
Aku berusaha menahan tante Erlinda agar tidak masuk ke ruang VIP tempat pak Direktur dirawat. Namun usahaku sia-sia. Tante Erlinda bahkan menerjang pintu lalu membuka tirai dan menemui pak Ram yang sedang pemulihan.
"Papa...." Semua dokter dan perawat dibuat kaget oleh tante Erlinda. Dokter Zein menahan tante Erlinda dengan menghalangkan badannya.
"Bu..., ibu..., ibu..., tolong bu jangan berisik, kasihan bapaknya baru juga siuman...."
"Biarkan aku bicara dengannya...." Tante Erlinda menyingkirkan dokter Zein. Dokter Zein menggelengkan kepala kecewa lalu pergi keluar ruangan.
"Silahkan bu, tapi resikonya ibu tanggung sendiri. Kondisi bapak kurang begitu baik." Dokter Zein meletakkan sarung tangan dan masker ke tempat sampah. Mengambil sapu tangan di saku celana lalu mengelap mukanya. Dia kesal sekali meninggalkan ruangan.
"Dok! Doker Zein tolong jangan marah. Maafkan ibuku. Tapi tolonglah jangan tinggalkan pasienmu." Dokter Nina mengejar dokter Zein yang langsung berhenti.
"Tolong amankan ibumu agar kami bisa melakukan tindakan dengan benar. Keributan hanya bisa mengganggu diagnosa saja." Dokter Zein menatap dokter Nina.
"Baik dok, aku akan menenangkan ibuku. Tapi kembalilah." Dokter Zein pun menurut. Mereka kembali ke ruangan.
"Ma, mama tolonglah tunggulah sebentar saja sampai papa benar-benar pulih." Dokter Nina menarik lengan tante Erlinda yang dadanya kembang kempes menahan amarah. Namun tarikan dan ucapan dokter Nina tak urung juga membuatnya tunduk. Tante Erlinda keluar ruangan. Dia terisak di kursi tunggu panjang. Keluarganya berusah menenangkan. Aku yang merasa iba perlahan mendekat dan duduk di sebelah tante Erlinda. Lalu tanpa dikomando tante Erlinda menyadarkan diri ke pundak kananku. Menangis hebat tanpa peduli tatapan puluhan mata yang berlalu lalang.
"Bagaimana mungkin nak, bagaimana mungkin tante kecolongan setelah dua puluh delapan tahun lamanya...."
"Sabarlah tante, redakan emosi dan mencuci muka akan membuat tante menjadi lebih segar lagi." Aku menyarankan.
"Rasanya dunia ini seperti telah berakhir. Bagaimana mungkin si Nina itu bukan anak kandungku. Bagaimana mungkin Nina bergolongan darah B. Sungguh ini tidak masuk akal." Tante Erlinda masih menangis di pundakku. Tiba-tiba saja perawat kembali keluar dan menemui tante Erlinda.
"Permisi bu. Maaf mengganggu. Tapi bapak sedikit lebih drop lagi. Mungkin ibu bisa kasih tahu keluarga lainnya. Bapak butuh 2 kantong lagi darah golongan A. Stok kita di PMI lagi kosong jadi kita perlu pendonor darah langsung ." Perawat bicara sopan sambil sedikit menunduk.
"Yang tadi gimana?" Tante Erlinda balik bertanya. Dia bangkit dari sandaran di pundakku.
"Maaf bu, yang tadi hanya 1 kantong yang cocok...." Perawat menjelaskan hati-hati.
"Tante saya golongan darah A, saya akan ke UTD dulu, insyaAllah saya sehat dan siap donor darah." Lalu aku beranjak berdiri, dan kembali ke UTD. Dan tanpa sepengetahuanku tante Erlinda telah mengikuti.
"Donor buat bapak Direktur ya dok?" Petugas langsung tanggap ketika aku melaporkan akan donor darah.
"Iya."
"Baik dok, kita periksa dulu." Aku menurut saja apa yang dikatakan petugas kesehatan di UTD. Selama ini aku yang selalu mengarahkan pasien ketika berobat. Kali ini aku sedang jadi pasien pendonor.
"Baik dok, sudah selesai. Terima kasih bu dokter." Mereka berterima kasih setelah memberikanku susu beruang dan sebungkus biskuit. Sempat ingin kutolak namun takut menyinggung perasaan mereka.
