
Aku begegas meninggalkan ruang praktikku. Lalu segera menuju belakang kantin tempat mobilku di parkir. Sebelumnya aku sempat mampir ke kantor menghadap Direktur yang memanggilku untuk membicarakan perihal penyerahan bantuan PT. Timah, tbk atas 1000 paket Alat Pelindung Diri (APD) bagi dokter dan perawat RSUDH. Secara simbolisnya bukan dokter spesialis paru yang menerima tetapi untuk dokumentasinya malah direktur menunjuk saya. Saya mengiyakan saja, apa susahnya hanya berdiri, tersenyum cantik untuk tampil di halaman depan koran sehari habis pelaksanaan.
"Bagaimana kabarnya nak dokter?" Sambil berjalan menuju garasi belakang kantin aku teringat obrolan singkat dengan Direktur tadi, pak Ramli Drajat, ayah kandungnya dokter Nina.
"Alhamdulillah sehat pak, bagaimana dengan bapak?" Aku tersenyum balik bertanya.
"Sama sepertimu, alhamdulillah masih sehat." Pak Ram membuka maskernya karena merasa tidak leluasa bicara. Sedangkan aku, tetap menggunakan maskerku.
"Sudah lama tidak tidur di rumah sama Nina? Sibuk ya di klinik? Kliniknya sudah terkenal sekarang. Hehehe...." Pak Ram masih berbasa basi. Dulu aku memang ada sekali dua kali tidur di rumah dokter Nina. Namun demikian kami hanyalah rekan sejawat biasa, tidak begitu akrab walaupun lebih dari cukup untuk saling mengenal.
"Iya pak hehe sedikit sibuk. Oh ya ngomong-ngomong Bapak memanggil saya ya...." Aku langsung bertanya.
"Iya besok ada penyerahan 1000 set APD dari PT. Timah, seperti biasa agar dokter Naura bisa menemani saya menerimanya secara simbolis." Pak Ram memberikanku sebuah surat pemberitahuan dari PT. Timah, dana CSR.
"Lho kok saya pak? Kenapa tidak dokter penyakit dalam saja? dokter paru atau dokter jantung?" Aku mencoba menolak.
"Hahahaha.... yah biar lebih enak orang melihat korannya. Masa pak Ganda mau dipajang di halaman depan koran? Penuh jenggot semua tuh koran...." Pak Ram terkekeh lucu. Aku hanya tersenyum kecil saja.
"Baiklah pak..., insyaAllah besok jam 09 pagi, Naura sudah ada di sini." Aku menjawab.
"Jangan insyaAllah insyaAllah saja nak, pastikan besok kamu harus datang ya. Pak Walikota besok juga hadir." Pak Ram melanjutkan. Mimik wajahnya langsung berubah serius sekali kalau menyangkut kehadiran orang nomor satu di kota Pangkalpinang.
"InsyaAllah pak. Saya permisi dulu ya." Aku mengangguk kepada pak Ram dan berlalu meninggalkan ruangan Direktur itu. Dalam hatiku menggumel, mengapa dia selalu menyuruh-nyuruhku hadir ketika ada event-event penting.
*****
Sesampainya di parkiran belakang kantin, aku sedikit memperlambat langkah kakiku. Kulihat di parkiran sebelah Timur tampak bang Zamy dan dokter Nina sedang serius bicara. Aku mencoba tak menghiraukan dan diam-diam ingin pergi. Telah bulat tekadku untuk membantu Irwan dan berkenalan dengan ibunya yang katanya kalau sedikit saja ayahnya membuat kesalahan dia akan seperti anak tantrum hebat. Membanting perkakas dan apa saja yang dia temui.
Kupencet remote mobil untuk membuka pintu depan. Kuletakkan tas di atas kursi sebelahku. Baru saja aku mau menghidupkan mesin mobil, tiba- tiba kulihat bang Zamy sudah berjalan ke arahku. Tangannya melambai-lambai dengan senyumnya yang merekah dari kejauhan. Dokter Nina mengikuti dari belakang. Aku mengurungkan menekan tombol bulat bertuliskan engine start stop. Membuka pintu kembali dan menurunkan kaki, melangkah mendekati keduanya.
