Dunia Asmara

Dunia Asmara
Cerita masa lalu.


__ADS_3

Setelah melalui perjalanan yang cukup lama, dua wanita cantik itu sudah tiba di mall. Nixeelin dan Lauren berjalan beriringan, melewati outlet-outlet dengan brand ternama.


Hingga tak lama langkah kaki Lauren terhenti saat dirinya berdiri didepan outlet yang menyediakan setelan khusus pria.


" Yakk.. ayo masuk dulu. Aku ingin belanja untuk Viet." seru Lauren menarik tangan sahabatnya.


" Kau sendiri saja, aku ingin kesana." tolak Nixeelin dengan cepat seraya menunjuk outlet yang menjual tas branded.


Meski sibuk bekerja, namun Nixeelin tentu memperhatikan tampilannya. Sebagai pecinta fashion dan luxury, Nixeelin tak ingin melewatkan kesempatan tuk berbelanja sepuasnya, mengingat bahwa hanya hari ini dirinya memiliki banyak waktu luang.


" Aish, kau ingin apakan semua tasmu? Lagipula koleksimu masih banyak dilemari." celetuk Lauren mengerucutkan bibir mungilnya.


" Aku hanya ingin melihat saja." ucap Nixeelin melepaskan tangan sahabatnya. Setelahnya ia segera berlalu begitu juga dengan Lauren.


****


Ditengah kesendirian Nixeelin, ia tampak melihat-lihat berbagai tas branded didalam lemari kaca. Semua terlihat mewah, dan perasaan ingin memilikipun hadir. Lama memandangi tas-tas cantik didepannya, Nixeelin akhirnya menjatuhkan pilihan pada tas berwarna putih polos.


" Aku ingin tas ini." ujarnya pada pegawai wanita yang sejak tadi berdiri disisinya.


" Wah, pilihan Nyonya Nixeelin memang selalu yang terbaik." seru sang pegawai itu tersenyum manis.


Nixeelin hanya membalas dengan sebuah senyuman, setelahnya ia kembali melihat-lihat tas dengan model yang berbeda. Namun tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya menghampiri, menatapnya dengan sangat intens.


" Nixeelin?"

__ADS_1


Wanita paruh baya dengan setelan modis, tiba-tiba menyapa Nixeelin.


Mendengar seseorang menyerukan namanya, Nixeelin menoleh. Dirinya menatap nanar pada wanita paruh baya itu.


" Maaf, anda siapa dan apakah anda mengenalku?" tanya Nixeelin mengamati wanita tua dihadapannya.


" Tentu saja, kau putri Nyonya Milen kan? Namamu yang unik membuatku cepat mengenalimu." tutur wanita paruh baya itu.


" Aku Ibu Yeon, pengasuhmu saat masih bayi." tambahnya dengan tak lupa menampilkan senyuman manisnya.


" Pengasuhku?"


Kening Nixeelin mengerut, sesaat ia tampak kebingungan.


" Iya, Ibumu dulu memintaku menjadi pengasuhmu untuk sebulan." terang Ibu Yeon.


" Ibumu itu sangat baik. Dulu dia mengatakan aku harus menjaga kalian dengan sangat baik sebelum Ayah kalian menjemput." tambah Ibu Yeon, menerawang pada peristiwa belasan tahun lalu.


" Apa maksudmu.. Ayah kami?" tanya Nixeelin semakin dibuat bingung dengan cerita wanita tua dihadapannya.


Ibu Yeon yang menangkap ekspresi wajah Nixeelin, ikut dibuat bingung.


" Kau punya saudara kembar laki-laki, itu sebabnya aku berkata seperti itu." jelas Ibu Yeon saat menyadari wanita cantik didepannya tampak tak mengerti dengan maksudnya.


" Aku punya saudara kembar? Dimana dia, lalu kenapa Ayahku mengatakan aku anak tunggal?"

__ADS_1


Serentetan tanya dilontarkan Nixeelin dengan satu tarikan nafas. Raut wajahnya kian serius, menatap intens pada Ibu Yeon.


" Astaga.. apa Nyonya Milen memisahkan kalian? Padahal aku masih ingat.. saat itu dia sangat gigih mempertahankan anak-anaknya." tutur Ibu Yeon terkejut.


" Apa maksud anda?" Nixeelin semakin dibuat penasaran.


" Dengar, aku hanya memberitahumu saja itu karena kau anak Nyonya Milen." ucap Ibu Yeon setengah berbisik.


" Aku dengar Ibumu hamil diluar nikah. Ayah ibumu waktu itu sangat marah jadi dia mengutuk ibumu dan tidak mau menerimamu dan adik kembarmu. Tapi Nyonya Milen sangat menyayangi kalian, itu sebabnya dia berusaha mencari Ayahmu yang hilang kabar. Lalu saat Nyonya Milen menemukan Ayah kalian, dia memohon untuk menjagamu dan juga adikmu. Tapi ayahmu saat itu harus menyelesaikan urusannya dalam satu bulan, itu sebabnya Nyonya Milen memintaku untuk menjadi pengasuh kalian saat baru lahir." jelas Ibu Yeon panjang lebar.


Nixeelin tercengang saat Ibu Yeon menguak cerita keluarganya sebab selama ini dirinya memang tak pernah mengetahui apapun tentang Ibu dan Ayah kandungnya.


" Apa yang Ayahku lakukan selama sebulan itu?" tanyanya kemudian.


" Ibumu merahasiakannya, tapi aku sempat mendengar dia bicara ditelfon. Kakekmu ternyata membuatnya di penjara." jawab Ibu Yeon seadanya.


" Ah, sebelum kalian berpisah dengan Nyonya Milen.. kudengar Nyonya Milen memberikan wastu besar diujung kota. Kau memilikinya kan?" ucap Ibu Yeon saat teringat akan warisan yang diberikan pada Nixeelin.


" Iya, aku memilikinya. Kupikir itu pemberian Ayahku." tutur Nixeelin dengan sendu.


" Aish, Ayahmu itu dari keluarga tidak mampu itu sebabnya kakekmu tidak menyukainya." celetuk Ibu Yeon.


Helaan nafas terdengar jelas dari Nixeelin saat Ibu Yeon menyelesaikan ucapannya. Raut wajahnya seketika berubah sedih.


" Sudah.. kau jangan pikirkan itu lagi, semua hanya masa lalu. Sekarang kau sudah menjadi lebih baik, Ibumu pasti bahagia. Kalau begitu aku pergi dulu, aku punya urusan penting." terang Ibu Yeon.

__ADS_1


" Tunggu, bisakah aku meminta nomor telfonmu." pinta Nixeelin yang diangguki Ibu Yeon.


__ADS_2