
Setelah mendengar penjelasan papa mengapa tidak mau dibawa ke rumah sakit, kami kembali ke kantor. Bang Zamy mengantarkan profesor Hafiz ke RS Timah dulu, kemudian baru mengantarku. Namun sebelum ke kantor, bang Zamy malah membawaku mampir ke pegadaian. Hatiku berdebar dan penuh tanda tanya. Apakah yang akan bang Zamy gadaikan. Mengapa dia sampai menggadaikan barang? Apakah dia sudah kekurangan uang? Tetapi dia tidak pernah mengeluhkan masalah keuangan. Dan aku tahu betul tabungannya masih belasan milyar. Yang ada di benakku siapapun ke pegadaian dia akan menggadaikan barang karena butuh uang.
"Mengapa kita berhenti ke sini?" Aku bertanya kepada bang Zamy.
"Abang nak jingok mak jande...." (Abang mau lihat janda). Dia bicara sambil menggenggam erat jemari tangan kananku. Mendengar jawabannya aku mencubit pinggangnya dengan tangan kiriku. Dia tersenyum kegelian dan membawaku masuk ke kantor pegadaian.
"Untuk apa ke sini?" Aku kembali bertanya. Dia melepaskan genggaman tangannya saat sudah ada pelayan menyambut kehadiran kami. Dia tak menjawab pertanyaanku.
Selamat pagi pak selamat pagi ibu, silahkan duduk di sofa sebelah sana." Seorang berpakaian rapi lengkap dengan jas hitam dengan dasi merahnya menghampiri kami. Sebelumnya seorang pegawai yang tadi menyambut kami dengan ramah telah kembali ke dekat meja pelayanan. Setelah kami duduk di sofa empuk khusus tamu VIP, pak Diki yang tadi mempersilahkan kami kembali datang dengan nampan cantik di tangan. Nampan plastik itu masih bertutup sejenis sapu tangan merk pegadaian. Dia meletakkannya di meja depan kami.
"Halo dokter lama juga tidak datang ya. Oh ya selamat pengantin baru, semoga berbahagia selamanya." Pak Diki beramah tamah dengan kami.
"Terima kasih Dik, aamiin. Kamu kapan ini? Ntar nyesel lho kelamaan nikah." Bang Zamy menjawab serta melirik kepadaku. Mereka mulai melepaskan masker dan terus berbasa basi hingga dua menit lamanya. Rupanya mereka pernah menjadi teman sekelas waktu di SMP Negeri 1 Muntok.
"Bay de wei, lagi turun ya?" Bang Zamy bertanya.
"Iya dok, silahkan diborong. Tidak akan rugi investasi di sini." Pak Diki melirik nampan sambil bicara.
"Berapa sekarang?" Bang Zamy bertanya lagi. Aku memang tidak begitu paham dengan emas. Jadi hanya ikutan duduk, diam menjadi pendengar yang baik. Aku selama ini hanya tahu emas kalung, gelang dan cincin. Dan kesemuanya sudah aku miliki dengan jumlah yang lumayan. Selebihnya aku tidak terlalu antusias untuk masalah emas. Uang hanya kusetor-setor saja ke bank, ditabung.
"Antam sembilan ratus dua puluh sembilan ribu, kalau UBS sembilan ratus tujuh ribu. Selisih dua puluh dua ribu." Pak Diki kemudian membuka isi nampan yang tadi ditutupinya. Memang jarak kami dengan pengunjung lainnya agak jauh. Kami agak menjorok ke ruangan dalam, sedangkan tamu biasa dilayani di depan. Beberapa orang sesekali melihat ke arah kami. Aku untuk pertama kalinya melihat emas batangan pegadaian. Selama ini hanya tahu melalui cerita orang lain.
"Ini bu silahkan dilihat-lihat." Pak Diki menawarkan kepadaku. Aku malah menatap ke bang Zamy.
"Mau investasi yang berapa hayo pilih saja." Bang Zamy bercanda kepadaku, dia meletakkan yang 100g ke tanganku. Terasa beratnya.
