Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 96 Kedatangan Ibu


__ADS_3

Jumat sore di rumahku.


Cuaca yang panas siang hari, berbanding terbalik dengan di waktu sorenya. Lama tak kunjung hujan, akhirnya sore ini tanah pun basah dengan bau khasnya. Menghapus debu-debu nakal yang hinggap di dedauan. Titik-titik yang lebat itu sukses memenuhkan tiga gentong besar berwarna biru di sebelah garasi samping dapur. Aku pun terkadang malas mengalihkan perhatian, menatap indah menikmati pantulan air hujan dari pot-pot kembang yang tertata rapi. Seekor kucing kampung tiga warna berlari mendekat menumpang berteduh dari dinginnya hujan berangin kencang. Cuaca nampak ekstrem karena sesekali ditingkahi satu dua petir yang menggelegar.


Hujan semakin lebat saja, aku berniat masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, namun nampak seketika di depan gerbang sebuah mobil mau masuk. Lampunya menyala terang tepat menembakkan sinarnya ke arahku berdiri. Tidak jelas mobil siapa karena terhalang lebatnya hujan. Mobil itu sudah membunyikan klakson tiga kali minta dibukakan pintu, namun Fredy masih nampak ragu-ragu dan membuka pintu teralis pagar semuat tubuhnya saja untuk lewat. Dia mengetuk pintu mobil lalu tawanya seketika muncul ketika kacanya diturunkan. Fredy lalu buru-buru membukakan pintu agar mobil bisa masuk. Aku menahan napas karena belum bisa melihat mobil siapa yang datang. Dan beberapa detik kemudian mobil sudah berada tepat di depanku, bukan menuju untuk parkir di garasi. Aku melihat ibu turun dengan sebuah payung kecil menutupi badannya. Dia mengangkat baju gamisnya sampai selutut dan berlari kecil menujuku yang masih ternganga di teras samping.


"Ibu? Kok datang tiba-tiba?" Aku mengambil payung basah yang disodorkannya kepadaku. Sementara ayah, kulihat dia turun dari mobil tanpa payung, dia melompat-lompat saja sambil menutup kepala dengan telapak tangan kiri. Di tangan kanannya nampak memegang kunci mobil.


"Iya ini ibu sayang, kamu kenapa kok seperti melihat hantu begitu?" Ibu melepaskan sepatu Guccinya yang basah.


"Heran saja, ibu bilang kan Minggu depan mau ke sini, tetapi kok tiba-tiba sudah datang, biasanya juga ibu datang konfirmasi dulu." Aku bicara menatap ibu, kemudian sedikit menunduk untuk mengambil sepatu ibu dan membawanya ke dalam.


"Sudah biarkan saja Bee..., nanti ibu bisa mengeringkannya sendiri." Ibu meraih tangan kiriku. Aku pun kembali tegak berdiri.


"Masuk-masuk-masuk, ayo masuk, gelap, kilat, guntur di hujan lebat begini kok bisa-bisanya kamu sendirian di luar." Ibu membawaku ke dalam, kulihat ayah mengambil payung besar di samping pot tanaman hias gelombang cintaku yang hampir semeter di ujung teras, dia kembali ke mobil dan membawa koper besar milik mereka.


"Ibuuu..., ayaaahhh..., mau minum apa? Biar Naura buatkan" Aku bertanya kepada kedua mertuaku sebelum mereka masuk ke kamar.


"Sudah kamu duduk saja, nanti ibu bisa buat sendiri kok." Ibu menjawab. Aku manyun mendengarnya.


"Kopi hitam ya dek." Ayah menoleh ke arahku dengan memasang jempol kirinya.


"Sudah sudah sudah, ganti baju sana, jangan repotkan anak gadisku, nanti ibu bisa buatkan kopi." Ibu malah mendorong ayah segera masuk ke kamar mereka.


