Dunia Asmara

Dunia Asmara
Bimbang.


__ADS_3

Manning Bar.


Setelah melalui perjalanan beberapa menit untuk tiba di bar langganannya, Davis segera masuk kedalam sana tanpa Ishal yang biasanya mengekor dibelakangnya.


" Wah, lihatlah... siapa yang datang. Anak bungsu presiden kita dan suami dari pemilik perusahaan berlian." seloroh Xavierre menyambut kedatangan Davis yang sudah lama tak berkunjung ke tempatnya.


Davis hanya menyunggingkan senyumnya kala mendengar penuturan pria gagah dihadapannya.


" Berikan aku yang seperti biasa." pintanya meminta alkohol seperti biasa yang dipesannya.


" Dimana Ishal? Kau tidak bersamanya?" tanya Xavierre kemudian, sembari meracik alkohol pesanan temannya.


" Dia dimobil." jawab Davis seadanya.


" Tidak biasanya, padahal kalian selalu bersama." celetuk Xavierre.


" Dia lelah, jadi istirahat dimobil." terang Davis.


Xavierre mengangguk kecil dan kemudian meletakkan segelas alkohol buatannya didepan Davis.


" Terima kasih." ucap Davis segera meneguk setengah minuman alkohol itu.


" Eih, pelan-pelan saja. Itu bukan air minum." seru Xavierre saat melihat gelas alkohol milik Davis yang hampir tandas.

__ADS_1


" Lihatlah.. istrimu selalu muncul dimajalah. Kemarin karena dia masuk jajaran pebisnis muda, dan kali ini karena perusahaannya mencetak angka penjualan berlian terbanyak." tutur Xavierre menaruh majalah itu diatas meja.


Davis terdiam sejenak sembari mengamati sampul majalah didepannya yang memakai foto wanitanya.


" Cantik.. kau sangat cantik." gumamnya mengulum senyum.


" Iya, dia sangat cantikkan." timpal Xavierre samar-samar mendengar suara Davis.


" Ternyata Nona Nixeelin benar-benar mirip denganku." tambah Xavierre kembali mengamati dengan intens foto cantik Nixeelin dalam majalah.


" Cih, jangan bicara omong kosong. Nixeelin tidak mirip denganmu." sergah Davis cepat, meski sejujurnya didalam hati ia membenarkan ucapan Xavierre.


****


Pekerjaan yang menumpuk dikantor setelah ditinggal seminggu, membuat keduanya harus bekerja ekstra hingga larut malam. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, tak bercakap sepatah katapun.


" Yakk... kau sepertinya bahagia, ya." celetuk Miguel memulai obrolan karena merasa jenuh. Ia sejak tadi sesekali mengamati asistennya melalui kaca spion.


" Kelihatan ya?" ucap Andre tersenyum.


" Tentu saja. Dari tadi kau senyum sendiri. Hanya orang idiot yang tidak mengerti arti senyumanmu itu." seloroh Miguel menggeleng.


" Kau kenal Wian?" tanya Andre kemudian.

__ADS_1


" Tentu saja. Dia kepala keuangan. Kenapa dengannya?" jawab Miguel heran.


" Dia menyukaiku." terang Andre yang memang sepanjang perjalanan selalu tersenyum.


" Kau bercanda? Lagipula bagaimana kau bisa tau." Miguel tertawa kecil, ia tampak tak percaya pada ucapan asistennya.


" Aish, kau tidak percaya. Apa kau masih berfikir aku seperti dulu?" Andre mulai kesal karena reaksi majikannya.


" Tentu saja dia suka padaku. Belakangan ini dia perhatian tanpa alasan. Jika bukan karena rasa suka, apalagi?" tambahnya dengan wajah ditekuk.


Mendengar ucapan asistennya, Miguel tampak terdiam sesaat, ia mencerna setiap kata-kata Andre.


" Benarkah?"


" Tentu saja." jawab Andre dengan lantang.


Entah mengapa tiba-tiba Miguel teringat pada istrinya. Perlakuan hangat Nauora di hari-hari kemarin terlintas dibenaknya.


" Cih, tidak mungkin dia menyukaiku. Lagipula dia menikah denganku hanya untuk mendapatkan saham perusahaan." ucap Miguel dengan suara yang amat kecil, namun tetap didengar asistennya.


" Nyonya Nauora suka padamu?" sahut Andre tampak terkejut.


" Aih, tentu saja tidak. Kau tau dia kan.. wanita gila seperti dia mana punya hati." jawab Miguel cepat.

__ADS_1


__ADS_2