"Tumben hampir jam 3 baru pulang?" Bang Zamy bicara sambil kembali mengelus rambutku. Kulepaskan tanganmya perlahan karena melihat tatapan mata dokter Nina yang kurang menyukai hal itu.
"Iya habis dipanggil pak Direktur...." Aku membalas tersenyum ke arah keduanya.
"Papanya ada ya?" Sedikit jumawa dokter Nina bertanya.
"Ada." Aku menyahut ramah. Bang Zamy terus saja menatapku, entah apa yang dia pikirkan. Sedangkan dokter Nina memandangi kami bergantian.
"Tetapi sepintas kalian memang mirip kok Zam. Bagaimana mungkin kalian tidak sedarah, apa iya Naura hanya anak pungut ayah ibumu, beruntung sekali dia seandai...," Tiba-tiba saja dokter Nina bicara mengagetkanku.
"Maaf dokter Nina, bang Zamy aku buru-buru karena sudah ada janji dengan temanku." Aku memotong kalimat pernyataan dari dokter Nina yang bernada tinggi. Hingga beberapa orang yang kebetulan lewat memandang ke arah kami. Deg! Jantungku kembali berdebar. Aku belum siap sama sekali orang lain mengetahui rahasia ini. Aku menatap tajam ke arah bang Zamy sebelum masuk ke mobil. Pasti dia yang telah mengatakan semuanya. Walaupun mungkin memang sebaiknya dokter Nina tahu bahwa aku bukan anak kandung keluarga Rey Fardan namun aku tidak ingin itu terjadi sekarang. Mendengar nada bicaranya saja aku merasa sangat dihinakan. Aku tak tahu apa saja yang telah dikatakan bang Zamy tentangku, tentang kisah hidupku, tentang semua rahasiaku yang aku saja baru beberapa hari mengetahuinya. Apa untungnya bang Zamy mengatakan itu sekarang kepada dokter Nina. Sebegitu dekatnya mereka? Aku tiba-tiba merasa sangat sedih. Aku menutup pintu dan menghidupkan mesin mobil, sekali mundur langsung berbelok dan segera meninggalkan parkiran rumah sakit. Sempat kulihat dari spion, bang Zamy sepertinya bersitegang dengan dokter Nina. Aku tidak peduli. Bagiku tangis adalah jalan keluar paling ampuh untuk kesedihanku saat ini. Serasa ulu hatiku tercabik-cabik, sakit sekali. Serasa ada sesuatu yang begitu berharga dalam hidupku, kini telah hilang. Ada sesak dan kesedihan besar yang sedang kurasakan.
Aku meninggalkan rumah sakit dengan berlinang air mata. Apa yang membuatku sedih? Aku tidak tahu. Apa karena bang Zamy yang tanpa ba bi bu denganku telah membuka rahasiaku kepada rekan sejawat? Aku juga tidak yakin akan hal itu. Tetapi jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, ingin sekali aku menjerit. Dokter Naura Ghe Divanka, gadis cantik dan periang itu, kini kembali terisak. Aku melepas kaca mataku, beruntung cuaca bagus, jadi air mataku yang menganak sungai tidak begitu mengganggu penglihatan saat mengemudi.
*******
__ADS_1
Sekitar 15 menit di perjalanan aku baru berhenti menangis. Di lampu merah Semabung aku menunggu sambil mengelap-ngelap mataku dengan tisu. Mencoba menghilangkan sembab dan jejak menangis. Aku mengaca di spion tengah beberapa kali, mengecek gigi, dan sedikit memasangkan lipstik berwarna lembut. Hingga tak menyadari sopir mobil mewah di sebelahku sudah lama menurunkan kaca jendela mobilnya, memandangiku dengan pemikirannya sendiri. Kepalanya bersandar santai ke sandaran kursi. Tangan kirinya memegang stir, sedangkan tangan kanannya menopang ke kening dengan belakang pergelangan tangan. Matanya sesekali melihat ke arah tiang lampu. Bang Zamy. Aku terkesiap, namun malas menurunkan kaca mobilku. Aku kembali mengenakan kaca mata, dan kembali melaju perlahan tanpa mengindahkan klaksonan mobilnya. Lampu sudah hijau. Aku melihat mobilnya melaju lurus, maka kuputar arah stirku menuju arah kiri. Aku melewati jalan menuju lampu merah praktir dokter anak yang senior, dokter Ase. Entah kenapa, aku merasa marah kepada bang Zamy. Harusnya kalaupun harus diumumkan di khalayak ramai, akulah orang yang berhak mengumumkannya. Bukan dia. Begitu keinginan hatiku.
