
Disatu tempat yang berbeda, tepatnya disebuah rumah sederhana bergaya klasik, terlihat mobil Miguel yang tengah terparkir rapi didepan rumah itu, sementara pemiliknya berada didalam rumah.
Diruang tamu minimalis, Miguel saat ini sedang duduk disalah satu sofa dengan seorang wanita tua dihadapannya yang duduk dikursi roda.
" Bagaimana kabar nenek?" tanya Miguel kemudian berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan wanita tua itu yang tengah duduk. Pandangannya sangat intens, senyum lembutnya hanya untuk sang nenek. Namun yang ditatap justru membalas dengan pandangan kosong dan bibir yang terkatup rapat.
Lama menanti jawaban dari wanita tua itu, Miguel pun beranjak dan beralih menatap pada gadis muda yang selalu setia menemani wanita paruh baya itu. Gadis muda itu bukan hanya seorang pelayan saja, namun juga seorang perawat khusus untuk sang nenek.
" Apa sama sekali belum ada tanda-tanda kesembuhan nenek?" tanyanya pada gadis itu.
" Aku bingung harus menjelaskan bagaimana, tapi saat kami berdua.. terkadang dia berbicara saat melakukan satu hal tertentu. Seperti saat makan, dia akan mengomentari masakan itu." jelas gadis muda itu yang bernama Sunny.
" Aku mohon, teruslah bantu nenek." ucap Miguel dengan senyum lembutnya.
Perawat Sunny mengangguk kecil dan tak lupa menampilkan senyum terbaiknya. Sedangkan Miguel mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya itu, tatapannya sendu dan juga penuh harap akan kesembuhannya.
" Kau harus sembuh karena ada hal penting yang ingin kutanyakan." gumam Miguel dalam hati.
" Tuan.." panggil Perawat Sunny membuat Miguel tersadar.
" Sebenarnya.. Nyonya besar pernah bicara sendiri." ucap Perawat Sunny yang terlihat ragu.
Miguel menautkan alisnya, ia tampak bingung sekaligus penasaran. "Apa yang diucapkannya?"
" Nyonya besar bukan sekali mengatakannya. Tapi saat melihat suruhan Tuan Dave hari itu, Nyonya besar akan panik. Beliau selalu ketakutan, dan mengatakan kalau orang itu berbahaya." tutur Perawat Sunny.
" Orang itu?" Miguel semakin penasaran setelah mendengar penuturan gadis muda didepannya.
" Siapa suruhan Tuan Dave?" tanya Miguel.
" Aku juga tidak tau, Tuan. Orang itu hanya datang melihat dan tidak mengatakan apapun." ucap Perawat Sunny.
Mendengar cerita dari Perawat Sunny, Miguel tampak berfikir sesaat.
" Ah, Tuan.. aku juga baru melihat orang itu. Dia hanya datang sekali, mungkin dua hari yang lalu. Aku fikir dia hanya datang mengecek kondisi Nyonya besar, jadi aku membiarkannya masuk didalam kamar Nyonya besar. Tapi saat orang itu berdiri didepan pintu, Nyonya besar langsung berteriak ketakutan." jelas Perawat Sunny mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
" Benarkah?" tanya Miguel dengan serius.
" Iya, Tuan." jawab Perawat Sunny.
" Ada yang aneh, orang itu tidak mungkin datang sendiri. Sudah jelas dia pasti salah satu orang Ayah. Apa jangan-jangan pembunuhan itu ada kaitannya dengan Ayah?" Miguel bergumam dalam hati seraya teringat pada Ayah mertuanya.
" Baiklah. Aku akan pergi dulu, tolong jaga nenek dengan baik." pamit Miguel segera pergi.
⚘️
⚘️
⚘️
Malam kembali menyapa, dikediaman Kwans saat ini tepatnya dikamar Davis. Terlihat Nixeelin yang masih dilanda rasa penasaran.