"Terima kasih banyak nak dokter." Tante Erlinda berterima kasih kepadaku. Dia menggenggam erat tanganku. Matanya pun tajam menatap mataku. Entahlah apa yang ada di benaknya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Namun tiba-tiba tante Erlinda menarik tanganku, dia berbicara serius di dekat tiang koridor rumah sakit.
"Nak dokter, jika tidak keberatan, maukah menemani tante ke suatu tempat?"
"Kemana tante?" Aku bertanya.
"Pokoknya kita pergi dulu dari sini. Biarlah Nina ada menjaga papanya." Tante Erlinda serius sekali. Dia lantas menelpon seseorang lalu berpamitan pergi bersamaku.
"Baiklah tante, ayo." Lalu kami bergegas ke tempat aku memarkir mobil. Tante Erlinda duduk di sebelahku.
"Kita kemana te?" Aku bertanya setelah dekat pintu gerbang keluar rumah sakit.
"Ke arah Air Itam." Tante Erlinda menjawab.
"Nanti belok saja ke arah Pasir Padi. Setelah pesantren nanti ada mebel. Tidak jauh dari sana ada rumah. Kalau duluuuu..., puluhan tahun lalu rumahnya warna abu-abu." Tante Erlinda mendeskripsikan lokasi yang akan kami datangi. Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Sekitar 30 menit setelah melewati 'kuburan Cina' dekat markas TNI, kami melewati jalan-jalan tikus menuju Air Itam. Akhirnya sampailah kami ke wilayah Air Itam. Laju mobilku berubah pelan. Kami mencari rumah yang disebutkan tante Erlinda. Namun hampir satu jam kami bahkan sudah bolak-balik tidak menemukan bentuk rumah dimaksud. Maklum selama rentang waktu puluhan tahun, sudah banyak bangunan baru dan bangunan-bangunan dirobohkan atau diganti. Tante Erlinda berkali-kali dan berganti-ganti menghubungi seseorang melalui handphonenya. Namun masih belum membantu. Kami belum juga menemukan rumah yang dimaksud. Namun ada 1 rumah yang dicurigai tante Erlinda sebagai rumah yang dicari. Namun sudah banyak sekali perubahannya. Kami turun dari mobil dan mencoba bertanya.
"Assalamulaikumwarahmatullahiwabarokatuh...." Aku mengetuk pintu dan bersalam ke rumah tersebut. Rumah masih seperti bangunan lama, namun di sampingnya ada sebuah ruko besar dan juga tempat jual aneka shaby-shaby. Begitu kata tante Erlinda tadi menjelaskan.
"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan seseorang dari dalam. Seorang wanita tua dengan menggendong cucu laki-laki berusia sekitar 1 tahunan.
"Maaf nek, apa ini rumah Miranti?" Tante Erlinda langsung bertanya. Aku bergantian menatap nenek dan tante Erlinda. Sempat kusapa anak di gendongan yang sedang memegang kue kering.
"Bukan. Nenek nggak tahu nama itu. Ini rumah anak saya." Nenek menjawab.
"Ini rumah beli jadi apa bikin ya nek?" Tante Elinda menyelidik. Nenek tampak kurang suka.
"Untuk apa kalian tahu beli jadi apa bikin?" Nenek sedikit sinis. Tante Erlinda menatap nenek tajam.
"Nek tolong bantu kami. Apa ini rumah Miranti apa bukan?" Tante Erlinda masih berusaha tenang.
"Bukan!" Nenek langsung menjawab.
"Nek, aku ingat sekarang. Ruangan ini belum dirubah sama sekali. Ini benar rumah Miranti. Aku pernah datang ke sini bahkan sampai empat kali." Tante Erlinda berdiri. Dia melihat sekeliling. Betapa dia ingat betul beberapa kali sudah berkelahi dengan Mira dulu di ruang tamu ini gara-gara merebutkan pak Ram.
__ADS_1
"Mungkin kau salah ingat. Ini bukan rumah Miranti dan kami sama sekali tidak mengenal Miranti. Miranti siapa?" Nenek bertanya tak senang. Balita di gendongannya mulai rewel mendengar neneknya bicara tinggi.
"Betul nek. Ini pasti rumah Mira. Kemana Mira nek?" Tante Erlinda berdiri bahkan memegang punda nenek. Balitanya menjadi menangis.
"Tante tenang tante, emosi tidak akan menyelesaikan permasalahan. Duduklah." Aku mencoba menenangkan tante Erlinda yang langsung menurut.