Benar dugaanku, jika aku berjalan lurus dia pasti akan mengikuti bahkan menghentikanku di tengah jalan. Kulihat di miracastku muncul bang Zamy calling. Aku mengabaikannya. Berkali-kali dia kembali menelpon, namun aku tetap mengabaikannya. Entah kenapa untuk pertama kalinya, inilah aku merasa sangat kecewa dan marah kepada bang Zamy. Mentang-mentang dia dekat dengan dokter Nina, rahasiaku yang bahkan disimpan oleh ayah dan ibu selama 28 tahun lebih, hanya hitungan hari sudah disebarkannya kepada orang asing bagiku. Kulirik lagi di layar LCD mobilku, beberapa pesan whatapp masuk. Pasti itu juga dari bang Zamy. Aku mengabaikannya dan terus menyetir santai, tujuanku sudah bulat membantu Irwan untuk segera bertemu dengan ibunya yang aneh. Aku kemudian segera menepi, menulis pesan kepada ibu.
"Bu, Naura pulang telat, sore ini ada janji ketemu teman lama. Jadi mungkin nanti jam 4 nya langsung ke klinik. Makan malamnya sama ayah saja ya...." Aku mengirim pesan whatapp ke nomor ibuku, ibu angkatku, ibu yang 28 tahun sudah kusangka ibu kandungku sendiri. Pesan langsung terbaca, namun tidak ada balasan. Ibu balik menelponku. Aku tidak mengangkatnya. Kumatikan telponku dan memasang leting kanan, lalu menyetir kembali masuk ke sisi jalan utama.
*****
Sekitar 20 menit melaju akhirnya aku tiba di depan rumahnya Irwan. Tak ada kesulitan saat mencarinya karena aku hampir tiap hari melewati rute sekitar masjid Jamik Pangkalpinang. Rumah besar yang mewah, terdiri dari dua lantai bercat putih bersih. Di balkon atas aku melihat aneka bunga sedang berkembang dengan pot-pot yang cantik. Dalam hatiku berbisik, kalau ibunya memang sakit psikisnya, tidak mungkin aneka bunga tertata rapi dan bersih.
Aku melongok ke arah pekarangan. Pagar beton itu garasinya sedikit terbuka, namun tidak kudapati siapapun juga di sana. Kuketuk-ketukkan besi pengait pengunci garasi. Sedikit kebisingan yang membuat beberapa pengguna trotoar menoleh ke arahku seketika. Namun aku tidak kapok, kuulangi lagi beberapa kali penggilan dengan pengait kunci teralis. Entah panggilan ke berapa, kemudian aku melihat seorang wanita paruh baya berlari menuju pintu teralis pagar.
"Tunggu nak tunggu." Bibi gendut itu menarik teralis dengan sekali tarikan langsung terbuka lebar. Dalam hatiku berbisik "dari sebelah mananya, posisi ibunya Irwan kok bisa dibilang sangat tempramen. Lugu dan ramah begini. Senyumnya lebar menyambutku dengan gaya tangannya yang santun. Belum lagi hilang bayangan dan pikiranku tentang ibunya Irwan. Tiba-tiba di teras yang persis berada di sebelah pohon palm setinggi dua meter, kulihat seorang wanita seusia ibuku berdiri mematung mengawasiku.
"Yuk Jeeennn..., itu agen Yakult suruh masuk." Lalu si ibu itu berbalik menuju kembali masuk rumah.
"Silahkan nak masuk. Kamu cari siapa? Bapak lagi tidak di rumah." Wanita yang sekarang kuperkirakan pembantu rumah tangga ini bicara dengan lucu.
