Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 69 Lamaran Dadakan


__ADS_3

Setelah sempat mampir ke rumahnya pengacara kakek, mereka pun tiba di rumah sekitar jam sebelas siang. Mbak Nindya yang akan membukakan pintu dapur dibuat heran karena melihat ada ember putih berisi ikan hidup di teras pas depan pintu.


“Kenapa nak?” Tante Mira yang berjalan dengan berpegang pada lengan papa bertanya melihat raut wajah mbak Nindya yang seketika seperti kebingungan.


“Ini ada banyak ikan bu, siapa yang telah mengantarnya ya?” Nindya selesai membuka pintu dan membantu ibunya naik ke teras dan duduk di kursi kayu panjang.


“Waduh banyak sekali ini Nin, siapa yang baik hati sekali mengantarkan ini ya.” Tante Mira mulai memegang satu per satu ikan yang menggelepak-gelepak karena terkejut. Air di ember muncrat-muncrat ke wajah tante Mira. Kemudian Papa datang sehabis menutup separuh pintu teralis.


“Ikan apa?” Papa melongok ke ember sambil mengipas-ngipaskan kopiah hitamnya ke dada dengan baju berkancing sudah dibukanya karena kepanasan.


“Ikan gabus, lele dan selincah yah, banyak sekali ini.” Mbak Nindya menjawab sambil menunjuk-nunjuk ke dalam ember.


“Wah enak ini ikan gabus buat diolah pempek lagi….” Papa berjalan menuju ke dalam rumah.


“Iya enak sih, tetapi heran saja, siapa yang sudah ngasih.” Mbak Nindya bicara lagi. Dia memegang ember dan memiringkannya ke arah lebih terang. Nampak ikan itu berkeciprak ramai. Mbak Nindya membuang airnya dan membuka kran, mengganti airnya dengan air baru.


“Kenapa heran? Kalau ayah langsung tahu ini siapa yang nganter….” Papa bicara dengan yakin. Dalam benaknya hanya menduga satu orang yang akan berbuat begitu, dia adalah Fathur yang sudah dikenalnya dengan sangat baik. Sosok yang sangat penyayang dalam pandangannya dan dia pun sudah bisa menangkap sinyal-sinyal yang dipancarkan dari sikap dan tingkah laku ke anaknya yang sudah lama menjadi janda.


“Siapa?” Mbak Nindya bertanya bingung. Kedua tangannya berkacak pinggang di depan ember.


“Ibuuuu…, kakek…., nenek….” Tiba-tiba Annisa turun dari motor dan berlari ke arah mereka.


“Tuh pasti dia yang habis mancing, di belakangnya saja masih ada nampak tas pancing dengan joran menyembul.” Papa bicara sambil memberi kode agar dengan tangan kanan supaya bang Fathur datang mendekat.


“Tolong buatkan kopi Nin, Tanya tuh Fathur mau minum apa.” Papa bicara kepada mbak Nindya yang masih menatap bang Fathur dari kejauhan. Dia turun dari motor dan melepaskan helm, lalu berjalan mendekati Papa yang sudah tersenyum ramah menyambut kedatangan duda keren itu.


"Mancing dimana dapat ikan begitu banyak?" Papa langsung menebak.


"Di kebun bapak. Saya paling malas tidak ada kegiatan pak. Teman juga belum begitu banyak yang ketemu lagi di Pangkalpinang ini. Jadi ya mendingan pergi mancing." Bang Fathur bicara ramah sekali. Senyumnya selalu mengembang saat berbicara.


Dia lagi mencuri hati calon mertua....


"Nanti kapan-kapan kita mengajak teman bapak, ada yang punya kapal, kita mancing ke tengah laut." Papa menjanjikan.


"Wah, boleh itu pak, saya memang dari remaja dulu suka sekali mancing." Bang Fathur melanjutkan obrolan dengan papa. Mereka nampak akrab sekali. Dari cerita pancing, hingga ke mafia, shabu dan musim durian menjadi bahasan seru mereka.


