Dunia Asmara

Dunia Asmara
Ketakutan Miguel Arrawda.


__ADS_3

Mansion Kwans.


Hunian megah keluarga Kwans malam ini seperti hari-hari biasa, selalu tenang dan sunyi tanpa suara apapun dari anggota keluarga.


Tampak Davis kini tengah berada diruangannya sendiri, menunggu kabar dari asistennya yang ia tugasnya untuk mengerjakan sesuatu. Berbeda dengan Miguel, pria matang itu berada diruangannya juga dengan ditemani Andre— asistennya.


" Aku sudah menghapus semua rekaman cctv tentangmu dan Nyonya Nauora diapartemen Tuan Michel." lapor Andre yang baru saja tiba diruangan majikannya.


" Kerja yang bagus." tutur Miguel.


" Jangan lengah, dan pastikan besok tidak ada berita kematian Michel yang terbit." tambahnya yang dijawab anggukan kecil oleh Andre.


Kini Miguel terlihat sangat kacau, bau alkohol terasa sangat menyengat. Bagaimana tidak, sejak sore tadi saat dirinya dan Nauora kembali ke rumah, ia memilih mengurung diri didalam ruangannya sembari meminum banyak wine.


" Sebaiknya kau istirahat. Minum banyak anggur bisa mengganggu kesehatanmu." ujar Andre, terlihat khawatir pada kondisi majikannya.


" Aku takut, Andre.. "


Suara lirih Miguel membuat asistennya langsung tertegun.


" Wanita dikamarku itu.. wanita yang menjadi istriku itu.. wanita yang sudah menjadi ibu itu.. dia membuatku takut."

__ADS_1


Miguel mulai mengoceh dengan setengah kesadarannya. Rasa pusing yang tiba-tiba melanda membuat Miguel memilih menyenderkan kepalanya pada kursi.


" Kau tau.. dia selalu membunuh orang yang tidak disukainya." tambahnya dengan mata terpejam.


" Sudahlah, kau tidak sadar. Sebaiknya istirahat saja dikamar." Andre berusaha menyadarkan majikannya, ia hendak mendekat namun seketika Miguel terisak pilu.


" Hiks.. Hiks.. Hiks.."


" Aku selalu menyesali keputusanku, Andre. Jika seandainya aku bisa sedikit berdamai dengan kenyataan, mungkin aku tidak akan menikah dengan pembunuh itu. Dia.... " ucapan Miguel menggantung saat pria tampan itu kembali terisak. Bulir air matanya menetes, membasahi kedua pipinya.


Andre yang menyaksikan keterpurukan majikannya, memilih diam dan menyimak saja.


" Aku bahkan tidak bisa menghitung dengan jariku, berapa banyak orang yang sudah dia bunuh." lanjut Miguel. Ia terdiam sejenak, dan tak lama beranjak dari duduknya.


" Jangan menyentuhku.. aku akan berjalan sendiri." oceh Miguel dengan tak sadar, imbas dari minuman alkoholnya.


Berjalan sempoyongan, Miguel meninggalkan ruangannya. Ia melangkah menuju kamarnya hingga tak terasa tiba didepan pintu. Tangannya perlahan terangkat, memegang knop pintu dan membukanya.


Berdiri diambang pintu, ia melihat istrinya yang tengah duduk didepan meja rias. Seketika itu juga Miguel tersenyum getir, dan segera melangkah masuk kedalam kamarnya.


" Yakk.. kau sudah cantik." ucap Miguel setengah berteriak, berdiri dibelakang istrinya sembari memandang pantulan sang istri didalam cermin.

__ADS_1


Nauora yang mendengar suara suaminya, terdiam sejenak. Tak lama ia pun beranjak dari duduknya, menghampiri Miguel dengan wajah datar tanpa ekspresi.


" Sepertinya kau mabuk, sebaiknya istirahatlah."


Menyelesaikan ucapannya, Nauora hendak berlalu namun tiba-tiba saja Miguel mencekalnya. "Kenapa kau melakukannya?"


Pertanyaan sang suami sontak membuat Nauora mengangkat pandangannya. Kedua pandangan mereka pun bertemu, saling menatap manik mata.


" Jawab aku.. apa kau benar melakukannya lagi?" tanya tambahan meluncur lagi dari bibir tipis Miguel yang berwarna merah muda.


" Ah.. benar! Aku selama ini belum mendengar langsung jawaban darimu.. apa kau juga membunuh mereka semua?"


Miguel menatap nanar pada istrinya, pandangan itu seakan memelas meminta jawaban, meski dirinya tau apa jawaban Nauora.


Hening menyapa, lidah Nauora terasa keluh. Untuk berbicara sepatah katapun ia seakan tak sanggup. Memalingkan wajahnya, Nauora lalu menghempas kasar tangan suaminya yang sejak tadi menahannya untuk tak pergi.



" Benar! Aku melakukannya." jawabnya kemudian, beralih menatap wajah tampan suaminya.


" Aku yang membunuh mereka, termasuk wanita yang terlibat denganmu. Kau tau.. wanita-wanita seperti mereka pantas untuk mati karena jika hidup, mereka akan menghancurkan keluarga kita." tambahnya dengan santai.

__ADS_1


Miguel tercengang, keduanya matanya berkaca-kaca menatap sang istri.


" Tidak.. bukan keluarga kita, tapi keluargamu. Menikah denganku, bukan berarti kita adalah keluarga. Kau harus ingat bahwa pernikahan kita hanya sebatas kerja sama, dimana kau dan aku saling memberi keuntungan." sergah Miguel dengan tegas.


__ADS_2