Dunia Asmara

Dunia Asmara
Dunia Asmara 14


__ADS_3

Setelah melalui perjalanan yang lumayan jauh, mobil sedang hitam metallik keluaran terbaru yang dikemudikan oleh Miguel, memasuki gerbang kokoh mansion Kwans. Tiba dipekarangan hunian mewah itu, Miguel memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu utama rumah itu.


Melepas seatbeltnya, ia lalu menoleh kesamping, melihat istrinya yang masih terlelap. Miguel enggan membangunkan sang istri, dan kemudian memilih segera keluar dari mobil, mengabaikan Nauora begitu saja.



Namun beberapa langkah dari mobilnya, pria itu kembali menoleh. Ia seolah tak ingin juga membiarkan Nauora tidur dimobil. Sepersekian detik kemudian, Miguel menghampiri, mengetuk kaca mobil berulang kali. Niatnya yang ingin membangunkan Nauora ternyata tak berhasil hingga mau tak mau ia membuka pintu mobil.


“ Nauora, apa kau akan tidur disini.” ucap Miguel dengan ketus.


Hening, tak ada jawaban dari sang istri. Miguel membungkuk, mensejajarkan diri dengan istrinya.


“ Nauora..” panggilnya menepuk pelan pipi istrinya.


“ Humm..”


Tak lama Nauora bereaksi, tidur nyenyaknya terusik. Wanita cantik itu membuka kedua kelopak matanya, dan terkejut saat mendapati wajah Miguel yang sangat dekat dengannya. Hanya berjarak beberapa senti saja.

__ADS_1


Keduanya terdiam dengan bibir terkatup rapat, Nauora menatap intens wajah tampan suaminya, begitupun Miguel. Untuk pertama kali Miguel sadar bahwa istrinya yang selama ini tak pernah ia lihat, ternyata memiliki wajah yang ayu saat tertidur, dan sangat cantik saat bangun tidur.


Menelan salivanya, pandangan Miguel tak lepas dari Nauora. Entah mengapa, namun pria itu seakan bernafsu melihat wajah istrinya saat ini. Pandangan itu pun beralih pada bibir tipis dan mungil istrinya, hingga tanpa sadar, wajahnya semakin ia dekatkan seakan hendak mengecup bibir yang tampak menggoda itu.


Ciuman belum terjadi, namun Miguel tiba-tiba tersadar saat ponsel disakunya berdering. Buru-buru ia menjauh, menetralkan perasaannya yang tak karuan. Pria itu tampak kikuk, berselancar pada layar gawai pipihnya.


Sedang Nauora, ia segera beranjak, meninggalkan suaminya tanpa sepatah katapun. Selepas kepergian sang istri, Miguel menghela nafas lega. Ia tak mengerti mengapa memiliki perasaan aneh seperti sekarang, perasaan yang baru muncul setelah lama menikah dengan Nauora.


Tak ingin memperumit pikirannya, Miguel segera menyusul sang istri dengan tak lupa membawa paperbag mininya.


Setibanya didalam sana, pria matang itu berpapasan dengan sang bayi yang tengah bermain diruang tengah dengan ditemani oleh pengasuhnya.


“ Hallo, anak kecil. Lihatlah, Ayah membawa sesuatu.” ucap Miguel mengeluarkan kotak kecil dari dalam paperbag mini itu.


“ Wah, lihat Ayah punya hadiah untuk adek..”


Kinaya— pengasuh cantik berusia dua puluh tahun itu menyahut.

__ADS_1


Sementara Miguel, ia tengah mengeluarkan gelang itu dari tempatnya, dan memakaikannya ditangan sang bayi.


“ Wah, Tuan. Gelangnya sangat bagus.” celetuk Kinaya turut bahagia.


“ Humm, sekarang dia sudah punya nama.” ucap Miguel mengamati bayi didepannya.


“ Kidshan. Sekarang panggil dia Kidshan. Diumurnya sekarang, seharusnya dia sudah bisa mengenal namanya, jadi kau harus terus menyebut namanya.” tuturnya yang lalu mengecup singkat puncuk kepala sang bayi.


“ Nama yang bagus, Tuan.”


Gadis cantik itu memuji, tersenyum melihat perlakuan hangat majikannya untuk pertama kali. Sebab selama dirinya bekerja dikeluarga Kwans enam bulan lalu, ia tak pernah melihat Miguel meluangkan waktu untuk sang bayi. Kinaya sendiri tak pernah mempertanyakannya pada pekerja lain walau dirinya sangat penasaran sejak enam bulan lalu.


“ Baiklah, aku akan ke kantor dulu. Jaga Kidshan dengan baik, ya.” pamit Miguel tanpa menatap lawan bicaranya, sebab sejak tadi pandangannya hanya terarah pada putranya saja.


“ Baik, Tuan.” balas Kinaya dengan senyum yang menjadi ciri khas gadis muda itu.


Miguel berlalu setelah menghadiahi kecupan dikedua pipi tembem Kidshan, tanpa menyadari tatapan Kinaya yang sedari tadi tak lepas darinya.

__ADS_1


“ Jika dipikir-pikir.. Tuan Miguel tidak begitu jahat. Dia sebenarnya baik.” gumam Kinaya menatap pada punggung kekar Miguel yang perlahan menghilang dibalik pintu.


“ Kidshan, Ayahmu baikkan?” ucapnya pada bayi mungil digendongannya. Sementara Kidshan, bayi itu hanya terkekeh.


__ADS_2