*****


“Bu, Annisa senang sekali hari ini, om Fathur membawa Nisa jalan-jalan keliling Pangkalpinang. Beli es krim, beli pizza dan ini ada baju baru. Kata omnya kalau sudah tidak ada lagi virus corona Nisa akan diajak keliling Jakarta. Nisa sangat senang kalau bisa ke Jakarta bu.” Nisa memeluk ibunya, di tangannya tergantung kantong plastik khas butik dengan baju baru di dalamnya. Matanya berbinar semangat saat bercerita. Kepalanya mendongak melihat wajah ibunya yang masih tak lepas menatap bang Fathur yang bahkan tidak menyapanya sama sekali. Dia perlahan berjalan mendekat.


"Bu, ibu, ibu mau lihat bajunya tidak?" Nisa menggoyang-goyangkan tangan mbak Nindya.


"Eh mau dong, bawalah dulu ke dalam sayang, nanti ibu lihat." Mbak Nindy berjalan mendekati bang Fathur.


“Maaf pak, mau minum apa….?” Mbak Nindya bertanya ke bang Fathur, namun matanya menatap lantai dan kaki bang Fathur yang bergerak-gerak menunggu papa yang lagi ke dalam mencuci kaki dan tangan. Bang Fathur hanya diam saja. Dia malah mengeluarkan handphone dan dompet di saku celana yang dirasanya mengganjal saat sedang duduk. Dompet dia letakkan ke atas meja, sedangkan handphone masih di tangannya.


“Pak…, Pak…, Bapak mau minum kopi apa teh atau lainnya?” Mbak Nindya bertanya lagi. Kedua tanganya saling menyikut sendiri, matanya dia paksakan menatap ke arah bang Fathur yang menatapnya sesaat lalu kembali melihat handphonenya, dia seakan tak mau peduli. Mbak Nindya menahan nafas dalam, lalu dengan segala keberanian dia mencoba berkomunikasi seperti yang selama ini diminta bang Fathur.


“Bang Fathur, saya mau membuat kopi untuk ayah, abang mau minum apa?” Mbak Nindya merasakan malu hingga ke ubun-ubun telah memanggilnya abang. Sungkan sekali rasanya ketika dia memanggil abang atau nama saja kepada orang yang dianggapnya sangat hebat dan terpelajar. Mendengar hal itu, bang Fathur seketika merubah duduknya lebih tegak dan menatap mbak Nindya dengan ramah.


“Begitu dong Nindy, jangan memanggilku pak-pak-pak terus. Memangnya aku guru kelasmu.”


“Iya pak.” Spontan mbak Nindy bicara sambil mengangguk. Bang Fathur menarik bahu, menghela nafas berat.


“Lhooo.... kok pak lagi sih Nin….?” Bercampur kesal bang Fathur gerigitan mendengarnya.


“Aku sangat sungkan pak.” Mbak Nindy tersipu menjawab.


“Apa yang bisa merubah panggilan itu?” Bang Fathur kesal dibuatnya.

__ADS_1


“Entahlah.” Mbak Nindya mencoba tersenyum, getir karena merasa serba salah dan malu baginya.


“Apa yang kira-kira bisa membuatmu tidak sungkan lagi kepadaku Nin?” Bang Fathur mengulangi pertanyaannya, dia mencoba bertanya dari hati ke hati dengan nada lembut namun menyentuh hati, dia begitu malas mendengar Nindya memanggilnya dengan pak-pak-pak terus, Nindya bukan mahasiswanya. Mbak Nindy masih tak mampu menjawab. Padahal hatinya mengatakan, dia tak pantas mencoba mensejajarkan posisinya dengan orang-orang yang dianggapnya jauh lebih segalanya darinya.


“Lihat mataku, lihatlah, aku bukan dosenmu, aku bukan atasanmu, panggil aku Fathur. Fathur saja, cukup Fathur kok Nin tanpa pak.” Bang Fathur naik turun intonasi suaranya.


“Iya pak.” Kembali kebiasaan itu tidak pergi juga. Bang Fathur menghela napas panjang.


“Baiklah nak, buatkan bapak kopi yang sama seperti kopi bapakmu.” Bang Fathur bicara cepat sambil kembali menghela napas dalam. Alangkah susahnya hanya menyuruhnya memanggil dengan nama saja tidak bisa, kenapa harus pak, pak, pak dan pak. Dia bergumam dalam hati. Mbak Nindya mengangguk dan berlalu ke dalam.


*****


“Bagaimana kabarnya kamu nak?” Papa sudah balik dan duduk kembali di sebelah bang Fathur dengan membawa sepiring ubi goreng. Tante Mira dengan sigap langsung menggoreng ubi yang memang sudah siap di dalam kulkas.


