
Malam berlalu, dan pagi sudah menyambut. Dikediaman Kwans saat ini, terlihat semua penghuni mansion tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Dikamar utama kini Nauora tengah sibuk berkemas seorang diri. Tak hanya pakaiannya, ia juga harus mengemas pakaian suaminya.
Sementara disisi lain tampak Miguel yang sedang berada diruang kerjanya seorang diri. Karena permintaan ayah mertuanya yang mendadak menyuruh berlibur dipulau, pria matang itu terpaksa harus terjaga semalaman diruang kerja.
Miguel sama sekali belum tidur, ia hanya sibuk menyelesaikan pekerjaannya dilayar laptop juga beberapa tumpukan berkas diatas mejanya.
Ditengah kesibukannya, tiba-tiba pintu ruangannya dibuka, dan tak lama muncul sang asisten dibalik pintu. Miguel hanya menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada laptopnya.
" Ada apa?" tanyanya dengan wajah datar dan tanpa menatap asistennya.
" Tuan.. aku sudah menemukan orang yang berkunjung dirumah Nyonya besar hari itu. Dia adalah Ciko." terang Ishal.
" Benarkah?" Miguel sontak terkejut, mengangkat pandangannya.
__ADS_1
" Iya, Tuan. Aku bukannya lancang, tapi ternyata Ciko juga sempat mengunjungi apartemen Tuan Michel dihari pembunuhan itu." tutur Ishal lagi, memberikan flashdisk pada atasannya.
" Disitu ada rekaman cctv yang berhasil diambil diam-diam." tambahnya.
" Ah, Tuan.. orang kita juga berhasil menukar hasil laporan sidik jari yang ditemukan di jasad Tuan Michel." tutur Andre meletakkan map cokelat diatas meja atasannya.
Miguel menggeser laptopnya, ia lalu segera meraih map didepannya.
Dibukanya map itu, Miguel lalu mengeluarkan selembar kertas yang merupakan hasil laporan sidik jari dari tim forensik.
Miguel terkejut, sebab dari penuturan asistennya sudah membuktikan bahwa dirinya selama ini telah bersalah pada Nauora dengan menganggap wanitanya adalah seorang pembunuh.
" Berarti Nauora memang bukan pelakunya." gumamnya merasa lega.
Ya, Miguel memang sengaja menyelidiki kasus pembunuhan mendiang ibu mertua dan juga adik tiri istrinya sebab ia ingin memastikan apakah Nauora benar-benar melakukan pembunuhan itu.
Mengamati dengan seksama hasil laporan itu, tak lama kening Miguel mengerut. Beranjak dari duduknya dan berjalan gontai menuju lemari brankasnya, ia lalu memasukkan sandi brankas.
__ADS_1
Miguel kemudian mengeluarkan selembar kertas dari dalam brankas. Kertas yang juga merupakan hasil laporan sidik jari. Ia lalu membandingkan kedua laporan sidik jari itu, dan rupanya kedua laporan sidik jari ternyata cocok.
" Pelakunya adalah orang yang sama." lirih Miguel terkejut.
" Berarti ini sudah direncanakan, Tuan." sahut Andre yang sejak tadi mengamati majikannya.
" Benar, itu berarti kita harus menemukan orang yang merencanakan pembunuhan itu." ucap Miguel.
" Tapi Tuan, bukankah sudah jelas kalau bukan Nyonya Nauora pembunuhnya. Sebaiknya kita berhenti saja sampai disini, jika kita terus maju, tidak tau bahaya apa yang akan menimpa Tuan." tutur Ishal mengingatkan Miguel
" Aku tidak bisa berhenti karena ini sudah ditengah jalan. Aku harus tau siapa perencananya, dan kenapa terus mengincar keluarga ini. Jika dibiarkan, jangan sampai dia malah membunuh lagi salah satu anggota keluarga ini." Miguel merasa cemas, entah kenapa namun ia tak ingin bila terjadi sesuatu pada istrinya.
" Baiklah, Tuan. Tapi jika ingin menemukan orang itu, kita harus menangkap pelakunya dulu. Karena jika tidak, maka pelaku itu akan memotong langkah kita sebelum menemukan bosnya." usul Andre setelah berfikir sesaat.
" Kau benar. Baiklah, kita akan membahasnya lagi sepulang dari pulau. Tolong bereskan mejaku, aku akan kekamar dulu." titah Miguel segera berlalu.
Memegang knop pintu lalu membukanya, Miguel terkejut saat mendapati istrinya yang tengah berdiri kaku didepan pintu. Pria itu sontak merasa khawatir, takut bila wanitanya mendengar semua percakapannya bersama Andre beberapa saat lalu.
__ADS_1