arah berlainan agar tidak bertatapan dengan kami. Kulihat dokter Nina berjalan ke arah kami. Dia mengetuk pintu sebelah kiri. Ayah menurunkan kacanya.
__ADS_1
"Naura? Apa kau terluka?" Dia memasukkan sedikit kepalanya melalui kaca mobil yang terbuka. Mbak Nindya memundurkan badannya agar dokter Nina leluasa.
"Alhamdulillah tidak Nin. Mau pulang bareng kami?" Aku menawarkan.
"Terima kasih tidak apa-apa. Aku akan menemani mama." Dokter Nina menoleh ke arah mama yang seperti patung menghadap ke arah berlawanan dengan kami. Sementara papa sudah masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya. Sedikitpun dia tidak menegur mama.
"Naura....!" Dokter Nina kembali memanggilku.
"Iya kenapa Nin?" Aku memegang tangan Nina yang seperti menahan beban berat.
"Maafkan aku Naura, mbak Nindy, ibu dan bapak. Tapi percayalah, demi Allah aku bahkan tidak pernah tahu kalau mamalah yang mengirimkan teluh dan guna-guna untuk memisahkan kalian. Aku sungguh malu Naura. Malu melihat perangai buruk mama. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikirannya." Dokter Nina menitikkan air mata.
"Sudahlah Nin, kita di posisi yang sama. Aku juga malu mengingat ulah wanita yang sudah melahirkanku berbuat sebodoh itu. Pergilah, papa sudah menunggu tuh." Aku melihat ayah mulai menjalankan mobilnya. Mama malah belum masuk. Dengan wajahnya yang tegang dan marah, mama menunggu dokter Nina.
"Maaf jika tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Menikahkah, semoga sakinah mawaddah warohmah." Dokter Nina menarikku dan mencium kedua belah pipiku. Aku merasakan ketulusan di sana. Kami saling melepaskan. Dokter Nina menuntun mama masuk ke dalam mobil papa. Mama menoleh sepintas ke arah mobil kami. Kemudian mobil kami beriringan keluar meninggalkan kebun karet yang tidak terurus dan meninggalkan kisah kelam dalam hidupku. Pagi datang, seharusnya aku sudah menjadi istri sah bang Zamy jika tidak ada kejadian seperti ini. Kulihat jam di tangan ibu sudah menunjukkan pukul 10.47 WIB. Aku merasa mengantuk sekali. Aku lantas bersandar dan memejamkan mata. Ibu meniup-niup jemari dan telapak tanganku yang dipenuhi luka-luka kecil karena tergores duri. Kami menuju kantor polisi.
***
Sekitar dua puluh lima menit di perjalanan. Ibu membangunkanku yang benar-benar tertidur karena kelelahan.
"Bangun nak, kita sudah di kantor polisi." Ibu mengelus-elus pipiku hingga terbangun. Mbak Nindya dan ayah sudah turun duluan. Kulihat bang Zamy, masih dengan setelan celana pengantin dan kaos oblong putih dimasukkan ke dalam celana berjalan menuju ke arah kami. Ibu turun duluan dan membantuku berjalan dengan susah payah karena beratnya bagian bawah baju pengantin.
"Mundurlah ibu, biar Zamy yang bantu Naura." Ibu menuruti perkataan bang Zamy. Lantas setelah mengatur posisi baju bagian bawah, bang Zamy menggendongku dan menurunkan persis di teras kantor kepolisian sektor Taman Sari Pangkalpinang. Seketika semua yang ada menatapku. Aku mencoba tidak peduli. Seorang polisi memberikanku kursi plastik untuk duduk, satu kursi lagi untuk mbak Nindya.
"Bu Nindya?" Polisi mulai bertanya.
"Iya saya pak."
"Mohon ceritakan kronologisnya kejadian penculikan pagi ini." Polisi itu meminta mbak Nindya menceritakan kisah pagi tadi. Kemudian seperti yang sudah dikisahkan denganku sebelumnya, mbak Nindya menceritakan lagi kronologis kejadian penculikan kepada polisi. Seorang polisi mengetik penjelasan mbak Nindy. Pak Erwan duduk dan dua orang anggota berdiri tegak di belakangnya.
"Baiklah, sekarang kami minta laporan dari bu dokter Naura." Polisi itu beralih menatapku. Aku pun menceritakan kisahku termasuk pembicaraan dengan polisi di lampu merah.
