Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 50 Lelaki Asing


__ADS_3

Aku perlahan membuka mata saat mendengar kebisingan. Kulihat bang Zamy duduk di sisiku, ibu berjongkok memegang betisku dari sisi sofa. Bang Rahman berdiri saja menatapku cemas.


"Dia sudah siuman, Rahman tolong ambilkan gelas teh hangat itu." Ibu menunjuk gelas teh hangat yang ada di atas bufet kamarku.


"Naura kenapa bang?" Mencoba bangkit, namun aku merasakan denyutan di kepala.


"Berbaring saja dulu, adek baru saja pingsan, mungkin kelelahan." Bang Zamy menahan pundakku yang bersiap tidur kembali.


"Minum nak, minumlah sedikit." Ibu menyodorkan gelas teh hangat yang baru diambil bang Rahman. Aku kembali duduk perlahan. Sedikit berkunang-kunang namun tetap kupaksakan. Setelah agak sadar aku menatap koper kami sudah siap seperti akan pergi. Bukankah kami akan pulang dua hari lagi?


"Mengapa kopernya diletakkan di sana bang" Aku bertanya ke bang Zamy yang seketika tersenyum kecil menatapku, tangannya mengelus anak-anak rambutku. Kemudian dia memandang ibu dan bang Rahman sesaat. Lalu kembali fokus menatap mataku.


"Abang ada panggilan mendadak dari direktur. Di musim lebaran, manajemen dan aturan sedikit terabaikan. Pasien semakin banyak, tenaga medis pun semakin banyak yang bertingkah." Bang Zamy menjelaskan. Ibu menatap bang Zamy sejenak lalu berdiri. Di pintu ruang tamu terdengar salam, datang lagu tamu, satu rombongan staf dari kantornya ibu.


"Ibu ke depan ya, kasihan ayahmu mati gaya menerima sahabat-sahabat ibu sendirian. Ibu pergi meninggakan aku yang merasa aneh dengan tatapan ibu barusan.


"Memangnya adek pingsan berapa lama?" Aku bertanya lagi kepada bang Zamy sambil mencoba turun dari kasur, aku ingin ke kamar mandi.


"Bee...," Bang Zamy seperti ragu bicara.


"Ingat selalu kamu lagi hamil ya sayang...."


Selalu ingat kok bang, kenapa?" Aku tetap ke kamar mandi karena bang Zamy tak langsung menjawab pertanyaanku barusan. Setelah aku keluar dari kamar mandi, bang Zamy sudah berdiri menungguku di dekat pintu.


"Ayo bersiaplah kita akan ke Pangkalpinang." Perlahan dia bicara. Aku menatap heran.


"Baru juga jam sebelas kurang bang, ini kan hari lebaran, bukannya kita akan kembali dua hari lagi."


"Abang ada urusan."


"Mendadak sekali?"


"Eh anu, sebenarnya begini Bee..., eehhhmmm, begini duduklah lagi." Bang Zamy mendudukkanku lagi di bibir sofa.


"Sayaaaanggg..., sebenarnya, saat kamu pingsan, ada yang menghubungimu...."


"Siapa?" Aku keheranan.


"Katanya dari keluarga mamamu."


"Masalah apalagi?"


"Anu yang..., mamamu."


"Kenapa dengan mama? Dia ngamuk-ngamuk lagi?" Sejenak bang Zamy diam mendengar tanggapanku. Matanya menatap mataku untuk meyakinkan bahwa informasinya tidak akan menggangguku.

__ADS_1


"Mamamu baru saja meninggal dunia dengan gantung diri di kamar mandi tahanan perempuan." Bagaikan petir di siang bolong saat aku mendengarnya. Tak kuasa kutahan air mataku. Aku menangis.


"Mama..., mengapa menghindari masalah dengan cara yang sangat pengecut...." Air mataku tak henti menetes. Bang Zamy memelukku.


"Menangislah..., menangislah sampai puas. Dan bila sudah selesai, kita akan segera pergi ke Pangkalpinang. Keluarga mamamu, menunggumu sebelum dimakamkan." Aku segera berdiri menuju kamar mandi. Mencuci muka dan berganti baju. Kukenakan pakaian gamis hitam gelap berlist emas dan kerudung warna senada.


"Ayo bang, kita segera pergi."


"Baiklah. Jaga perasaanmu. Abang tahu Naura pasti shock berat. Tetapi ingat janinmu, ingat ada jiwa lain yang perlu diperhatikan."