"Tolonglah nek dimana Miranti, aku benar-benar ingin bertemu dengannya."
"Maaf ya ibuk. Silahkan pergi dari rumah kami, kami bahkan tidak mengenal nama orang yang kalian maksud." Nenek bahkan mengusir kami. Tante Erlinda langsung berdiri lagi.
"Hei nenek, dimana Mira? Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu." Tante Erlinda bahkan ingin masuk ke ruangan dalam. Aku menarik tangannya.
"Sudahlah tante, mungkin kita salah alamat." Aku menarik tante mengajaknya keluar.
"Tidak mungkin salah. Bahkan itu! Kau lihat sulaman itu. Masih dengan bingkai yang dulu ketika aku menemui dia di sini. Aku ingat, benar, ini benar rumahnya Miranti." Tante Erlinda bersikeras.
"Pergilah kalian salah tempat." Nenek mengusir kami untuk kedua kalinya. Aku menarik tangan tante Erlinda. Namun tante Erlinda tiba-tiba bersimpuh ke kaki nenek.
"Nek, tolonglah, aku butuh sekali bertemu Mira. Aku minta maaf atas kejadian yang lalu. Aku benar-benar minta maaf. Tolonglah katakan dimana Miranti berada sekarang." Tante Erlinda menangis. Dia berlutut ke kaki sang nenek. Aku diam tak mengerti apa lagi yang harus dilakukan. Nenek mengalihkan pandangan. Matanya nanar dengan kemarahan.
"Sekarang kau datang entah dengan tujuan apa lagi. Tak puaskah kau merusak masa depan anakku? Tak puaskah kau sudah merebut Ram darinya? Tak puaskah kau telah merenggut kehidupannya? Pergilah! Pergi dari rumahku." Nenek meluapkan emosinya.
"Tolonglah nek, pertemukan aku sekali saja dengan Mira. Aku benar-benar membutuhkan dia...." Tante Erlinda masih berlutut. Nenek diam, dia memberikan cucunya ke seseorang di dalam rumah. Orang asing. Semua serba asing bagiku.
"Tidak ada lagi Mira. Dia sudah mati! Kaulah yang telah merenggut kehidupannya." Nenek menangis terisak. Dia menutupi matanya dengan ujung kain gendong cucunya tadi.
"Pergilah..., tak ada artinya lagi kalian datang. Tak ada gunanya lagi kalian mencarinya. Pergilah...." Nenek semakin menjadi menangis.
"Ampuni aku nek. Tolong ampuni aku, pertemukan aku sekali saja dengannya."
"Dia sudah mati!" Nenek menjawab sesenggukan. Tante Erlinda berhenti menangis. Dia menatap mata nenek. Nenek masih sesenggukan dengan mengelap air mata menggunakan ujung kain gendong sang cucu.
"Sudahlah tante, kita pikirkan lagi nanti. Sekarang kita pulang dulu." Aku menarik bahu tante Erlinda yang berlutut di kaki nenek. Dia menurut, lalu berjalan gontai menuju pintu keluar. Nenek mengikuti kami. Dia menatapku yang tersenyum santun menyalaminya.
"Maaf mengganggu nek. Kami pulang dulu." Aku bersalam dengan nenek. Kami segera bersiap meninggalkan rumah itu. Rumah dengan aneka tanaman hias yang tidak begitu terawat dengan rapi.
"Di Tua Tunu. Carilah di Tua Tunu dekat peternakan ayam potong pak Soleh." Dia ada di sana, di belakang kebun itu, sekitar 4 kilo dari peternakan. Masuk di samping pagar peternakan Pak Soleh. Di sana bisa mobil masuk. Temuilah namun jangan sakiti lagi. Dia masih hidup, walaupun jiwanya sudah mati." Tiba-tiba kami terhenti. Sang nenek tiba-tiba memberikan informasi lengkap. Tante Erlinda seketika memeluk nenek. Berkali-kali dia minta maaf dan minta diampuni dosa dimasa lalu. Kami menuju mobil, dan kemudian pintu rumah itu tertutup kembali. Dari tirai yang terbuka, nampak dua pasang mata mengikuti kepergian kami.