“Alhamdulillah pak sehat.” Bang Fathur menjawab ramah.


“Sudah mulai beraktivitas di kampus?” Papa bertanya lagi.


“Belum pak, masih menunggu sebentar lagi. Oh ya bagaimana kabar putusan pengadilan pak?” Bang Fathur bertanya serius ke papa.


“Ya Alhamdulillah Irwan sudah dihukum sesuai dengan kesalahannya. Dia dalang penculikan dan semua bukti memberatkannya, ditambah lagi dengan pengaduan bapak, dia semakin tidak bisa mengelak.” Papa menjelaskan.


“Apa pihak sana sudah menerima putusan pak?” Bamg Fathur masih ingin tahu.


“Sepertinya iya, saya merasa mereka tidak akan berani macam-macam karena kalian juga keluarga dekat pak Wakapolri. Inilah enaknya kalau ada kenalan punya kerabat pejabat. Hehehehe...." Papa terkekeh senang.


“Dunia ya pak, dukungan itu masih begitu diperlukan untuk sebuah kasus.” Dengan nada datar bang Fathur berpendapat.


“Iya ini karena hukum kita masih bisa dijualbelikan.” Papa berspekulasi juga.


“Saya rasa begitu.” Bang Fathur kembali menjawab dengan nada datar.


“Kopinya yah, pak silahkan diminum.” Mbak Nindy menyebut pak untuk ke sekian kalinya.


“Terima kasih.” Bang Fathur berterima kasih dengan mata tajam menatap sekujur tubuh semampai yang bersuara begitu lembut. Dia merasakan debaran indah di hatinya. Andai saja mbak Nindya mau mengerti sedikit saja maksud hatinya, dia tidak akan merasa tidak nyaman begini.


“Minum nak.” Papa mengangkat gelas kopi dan menyeruputnya penuh kenikmatan. Bang Fathur ikut mengangkat gelasnya dan baru saja sehirup dia seruput, dia berdiri terbatuk-batuk dengan wajah ciut. Bang Fathur berlari menjauh dan membuang sisa-sisa kopi yang masih pahit terasa di lidah dan tenggorokannya.


“Kenapa nak? Kopinya tidak enak? Ada sesuatu?” Papa menahan senyum bertanya.


“Bukan pak. Hanya saya memang tidak tahan kopi tanpa gula.” Bang Fathur menjawab jujur.


“Oalaaa…, kenapa kamu minta kopi tanpa gula? Kalau bapak memang sudah biasa, menjaga agar tidak terkena diabet. Maklum sudah tua…. Hehehe….” Papa terkekeh melihat wajah kusut bang Fathur.


“Nindy….” Papa kemudian memanggil mbak Nindy yang segera datang dengan berlari-lari kecil.


“Iya ayah.”


“Kan ayah bilang tanya si Fathur mau minum apa…, kenapa dibuatkan kopi pahit juga….” Papa terkesan menyalahkan mbak Nindya.


“Dia yang minta yah, katanya samakan saja dengan kopi ayah.” Mbak Nindya menjawab sambil tersenyum menunduk. Bang Fathur semakin berdebaran melihat senyum itu. Dia tidak tersenyum sama sekali, hanya menyeimbangan irama hati dengan matanya yang semakin tertantang menaklukan wanita lemah lembut ini.


“Bapak mau ke kamar mandi dulu sebentar nak, permisi ya. Eh Nindy kau ulangi nak, kalau menanyai tamu itu harus benar-benar ya…, nak Fathur bilang saja mau minum apa.” Papa pergi meninggalkan mereka berdua lalu menuju ke kamar mandi.


“Maaf pak, Nindy tidak tahu kalau bapak bakal muntah-muntah begitu, bapak kan yang bilang kalau mau minuman yang sama dengan minuman ayah.” Mbak Nindy menahan senyum mendekati bang Fathur yang sudah duduk kembali dengan wajah tegang. Dia hanya menatap wanita di hadapannya saja tanpa merasa perlu menjawab.


“Pak, bapak marah ya? Maafin Nindya ya pak.” Wajah mbak Nindy berubah agak kaku, dia memang sangat mengkhawatirkan kemarahan laki-laki yang sangat berkharisma di matanya. Jangankan seorang dosen gelar S2, seorang guru honor di SD tamatan SMA saja mbak Nindya sudah takjub.