"Aku mengerti." Lalu kami segera bergegas menuju Pangkalpinang. Pemakaman akan dilakukan ba'da Dzuhur, pesan keluarga mama, jika ingin melihatnya datanglah sesegera mungkin.


"Hati-hati Zamy, konsentrasilah mengemudi. Sore atau malam mungkin kami akan takziah." Ayah mengingatkan. Dia kemudian mencium keningku.


"Sabar ya sayang. Semuanya sudah terjadi." Ayah bicara kepadaku. Aku hanya mengangguk sedih.


*****


Butuh waktu hampir satu jam setengah, akhirnya kami tiba di rumah mama yang di Kampak. Dia dibawa ke rumah ayahnya (Kakekku-mantan Gubernur Babel dua periode). Sesampainya di dekat rumah dimaksud, bang Zamy mencari tempat parkir. Hampir dua ratus meter dari rumah, telah terparkir banyak sekali kendaraan dan pajangan karangan bunga. Aku gelisah. Aku merasakan kesedihan yang luar biasa. Andai saja aku segera mengiyakan ketika bang Zamy memberikan pilihan mencabut gugatan. Mungkin saja mama tidak akan bunuh diri. Setelah dua menit mencari-cari, akhirnya kami mendapatkan tempat parkir, ketika sesaat menunggu pelayat yang lain mengeluarkan mobil mau pulang. Aku turun perlahan mengenakan kaca mata hitam menutupi mataku yang bengkak. Ini adalah pertama kalinya aku memasuki rumah yang seperti sebuah istana. Rumah mewah dengan ornamen klasik bertebaran di penjuru halaman. Di sebelah utara sebuah kolam renang bak kepunyaan para artis, ada aneka kembang mahal di tamannya. Para pelayat rupanya mengenaliku. Mereka yang menjaga jarak dan rata-rata mengenakan masker sepertiku seketika menyingkir.


"Anak almarhumah datang, kasih jalan." Aku berjalan tertatih, mataku semakin kabur karena air mata. Kulepas sesaat kaca mata dan kulap dengan tisu. Aku merasakan semua sudut mata mengikuti langkahku. Seakan semua mulut bicara menyalahkanku dalam diam. Seakan semua pelayat yang datang mencibirku. Bang Zamy memegang erat tanganku.


"Lewat sini bu..." Seorang ibu mengarahkanku masuk. Aku mengikuti masuk ke ruangan besar dan mewah. Ada telivisi dengan layar OLED 88 inci 8K pertama di dunia. Telivisi dengan resulusi 33 juta piksel ini menambah kemewahan rumah orang tua mama. Dan di tengah-tengah ruangan itulah, aku terpaku mendapati wanita cantik yang sering berlaku semena-mena di rumahku. Aku duduk, perlahan kusingkap wajahnya, kucium sambil memeluk bahunya. Dadaku sesak, sungguh sesak. Andai saja kupeluk dia di saat kemarahannya membuncah, bisa jadi irama emosinya akan merendah. Andai saja di saat dia kesepian ditinggal papa, aku membuka diri, menerimanya apa adanya. Memaafkannya seikhlas-ikhlasnya. Andai saja di saat dia kebingungan sendirian melangkah, aku menuntunnya, membantu memberi jalan, bergandengan tangan bersama melangkah. Andai saja di saat dia terluka, aku datang mengobati hatinya yang pilu, andai saja aku bisa memenangkan pergolakan jiwanya yang kerontang mungkin dia masih bisa membentak dan marah-marah kepadaku. Mama..., mengapa tak ada waktu bagi kita berceritera tentang indahnya hidup. Mengapa di saat bertemu kita selalu saja terlibat masalah. Aku tak begitu mengenalmu, namun kepergianmu telah menorehkan luka yang dalam. Sesalku mungkin berkepanjangan. Bang Zamy mengangkat badanku yang bergoncang terisak-isak. Tangisku pecah. Aku merasakan kerinduan yang sangat langka. Kupeluk wanita yang sudah dikafani itu. Kuciumi lagi. Kuucapkan maafku berkali-kali. Namun wajah itu telah kaku. Matanya terpejam dengan bibir beku. Aku masih menangis.


"Nak..., kaukah Naura? Kita bahkan belum pernah berjumpa. Berhentilah menangis. Usap air matamu. Inilah pilihannya." Laki-laki tua berparas rupawan di masa mudanya. Dengan rambutnya yang sudah beruban dan gigi putih bersih menepuk pundakku perlahan sembari tersenyum.