***
Sekitar satu jam perjalanan karena jarak antara Air Itam dengan Tua Tunu adalah ujung ketemu ujung dari kota Pangkalpinang. Satu jam lebih ditambah dengan bolak-balik bertanya dan membaca peta wilayah. Yang akhirnya di jalan tembus menuju eR8 alias Rumah Sangat Sederhana Sekali Sehingga Selonjor Saja Sangat Susah. Aku melewati jalan aspal kasar di tengah hutan. Memang bukan lagi hutan belantara, namun perkebunan sawit, lada dan karet. Dari pinggir jalan kami bisa menemukan perkebunan dan peternakan pak Haji Soleh yang ditulis di sepotong papan semeter dengan warna putih. Kemudian aku nekat masuk ke jalanan sempit yang hanya cukup dilalui satu buah mobil saja. Jalanan tanah dengan sebuah dua buah batu bulat besar menonjol ke permukaan jalan.
"Hati-hati nak dokter." Tante Erlinda mengkhawatirkanku.
"Iya bu, insyaAllah." Kami terus saja melewati jalanan sempit itu. Beruntung jalanannya tidak ada belokan tajam. Di kiri kanan jalan banyak sekali nampak perkebunan petani, ada nanas, pepaya, ubi racun, cabe dan lainnya. Kalau suasananya tidak sedang membawa tante Erlinda yang sedang emosi, perjalanan kami sungguh sangat menyenangkan. Kembali ke alam menghirup udara bersih, jauh dari keramaian dan kebisingan ibukota. Kami terus merayap, perlahan kadang menanjak dan terkadang menurun. Kadang lurus dan menemui belokan. Dalam hatiku selalu berdoa agar tidak ada bertemu dengan orang lain di perjalanan. Hanya sekali bertemu seorang laki-laki paruh baya membawa bambu panjang. Aku berhenti membiarkan dia lewat duluan. Sementara tanganku menarik laci depan dan mengeluarkan sepucuk pistol.
"Kau punya pistol dok?" Tante Erlinda kaget.
"Iya tante. Profesi kami termasuk salah satu yang mendapatkan izin dari instansi berwenang." Aku menjawab santai.
"Masa sih, bagaimana bisa mendapatkan itu?" Tante Erlinda seperti bergidik ngeri.
"Dulu kan saya pernah hampir dibegal tante, makanya bang Zamy mengurus ini." Deg! Menyebut nama bang Zamy aku kembali bergetar. Kemana dia? Kenapa dia tidak mengaktifkan nomor teleponnya.
"Sulit ya mendapatkan itu?" Tante Erlinda kembali bertanya.
"Lumayan ribet sih tante. Dulu Naura menjalani tes kesehatan fisik dan mental untuk menghindari penyalahgunaan senjata api." Aku sedikit menjelaskan.
"Owh."
****
Tak ada obrolan lagi. Setelah sekian lama melewati hutan di jalanan yang sempit akhirnya kami menemukan sebuah rumah kebun yang tidak begitu besar. Halamannya luas penuh dengan hasil bumi. Ada nanas baru dipanen sekitar tiga ribuan buah. Di sebelahnya ada berkarung-karung cabe juga mentimun dan tomat. Aneka sayuran, pare dan kacang panjang juga memenuhi halaman rumah kayu itu. Aku dan tante sepakat berhenti di sana. Tante Erlinda berkali-kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Aku turun, mengunci mobil dan mengikuti tante berjalan menuju rumah papan tersebut. Ada asap mengepul dari sana. Suara balita tertawapun mulai terdengar.
"Permisi...! Assalamualaikum...." Aku mendekati rumah kayu di tengah perkebunan itu. Agak lama kutunggu namun tidak ada sahutan.
"Permisi assalamualaikum...." Aku semakin mendekat ke arah rumah.
"Waalaikumsalam.... cari siapa?" Tiba-tiba keluar seorang wanita sepantaranku. Aku terkesiap. Darahku seakan mengalir semua ke atas kepala. Rasa tidak percaya aku melihatnya. Mengapa bisa terjadi? Aku mencubit lenganku berkali-kali dan terasa sakit. Aku sedang tidak bermimpi. Ini nyata. Aku sedang berada di perkebunan dan melihat seseorang yang begitu mirip denganku. Tante Erlinda juga terpesona. Dia berkali-kali melihat ke arahku bergantian ke arah wanita yang barusan menjawab salamku. Hidungnya, matanya, alisnya, bibirnya, keningnya, pipinya, aku sendiri merasakan seolah-olah sedang melihat aku sendiri berdiri di sana. Di rumah papan sederhana, di tengah hutan.