"Beda dong bu rasanya, buatan Naura tidak ada tandingan. Segelas tinggi ya naaaakkk....!" Aku masih mendengar suara ayah untukku.


"Siap yah!" balasku sembari menuju dapur. Dari arah belakang kulihat Elza keluar dari kamar. Malam ini dia nampak akan tidur di kamar rumah induk. Suka-suka dia tidurnya, kadang di villa, kadang juga bersama kami.


"Mak Wo datang kak?" Dia bertanya begitu aku mendekat.


"Iya mereka kebasahan. Tolong panaskan lauk kita dek. Mereka mungkin belum makan." Aku meminta pertolongan. Elsa dengan gesit meletakkan handphone di tangannya, menguncir rambut dengan karet gelang dan mulai memanaskan menu lebih yang biasanya kami letakkan di dalam kulkas. Hanya masak asam pedas manis ayam merah alias ayam pramuka. Sementara aku mulai mengaduk-aduk kopi hitam yang diminta ayah. Kusajikan pula di meja makan. Kuletakkan empat roti BB bertabur keju dan coklat. Sejak hamil tua dan mulai cuti aku sengaja nyetok banyak roti di rumah karena sering terjaga tengah malam dan merasakan perut yang lapar.


"Wah harum sekali baunya, ayah lapar nak, kalian ada lauk apa?" Ayah yang sudah rapi dan berganti baju menghampiriku.


"Lauk ayam merah ya, ayah kan suka karena rasanya mirip ayam kampung." Aku menjawab.


"Waw mantap tuh nak. Ayah lapar, tadi belum sempat makan sudah diajak ibumu segera ke sini setelah ditelpon Zamy." Ayah mengambil piring sendiri dan duduk di meja dekatku. Elza mendekatkan lauknya dan aku pun membukakan sebotol air mineral untuk ayah.


"Memangnya Abang bilang apa sama ibu?" Aku bertanya kepada ayah yang mulai menyuap.


"Katanya khawatir...." Ayah mulai menjawab, dia bicara perlahan sambil melirik ibu yang sudah keluar mendekati kami.


"Khawatir Naura melahirkan lebih cepat dari HPLnya...." Ibu yang sudah datang seketika memotong ucapan ayah. Aku sejenak heran, namun mencoba bersikap sewajarnya saja. Kenapa ibu nampak merahasiakan sesuatu. Aku tidak mengerti. Hanya kulihat ibu sembunyi-sembunyi mencubit pinggang ayah, mungkin pertanda harus bicara hati-hati denganku.


*****


Sehabis makan malam, seperti biasa aku, ayah dan ibu duduk di ruang keluarga bagian dalam. Elza sempat nimbrung, namun karena sudah semakin larut dan kami masih asyik mengobrol dia pun segera pamitan untuk tidur ke kamarnya.

__ADS_1


"Kok bisa ibu cuti? Kemarin katanya tidak bisa lagi cuti tahunan karena jatah cuti ASN sudah habis karena WFH kemarin...." Aku bertanya disela-sela obrolan ringan kami. Ibu tersenyum menatapku.


"Untuk menyelamatkanmu apa sih yang ti...,"


"Menyelamatkanku?" Aku memotong, kutangkap makna kata yang janggal terucap tanpa ibu sadari.


"Eeehhh..., menyelamatkanmu? Bukan nak, bukan menyelamatkanmu, maksud ibu menyempatkan mengunjungimu sayaaanggg.... Demi mengunjungi anak ibu yang sedang menunggu cucuku tersayang apa sih yang tidak bisa...." Ibu menjawab. Kutahu, ada yang telah ibu sembunyikan dariku. Potongan kalimat dan melihat caranya menelan ludah saja, aku tahu ibu berbohong kepadaku.


"Apa ibu punya rahasia dengan Naura sekarang?" Aku mulai menyelidik. Kutatap mata wanita yang memelukku hangat puluhan tahun lalu, kala aku dicampakkan orang tak bertanggung jawab di teras rumah ibu.