"Aku ayahnya mamamu. Kakekmu nak. Kakekmu yang sebenarnya. Ada surat wasiat untukmu. Ada pula banyak kisah yang ingin kubagi bersamamu. Berdirilah..., berikan ruang kepada mereka untuk langsung menutup wajahnya dengan kain kafan." Kakek mengajakku menjauhi jenazah mama. Petugas masjid yang kesemuanya mengenakan masker melanjutkan menutup wajah mama. Mengikatnya, kemudian mengangkatnya ke keranda. Dia akan disholatkan di ruangan itu juga.


"Pergilah Er..., aku akan mengurusi urusanmu." Kakek berbisik ke keranda bagian kepala mama. Kemudian imam mengambil posisi, para jamaah tanpa memperhatikan protokol covid-19, menyusun saf seperti biasa mulai menyolatkan jenazah mama. Aku ikut di bagian belakang sholat dengan gamis dan jilbabku yang panjang. Selesai sholat aku kembali ke keranda, mengobati kerinduan yang begitu menyesakkan dada.


"Mama..., Naura berjanji akan berkirim doa selalu, di setiap sholat wajibku. Pergilah dengan tenang." Aku kembali menangis. Kemudian sebelum keranda dibawa. Sedikit upacara pelepasan. Kakek mengucapkan maaf apabila mama semasa hidup pernah menyakiti.


"Untuk Ram, Naura, terkhusus lagi ibu Miranti, mohon dimaafkan bila anak kami, almarhumah Erlinda Tifany bin Ezo Manjaya Safar pernah atau sering, bahkan bertahun-tahun lamanya menyakiti hati kalian." Kakek Ezo berpidato singkat.


"Hal-hal yang berkenaan dengan hutang piutang silahkan hubungi kami." Kakek Ezo melanjutkan bicara sambil menitikkan air mata. Aku berdiri persis di sebelah kakek. Bang Zamy berdiri mendampingiku dari belakang. Berulang kali aku memutar mata, mencari-cari sosok nenek. Namun tidak ada. Hanya ada nampak bagian keluarga yang berparas cantik-cantik dan ganteng-ganteng, putih berhidung mancung. Mungkin nenek sudah meninggal, aku bergumam kecil saat kakek membacakan surat wasiat mama. Beberapa pelayat berbisik dan menatapku. Aku tak bergeming, mereka hanya bisa melihat kulit luarnya mama, tidak dengan sifat dan sikapnya yang asli. Aku kemudian mengalihkan pandangan, mencoba memutar pandangan mencari kemungkinan ada sosok yang kukenali. Nampak papa berdiri di barisan pelayat paling belakang. Dia mengusap-ngusap matanya yang basah dengan ujung lengan baju yang dikenakan. Lama aku menatapnya, namun papa tak kunjung menatapku, dia terus menunduk dan menahan isak tangis. Kemudian mataku sepintas berkeliling lagi, dan tak sengaja aku melihat seorang laki-laki seumuran bang Fathur terus saja memandangiku. Saat bertemu mata dia bukannya mengalihkan pandangan, namun tersenyum penuh misteri. Batinku menghardiknya. Sungguh tak punya hati di hari berkabung, dia sempat-sempatnya berkali-kali mempertontonkan gigi putihnya kepadaku. Aku mencoba untuk tidak mempedulikannya. Namun instingku mengatakan dia terus menatapku. Tetapi dia duduk di barisan pelayat, artinya besar kemungkinan dia bukan bagian dari keluarga yang kaya raya ini.


****.


Setelah sekitar sepuluh menit berpidato, kakek mengakhiri. Lalu keranda mama dibawa ke area belakang rumah besar melalui jalan samping. Di sana nampak berdiri kokoh sebuah bangunan lagi. Rumah santai terbuat dari papan berkelas. Jauh ke belakang nampak tanah yang sangat luas. Estimasiku mungkin sampai sepuluh hektar. Ada nampak beberapa target panahan di tembok yang tinggi. Ada beberapa papan target untuk menembak. Nun di sebelah Utara, ada kandang berisi dua ekor kuda. Dan di tanah kosong itu jugalah, jasad mama akan disemayamkan.


Ratusan pelayat ikut ke pemakaman. Aku dan bang Zamy ikut ke sana bersama. Setibanya keranda di sana, tak ada lagi upacara lain. Hanya kakek mengumandangkan adzan disertai dengan tangisan. Nampak sekali kesedihan di wajahnya. Dia adzan dengan berurai air mata.