"Yang 1000g ada?" Bang Zamy kembali bertanya ke pak Diki setelah melihat-lihat hanya ada batas 500g.
"Kalau Antam ada Zam yang seribu. Kalau UBS tidak ada." Pak Diki berdiri dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Setelah aku yakin pak Diki tidak akan mendengar pembicaraanku. Aku bertanya ke bang Zamy.
"Bang beda Antam sama UBS apa? Adek nggak ngerti sama sekali yang beginian." Aku memasang wajah lugu. Bang Zamy tersenyum.
"Secara umum sih sama. Hanya kalau Antam itu kan buatan PT. Antam, itu BUMN Indonesia, kalau UBS ya buatan PT. UBS, perusahaan milik swasta. Sama-sama bersertifikat dan bersegel. Dimensinya agak beda. Ni lihat, sama-sama 100g, tapi lebih kecil Antam dari UBS." Bang Zamy memegang plastik keduanya. Seorang pegawai yang menggantikan pak Diki tersenyum. Begitu pak Diki kembali pegawai pengganti langsung kembali ke meja pelayanan.
"Ini Zam Antam 1000g." Bang Zamy memandangku.
"Mau invest yang ini?" Bang Zamy berbicara kepadaku. Aku tidak menjawab, malah seketika merasa menjadi seorang dokter yang paling tidak gaul sedunia saat itu. Tidak mengerti apa maksud bang Zamy.
"Mau ya bu? Tidak rugi kok. Apalagi sekarang nilainya lagi turun." Pak Diki bicara kepadaku.
"Iya Dik, ini saja. Tapi bagaimana dengan sistemnya? Kita titip di sini saja. Terlalu berisiko kalau bawa pulang." Bang Zamy yang menjawab.
"Bisa kok Zam, Mau sistem gadai atau tabungan? Belilah brangkas sendiri, biar enak. Ya kan bu?" Pak Diki memandangku tersenyum. Aku hanya terbengong. Beuntungnya aku masih dengan masker, maka wajah luguku tidak begitu nampak.
"Tabungan saja Dik, memang sudah perlu brangkas kecil sih di rumah." Bang Zamy bicara santai. Dia kembali menyandarkan badan ke kursi.
"Mau atas nama siapa?" Diki bertanya kepada bang Zamy.
"Istri saja." Bang Zamy sesaat menatapku. Aku lagi-lagi hanya diam.
"Boleh di bantu KTPnya Zam?" Pak Diki meminta KTPku.
"Mana KTP adek?" Bang Zamy mengulurkan tangan ke arahku. Aku mengambil dompet dan mengeluarkan selembar fotokopi KTP, memberikan kepada bang Zamy yang langsung dia kasihkan ke pak Diki.
"Tunggu saya ambilkan formulir pembukaan Rekening Tabungan Emasnya dulu ya." Pak Diki pergi menuju meja depan. Dia bicara sebentar dengan salah satu petugas, kemudian membawa dokumen lagi mendekati kami.
__ADS_1
"Tolong diisi ya bu." Dia menyodorkannya kepadaku. Aku menerimanya dan mengisi beberapa data diri. Yang tidak kupahami kubiarkan saja. Setelah selesai mengisi dan menandatangani formulir, pak Diki sepintas mengeceknya. Fix, tidak ada lagi yang salah.
"Oke Zam, administrasi dan sebagainya kita langsung ke dalam ya." Pak Diki mengajak bang Zamy ke dalam. Aku diam saja.
"Tidak ikut sayang?" Bang Zamy menoleh kepadaku yang tidak bereaksi.
"Abang sajalah, adek menunggu di sini." Aku menjawab sambil mengeluarkan handphone dari dalam tas. Membiarkan bang Zamy menyelesaikan transaksi di ruangan dalam.
****
Sekitar lima menit menunggu akhirnya bang Zamy keluar dengan beberapa lembar kwitansi dan satu buku bukti setor.
