Dunia Asmara

Dunia Asmara
Masih berteman.


__ADS_3

Didalam kamarnya saat ini terlihat Miguel yang baru saja menidurkan istrinya diatas ranjang berbalut seprai putih polos. Setelah memakaikan selimut sang istri, pria matang berjas hitam itu tampak termenung memandangi istrinya.



Perlahan tangannya terangkat, jemarinya bergerak membelai wajah cantik Nauora, menyibak setiap helaian rambut yang menutupi wajah istrinya.


Tak lama helaan nafas terdengar jelas, ucapan Ciko terus terngiang dibenaknya.


" Maafkan aku.. " lirihnya dengan suara yang amat kecil. Lama berdiam diri, Miguel pun segera berlalu.


Sepeninggalan Miguel, perlahan kelopak mata Nauora terbuka. Wanita cantik itu tak bergeming, namun malah menitikkan air matanya.


" Aku jelas mendengarnya meminta maaf. Apa karena dia ingin menyelesaikan hubungan kami? Haruskah aku yang lebih dulu menyelesaikannya?"


⚘️⚘️⚘️


Jam dinding menunjukkan pukul dua belas, menyatakan malam semakin larut. Disaat semua penghuni mansion Kwans terlelap dikamar masing-masing, Nauora justru terjaga seorang diri diruang makan.


Duduk termenung dimeja makan, lagi-lagi ekspresi wajah Nauora begitu sendu. Ternyata meminum banyak alkohol tidaklah mengurangi stresnya, namun justru semakin membuat pikirannya kacau.


Ditengah kesendiriannya, samar-samar Nauora mendengar derap langkah kaki yang semakin dekat. Wanita dengan rambut yang disanggul asal itu menoleh, dan tepat saat itu dirinya mendapati Nixeelin yang tengah berdiri diambang pintu ruang makan.


Hening menyapa, kedua wanita cantik itu saling melempar tatap tanpa bersuara. Tatapan dengan ekspresi yang sulit tuk diartikan.


Sepersekian detik, Nauora menurunkan pandangannya, ia menatap begitu intens pada perut Nixeelin yang terlihat membuncit. Rasa sesak seketika bergejolak, rasa sakit mengetuk relung hatinya.

__ADS_1


" Benar.. aku tidak bisa marah padanya. Suamiku mencintainya. Disaat aku tau rahasia terbesar suamiku, aku malah tidak bisa marah. Itu karena rasa takut hadir, aku takut bila suamiku memilihnya dan meninggalkanku tanpa melihat usahaku selama ini. Kupikir.. sekali saja aku ingin menjadi orang bodoh. Biar aku menutup mataku kali ini."


" Kau baru pulang?."


Nauora dengan ramah menyapa adik iparnya yang baru masuk kedalam ruang makan. Senyumnya sangat lembut, membuat Nixeelin seketika mengernyit.


" Matamu sangat bengkak, apa kau sudah menangis?" tanya Nixeelin dengan tiba-tiba. Ia mengamati wajah kakak iparnya dengan sangat intens.


" Ah.. tidak.." Nauora menjawab dengan tak lupa tersenyum.


" Ini karena aku begadang semalaman. Aku juga sudah minum anggur, itu sebabnya mataku jadi bengkak begini." jelas Nauora meyakinkan Nixeelin.


Nixeelin mengangguk kecil, ia percaya begitu saja meski masih merasa sedikit ragu.


" Aku baru pulang karena tadi ada urusan kantor yang harus kuselesaikan hari ini." jelas Nixeelin yang kemudian duduk disamping kakak iparnya.


Selang beberapa saat, Nauora sudah kembali dengan membawa segelas susu hangat.


" Bagaimana perasaanmu selama mengandung si baby?" tanya Nauora meletakkan segelas susu hangat yang baru saja sudah dibuatnya.


" Aku tidak tau harus menjelaskannya bagaimana, tapi aku bahagia memilikinya." jawab Nixeelin seadanya. Ia meraih segelas susu hangat didepannya, meneguknya sedikit.


" Susunya enak, terima kasih." ucap Nixeelin tersenyum lembut.


" Bekerja sampai larut seperti ini, apa tidak memengaruhi kandunganmu?" tanya Nauora kemudian.

__ADS_1


" Entahlah.. tapi aku berusaha menjaga kesehatanku dan juga bayiku." jawab Nixeelin.


" Ah, kenapa kau belum tidur?" Nixeelin mengajukan tanya setelahnya ia kembali meneguk susunya.


" Tadi aku mimpi buruk, jadi aku bangun." jawab Nauora dengan senyum tertahan.


" Jadi kau memikirkan mimpi burukmu itu?" tanya Nixeelin.


" Tidak, aku berusaha melupakannya." jawab Nauora.


" Itu bagus. Kau tidak perlu memikirkannya, lagipula itu hanya bunga-bunga tidur." tutur Nixeelin menampilkan senyumannya.


" Ah, kalau begitu aku akan ke kamar dulu. Masih ada pekerjaan dari kantor yang harus kuselesaikan." tambahnya hendak berlalu.


" Xeelin.."


Suara lirih Nauora menghentikan langkah kaki Nixeelin. Wanita yang masih mengenakan dress selutut itu berbalik badan, ia menatap nanar pada kakak iparnya.


" Ada apa?" tanyanya kemudian, menatap dalam manik mata Nauora.


" Kita masih berteman kan?" tanya Nauora membuat adik iparnya mengernyit keherangan.


" Tentu saja kita berteman." jawab Nixeelin tersenyum.


" Kalau begitu.. kau tidak akan mengkhianati aku kan?"

__ADS_1


Dheg.


__ADS_2