"Aku temannya pak Irwan bu...." Aku mengangguk sopan kepada pembantu yang dipanggil ibunya Irwan yuk Jen. Kemudian aku berhenti di depan pintu teras dan bersalam.
"Assalamualaikum tante...," Aku tersenyum manis semanis mungkin sambil sebentar melongok ke dalam rumah. Dalam hatiku bicara bahwa aku harus menimbulkan kesan baik di awal perjumpaan agar bisa akrab dan mengenali gangguan psikis ibunya Irwan. Tak berselang lama aku mendengar ada langkah kaki menuju ke teras. Muncul kemudian wanita paruh baya bercelana jeans pinsil dengan atasan tunic import. Dia wanita yang tadi. Kepalanya disanggul tinggi dan ditutup dengan kupluk sutra berwarna hitam. Antingnya yang besar berayun-ayun ketika dia berjalan. Kulihat di tangannya ada uang dua puluh ribuan selembar. Gelang dan kalung emasnya menjuntai besar dan panjang. Kulirik jemarinya hampir sepuluh bercincin semua.
"Minta 2 pack say yakultnya...." Dia datang dan langsung memberikan selembar uang dua puluh ribu kepadaku. Aku tersenyum dan meyakini sepertinya ini benar-benar ibunya Irwan.
"Maaf tante..., aku bukan tukang yakult, aku temannya Irwan. Apa Irwan ada di rumah?" Aku bicara lembut. Kemudian dia tersenyum lebar dan berkata perlahan.
"Kirain kamu tadi tukang Yakult say..., langganan saya biasanya mampir setiap Senin sore.
"Tidak ada nak sekarang, duduklah dulu nanti saya telpon dianya." Aku menerima segelas air putih yang dibawakan yuk Jen untukku.
"Owh dia sedang kemana tante?" Aku kembali pura-pura bertanya dengan suara lembut.
"Nah tante tidak tahu juga dia dimana. Kalau nggak piket di jalan biasanya dia di kantor. Maaf ya ada perlu apa sama dia?" Tante melihatku penuh selidik. Lalu dia tersenyum menatapku lamat-lamat.
"Kau ini hanya temannya apa pacarnya nak?" Tante bertanya lagi. Dia sudah duduk persis di hadapanku. Melupakan janjinya untuk menelpon Irwan.
"Temannya tante. Aku temannya Irwan." Aku menjawab lagi.
"Baguslah kalau begitu. Dia akan kujodohkan dengan anaknya bu Gendis. Bapaknya boss tambak udang dan pemilik perkebunan wisata di Pasir Padi itu lho nak." Tante bicara kepadaku. Gelangnya berdenting-denting beradu satu sama lain saat mengekspresikan ceritanya.
"Kenapa harus dijodohkan tante....? Biarkan dia memilih sendiri...."
"Ah! Bosan nunggu dia pilih sendiri mah, kelamaan..., berjamur sudah tante menunggunya nikah. Bisa-bisa gak punya mantu tante nak. Bilangnya nanti-nanti terus, kemarin bilangnya lagi pedekate sama dokterlah..., inilah itulah, alasannya banyak sekali...." Ibunya Irwan bicara panjang lebar, lucu juga. Orangnya jujur. Aku tidak melihat ada gejala gangguan psikis padanya. Dasar si Irwan.
"Maaf tante, siapa namanya katanya dia lagi pedekate sekarang?" Aku balik bertanya.
"Siapa ya? Itu tu dokter cantik yang punya klinik baru di depan jalan Balai itu. Klinik Hani Hani apalah gitu dia bilang."
"Honey Bee mungkin tante." Aku tersenyum mengoreksi. Yuk Jen datang membawa sepiring bolu remeng khas Bangka.
"Nah iya itu, Hani Bi gitu gitulah disebutnya. Tiiiap hari cerita duuuhhh cantiknye maaaakkk dokter Dora tu. Ibunya Irwan menirukan gaya Irwan bicara. Aku terkikik sudah melihat tingkahnya. Sejenak kesedihanku tadi hilang. Bertemu dengan wanita paruh baya satu ini rupanya menjadi obat ampuh mengusir penat. Sungguh sangat menyenangkan melihat ekspresinya berbicara.
