
" Nara, maafkan aku. Aku rasa... aku harus memberitahumu hal ini. Aku berniat menyembunyikannya lebih lama, atau bahkan tidak pernah mengatakannya kepadamu. Tapi kali ini aku akan berkata jujur kenapa aku harus menemui Nixeelin." tutur Miguel menjeda ucapannya.
Sementara Nauora, pandanganya sontak fokus pada wajah suaminya. Entah mengapa ia merasa bahwa Miguel akan mengatakan sesuatu yang sudah ada didalam pikirannya saat ini.
" Sebenarnya aku.. "
" Aku tau... "
Dengan cepat Nauora memotong ucapan suaminya. Menjerit kencang seraya menutup kedua telinganya, membuat suaminya mengernyit bingung.
" Aku tau.. jadi kau tidak perlu mengatakannya lagi." ucap Nauora dengan lantang.
Nauora tak ingin bila suaminya menjelaskan tentang perselingkuhannya karena itu akan semakin membuatnya merasakan sakit yang luar biasa.
" Apa maksudmu?" tanya Miguel yang masih tak mengerti.
Hening menyergap, Nauora bungkam. Wanita berambut panjang itu memalingkan wajah, tak ingin bertatap muka dengan suaminya.
Sepersekian detik kemudian, raut wajah Miguel berubah saat ia menyadari sesuatu. Menarik tangan Nauora hingga membuat dirinya ditatap, Miguel menatap lekat kedua manik mata istrinya.
" Kau sudah tau semuanya?" tanya Miguel dengan tatapan intensnya.
__ADS_1
Nauora mengangguk kecil dengan senyum tertahan diwajah cantiknya. Sedangkan Miguel kini tercengang. Pria gagah itu sangat terkejut, ia lalu melepas tangan istrinya.
" Kau tau kalau adik iparmu mengandung bayi suamimu, tapi kau justru hanya tinggal diam dan melihatnya." Miguel kebingungan dengan cara berfikir istrinya kali ini.
Hening menyapa, bibir tipis Nauora terkatup rapat. Ia tak mengeluarkan suara, namun kedua matanya seolah berbicara.
" Bicaralah, kenapa kau tidak mengatakan apapun?"
Dengan wajah sendu, Miguel melemah dihadapan istrinya.
" Aku mencintaimu!"
Dheg.
" Aku mencintaimu, itu sebabnya aku memilih menutup mata dan telingaku." jelas Nauora lagi.
" Aku mencintaimu.. tapi aku terlalu malu mengatakannya. Aku mencintaimu, itu sebabnya aku hanya diam dan berusaha menerima kenyataan. Berharap suatu saat kau akan tetap bertahan disampingku." tambah Nauora dengan gelombang suara yang tampak bergetar, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak.
Dengan tatapan intensnya, Miguel menatap manik mata istrinya yang seolah penuh kesedihan. Dirinya belum mengatakan apapun atas pernyataan cinta sang istri, namun tentu hatinya merespon perasaan Nauora.
" Pergilah. Bayi itu mungkin membutuhkanmu." lanjut Nauora kemudian menitikkan air matanya. Sementara Miguel hanya diam membeku ditempatnya.
__ADS_1
Cukup lama berdiam diri ditempatnya, Miguel perlahan mendekat pada istrinya hingga kini tak ada jarak lagi diantara mereka. Ia lalu meraih kedua tangan Nauora, dan tersenyum kecil.
" Dengarkan aku.. tunggulah sampai aku kembali. Kita akan bicara lagi nanti." tutur Miguel tersenyum lembut, dan lalu menangkup wajah cantik istrinya.
Dikecupnya dengan lembut bibir mungil sang istri, Miguel kemudian mengusap kedua pipi istrinya, menghilangkan jejak air mata wanitanya. Setelahnya ia hendak berlalu, tapi kembali berbalik dan tersenyum hangat pada Nauora.
" Tunggu aku." ucapnya lagi, dan memeluk Nauora sebelum benar-benar pergi.
Nauora hanya mampu menatap suaminya yang berlalu. Ia lalu menghela nafas dan hendak berlalu kedalam bathroom untuk membasuh wajahnya. Namun langkahnya tertahan saat tak sengaja pandangannya terarah pada jas overcoat milik suaminya yang teronggok diatas sofa.
" Dia pasti akan kedinginan." lirih Nauora merasa cemas sebab Miguel keluar disaat cuaca dingin, dan tanpa mengenakan pakaian yang tebal.
****
Tak membuang waktu lama Nauora bergegas meninggalkan kamarnya dengan menenteng jas overcoat milik suaminya. Namun didepan kamar ia berpapasan dengan Bu Jung yang tengah membawa segelas air hangat untuknya.
" Nyonya, sebaiknya minum dulu." tutur Bu Jung.
" Nanti saja. Aku akan keluar dulu." seru Nauora.
" Nyonya mau kemana?" tanya Bu Jung menahan langkah kaki majikannya.
__ADS_1
" Aku akan kerumah sakit, Miguel lupa bawa jaketnya, jadi aku ingin mengantarkan ini." jawab Nauora seadanya sembari memperlihatkan jas overcoat yang dipegangnya.
" Baik, Nyonya. Hati-hati dijalan." pesan Bu Jung yang hanya diangguki Nauora.