
Mall pusat.
Disebuah pusat perbelanjaan terbesar, terlihat Nixeelin yang tengah berada disalah satu outlet dengan brand ternama. Ia kini tengah melihat-lihat tas branded didalam etalase kaca.
Semua sangat mewah, dan harganya pun tentu fantastik. Nixeelin bingung ingin memilih tas yang mana untuk menambah koleksi tasnya dirumah dan apartemen, hingga dengan tiba-tiba seseorang datang dan berdiri disampingnya.
“ Kurasa warna abu-abu cantik. Kau belum memiliki warna itu sejak menjadi pelanggan kami.” ujar pria itu membantu Nixeelin menentukan pilihan.
Nixeelin tersenyum pada pria itu. “Terima kasih, Tuan Davis.”
“ Humm..” pria tampan itu menanggapi dengan anggukan kecil.
“ Kau selalu berbelanja dimalam hari, biasa wanita akan berbelanja saat siang atau sore.” tambahnya tersenyum lembut, membuka obrolan.
“ Aku terlalu sibuk saat pagi, siang dan sore masih sama sibuknya. Aku hanya memiliki waktu luang dimalam hari, itu sebabnya aku selalu berbelanja saat malam saja.” jelas Nixeelin.
“ Ah, aku melihat dimajalah, katanya perusahaanmu sedang mengeluarkan prodak baru lagi.” tambah Nixeelin dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajah cantiknya saat berbincang dengan pria gagah dihadapannya— Davis Kwans.
Davis Kwans tak hanya putra bungsu dari presiden Dave Kwans, tapi juga pengusaha termuda yang dikenal sangat dermawan. Perusahaan DK. Brand— sebuah perusahaan pembuat berbagai aksesoris dengan brand ternama.
“ Humm.. pegawai dikantorku membentuk tim dan mereka membuat proyek untuk prodak baru itu.” jawab Davis dengan binar bahagia.
__ADS_1
“ Wah, kau sangat bersyukur karena memiliki karyawan yang selalu mendukungmu untuk memajukan perusahaanmu.” puji Nixeelin turut bahagia.
“ Ah, aku akan menjadi pelanggan pertama yang memiliki prodak baru itu.” tambahnya.
Davis hanya menyunggingkan senyum mendengar ucapan gadis muda didepannya.
“ Kalau begitu datanglah diulang tahun perusahaanku.” ucap Davis kemudian.
Nixeelin menautkan kedua alisnya, menatap nanar pria muda didepannya. “Benarkah? Aku sungguh diundang?” ucapnya kemudian yang seolah tak percaya.
“ Humm.” balas Davis yang lagi-lagi menjawab dengan anggukan kecil.
“ Baiklah, aku akan datang.” seru Nixeelin dengan semringah. Ia tak pernah seceria itu, namun malam ini didepan Davis dirinya menjadi sosok yang sangat berbeda.
“ Oh baiklah.” jawab Nixeelin dengan santai, tanpa merasa terganggu sama sekali. Ia lalu merogoh tas jinjingnya yang menggantung dipundak polosnya, mencari pulpen hendak menulis nomor ponselnya.
“ Kau mencari apa?” tanya Davis.
“ Pulpen.” jawab Nixeelin memperlihatkan pulpen yang sudah didapatnya.
“ Kenapa tidak kartu nama saja atau ponselmu?” Davis kembali mengajukan tanya sembari mengamati Nixeelin yang masih tampak mencari sesuatu ditas jinjingnya.
__ADS_1
“ Ponselku tertinggal dimobil, dan dikartu namaku itu nomor umum untuk pekerjaan. Aku akan memberikan nomor pribadiku saja karena jika nomor bisnis bisa saja aku tidak menjawabnya karena nomor itu dipakai asistenku.” jelas Nauora yang masih merogoh tas miliknya.
“ Lalu kau mencari apa lagi?” tanya Davis lagi.
“ Aku mencari kertas.” jawab Nixeelin seadanya.
“ Ah, tulis saja ditanganku.” ujar Davis dengan cepat mengulurkan tangannya.
“ Apa bisa?” Nixeelin beralih, dan menatap wajah Davis.
Davis hanya mengangguk, dan menampikan senyum terbaiknya. Nixeelin membalas senyuman itu, dan segera menuliskan nomor ponsel pribadinya ditelapak tangan Davis.
Senyum Davis tak pudar, sangat jelas bahwa pria gagah itu bahagia karena untuk pertama kali bisa sangat dekat dengan wanita yang disukainya. Ia terus mengamati Nixeelin, tatapan itu sangat intens.
“ Sudah.” celetuk Nixeelin kemudian.
Davis tersadar, buru-buru ia memalingkan wajah karena tak ingin ketahuan mengamati Nixeelin diam-diam.
“ Sepertinya aku harus pergi. Asistenku menunggu dimobil.” tambah Nixeelin kemudian.
“ Ah, baiklah. Sampai ketemu nanti.” balas Davis.
__ADS_1
Nixeelin mengangguk kecil, dan segera berlalu tanpa lupa mengambil tas yang tadi dipilih oleh Davis. Setelah melakukan pembayaran, gadis cantik itu segera meninggalkan outlet dengan menenteng satu paperbag saja.