Dunia Asmara

Dunia Asmara
Dunia Asmara 18


__ADS_3

“ Anda tidak keluar?” tanya Ishal yang masih tak bergeming ditempatnya.


“ Tidak, sepertinya aku akan kebawah lagi karena aku melupakan sesuatu dimobilku.” jawab Nixeelin seadanya.


Ishal mengangguk kecil, menampilkan senyum tipisnya dan segera masuk kedalam lift.


Didalam lift suasana begitu hening, hanya ada suara baby Kidshan yang terkadang berceloteh tak jelas. Ishal memilih mengabaikan keponakan majikannya, dan diam dengan pandangan lurus kedepan.


Ia tak menyadari bahwa baby Kidshan tengah asik memainkan ujung rambut panjang Nixeelin. Nixeelin pun tak menyadarinya sampai pada saat baby Kidshan menarik ujung rambut panjangnya, ia pun menoleh.


“ Astaga, Kidshan..” Ishal yang baru tersadar, buru-buru menarik tangan bayi mungil itu, melepaskan rambut Nixeelin yang berada dalam genggaman kecil Kidshan.


“ Maafkan aku, aku tidak memperhatikan Kidshan.” seru Ishal merasa tak enak pada wanita cantik didepannya.


“ Tidak apa-apa.” balas Nixeelin dengan senyum lembutnya sembari menatap wajah polos baby Kidshan.


“ Apa namanya Kidshan?” tanyanya kemudian yang tanpa sadar mengelus lembut pipi bayi mungil didepannya.


“ Humm..” Ishal mengangguk dengan senyumnya.


“ Namanya unik.” tambah Nixeelin, memegang tangan mungil baby Kidshan. Namun pandangannya tak sengaja beralih pada gelang yang dipakai baby Kidshan.


“ Oh, ini gelang namanya. Kidshan Arrawda.” Ishal menyahut saat melihat arah pandang Nixeelin yang berpusat dipergelangan tangan baby Kidshan.


“ Kidshan Arrawda?” lirih Nixeelin menyerukan nama lengkap sang bayi.

__ADS_1


Raut wajah Nixeelin berubah sendu, ia terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu. Melihat itu, Ishal tampak keherangan. Seketika ia teringat pada majikannya— Davis, saat dirinya dimintai untuk mencari Nixeelin dihotel.


“ Apa terjadi sesuatu dengan Nona Nixeelin?”


“ Nona?” panggil Ishal, menyadarkan wanita cantik didepannya.


Nixeelin menarik diri dari keterdiamannya, ia lalu mengurai jarak dari bayi mungil didepannya.


“ Ternyata kau sudah memiliki bayi. Lalu kenapa kau menghancurkan aku?” benak Nixeelin tersenyum getir.


Sikap Nixeelin yang mendadak berubah tentu saja tak luput dari pandangan Ishal. Pria muda itu semakin yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada wanita cantik didepannya dengan salah satu pria dalam keluarga Kwans.


Ting.


Tak lama pintu lift terbuka, Nixeelin membuang muka, ia tak ingin menatap wajah polos baby Kidshan. Tanpa membuang waktu, buru-buru dirinya segera keluar dari lift tanpa berucap sepatah katapun pada Ishal.


Ishal menatap kepergian Nixeelin, pikirannya tak karuan. Ia semakin dibuat penasaran.


⚘️


⚘️


⚘️


Waktu berlalu cepat, tak terasa kini hari sudah petang. Matahari hampir terbenam, para pekerja kantor sudah siap untuk pulang. Karena membawa putra kecil kakaknya, Davis mau tak mau harus pulang lebih awal, tak seperti biasa dirinya akan lembur hingga larut malam.

__ADS_1


Tampak kini Davis yang sudah tiba dibasement, tempat dimana mobilnya terparkir rapi. Namun saat hendak mendekat pada mobilnya, tiba-tiba saja seorang pria dewasa menghampirinya lebih dulu.


Michel— saudara tirinya yang datang entah dari mana dan berada diperusahaannya sejak kapan.


“ Wah lihatlah.. bayi ini..” Michel menatap baby Kidshan dengan seringai licik. Sementara Davis hanya diam menampilkan wajah datarnya.


“ Kenapa aku merasa... “ Michel menjeda ucapannya, ia tampak berfikir sejenak sembari menatap intens wajah polos bayi didepannya.


“ Dia mirip dengan Jerico.”


Dheg.


Davis tertegun mendengar kalimat yang dilontarkan kakak tirinya. Entah mengapa namun ucapan Michel seolah mempunyai arti.


“ Apa maksudmu..” tanyanya mendelik tajam pada Michel.


“ Aku mengatakan bayi kakakmu ini mirip Tuan Jerico. Kau pasti pernah melihat Jerico kan? Bahkan dia terlibat kerja sama dengan perusahaan Miguel.” tutur Michel dengan senyum liciknya.


“ Kenapa aku langsung berfikir seperti ini?” tambah Michel beralih dan menatap kembali wajah baby Kidshan.


“ Apa?” Davis menautkan kedua alisnya, ia tampak bingung pada ucapan kakak tirinya.


“ Bagaimana jika bayi ini adalah anak Jerico?” ucap Michel dengan mantap.


“ Hentikan omong kosongmu itu.” sergah Davis dengan cepat, ia terlihat kesal dan hendak berlalu.

__ADS_1


“ Itu bisa saja terjadi kan? Apa kau tidak ingat, kakakmu dulu sempat dekat dengan Jerico.”


__ADS_2