Dunia Asmara

Dunia Asmara
Terungkapnya kehamilan Nixeelin.


__ADS_3

Keesokan harinya, dijam empat pagi dimana penghuni mansion Kwans saat ini masih terlelap diatas ranjang, namun berbeda pula dengan sicantik Nixeelin yang diam-diam keluar dari kamarnya, masih dengan piyama tidurnya dan rambut yang dibiarkan tergerai saja.


Celingak-celinguk didepan pintu kamarnya, memastikan tak ada pelayan yang melihatnya berkeliaran dipagi buta. Setelah memastikan situasi aman, buru-buru ia pergi ke tempat tujuannya dengan langkah yang gontai.


Langkah kakinya yang begitu cepat akhirnya membawa dirinya pada taman belakang mansion, tempat gudang tua itu berada. Tak membuang waktu lama ia segera membuka kunci gembok pintu gudang itu dan menyelinap masuk kedalam sana.


Berada didalam gudang, Nixeelin segera meraba dinding, mencari sklar lampu ruangan. Begitu lampu menyala, ia mengedarkan pandangannya pada tumpukan-tumpukan box disudut ruangan dan juga rak buku yang ditempati barang-barang lama.


" Banyak sekali, aku harus mulai mencari dimana?" gumamnya seorang diri, hendak melangkah pada tumpukan box, namun langkahnya tertahan saat dirinya tak sengaja melihat beberapa tumpukan koran lama disalah satu rak buku itu.


Perlahan melangkah mendekati rak buku, Nixeelin meraih koran lama itu yang sudah dibaluti dengan debu tebal. Ia membaca satu persatu tulisan besar dikoran, dan menghela nafas saat yang dicari tak didapati. Beralih pada buku-buku tua disamping koran, Nixeelin memilih melewatinya saja hingga pada satu titik dia terdiam saat melihat sekilas sebuah koran jatuh dikaki rak buku.


⚘️


⚘️


⚘️


Pagi hari sudah menyapa dengan silau keemasan dari terbitnya matahari. Sunrise yang tampak menyinari kediaman Kwans saat ini membuat bangunan bak istana itu semakin berkesan dan mewah, namun siapa sangka, ternyata anggota keluarga Kwans saat ini tengah dilanda rasa cemas. Bahkan tak tanggung-tanggung, sipemilik mansion yakni Tuan Dave yang biasa berada di istana negara, kini sedang berada dirumahnya bersama anak dan menantunya.


Bagaimana tidak, menantu barunya saat ini sedang tak sadarkan diri. Nixeelin yang didapati pingsan ditaman belakang, tak kunjung bangun sejak satu jam yang lalu hingga membuat Davis dan lainnya merasa cemas.


Bahkan dokter keluarga mereka yang memeriksa Nixeelin, tak dibiarkan pergi sebelum wanita cantik itu sadar.


Selang beberapa menit, Nixeelin yang masih terbaring lemah diatas ranjang king sizenya, mulai bereaksi. Jemari lentiknya bergerak pelan, begitu juga dengan kelopak matanya. Keningnya sedikit mengerut, dan alisnya tampak tertaut seakan dirinya melihat sesuatu dialam bawah sadarnya.

__ADS_1


" Jangan mencari tau sesuatu yang seharusnya tidak perlu kau ketahui."


Dheg.


Suara berat dari seorang pria yang didengar Nixeelin dari alam bawah sadarnya sukses membuat kelopak mata indah itu terbuka sempurna bersamaan itu Davis yang sejak tadi berada disisi istrinya segera mendekat dan dengan perlahan rasa cemasnya pun berkurang.


" Syukurlah, kau sudah sadar." seru Davis bahagia.


" Kenapa aku disini?" tanya Nixeelin terbangun dan bersandar pada headboard seraya melihat tangannya yang sudah dipasangi selang infus.


Akkhh..