Seharian ini dirinya tak kunjung keluar dari kamar, dan hanya sibuk mengerjakan pekerjaannya dilaptop sembari mencari cara agar bisa mendapatkan kunci gudang tua itu. Meski sejujurnya ia bisa saja memintanya pada kepala pelayan, namun ia tetap menahan diri sebab tak ingin anggota keluarga suaminya menjadi curiga padanya.
Tok. Tok. Tok.
" Nyonya, ini kopi anda." ucap pelayan itu meletakkan segelas kopi panas diatas meja.
" Hu'um, terima kasih." seru Nixeelin dengan pandangan yang tak lepas dari layar laptopnya.
" Nyonya, Tuan Davis sudah pulang." ujar sang pelayan sebelum meninggalkan kamar majikannya.
" Benarkah?" Nixeelin sontak melirik sekilas pada jam dipergelangan tangannya.
" Aku terlalu sibuk sampai tidak sempat lihat jam. Baiklah, kau boleh keluar." tambahnya kemudian. Gadis muda itu pun segera pergi.
Sepeninggalan sang pelayan, Nixeelin memutar otak setelah mendengar nama suaminya. Ia sadar bahwa hanya Davis yang mampu membantu dirinya tuk mendapatkan kunci gudang tua itu.
Sepersekian detik kemudian, wanita dewasa itu menjentikkan jari saat sebuah ide terlintas dibenaknya. Tak lama pintu kamarnya terbuka, dan menampilkan Davis yang baru pulang. Buru-buru Nixeelin menyambar tasnya yang tergeletak diatas sofa.
" Ah, kau sudah pulang." seru Nixeelin sembari menggeledah isi tasnya.
__ADS_1
" Hu'um.. tapi apa yang kau cari? tanya Davis mengamati pergerakan sang istri.
" Gelang berlianku tiba-tiba saja hilang, aku sedang mencarinya." tutur Nixeelin berpura-pura panik.
" Benarkah?"
Davis spontan ikut panik, tak membuang waktu lama segera menghampiri istrinya yang duduk disofa seraya memeriksa setiap bagian tas branded itu.
" Bagaimana bisa hilang, apa kau yakin menaruhnya di dalam tas ini?" tanya Davis khawatir tanpa menyadari jarak kedekatannya dengan sang istri.
Dheg.
Disaat Nixeelin mengangkat pandangan hendak berbicara, ia sontak tertegun saat melihat wajah tampan suaminya yang begitu dekat dengannya. Jantungnya berdetak saat dirinya dapat melihat dengan jelas wajah tampan itu, terlebih lagi kini mereka saling beradu pandang.
" Kenapa hatiku seperti ini." gumam Nixeelin dalam hati sembari menatap lekat manik mata hazel suaminya.
" Ada apa, kenapa kau diam?"
Suara maskulin Davis menyadarkan wanita cantik itu. Ia lalu segera memalingkan wajahnya.
" Ah, aku lupa.. sepertinya gelang itu jatuh kedalam box yang dibawa pelayan tadi." ucap Nixeelin yang dengan cepat mampu mengontrol rasa gugupnya.
" Box?"
" Iya, tadi aku bertemu pelayan yang membawa box. Katanya dia ingin menaruhnya didalam gudang tua." tutur Nixeelin.
" Mungkin itu Bu Jung, kepala pelayan. Karena hanya dia yang memegang kunci gudang tua." terang Davis beranjak.
" Kau ingin kemana?" cegah Nixeelin cepat.
" Aku akan meminta kunci itu. Kita harus mendapatkan gelangmu cepat sebelum hilang." jelas Davis.
" Ah, benar. Kau minta saja kuncinya, tidak perlu dijelaskan. Nanti Bu Jung salah paham dan mengira aku menuduhnya yang tidak-tidak."
Mendengar penuturan istrinya, Davis terdiam sejenak karena yang dikatakan Nixeelin memang cukup masuk diakalnya.
__ADS_1
" Baiklah, tunggu aku." ucapnya segera berlalu.