"Cari siapa ya bu?" Wanita itu mengulang bertanya. Aku masih menatapnya. Begitu juga dengannya. Kulihat dia sedikit bingung melihat wajahku yang sama persis dengannya. Hanya berbeda postur tubuh. Dia agak kurusan dengan kulit sedikit gelap mungkin karena berkebun. Raut wajah dengan lipatan lebih banyak dari wajahku, dokter Naura.
"Nindyaaa.... Apa tengkulak sudah datang?" Tiba-tiba saja aku mendengar suara seorang perempuan dari dalam rumah. Tante Erlinda seketika mendekat ke teras rumah kayu. Kepalanya melongok ke dalam.
"Cari siapa ya bu?" Agak kesal wanita yang dipanggil Nindya itu kembali bertanya.
__ADS_1
"Apa itu tadi suara Mira? Miranti?" Tante Erlinda langsung bertanya. Nindya menatap tante Erlinda tajam. Bergantian menatapku.
"Siapa kalian?" Ada keperluan apa?" Nindya bertanya tak senang.
"Aku ingin bicara sama Mira..., penting sekali." Tante Erlinda memohon. Tak ada lagi keberingasan yang ditampakkannya seperti sebelumnya saat di rumah sakit tadi.
"Nindya.... Apa tengkulaknya nawar harga murah lagi?" Kembali terdengar suara dari dalam.
"Tidak ibu. Ada orang minta bibit pepaya kalifornia." Nindya berbohong.
"Oh..., Aku kira tengkulaknya sudah datang."
"Bukan ibu." Nindya menjawab lagi.
"Apa yang minta bibitnya bukan dokter yang ke sini tadi? Bukan dokter Zamykah? Tolong angkat ibu kalau Zamy yang datang." Deg! Lagi-lagi jantungku serasa mau copot mendengar kata dokter Zamy. Bagaimana mungkin keluarga ini mengenalnya. Ah sudahlah, mungkin orang lain. Tapi dokter Zamy di kota Pangkalpinang kan cuma hanya ada dia. Aku kebingungan.
"Kenapa kalian ke sini? Siapa yang kalian cari?" Nindya menarik tangan tante Erlinda agar menjauh dari rumah.
"Aku ingin bicara sama Miranti. Sebentar saja. Tolonglah. Aku bisa mendengar suaranya."
"Apa keperluan kalian? Tolong jangan ganggu kami." Nindya semakin tak senang.
"Kami sebentar saja. Aku hanya butuh konfirmasi sesuatu yang sangat penting kepada Mira. Tolonglah." Tante Erlinda memelas. Tiba-tiba datang sebuah mobil yang di dalamnya turun Nina dan keluarga yang di rumah sakit tadi, juga pak Direktur dan sopir. Mereka mendekat.
"Nindya? Apa itu mobil tengkulak nak?" Kudengar lagi suara perempuan dari dalam rumah.
"Iya ibu, ibu tidurlah, kami mau nego harga." Nindya berbohong kembali. Pak Ram mendekat ke arah kami disusul yang lainnya.
"Ada apa Linda? Apa yang kau khawatirkan? Mengapa kau sampai pergi ke hutan seperti ini?" Pak Direktur yang masih agak pucat wajahnya bertanya. Dia berjalan perlahan mendekati tante Erlinda. Nindya menoleh ke arah pak Ram. Pak Ram terkejut melihat Nindya yang begitu mirip denganku. Semua saling tatap keheranan.
"Ini siapa? Kenapa mirip sekali dengan dokter Naura?" Pak Ram bertanya. Nindya hanya diam, matanya menatap tajam ke arah pak Ram. Seperti seekor elang yang sangat kelaparan, sepertinya ia ingin sekali menerkam pak Ram dengan mata dan giginya yang bergemerutuk.
"Nindya apa tengkulaknya minta harga murah lagi nak?" Dari dalam rumah kembali terdengar suara seorang wanita. Pak Ram terkejut. Seketika dia mengarah berjalan ke arah suara.
"Hey bapak yang hebat. Kau tidak punya izin memasuki rumahku, walaupun rumahku kecil dan jelek." Nindya tiba-tiba menahan langkah pak Ram dengan kakinya. Pak Ram terjerambab dan jatuh ke jemuran bibit leuncah di halaman rumah.
"Papa!" Dokter Nina menangkap pak Ram.
"Hey..., jangan kasar kepada papaku..., atau kau mau dipenjara?" Dokter Nina emosi.