Masih hendak berbicara, Nixeelin menahan diri saat kepalanya berdenyut. Ia memegangi kepalanya, membuat sang suami kembali cemas.


" Ada apa, kau kesakitan?" tanya Davis cemas.


" Katakan jika kau merasa sakit, nak. Dokter akan memeriksamu lagi, kau harus sehat agar bayimu baik-baik saja." sahut Tuan Dave dengan suara beratnya. Sontak membuat Nixeelin terkejut, menatap tak berkedip pada ayah mertuanya.


" Bayi? Apa mereka sudah tau tentang kehamilanku? Nauora, bagaimana jika dia mulai curiga." gumam Nixeelin dalam hatinya, beralih menatap nanar pada kakak iparnya yang sejak tadi terlihat cemas.


" Iya, Xeelin. Dan juga kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau hamil. Setidaknya kami bisa menjagamu lebih baik lagi." tutur Nauora dengan lembut.


" Ah itu.. " ucapan Nixeelin menggantung, ia sejujurnya masih tak dapat berfikir dengan baik saat ini karena kondisinya yang masih lemah. Terlebih lagi melihat Miguel yang berdiri kaku disamping Nauora, membuat dirinya merasa takut bilamana cerita sebenarnya terungkap.


" Aku sudah lama berkencan dengan Davis. Mungkin enam bulan lalu, dan banyak hal yang sudah kami lakukan bersama. Aku belum siap bercerita pada kalian, itu sebabnya aku menunggu waktu dulu." dusta Nixeelin dengan senyum tertahan.

__ADS_1


" Iya, kami sudah lama berkencan." Davis menimpali berusaha meyakinkan semua orang.


" Wah, aku baru ingat. Pantas saja saat itu aku masuk kedalam kamar Davis dan kalian tau, anak itu memajang semua foto Nixeelin." sahut Nauora mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


" Benarkah, wah.. anak ayah sudah berubah rupanya." ucap Tuan Dave bahagia.


Berbeda dengan Miguel, pria gagah itu hanya mampu mengamati dalam diam saja tanpa berani berucap sepatah katapun.


Sementara Nixeelin, ia kini memusatkan tatapannya pada Nauora. Meski bibirnya terkatup rapat, namun kedua matanya seolah berbicara. Tentu saja sebab sebelumnya tak sadarkan diri, ia yang masih berada digudang beberapa saat lalu, menemukan koran lama dikaki rak buku. Koran itu sendiri jelas memberitakan bahwa putri sulung Tuan Dave yang bertanggung jawab sepenuhnya atas pembunuhan pada Nyonya Milen.


" Ada apa, Nixeelin? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Nauora saat menangkap ekspresi wajah adik iparnya yang tampak berbeda.


" Apa kau sungguh membunuh ibuku?"


" Ah, tidak ada." jawab Nixeelin melemparkan senyuman lembutnya.


" Baiklah, kau istirahat saja untuk hari ini, dan infusnya jangan dilepas karena kau butuh cairan." tutur Nauora.


" Tapi hari ini aku harus pergi ke pesta pernikahan sahabatku." ucap Nixeelin yang baru teringat pada Lauren dan Viet yang akan menikah beberapa jam kedepan.


" Kami akan menghadirinya sebagai gantimu, jadi kau tidak perlu khawatir. Jaga saja kesehatanmu dan juga bayimu." sahut Tuan Dave.


Mendengar penuturan ayah mertuanya, Nixeelin tampak senang namun sesaat kemudian wajahnya berubah sendu.


" Ada apa, kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau sangat merindukan sahabatmu itu?" tanya Tuan Dave, sementara Nixeelin hanya diam.

__ADS_1


" Kau tidak perlu sedih, besok ayah akan mengundangnya kerumah ini karena ayah juga ingin membuat acara perjamuan." tambah Tuan Dave menghibur menantunya.


" Baiklah." sahut Nixeelin tersenyum.


__ADS_2