"Ini adek yang simpan ya. Nanti kita beli brangkas kecil." Bang Zamy memberikan kepadaku semua berkas di tangannya. Aku menyusunnya dan meletakkan ke dalam tas.
"Yuk abang antar ke rumah sakit..." Bang Zamy memegang tanganku sambil mengangguk permisi ke pak Diki dan beberapa orang pegawai yang mengantarkan kami menuju pintu.
"Kenapa emasnya tidak dibawa?" Aku berbisik. Bang Zamu tersenyum.
"Kita belum ada brangkas sayang. Sementara biar di sini dulu. Malam ingetin ya, surat-surat penting yang di abang nanti digabung, adek saja yang pegang." Bang Zamy bicara lagi.
"Surat apa?"
"Abang punya beberapa itu, tetapi baru inilah yang besar, seribu gram. Ada tiga sudah abang punya di sini. Tapi bukan invest seperti ini. Dulu sistemnya masih sistem gadai." Bang Zamy menjelaskan sambil membukakan pintu mobil. Aku masuk dengan kepala cenat-cenut memikirkan bagaimana mungkin aku tidak paham masalah emas, sedangkan bang Zamy seperti sudah lama berkecimpung di investasi benda kuning berat ini.
***
Hampir tiga puluh menit diperjalanan, aku kembali ke kantor. Bang Zamy telah pula memutar arah, kembali ke rumah sakit Timah, tempat dia bekerja. Namun baru saja aku mau masuk ke ruanganku, seorang perawat mendektiku.
"Bu Dokter. Ada seorang sudah lama menunggu bu dokter."
"Kurang tahu dok, mana ya orangnya. Tadi duduk di sini." Linda mencari-cari orang yang dimaksud. Dia celingukan mencari-cari. Aku ikut celingukan namun tidak ada siapa-siapa.
"Saya masuk dulu ya Lin, kalau ada orangnya suruh masuk saja." Aku menutup pintu.
"Naura...!" Belum sempat aku menutup pintu tiba-tiba dari lorong berlainan aku melihat Maya, sahabatku yang sebelumnya naksir berat sama bang Zamy.
"Hey, kok tidak telpon saya dulu sih May?" Dia memelukku. Mau tidak mau aku memeluknya juga. Sesaat kami mengabaikan protokol covid-19.
"Tadinya mau buat kejutan sih. Tapi saya yang terkejut-kejut sampai mau pingsan menunggumu tidak muncul-muncul, mana puasa, panas terik, nyari bu dokternya tidak ada. Huh!" Maya menggerutu. Aku perlahan melepas pelukannya. Karena sedang tidak ada pasien, aku lantas mengajaknya masuk.
"Ada acara apa May ke Pangkalpinang?" Aku bertanya kepada sahabatku itu. Dia salah seorang teller, bawahannya ayah di kantor cabang Mentok.
"Tidak ada acara apa-apa kok. Hanya iseng saja."
"Masa iya iseng di musim begini. Dasar dirimu ini tidak pernah berubah." Aku berpura-pura mencemoohnya. Seperti biasa dia hanya tersenyum sumringah.
"Eh kamu ke sini sama siapa?" Aku bertanya lagi.
"Harusnya sama suamimu." Maya memasang muka cemberut.
"Eh jangan sempatin lagi ya curi-curi pandang ke bang Zamy. Sertifikatnya sekarang sudah jelas. Dia milikku." Aku mencubit lengan kirinya yang putih bersih. Dia hanya mengaduh. Kami tertawa bersama.
"Eh serius kamu sama siapa ke sini." Aku bertanya lagi. Belum sempat dia menjawab, kemudian kembali terdengar suara ketukan di pintu.
"Iya masuk." Aku menjawabnya. Nampak bang Rahman membawa sebuah kotak kado besar di tangannya. Aku langsung menoleh tersenyum ke Maya.
__ADS_1
"Owh, jadi.... Kamu mendekati Rahman sekarang....?" Aku menggodanya.