"Iya pak Doni memang ada telpon kami, namun karena informasinya juga kurang jelas, makanya kami belum mengambil tindakan." Pak Erwan bicara setelah mendengarkan semua yang kujelaskan.
"Oke, untuk laporan, saya rasa cukup di sini dulu, kami pasti akan melakukan tindakan hukum kepada tersangka. Termasuk kepada oknum yang sudah menambah daftar coretan hitam institusi kami." Pak Erwan bicara meyakinkan.
"Kami akan mengawal proses hukum kepada ketiga tersangka pak. Jika saja ada keganjilan atas keputusan pengadilan nantinya. Saya sendiri akan memblowup berita ini melalui media sosial." Aku dengan santai menyampaikan kalimat bernada ancaman.
"Iya bu dokter. Kami tidak akan mengebiri keadilan." Pak Erwan menjanjikan.
"Sekarang mohon bantu kami tanda tangan di sini sebagai pelapor." Pak Erwan kemudian menyodorkan kertas yang baru keluar dari printer. Aku menerima kertas yang masih hangat itu, membacanya sejenak lantas membubuhkan tanda tangan. Kemudian aku memberikan pena ke mbak Nindya yang tanpa membaca langsung saja menandatangani pengaduan tersebut. Setelah semua administrasi selesai, kami diperbolehkan pulang. Di jeruji depan kulihat Irwan, pak Anang dan pak Tio (pak polisi yang mengatakan namanya Tio saat laporan tadi), menatapku. Aku berhenti di depan mereka, Irwan seketika berdiri dan dengan kedua tangan memegang jeruji besi dia menatapku.
"Tolong cabut laporanmu Naura, dan mari kita selesaikan saja secara kekeluargaan." Irwan menghiba menatapku. Mataku tajam memandangnya, sehingga dia mengalihkan pandangan ke banyak arah.
"Apa yang ada di pikiranmu Wan? Mengapa kau melakukan ini kepadaku?" Aku mendekatinya. Seorang polisi berdiri di dekatku. Irwan menunduk. Ayah, ibu, mbak Nindya dan bang Zamy menungguku di teras.
"Kenapa? Apa yang ada di otakmu sehingga tega berbuat jahat seperti ini?" Aku membentaknya sambil menitikkan air mata. Tangisku tak tertahan.
"Aku sangat kecewa kepadamu. Kau bertindak tidak masuk akal." Aku kembali bicara. Irwan hanya menunduk menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku Naura." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Mengapa kau tega Irwan? Apa salahku hingga kau menjadi sejahat ini hah?" Aku meneriakinya lagi. Irwan hanya menunduk menggerak-gerakkan telapak kaki.
"Salahmu, kau terlalu cepat memutuskan menikah dengan orang lain, sedangkan aku masih mencari cara mengungkapkan perasaanku kepadamu." Akhirnya Irwan bicara soal alasannya.
"Kegilaan apakah itu Wan?" Aku bertanya lagi.
"Itu bukan kegilaan Naura! Tetapi ini perkara hati dan perasaan. Aku sudah lama mencintaimu, mendambamu, mengagumimu.... Aku sudah sejak lama mangharapkanmu. Namun kau malah dekat dengan kakak angkatmu. Bahkan secepat ini kalian sudah akan menikah. Aku tidak sanggup jika itu terjadi. Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaanku kepadamu. Aku benar-benar mencintaimu Nauraaa...." Suara Irwan pecah karena tangis.
"Kau ungkapkan atau tidak isi hatimu dulu, kemarin, hari ini atau esok nanti itu tidak ada bedanya. Tidak ada satu relung kecil sedikitpun untukmu di hatiku. Aku tidak ada perasaan kepadamu sama sekali. Maafkan aku Irwan." Aku meninggalkan Irwan yang langsung terduduk, menangis seperti seorang ABG labil patah hati.
"Aku mencintaimu Nauraaa...." Begitu bumbu dalam isak tangisnya Irwan, namun aku tak peduli. Pak Anang dan pak Tio berpandangan, beberapa orang polisi yang menyaksikan hanya mampu memandang kasihan kepada rekan mereka. Sementara bang Zamy menungguku di teras, dan tanpa menunggu aba-aba dariku, dia kembali menggendongku menuju mobil. Aku menatapnya penuh sayang.
__ADS_1
"Apa yang ada di pikiranmu saat ini bang?" Aku bertanya sambil melingkarkan tangan ke lehernya.
"Ingin segera mendengar kata 'SAH' dari dua orang saksi." Aku hanya terdiam.