“Maaf ya pak, Nindya sangat menyesal. Saya buatkan bapak segelas kopi susu hangat saja ya….” Mbak Nindy mengangguk kemudian memutar badan akan ke dalam. Di hatinya ada rasa kecewa bang Fathur tidak menjawab sama sekali, dan dia juga sangat mengkhawatirkan bang Fathur benar-benar marah kepadanya. Namun belum sempat dia melangkahkan kaki, tiba-tiba bang Fathur menarik tangan kiri mbak Nindya yang seketika menurut mendekat ke kursi bang Fathur duduk. Sekejap mata dengan kecepatan kilat, bang Fathur mencium bibir mbak Nindya yang langsung berdiri melepaskan diri, namun tangannya tetap digenggaman bang Fathur.

__ADS_1


“Apa ciuman itu bisa merubah panggilanmu kepadaku Nin?” Dengan nada rendah namun dalam bang Fathur bertanya.


“Apa maksudnya?” Mbak Nindya tidak berani menatap wajahnya. Hatinya berdebar kuat. Jantungnya seakan mau copot mendapatkan ciuman di bibir, bukan ciuman di pipi tanpa sengaja lagi seperti dulu, saat pertemuan kedua mereka.


“Waktu kau diculik, siapa yang menemanimu di kebun hingga kau tertawa bahagia sekali?” Bang Fathur memanfaatkan kesempatan bertanya lagi.


“Itu Dirga, dia membantu menyelamatkanku ketika aku diculik dan akan diganggu mereka.” Mbak Nindya menjawab pelan.


“Aku berharap kau diculik lagi dan aku yang menyelamatkanmu.” Bang Fathur menarik mbak Nindya lagi mendekat. Beruntung teras mereka tertutupi pepohonan rimbun seperti sawo dan rambutan, sehingga adegan seperti film India itu tidak kelihatan dari arah lainnya.


“Apa maksudmu pak?” Mbak Nindya bertanya lagi. Namun dengan gesit bang Fathur berdiri dan mendekatkan wajahnya ke mbak Nindya. Dia bicara perlahan.


“Kau mau tahu apa maksudku? Kau yakin akan mengerti jika kukatakan? Karena jika hanya sekilas saja, kau menganggapku hanya bermain-main saja.” Bang Fathur bicara lagi.


“Aku semakin bingung, lepaskan tanganku nanti ayah keluar dan melihat kita begini…,” Mbak Nindya khawatir.


“Ayahmu bahkan sudah mengerti maksud tatapan, perbuatan dan keinginanku kepadamu Nin."


“Tanganku sakit pak, tolong lepaskan.” Mbak Nindya mencoba menarik tangannya. Namun bang Fathur malah menarik lebih erat mendekatinya. Dia kembali mencium wajah dan bibir mbak Nindya lalu berbisik.


“Dengan ciuman itu, masihkah kau tidak mengerti maksudku Nin….? Aku mencintaimu Nindya, aku merindukanmu, dan aku sangat cemburu melihatmu berduaan dengan laki-laki di kebun itu. Izinkanlah aku menjadi ayah sambung bagi anakmu. Aku sangat menyayanginya….” Bang Fathur lancar sekali mengutarakan isi hatinya. Bahkan air matanya yang bening tanpa sadar mengelilingi ujung-ujung mata, tidak sampai jatuh, namun cukup membuat bang Fathur sedikit berkabut. Dia merasa plong sekali setelah berbicara dari hati. Kemudian perlahan dia melepaskan genggaman tangannya di tangan mbak Nindya. Mbak Nindya tak mampu menjawab, dia segera masuk ke dalam rumah, kembali menghidupkan kompor gas dan membuatkan segelas kopi susu untuk bang Fathur. Entah kenapa, badannya seakan melayang-layang laksana kapas tertiup angin, ringan sekali melebur tinggi, membawa hatinya menembus angkasa raya penuh energi cinta. Dia mencubit lengannya berkali-kali, memastikan bahwa ciuman dan perkataan bang Fathur barusan bukan hanya dalam mimpi. Dia mengaduh sakit, berarti dia berdiri pada sebuah realita. Mbak Nindy tersenyum-senyum sendiri, dia mengelus pipi dan bibirnya yang baru saja dicium bang Fathur. Hatinya berdebar-debar, detak jantungnya seakan berpacu lebih kuat. Dia bahagia sekali mendengar semua hal yang keluar dari mulut bang Fathur. Dia tersenyum simpul sambil mengaduk kopi. Tapi itu tidak berlangsung lama, seketika dia menggeleng. Senyumnya pun kembali hilang. Tidak mungkin dia benar-benar mencintaiku, bukankah ada banyak wanita bergelar sarjana dengan pekerjaan bagus, cantik-cantik, muda-muda yang jauh lebih segalanya darinya. Mungkin dia iseng saja, bukankah kata ibu, karakter laki-laki itu seperti kucing, hidungnya selalu mengendus aroma ikan dimanapun dia berada. Dia kembali menarik nafas dalam dan perlahan menghembuskannya, menata nafas agar tidak canggung, dia kemudian membawa segelas kopi susu keluar. Papa belum kembali dan memang sengaja memberikan kesempatan untuk mereka berdua berbicara.