Perlahan, jenazah mama dimasukkan ke liang lahat. Aku dipanggil kakek Ezo untuk ikut menabur bunga. Bang Zamy tak ketinggalan. Kemudian aku tulus mendoakan mama agar tenang di sana. Rasa rindu kembali menyeruak. Keinginan untuk memeluk wanita pemarah itu tiba-tiba datang. Aku merasakan sesal teramat dalam. Andai saja, hatiku bisa berbincang dengan hati mama. Andai saja mataku bisa bicara dengan mata mama. Seandainya pula, aku cepat merespons sakitnya mama. Mungkin, mungkin saja, semua tidak akan berakhir menyakitkan seperti ini. Hatiku bergetar, ada rindu menusuk hingga ke jantung. Aku mencintai jiwanya. Aku merindukan keagresifannya. Hatiku berdenyut-denyut nyeri. Aku merindukan dia yang sudah berada jauh di bawah gundukan tanah merah bertabur bunga yang basah.


*****

__ADS_1


Beberapa pelayat sudah pulang, mereka semua rata-rata mengetahui bahwa aku adalah anaknya mama. Mereka berpamitan kepadaku. Hingga di saat para pelayat sudah sepi, laki-laki berkaca mata hitam yang memelototiku dari tadi mendekat.


"Selamat!" Dia menyodorkan tanganya kepadaku. Aku bungkam. Ingin rasanya segera memberikan tamparan. Bang Zamy berjalan di belakangku sambil ngobrol dengan orang yang dia kenal.


"Selamat untuk apa?" Aku menjawab tak ramah. Laki-laki itu hanya tersenyum.


"Ya selamat hari lebaran saja...." Laki-laki perlente itu menjawab santai dengan memicingkan sebelah mata.


"Aku rasa, aku tidak mengenal kamu. Mohon pergilah." Namun bukannya pergi. Laki-laki itu malah mendekat kepadaku sambil membetulkan setelan jasnya yang berwarna hitam.


"Mulai sekarang kau harus mengenalku. Aku Dirga. Usiaku tiga puluh lima tahun." Lagi-lagi laki-laki itu berbicara mengenalkan paksa dirinya kepadaku.


"Selamat ya...." Dia berbicara


Laki-laki ini mulai menyebalkan, pikirku. Aku kemudian berhenti menunggu bang Zamy yng memperlambat langkahnya menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Namun laki-laki yang mengaku bernama Dirga itu malah ikut berhenti bersamaku.


"Kau gila, ucapan selamat apa yang kau berikan kepadaku?"


"Selamat karena kau walaupun tidak pernah mendapat kasih sayangnya, tapi kau tahu bagaimana wujud ibumu."


"Apa maksudmu?"


"Kita mungkin butuh waktu agak lama untukku menjelaskan semuanya. Aku sudah mendengarkan semua kisah tentangmu. Kau ditukar saat masih kecil dan kemudian dibuang pula. Lalu mendapatkan keluarga baru. Berbeda denganku...,"


"Ada apa denganmu?" Aku semakin tidak nyaman mendengarnya.


"Aku? Aku bahkan tidak pernah tahu bagaimana wujud ayah ibuku. Hanya sepintas saja, saat wanita itu tidur untuk selamanya, baru aku menatap wajahnya. Dan kau tahu? Itu adalah tatapan pertama dan terakhirku.


"Apa maksudmu?"


"Kita lahir dari rahim yang sama Naura!"


Laki-laki itu berlalu setelah bicara, dia mencabut sebatang rumput panjang dan menggigit ujungnya."


"Hey..., apa maksudmu? Siapa kau sesungguhnya?" Aku mencoba mengejar laki-laki asing tadi. Namun tidak kutemukan lagi dimana dia berada.


"Sayang, abang di sini." Tiba-tiba bang Zamy sudah berdiri di belakangku. Aku gelagapan.


"Tidak bang, eh adek mencari laki-laki itu."


"Laki-laki? Siapa?" Bang Zamy keheranan.


"Aku tidak tahu, katanya namanya Dirga.


"Kenapa dia?"

__ADS_1


"Ada yang janggal dia ucapkan tadi." Akupun menceritakan kejadian sesaat saat bang Zamy ngobrol dengan orang lain. Aku kebingungan.


__ADS_2