"Tidak sayang, tidak ada. Namanya sudah tua memang sudah sering ibu salah ucap kata-kata yang agak belibet sekarang." Ibu mencoba meyakinkanku. Ayah sejenak menatapku dan ibu tanpa menyahut, kemudian lanjut lagi nenonton acaranya Sule dan kawan-kawan sambil sesekali melihat layar handphonenya.


Sejenak suasana hening. Ibu yang duduk persis di sebelahku sesekali mengelus perut buncitku sambil memegang erat tanganku. Aku jadi tidak mampu menjelaskan sosok wanita terhebat dalam hidupku ini. Dia seperti ibu kandung di saat berperan sebagai ibu angkat sekaligus ibu mertuaku.


*****


"Ting tong ting tong...."


Tepat jam sepuluh malam kurang tujuh menit bel rumah berbunyi. Ayah beranjak dari kursi dan membuka pintu setelah sejenak mengintip melalui jendela ruang tamu samping.


"Pak paket pizzanya sudah datang." Fredy memberikan dus-dus tipis itu kepada ayah yang nampak sedikit kebingungan.


"Paket pizza?" dengan wajah bingung menatap Fredy, ayah bertanya.


"Katanya pesanan kiriman untuk rumah ini pak." Fredy menjelaskan dengan wajah tak kalah bingung.


"Sudah pergi pak." Fredy tersenyum menjawab.


"Baiklah terima kasih."


Ayah masuk membawa paket empat tingkat dus pizza hut yang belum ada dua bulan buka cabang di kota Pangkalpinang.


"Ibu atau Naura yang pesan pizza?" Ayah bertanya sambil berjalan mendekati kami. Aku dan ibu berpandangan sambil menggeleng. Lalu ibu segera mengambil handphone dan menelpon Bang Zamy.


"Zam, apa Abang yang kirim paket pizza ke rumah?" Terdengar ibu mulai bertanya melalui sambungan telepon.


"Apa? Tidak? Lha kalau begitu ini paket siapa?" Kulihat ekspresi bingung ibu yang menelpon Bang Zamy tanpa loadspeaker.


"Jangan disentuh? Sudah disentuh ayahmu, paling juga jangan dimakan." Dia nampak semakin terkejut.


"Suruh ayah segera cuci tangan?"


"Oke, hati-hati dan segera pulang ya nak."


"Waalaikumsalamwarahmatullah...." Ibu meletakkan handphone dan segera menarik lengan ayah yang masih mematung dengan pizza di tangannya, mereka menuju ke luar.


"Kenapa? Zamy bilang apa?" Ayah bertanya heran.

__ADS_1


"Katanya untuk sekarang jangan disentuh segala bentuk dan jenis paket kiriman tidak jelas. Kan kita tidak ada yang pesan. Disuruh buang saja." Ibu menjelaskan.


"Tapi kan sayang ini, bukankah ibu sudah berhari-hari ngak ngek ngok ngajak ayah ke pizza hut...." Ayah menjawab dengan wajah lugu.


"Ya Allah ayaaahhh..., jiwa pelitmu kenapa kok tiba-tiba bergejolak sekarang?" Ibu mencubit perut ayah yang menurut saja ketika dibawa ibu keluar rumah. Hujan masih lebat. Ibu mengambil pizza di tangan ayah dan melemparkannya keluar rumah melalui pintu samping.


"Bismillah, kursemangai..., jauh-jauhkan bala' di keluarga kami ya Allah." Ibu berdoa sembari menarik ayah untuk masuk kembali dan segera menutup pintu.


"Mulai sekarang jangan terima dan jangan makan kiriman orang, meski dari pasien...." Ibu kembali duduk bersamaku. Aku mengangkat alis dan menarik napas dalam. Benar dugaanku, meski ibu tidak secara terang-terangan mengatakannya, aku yakin pasti sudah ada terjadi sesuatu lagi dalam kehidupan kami. Tebakanku, seseorang sudah mengancam Bang Zamy atas keselamatanku. Aku menatap ibu.


