Dunia Asmara

Dunia Asmara
Firasat.


__ADS_3

Disatu sisi tampak Nixeelin yang sedang berada didalam kamarnya. Wanita hamil itu terlihat gusar sejak beberapa hari lalu. Pertanyaan tak terduga Nauora malam itu masih mengusiknya.


Duduk tercenung dibibir tempat tidur, pikiran Nixeelin kini berperang hebat. Hatinya dilanda kebimbangan. Resah semalaman, ia tak hentinya menghela nafas seharian.


Melirik pada gawai pipihnya yang terletak diatas nakas, sepintas pikirannya merujuk pada sang sahabat— Lauren, karena hanya sahabatnya yang biasa ia temani berbagi cerita.


" Jika aku bertanya padanya, itu berarti aku harus menceritakan semuanya." lirih Nixeelin dengan wajah sendu.


Namun tak berangsur lama ia segera meraih ponselnya setelah memantapkan hati. Membuka aplikasi kontak, ia langsung mencari nomor sahabatnya dan menghubunginya. Dan tak membutuhkan waktu lama, Lauren diseberang sana langsung menjawab.


" Ada apa, kau sepertinya tidak sibuk sampai punya waktu untuk menelfonku." celetuk Lauren.


" Aku tidak bisa fokus kerja." keluh Nixeelin.


" Benarkah? Kenapa begitu?"


" Aku akan kesana, aku ingin memberitahumu sesuatu."


" Oh, baiklah. Lagipula aku memang punya banyak waktu luang."


" Huumm, tunggu aku." balas Nixeelin menutup panggilan telfon lebih dulu.


⚘️

__ADS_1


⚘️


⚘️


Mansion Oliveira.


" What? Apa katamu?"


Suara pekikan nyaring Lauren begitu memekak kan gendang telinga Nixeelin. Wanita hamil berambut sebahu itu tercengang dengan mata yang membulat sempurna.


Sebelumnya asik merias diri didepan cermin, namun tak lebih dari sedetik ia langsung syok. Batinnya terguncang, dadanya naik turun berusaha mengontrol keterkejutannya.


" Kau hamil anak suami kakak iparmu?" lirih Lauren menatap jengah pada sahabatnya yang duduk tak jauh darinya.


Wajah Nixeelin sendu, lesu setelah memberitahu rahasianya pada Lauren.


" Aku masih lumayan baik darimu. Setidaknya tidak terhubung dengan laki-laki brengsek itu. Tapi kau malah menikah dengan adik ipar laki-laki itu." Lauren kehilangan semangatnya, ia terduduk lemas diatas sofa empuk.


" Tunggu, Nauora tidak tau kan? Jika dia tau.. kau bisa dalam bahaya."


Lauren mendekat pada sahabatnya, ekspresi wajahnya sangat mudah ditebak. Ia begitu cemas pada Nixeelin.


" Itu yang membuatku bingung." ucap Nixeelin terlihat memikirkan sesuatu.

__ADS_1


" Apa?" tanya Lauren mulai penasaran.


" Setelah pulang dari pulau.. seperti ada yang aneh dari Nauora. Tatapannya berbeda.. ?" jeda Nixeelin.


" Tatapannya kenapa? Apa tatapan benci?" Lauren semakin dibuat penasaran.


" Tidak.. tatapannya kosong. Sebelum perjamuan dia memutuskan untuk berteman denganku. Saat itu dia selalu menatapku dengan hangat, tapi akhir-akhir ini tatapannya berbeda. Seperti orang sedih, tapi tidak juga." terang Nixeelin dengan ucapan tak pasti.


" Benarkah?" Lauren menelisik wajah sahabatnya, sedangkan Nauora hanya mengangguk kecil.


" Kalau begitu anggap saja dia tidak tau apapun karena jika dia sudah tau adik iparnya mengandung bayi suaminya, dia pasti akan mengamuk. Tapi lihatlah, dia tidak marah kan? Berarti dia tidak tau apapun. Tidak mungkin juga dia tahu dan tetap diam, bukankah rumornya dia sudah membunuh semua perempuan yang sudah dikencani suaminya diam-diam."


Penjelasan Lauren yang begitu panjang cukup meyakinkan Nixeelin. Ketenangan sedikit hadir didalam relung hati, meski dipikirannya masih mengganjal sesuatu.


" Ah, kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Lebih baik temani aku belanja dimall. Aku juga ingin membeli kemeja baru untuk Viet." tutur Lauren lagi.


" Kau sudah menyukai Viet?" tanya Nixeelin.


" Sedikit." jawab Lauren tertawa kecil.


" Aish, jangan menyukainya setengah-setengah. Lagipula Viet itu orangnya baik." seru Nixeelin jujur.


" Humm.. aku akan pikirkan lagi."

__ADS_1


__ADS_2