"Bukan aku mendekatinya, dia tuh yang mendekatiku." Maya melirik ke arah Bang Rahman yang tersipu malu. Bang Rahman meletakkan kado di meja tamuku. Aku berdiri mencium tangannya.
"Sehat dek?" Dia masih terbiasa mengelus jilbabku.
"Alhamdulillah."
"Bagaimana dengan bang Zamy?"
"Alhamdulillah sehat. Kalian ada acara apa sih ke sini? Ih bulan puasa kok jalan berduaan, tidak boleh tau, kalian kan bukan muhrim...." Aku menggoda keduanya yang sama-sama tersipu.
"Abang baru selesai mengambil bahan super dari Sungailiat dek. Banyak udang putih kelas A di mobil. Ada tenggiri, dapat tuna juga. Sudah abang pisahkan lima kilo udang buat kalian, sama kakap gagal ekspor satu ekor, besar sekali. Itu kan kesukaannya bang Zamy." Bang Rahman menjelaskan.
"Waw mantap. Yaaahhh.... Kalau bawa bahan jualan, kalian tidak menginap dulu di rumah dong berarti." Aku sedikit kecewa.
"Lain kalilah dek. Bawa dia saja diam-diam, izin sama ayah malu, jadi dia alasan sakit biar bisa kabur ikut abang." Bang Rahman menunjuk Maya dengan mulutnya. Maya hanya membesarkan bola matanya.
"Haduuuhhh.... Kok bisa sih kalian berdua...." Aku masih kebingungan. Maya, sahabatku ini memang baik, dia agak ceplak ceplos. Penampilannya trendy., belum berjilbab.
"Kalau sudah lama menunggu, ikannya rusak nanti bang?"
"Abangnya sih baru datang. Dianya tidak ikut ke Sungailiat. Katanya nunggu di sini saja sambil buat kejutan. Tapi abang sudah balik lagi, dianya merutuk karena belum ketemu sama kamu." Aku menggelengkan kepala mendengar penjelasan bang Zamy.
"Eh May, kamu baik-baik ya sama saya."
"Males baik-baik sama kamu." Maya bercanda.
"Idiihhh..., Sekali Naura merayu bang Rahman buat mutusin kamu. Kelaaarrrr hidup lho."
"Hahaha...." Kami tertawa bersama.
Kemudian setelah mengobrol sekitar dua puluh lima menit bang Rahman dan Zamy berpamitan langsung pulang ke Mentok. Mereka tidak mau lama menggangguku karena perawat datang memberitahukan ada seorang pasien.
"Sudah berhasil belum?" Di dekat pintu keluar Maya meraba perutku berbisik.
"Belum tahu...,"
"Kok bisa belum tahu? Tapi kan main terus malam-malam?" Maya kembali menggodaku. Aku mencubitnya.
"Main sih main, tapi nikahnya saja belum semingguuu.... tau! " Aku bicara sambil memencet hidungnya yang mancung. Dia hanya terkekeh.
"Pulang ya. Semoga saja segera hadir calon sepupu anakku..." Maya iseng lagi bicaranya.
"Sepupu anakmu...?" Aku mengerutkan kening mencibir palsu.
"Iya, nantikan sepupuan sama anakku dan bang Rahman."
"Iiiihhh.... cepetan nikahnya biar gak haluuu...." Aku menjitak keningnya. Bang Rahman ikut tersenyum.
"Pulang ya dek. Jaga kesehatan. Salam sama bang Zamy. Dan minggu ini ditunggu ibu pulang ke Mentok ya. Ibu kangen mau buka bareng."
"Insya Allah bang." Aku menyalami bang Rahman yang segera pergi bersama Maya. Aku kembali ke ruang kerjaku, sedikit merapikan wajah di cermin, dan aku perlahan mengelus perutku.
"Semoga segera hadir generasi bang Zamy." Aku berbisik sendiri. Bahagia.
__ADS_1