Dunia Asmara

Dunia Asmara
Ada apa dengan Lauren?


__ADS_3

Sementara didalam bathroom terlihat Lauren yang tengah berdiri lemas didepan wastafel. Wajahnya semakin pucat imbas dari memuntahkan semua isi perutnya. Tak lama ia meraih ponselnya yang terletak didepan cermin wastafel.


Jemari lentiknya bermain dilayar ponsel, tampak ia membuka aplikasi kontak, mencari sebuah nomor yang hendak dihubungi.


Drt. Drt. Drt.


Gawai pipih itu memanggil, Lauren menggigit bibir bawahnya seraya menatap pantulan dirinya didalam cermin. Tak lama seseorang yang diseberang sana menjawab telfonnya.


" Hallo, ini aku Lauren. Aku ingin bertemu, ada hal penting yang ingin kubicarakan." ucapnya dengan cepat saat panggilan sudah terhubung.


" Bicara ditelfon saja. Aku sibuk sekarang." jawab seorang pria diseberang sana.


" Kumohon, sekali saja. Aku juga merindukanmu, aku ingin sekali melihatmu." pinta Lauren memohon.


" Baiklah, kita bertemu ditempat biasa."


Tut. Tut. Tut.


Suara berat nan maskulin dari pria dibalik telfon itu tak terdengar lagi saat tiba-tiba ia memutus sepihak panggilan yang sedang berlangsung. Sedangkan Lauren justru tersenyum karena pria yang dirindukannya akhirnya mau menemuinya.


Berbeda dengan Nixeelin yang tengah mencuri dengar diluar sana, ia semakin penasaran juga kebingungan.


****

__ADS_1


Mobil sedan hitam tampak melaju meninggalkan kediaman Oliveira, sipengemudi tak lain adalah Lauren. Begitu fokus pada kemudinya, ia tak menyadari sosok sahabatnya, Nixeelin yang membuntutinya.


Sepanjang perjalanan senyum Lauren terus mengembang. Ia sudah merasa tak sabar tuk bertemu dengan pria yang dirindukannya.


Selang beberapa saat setelah mengemudi setengah jam akhirnya Lauren tiba ditempat tujuannya. Memarkirkan mobilnya dengan rapi, ia lalu segera keluar dari mobilnya dengan tak melupakan kacamata hitamnya.


Sementara Nixeelin yang sejak tadi mengikuti sahabatnya diam-diam, memilih memarkirkan mobilnya jauh dari mobil Lauren. Namun sebelum keluar dari mobilnya, Nixeelin menautkan alis, merasa heran karena sahabatnya mendatangi perusahaan CEO nya industri hiburan.


" Kenapa dia kekantor Robin? Apa sebenarnya yang ingin kau bahas, Lauren? Dan siapa orang yang ingin kau temui?" gumam Nixeelin yang kemudian segera keluar dari mobil dan menyusul sahabatnya. Namun tanpa disadarinya rupanya ada sosok pria tampan yang juga sejak tadi mengikutinya.


****


Masih diperusahaan industri hiburan, tepatnya ditangga darurat— adalah tempat pertemuan rahasia Lauren dan kekasihnya.


" Katakan padaku, kenapa kau ingin bertemu." ucap pria tampan itu mengurai pelukan kekasihnya.


" Ayo kita menikah!"


Dheg.


Pria tampan blasteran Turki itu termangu mendengar ucapan kekasihnya. Lelaki bernama lengkap Robin Saher itu terdiam sejenak.


Ajakan dadakan dari Lauren membuat Robin seketika membeku ditempatnya. Pria matang itu termangu, bungkam dengan bibir yang terkatup rapat.

__ADS_1


" Kenapa kau tiba-tiba mengajakku menikah? Apa kau ketahuan?" tanya Robin dengan tatapan nanarnya.


" Tidak..." Lauren tersenyum getir, ia sejujurnya kecewa terhadap respon yang ditunjukkan kekasihnya.


" Kalau begitu nanti saja bahas pernikahan. Jangan buru-buru... kita bisa berpacaran dulu." ujar Robin dengan suara ciri khasnya yang lembut, mendekat hendak menyentuh tangan Lauren, namun kekasihnya itu sontak mundur selangkah hingga membuatnya bingung.


" Kapan?" tanya Lauren berusaha menutupi kekecewaannya.


" Apa maksudmu, Sayang? Lagipula kenapa kau tiba-tiba membahas soal pernikahan." Robin masih bersikap santai seraya menyunggingkan senyumnya.


" Lagipula dari awal kita sudah sepakat tidak akan menikah cepat." tambahnya.


" Kau sendiri, apa maksudmu mengatakan itu? Kita sudah lama berpacaran, kita sudah berciuman dan bahkan tidur bersama." ucap Lauren dengan satu tarikan nafas.


Robin terdiam, ia tak menyahut dan memilih menyimak penuturan kekasihnya.


" Apa.. kau diam? Apa kau tidak ingin menikah denganku?" Lauren kembali berucap. Gelombang suaranya tampak bergetar.


Hening menyapa, bibir tipis Robin masih terkatup, sangat enggan tuk berbicara.


" Jawab aku, apa kau tidak ingin menikahiku?" Lauren menelisik dalam wajah kekasihnya.


" Hu'mm.." jawab Robin dengan anggukan kecil. Seketika Lauren terhenyak, kedua matanya langsung berkaca-kaca.

__ADS_1


" Aku tidak ingin dan aku tidak bisa menikahimu!" jelas Robin dengan tegas.


__ADS_2