__ADS_1
"Macam apelah rupe dokter Dora tu, mamaknye ni jadi penasaran dibuatnye si Irwan."
"Naura mungkin tante...," Aku kembali mencoba mengoreksi.
"Bukan Naura nak. Dora kalo dak salah. Eh ngomong-ngomong, kite lah lame ngobrol kukelupak nanya name awak. Diminum nak diminum, ini bolu remeng buatan tante nak, maklum naaakkk..., dek apa gawi." Kembali aku terkikik mendengar bicara tante, ibunya Irwan. Kuambil hape di dalam tasku, menghidupkannya lalu menulis pesan ke Irwan. "Kurang kerjaan deh kamu Wan, maksa benar aku main ke rumahmu, seolah-olah ibumu memiliki psikis terganggu. Padahal dari cara bicaranya tidak ada kelainan. Ibumu asyik kok." Terkirim namun tanpa balasan karena aku langsung mematikan hp lagi.
"Sapa nak nama awak nakk?" (Siapa nakk nama kamu nak?) Aku dikejutkan dengan pertanyaan tante lagi.
"Owh aok. Saye Naura tante." (Eh iya, Aku Naura tante) Aku menjawab dengan bahasa entitasnya tante.
"Owh Naura. Ki begawi dimana nya?" (Oh Naura, kamu bekerja dimana?) Lagi-lagi tante bertanya dengan bahasa dan logat Bangka.
"Di Rumah Sakit Umum Depati Hamzah tante...,"
"Owh aok aok aok..., (oh ya ya ya)
Begitulah obrolan kami akhirnya bertambah kemana mana. Ibunya Irwan banyak bercerita tetang masa kecilnya Irwan. Hingga tak terasa waktu hampir menunjukkan jam 4 sore. Aku belum sholat Ashar. Nanti sholat di ruang kerja saja. Kemudian kubaca pesan whatapp dari asisten perawatku di klinik bahwa sudah ada 13 pendaftar pasien untuk sore ini melalui whatapp. Aku mengiyakan saja. Dan banyak lagi pesan dari Bang Zamy juga ibu. Kubiarkan saja tanpa dibaca.
"InsyaAllah jam 4 nanti aku sudah di sana. Ini lagi di sekitar klinik juga." Aku mengirim pesan ke asistenku.
"Baik dok." Kubaca balasannya.
"Eh dok, barusan dokter Zamy mencari dokter...." Tiba-tiba pesan asistenku kembali masuk.
"Iya nanti saja, saya bisa temui dia." Aku berbohong. Dalam hati kecilku. Aku sedang tidak ingin bertemu dengan bang Zamy.
"Dimakan lagi nak Laura kuenya...," Tante kembali mengagetkanku.
"Iya tante terima kasih, sudah kenyang sayanya. Kue buatan tante mantap jiwa..., dan tante namaku Naura tante, bukan Laura." Aku tertawa lagi.
"Eh iya ya salah." Tante bicara sambil tertawa lepas. Aku juga tertawa.
"Baiklah tante, Laura pamit dulu, mau ke tempat praktik...." Aku berdiri menyalami tante. Kulihat wajahnya kembali seperti orang bingung. Dia masih menggenggam tanganku.
"Sebenar e name awak ni Laura ape Naura geh?" (Sebenarnya namamu ini Laura apa Naura ya) Dia bertanya serius. Tangannya beralih mengapit lenganku. Kami menuju teras.
"Naura tante." Aku menjawab santai.
"Ini mau kerja praktiknya kerja dimana?"
"Klinik Honey Bee tante."
"Hah? Jadi kau nilah ok yang ditaksir anak bujangku tegile-gile tu. Ya Allah Doraaa...." (Oh jadi kamu yang membuat anak bujangku naksir tergila-gila)
"Naura tante."
"Iya Laura."
"En A U eR A. Naura!" Aku tersenyum mengeja.
"Aoklah ge, hati-hati ok Nora." Aku tersenyum geli dibuatnya.
__ADS_1