"Nindya...? Kenapa nak? Apa tengkulak ngutang lagi?" Kembali suara seorang wanita dari dalam rumah. Pak Ram berlari ke arah rumah namun lagi-lagi dihalangi Nindya. Bahkan Nindya sudah mengambil sebuah parang di samping pintu.
"Silahkan masuk pak. Silahkan. Aku tidak segan-segan akan membunuh orang yang mencoba mengusik kehidupan kami lagi."
"Hey lepaskan parangmu! Jangan coba-coba menyakiti papaku. Atau kau akan membusuk di penjara." Dokter Nina bicara lantang. Pak Ram hanya memberi kode agar dokter Nina diam.
Nindya.... Nindya.... Nindya kenapa ribut sekali nak?" Lagi-lagi suara perempuan dari dalam rumah terdengat.
"Nggak apa-apa ibu. Hanya suara mereka yang minta bibit sedang bercanda. Ibu tidurlah." Nindya berlari ke arah pintu. Lantas dia menutupnya dari luar.
"Ibu, apa yang sedang ibu lakukan di sini. Ayo kita pulang." Dokter Nina mnyarankan. Dia menarik kedua lengan ibu.
"Kau pulanglah dulu nak. Ibu masih ada urusan dengan Mira...." Tante Erlinda menjelaskan.
"Mira? Apa Mira ada di dalam?" Pak Ram antusias. Wajahnya gugup dan pucat.
"Mira saja pikiranmu. Anak kandungmu kemana hah? Kau tahu? Golongan darah Ninamu itu bukan A atau O tetapi B. Kau ingat? Darahmu dan darahku adalah A. Nina bukan anak kandung kita. Kau tau Ram?" Tiba-tiba tante Erlinda mencak-mencak marah ke pak Ram. Dia kaget dan mengernyitkan alis berkali-kali melihat dokter Nina dan tante Erlinda berulang-ulang. Sementara dokter Nina yang tidak menyangka mamanya akan berkata seperti itu begitu terpukul. Dia menitikkan air mata.
"Hey Mira.... Aku tahu kau ada di dalam keluarlah. Aku ingin bicara denganmu. Sekali saja. Keluarlah." Tanye Erlinda berteriak namum tidak ada suara menyahut dari dalam rumah.
"Pergilah.... Pergilah semuanya tolong. Jangan ganggu ibuku. Jangan ganggu keluargaku. Biarkan kami hidup dengan tenang." Nindya memohon kepada semuanya. Dia benar-benar memohon.
"Nindya..., kenapa semakin ribut? Ada apa nak?" Suara perempuan dari dalam rumah kembali terdengar.
"Tidak apa-apa ibu."
"Miraaa...! Ini aku Erlinda. Kau masih ingat? Aku Erlinda ingin bicara denganmu." Tiba-tiba saja tante Erlinda mengagetkan semuanya. Dia berteriak agar didengar langsung dari dalam rumah. Nindya berusaha menutup mulut tante Erlinda namun sia-sia saja.
"Keluarlah Mira! Atau aku akan masuk." Tak ada sahutan lagi.
"Keluar Mira..., Kau tukar dengan siapa anak kandungku di rumah sakit dulu hah? Keluarlah!" Mata tante Erlinda mulai berkaca-kaca lagi. Pak Ram hanya diam mematung. Dia masih memandang dokter Nina, Nindya dan aku berganti-ganti.
"Mira! Keluarlah! Aku tidak akan memperkarakanmu. Tapi katakan saja, kau tukar dengan bayi siapa bayikuuu dulu...." Tante Erlinda meraung-raung. Tak lama kemudian Nindya membuka pintu.
"Masuklah, karena kalian tetap tak ingin pergi saat kuusir." Lalu tersibaklah ruangan rumah papan itu. Nampak ruang tamu yang hanya ada tempelan sebuah kalender bergambar walikota saat ini. Di beberapa sisi dinding papan terpajang beberapa foto berbingkai klasik. Di bagian ujung ruangan nampak seorang wanita berbadan kurus dengan rambut terurai tak rapi. Dia mengenakan daster dan kain lusuh. Di kakinya menempel sepasang sendal jepit tak lagi baru. Dia duduk di kursi kayu menghadap kami di pintu masuk. Sebuah tongkat berada di dekat lututnya. Wanita itu lumpuh. Dia seusia ibuku dan tante Erlinda. Tiba-tiba saja pak Ram terduduk lemas dan menangis di pangkuan sopir pribadinya.
__ADS_1