“Ini kopi susunya….” Mbak Nindy bicara canggung, tanpa pak dan tanpa Fathur. Bang Fathur kembali melihat ke wajahnya.


“Bagaimana jawabanmu Nin…?” Bang Fathur menatap tajam ke arah mbak Nindya.


“Ayah kok belum kembali ya….?” Sengaja mengalihkan pembicaraan mbak Nindy tidak memberikan jawaban.


“Kau menerima cintaku Nin….?” Tak gentar bang Fathur kembali bertanya.


“Mungkin ayah sakit perut.” Mbak Nindy melanjutkan cerita tentang Papa.


“Kau menolakku?”


“Biasanya dia tidak lama meninggalkan tamu.”


“Kau menikmati ciumanku?”


“Aku akan memanggil ayah.” Mbak Nindy sengaja tidak menjawab pertanyaan bang Fathur. Hatinya berdebar-debar. Dan karena tidak ada respon sama sekali atas pertanyaannya, bang Fathur kepalang tanggung, dia berdiri dan menarik mbak Nindya berdiri di balik dinding dekat pintu sebelah batang sawo yang rimbun.


“Jawab aku, kau menerima cintaku atau tidak Nin?” Dengan gemas bang Fathur bertanya. Matanya sendu menatap wanita yang membuatnya jatuh cinta. Wajah mbak Nindy yang menunduk ditegakkannya dengan mengangkat dagunya yang runcing itu.


“Apa kau sudah serius dengan laki-laki di kebun?”


“Tidak Fathur.” Mbak Nindya menjawab seketika, lidahnya begitu lancar menyebut laki-laki yang membuatnya menjadi semakin grogi saja.”


“Maukah kau membuatkan aku kopi susu hangat setiap pagi? Maukah kau memasakkanku rebusan ubi atau makanan lainnya yang kau buat sendiri? Apapun yang kau sajikan akan kunikmati. Maukah kau melakukannya untukku...?”


“Tidak mungkin ini nyata..., ini pasti hanya mimpiku saja." Mbak Nindya perlahan menjawab dengan suara yanh sangat halus.


"Kau tidak bermimpi Nindy. Kau sedang terbangun, kau sedang berdiri bersama orang yang mencintaimu...." Bang Fathur menjawab sambil sedikit menggoyang-goyangkan kedua bahu mbak Nindya.


"Aku mencintaimu Nindy, aku menyayangi Annisa, menikahlah denganku. Apa kau mau menerima lamaranku ini?" Bang Fathur bicara dengan nada bergetar. Sungguh momen langka, seorang pria melamar seorang wanita saat pulang dari memancing. Mbak Nindya malah menangis.


"Kau menerimaku? Kau mau menikah denganku Nin?" Bang Fathur berbinar-binar bertanya.


"Aku hanya merasa ini masih di alam mimpi." Mbak Nindy menjawab, wajahnya mendongak ke arah bang Fathur yang bertubuh tinggi. Bang Fathur memeluknya dengan perasaan sayang. Lalu perlahan dia menunduk, memiringkan kepala mbak Nindya sejenak. Bibir mereka bertemu dalam gerakan-gerakan lembut, hangat dan mendebarkan, tanpa menyadari ada ujung pistol yang sedang mengarah tajam persis ke arah kepala bang Fathur.


*****

__ADS_1


(bersambung....)


__ADS_2