
Sepeninggalan Tuan Dave, kini hanya Davis dan Miguel serta Andre yang berada didepan ruang ICU. Ketiganya tampak tercenung dengan pikiran masing-masing.
Tak lama Davis tersadar, dia menoleh menatap kakak iparnya yang sejak tadi terlihat kacau.
" Kau tidak mau pulang?" Davis bersuara ditengah ketenangan.
" Aku akan menunggu Nauora. Sebaiknya kau yang pergi, istrimu masih tidak sadar kan?" balas Miguel seadanya. Dari nada suaranya ia tampak tak bertenaga lagi.
" Baiklah, aku akan ke ruangan Nixeelin. Ingat, jangan tinggalkan kakakku." seru Davis beranjak dan segera berlalu.
****
Disatu tempat tepatnya diruang rawat Nixeelin, tampak wanita hamil itu yang baru terjaga dari pingsan berkepanjangan. Hendak bangkit, namun seseorang diluar sana tiba-tiba masuk.
" Apa yang ingin kau lakukan?" tanya orang itu yang tak lain adalah Davis.
" Aku haus." jawab Nixeelin dengan lemah
" Baiklah, biar aku saja." Davis buru-buru mengambil segelas air putih diatas nakas, lalu membantu istrinya tuk minum.
" Bagaimana, apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Davis yang kemudian meletakkan kembali segelas air putih itu ditempat semula.
" Hu'um.." jawab Nixeelin mengangguk kecil, meski sejujurnya ia merasakan sakit dibagian perutnya.
__ADS_1
" Syukurlah.." ucap Davis merasa lega.
" Aku ingin ke toilet." seru Nixeelin merasa ada sesuatu yang ingin keluar. Sedangkan Davis segera membantu istrinya turun dari ranjang, dan menuntunnya kearah toilet.
Didalam toilet, Nixeelin meringis kesakitan saat merasakan nyeri yang tak berkesudahan. Rasa sakit yang hebat kini mendominasi perutnya.
" Aahhkkk..." rintihnya memegangi perutnya yang seolah ditusuk jarum besar.
" Aahhkkk... sakit!" seru Nixeelin yang tak dapat lagi menahan rasa sakitnya.
Davis yang berjaga didepan pintu toilet tentu mendengar jelas suara istrinya, hingga seketika membuatnya panik.
" Nixeelin, ada apa? Kau baik-baik saja?" ucap Davis setengah berteriak.
Nixeelin didalam sana menyahut, suaranya terdengar melemah hingga membuatnya suaminya semakin cemas.
" Nixeelin, buka pintunya." seru Davis menggedor pintu dengan keras. Namun Nixeelin justru tak bergeming hingga mau tak mau Davis pun memilih mendobrak pintu toilet itu.
Brak.
Pintu terbuka, Davis berhasil masuk kedalam toilet. Pria muda itu terperanjak saat mendapati istrinya yang sudah terduduk lemas diatas lantai dengan darah berwarna merah muda yang mengalir dari pangkal paha.
" Nixeelin, sadarlah..." Davis berjongkok, ia menepuk pelan pipi sang istri yang mulai tak sadarkan diri.
__ADS_1
" Sakit.." rintih Nixeelin berkeringat dingin, seraya memegangi perutnya.
Davis linglung sesaat, melihat istrinya kesakitan membuatnya bingung. Namun tak lama ia sadar dan segera menggendong Nixeelin, membawa sang istri keluar dari toilet.
****
Kembali tak sadarkan diri, Nixeelin lagi-lagi terbaring lemah diatas brankar. Dokter yang usai memeriksanya pun segera keluar dari ruangan, menemui Davis dan Ishal yang menunggu didepan pintu.
" Dokter, apa yang terjadi dengan istriku? Kenapa dia mengeluarkan banyak darah." tanya Davis tak sabar, sedangkan Ishal hanya mengamati dua orang didepannya.
" Janinnya meninggal, Tuan."
Dheg.
" Apa?" Davis terbeliak, menatap tak percaya pada dokter cantik didepannya.
" Istri anda keguguran. Kami akan melakukan kuret, operasi kecil untuk mengeluarkan jaringan dari rahimnya." terang sang dokter.
Hening menyergap, Davis termangu setelah mendengar penuturan dokter cantik didepannya. Davis dilanda perasaan bimbang. Fakta bahwa sang istri keguguran membuatnya sedih, namun mengingat bahwa cabang bayi yang dikandung Nixeelin adalah anak Miguel, membuatnya memiliki sedikit perasaan lega.
" Tuan?" seru Ishal menyadarkan Davis yang tampak melamun.
__ADS_1
" Ah.. maafkan aku, Dokter. Silahkan, lakukan saja operasinya." seru Davis bimbang.