"Bukankah selama ini begitu sering orang berkirim makanan ke rumah ini bu?" Aku bertanya.


"Tapi tidak untuk sekarang. Tidak boleh diterima." Ibu menjawab.


"Apa alasannya?" Aku ingin mengorek sebuah rahasia yang nampak sengaja mereka sembunyikan.


"Intinya ada orang yang kembali mengusik kehidupan kalian. Makanya tidak ada salahnya kita selalu berhati-hati. Tidurlah sayang, bangunkan ibu kalau ada apa-apa denganmu." dengan sayangnya wanita cantik itu kembali memeluk dan mencium keningku. Aku pun menurut dan segera masuk ke kamar pribadiku. Dalam benakku menduga-duga lagi, siapakah gerangan yang masih menyisakan dendam dan tidak menyukai kebahagiaan kami. Ahhh..., aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


*****


Pukul 23.56 WIB


Mataku enggan terpejam, dari pertama masuk kamar, aku bolak balik mencari posisi ternyaman namun susah ditemukan. Telentang, miring kiri, miring kanan namun rasanya belum betah juga. Kubawa sholat sunnah dua rakaat, mengaji sesaat dan kembali rebahan di tempat tidur, namun kantukku tak kunjung datang. Aku kembali membuka handphone, melihat-lihat lagi segala jenis media sosial yang ada, bosan membaca-baca di facebook, kembali ke instagram, melihat-lihat tik tok kemudian ke whatapp, menelusur ke twitter dan melihat-lihat video di telegram, lihat-lihat Lazzadu dan Shopaa, pesan barang COD dan kembali baca-baca artikel di beranda facebook, dan jika bosan aku kembali duduk di sofa lalu menghidupka televisi. Membosankan!!! Sedangkan mataku, masih tak mau diajak kompromi untuk segera beristirahat.


*****


Jam 12 malam lewat, aku benar-benar merasakan kebosanan. Kuambil handphone dan akan menelpon Bang Zamy yang belum juga pulang. Namun saat aku menelponnya kudengar suara aslinya sudah berada di luar kamar. Aku membuka pintu, kulihat ibu dan ayah masih terjaga pula di depan televisi.


"Belum tidur sayang?" setelah meletakkan tas kerja dan mencuci tangannya laki-laki yang mendebarkan saat menatapnya itu sudah mendekatiku. Rambutku dibelainya, dikecupnya pula ubun-ubunku.


"Susah tidurnya, agak kurang nyaman...." Aku menjawab manja.


"Mau dipijitin lagi?" Bang Zamy bertanya kepadaku sebelum menoleh ke arah ayah dan ibu.


"Zamy ke kamar ya bu, yah. Naura masih terjaga." Bang Zamy berpamitan sama ayah dan ibu yang seketika mengangguk. Tangan kanannya terpaut di pinggang sebelah kananku.


"Belum ada kontraksi sedikit pun?" sambil berjalan dia bertanya kepadaku. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Masih aktif kan dedeknya?" Dia bertanya lagi.


"Masih...." singkat saja aku menjawabnya.


"Mudah-mudah dimudahkan Allah nanti buat lahiran spontannya ya sayanggg...." sambil berjalan dia mengelus-elus rambutku lagi.


"Aamiin" Aku mengaamiinkan doa sang kekasih hati. Kami pun menuju peraduan. Bercengkerama lagi dan sesaat melupakan jika ada sebuah rahasia yang sepertinya sengaja mereka sembunyikan dariku. Malam beringsut naik, menyongsong pagi tuk hadir kembali. Memberikan harapan baru kepada mahkluk-mahkluk yang tersebar di muka bumi.


*****

__ADS_1


(bersambung.)


__ADS_2