
Dheg.
Ucapan tak terduga dari Nauora sukses membungkam bibir tipis Nixeelin. Suasana hati Nixeelin mendadak berubah, jantungnya pun berdebar. Ia menelisik wajah cantik Nauora, dan tak lama kerutan didahi muncul. Nixeelin tampak heran dan juga merasa aneh sebab tatapan kakak iparnya seolah menyiratkan sesuatu.
" Apa maksudmu?"
" Ah, tidak. Lupakan saja. Kalau begitu aku naik dulu." ujar Nauora tersenyum lembut.
Nixeelin tak bergeming ditempatnya, ia hanya menatap kepergian Nauora dengan penuh tanya dibenaknya.
" Apa dia tau sesuatu?" gumamnya dalam hati.
⚘️
⚘️
⚘️
Disatu sisi tampak Davis yang saat ini tengah bersama asistennya. Setelah menghabiskan beberapa jam waktunya di bar, Davis akhirnya meminta pulang saat merasa dirinya sudah cukup dikuasai minuman alkohol.
__ADS_1
Mobil sedan hitam itu tampak melaju membela jalanan ibukota yang mulai sepi. Pengemudinya yang tak lain adalah Ishal, terlihat fokus pada kemudi dengan Davis yang dibelakang sana tampak merenung sepanjang perjalanan.
" Shal.. "
Ditengah ketenangan, dengan wajah sendu Davis menyerukan nama asistennya. Sorot matanya seakan penuh kesedihan, tarikan nafasnya pun seolah isyarat keputusasaan.
" Ada apa?" Ishal menyahut seraya fokus pada kemudinya. Perjalanan dilarut malam membuatnya lebih memperhatikan jalan terlebih lagi ia masih dikuasai rasa kantuk.
" Apa menurutmu aku sudah cukup baik?" tanya Davis kemudian.
" Tentu saja. Kau adalah orang kaya baik yang tidak akan pernah kutemui dimanapun. Kau tau tidak.. saat ini banyak orang diluar sana yang ingin menjadi seperti dirimu. Pintar, pekerja keras, dan memiliki track record terbaik." jawab Ishal berterus terang, mengungkapkan pendapatnya dari dalam hati.
" Kau tau.. aku pernah keluar kota untuk menggantikanmu hadir dalam rapat. Saat itu semua orang memujimu.. mereka tidak mengenalmu sebagai Davis Kwans anak dari presiden. Tapi mereka mengenalmu karena kebaikanmu. Namamu bahkan tidak pernah cacat dimedia. Kau tau apa yang aku rasakan saat itu?"
" Apa?"
" Aku bangga memiliki teman sepertimu." ujar Ishal dengan jujur.
" Terima kasih..." ucap Davis dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
" Ishal... " panggil Davis lagi setelah terdiam sesaat.
" Ada apa lagi? Jangan misscall, langsung saja bicara." seloroh Ishal.
" Aku melihat Nixeelin dimajalah. Fotonya dipasang disampul majalah." tutur Davis sendu. Mendengar ucapan majikannya, Ishal perlahan menepikan mobilnya.
Mengenal Davis selama belasan tahun membuat Ishal cukup mengerti, nada bicara serta mimik wajah seperti saat ini membuatnya mengerti dengan cepat bahwa sang majikan ingin mengutarakan keluh kesahnya.
" Katakanlah! Aku akan mengantarmu pulang setelah selesai bicara!" seru Ishal siap mendengar curhatan Davis.
" Aku takut.. kalau ternyata aku tidak bisa membuatnya bahagia ataupun tersenyum lagi seperti difotonya." lirih Davis yang tanpa sadar menitikkan air mata.
Ishal termangu, seumur hidup ia mengenal Davis, tak pernah dirinya mendapati sang majikan begitu terpuruk seperti malam ini.
" Kau masih belum berhasil menyembuhkan penyakit atelophobia mu?" Ishal mengajukan tanya, sementata Davis hanya diam tak memberi jawaban.
" Aku sudah menyuruhmu rutin ke dokter psikologi. Aku selalu mengatur jadwalmu untuk periksa, lalu kenapa kau tidak pergi? Jika kau tidak berusaha lepas dari penyakit atelophobia mu, kau akan menyesal suatu hari nanti." tutur Ishal panjang lebar. Ia lalu bersandar pada kursi kemudi lalu menghela nafas beratnya.
" Aku tetap takut, Shal. Sejak kecil sampai dewasa seperti sekarang.. aku masih mendapati orang-orang yang mengatakan aku mirip ayahku. Kau tau.. itu semakin membuatku tidak percaya diri. Kupikir.. aku akan seperti ayahku nanti. Tidak bisa membahagiakan orang yang kucintai. Seperti ayahku, dia tidak bisa membuat ibuku bahagia, begitu juga dengan Bibi Milen.. mereka berdua tidak pernah merasakan bahagia saat bersama ayahku."
__ADS_1
Davis mengungkapkan semua isi hatinya dengan wajah yang berlinang air mata. Sekian lama berusaha tegar dan terlihat baik-baik saja setelah sang ibu meninggal, akhirnya malam ini Davis menangis, tak kuat lagi memendam sesak didadanya.