
Mansion Oliveira.
" Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Lauren dengan pandangan yang kosong.
Kini ia sudah berada dikamarnya, duduk tak berdaya diatas ranjang empuknya. Bersandar pada headboard, ia menanti jawaban sahabatnya.
Nixeelin yang tadi hendak meninggalkan kamar Lauren menghentikan langkahnya, dia membalikkan badan, menatap intens sahabatnya. "Kau ingin aku mengatakan apa?"
Air mata Nixeelin luruh. Ia lalu memalingkan wajah, tak sanggup menatap sahabatnya karena untuk saat ini ia seolah melihat dirinya sendiri.
" Istirahat saja, jangan banyak berfikir. Tidak baik untuk kesehatan janinmu." tambahnya hendak berlalu namun lagi-lagi Lauren menahan langkahnya.
" Tolong, sekali saja bantu aku. Aku takut menghadapi publik. Apa tanggapan mereka jika tau aku hamil diluar nikah dan dengan pasangan yang tidak mau bertanggung jawab." lirih Lauren berterus terang akan perasaannya.
Mendengar penuturan sahabatnya, Nixeelin menghela nafas. Terdiam sejenak, wanita cantik itu tampak berfikir sesaat.
" Bayimu.. kau ingin apakan dia? Setelah kau memutuskan sesuatu, aku akan membantumu." ucapnya kemudian.
" Aku akan melahirkannya!" ucap Lauren dengan lantang.
" Apa? Kau gila? Apa kau tidak berfikir, jika memutuskan untuk melahirkan bayi itu, maka karirmu akan hancur. Impianmu yang selama ini kau bangun, akan langsung runtuh." sergah Nixeelin dengan cepat.
Lauren terdiam, ia mencerna kata demi kata yang dilontarkan sahabatnya.
" Seandainya dia mau bertanggung jawab.. tidak, maksudku seandainya dia lajang dan ingin bertanggung jawab.. kita bisa merekayasa semuanya pada publik bahwa pacarmu sudah ingin menikahimu. Tapi jika tanpa pasangan dan.. "
__ADS_1
Nixeelin tak melanjutkan ucapannya saat ia melihat wajah memerah Lauren yang seakan ingin menangis.
" Lalu kau ingin aku apa? Apa kau ingin aku menggugurkan janinku sendiri?"
Mata Lauren berkaca-kaca, menatap tak percaya pada sahabatnya. Sementara Nixeelin, ia terdiam. Raut wajah yang ia tampilkan, cukup untuk memberi jawaban pada Lauren.
" Aku ingin bertemu dengan calon anakku, jadi aku akan tetap melahirkannya." ucap Lauren yakin.
" Lauren, coba berfikir lagi, jangan mengambil keputusan dengan terburu-buru." Nixeelin menasehati kembali, berharap sahabatnya akan berubah fikiran.
" Maaf, aku tidak akan merubah niatku. Kau mungkin tidak tau karena tidak berada diposisiku, tapi jika aku menggugurkan janinku, itu sama saja aku melakukan dua kali kesalahan."
Nixeelin tersentak, wanita cantik itu seketika bungkam. Suasana mendadak hening, dan tak lama Nixeelin meninggalkan Lauren begitu saja tanpa sepatah katapun.
****
Membuka lemari itu, pandangan Nixeelin terpaku pada brankas didalam lemari. Hendak memasukkan kode brankasnya, namun ia terlihat sedikit ragu mengingat bahwa sesuatu didalam lemari kotak besi itu akan menciptakan kembali rasa sakit dihatinya.
Terdiam sejenak, Nixeelin membuang keraguan dihati dan memberanikan diri membuka lemari brankasnya. Mengambil sebuah potongan koran lusuh didalam brankasnya itu, pelupuk mata Nixeelin seketika memanas.
Skandal kelahiran bayi rahasia Milen Edmund.
Sebuah judul dengan huruf kapital tertulis dikertas koran lusuh itu membuat mata Nixeelin sontak berkaca-kaca. Ibu jarinya bergerak, mengusap pelan foto seorang wanita muda dikoran itu.
" Kenapa aku bisa mengikuti jejak burukmu, Ibu. Kau hamil diluar nikah, dan aku juga hamil diluar nikah. Aku anak haram, lalu bayiku juga adalah anak haram. Apakah kakek dan nenek sudah mengutuk ibu sampai-sampai keturunan ibu selalu sial." ucap Nixeelin panjang lebar, mengeluarkan semua unek-uneknya pada foto didepannya.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu ruangan Nixeelin yang tiba-tiba dibuka oleh Viet membuat wanita itu terkejut. Buru-buru ia menaruh potongan koran itu pada tempat semula dan menutup lemari dengan rapat.
" Xeelin, aku sudah mendapatkannya." ujar Viet mendekat pada meja kerja Nixeelin.
Sementara Nixeelin segera kembali duduk dikursi kerjanya.
" Kau tau.. sepertinya suami Ibumu sengaja menyembunyikan penyebab kematiannya." tutur Viet lagi.
Ya, sebenarnya Viet selama ini tengah mencari tau penyebab kematian Ibu kandung Nixeelin. Dua tahun terakhir ini ia sangat sibuk karena berusaha keras mencari informasi mengenai kematian Ibu kandung Nixeelin dua tahun lalu. Meski begitu hasil yang didapatkan sangat nihil, ia begitu sukar menemukan yang dicarinya. Namun kali ini akhirnya ia menemukan sedikit informasi itu setelah mengeluarkan begitu banyak uang.
" Benarkah?" Nixeelin terkejut, menatap intens pada asistennya yang merangkap sebagai sekertarisnya juga.
" Hu'mm.."
" Apa lagi yang kau dapatkan." tanya Nixeelin kemudian, rasa keingintahuannya membuncah.
" Tidak banyak, aku hanya mendapat informasi itu saja dari mantan pelayan ibumu." terang Viet.
Nixeelin yang mendengar penuturan asistennya seketika menghela nafas. Ia merasa putus asa sebab Viet tak pernah menemukan banyak informasi dari kematian ibunya.
" Tidak ada jalan lain, sepertinya kau harus mencari tau sendiri. Mungkin dengan masuk kedalam keluarga itu, kau bisa tau apa yang sebenarnya terjadi." seru Viet.
" Masuk kedalam keluarga itu?" Nixeelin mengernyit, sejenak ia berfikir.
__ADS_1
" Sudahlah, sebaiknya kau istirahat saja. Besok kita cari solusinya." ucap Viet menyudahi perbincangannya dengan Nixeelin dan segera berlalu.
Sepeninggalan Viet, Nixeelin pun beranjak dari duduknya. Namun bukan untuk kembali kekamar, ia meraih kunci mobilnya diatas meja dan meninggalkan ruangannya.