Dunia Asmara

Dunia Asmara
Pertemanan Nauora dan Nixeelin.


__ADS_3

Waktu bergulir cepat dan tak terasa malam sudah menyapa. Masih dikamarnya, terlihat saat ini Nixeelin yang tengah duduk bersandar pada headboard ranjangnya.


Ditengah kesendiriannya, ia menitikkan air mata sebab hanya mampu menyaksikan pernikahan sahabatnya dilayar ipadnya saat ini karena memang semua media kini hanya meliput acara pernikahan aktris cantik Lauren.


Drt. Drt. Drt.


Sepersekian detik kemudian, ponsel Nixeelin diatas nakas tiba-tiba berdering. Buru-buru wanita berambut panjang itu meraih ponselnya dan menjawab panggilannya.


" Yakk.. kau sungguh tidak datang dipernikahanku?"


Wanita diseberang telfon yang tak lain adalah Lauren, langsung menyambar serentetan kata saat panggilan sudah terhubung.


" Lauren... hiks.. hiks..."


Nixeelin menumpahkan tangisnya saat mendengar suara sahabatnya dibalik telfon. Dirinya benar-benar sedih sebab tak dapat hadir diacara penting Lauren dan juga Viet— sepupunya.


" Kenapa kau menangis. Jangan seperti itu, nanti bayimu juga sedih." ucap Lauren.


" Maafkan aku.. aku tidak bisa datang." tutur Nixeelin bersungguh-bersungguh.


" Tidak apa-apa. Lagipula suamimu dan keluarganya datang menggantikanmu. Mereka juga baru saja pulang." seru Lauren.


" Benarkah?" tanya Nixeelin dengan suara seraknya sembari menyeka air matanya sendiri.


" Hu'um."


" Baiklah, sebagai gantinya kau bisa ambil mansionku itu dan tinggallah bersama Viet disana." tutur Nixeelin masih merasa tak enak.


" Wah, kau serius?" Lauren diseberang telfon tampak terkejut.


" Hu'um.."


" Aish, tidak perlu berlebihan. Aku tidak menginginkan mansionmu, aku hanya ingin wastu diujung kota itu." seru Lauren enteng.


" Heh? Wastu?"

__ADS_1


Kesedihan Nixeelin mendadak hilang, dan berganti dengan keterkejutan.


Bagaimana tidak, sahabatnya saat ini tengah meminta bangunan tua miliknya yang berada diujung kota. Hunian berukuran besar yang hampir setara dengan mansionnya, dan terlebih lagi bangunan megah itu adalah peninggalan mendiang ayahnya.





Hening menyergap, Nixeelin terdiam sesaat sedangkan Lauren diseberang sana tengah menahan tawanya karena sebenarnya ia hanya bercanda.


" Baiklah, kau boleh mengambilnya." ujar Nixeelin setelah terdiam cukup lama.


" Kau serius?" pekik Lauren memastikan bahwa ia tak salah dengar.


" Tentu saja."


" Tapi wastu itu warisan ayahmu." ucap Lauren.


" Aish, kau itu. Jangan memberi jika tidak ikhlas. Kalau begitu aku minta saja rumahmu yang ditengah kota. Aku ingin bersantai disana setelah acara pernikahan."


" Baiklah. Kau boleh mengambilnya." ucap Nixeelin dengan cepat mengingat bahwa rumah yang dimaksud sahabatnya memang tak pernah ia tempati setelah membelinya setahun lalu.


" Oke, Deal. Baiklah, aku tutup telfonnya, kau istirahat saja dulu. Aku juga masih harus menerima tamu." terang Lauren.


" Hu'um.. selamat berbahagia." Nixeelin segera menutup panggilannya dan meletakkan kembali ponselnya diatas nakas.


Tok. Tok. Tok.


Selang beberapa saat, tak lama setelah Nixeelin menyelesaikan obrolannya dengan Lauren ditelfon, seseorang diluar sana mengetuk pintu. Buru-buru Nixeelin memperbaiki posisi duduknya dan tak lama pintu kamarnya terbuka. Terlihat Nauora yang muncul dibalik pintu dengan membawa nampan berisi makanan. Berjalan menghampiri Nixeelin dengan tak lupa menampilkan senyum terbaiknya.


" Xeelin, kau belum makan malam kan?"


" Iya, belum." jawab Nixeelin membalas senyuman kakak iparnya.

__ADS_1


" Aku membeli bubur diperjalanan pulang tadi." ujar Nauora lalu duduk dipinggir tempat tidur.


" Kau harus memakannya selagi hangat." tambahnya hendak menyuapi Nixeelin.


" Biar aku sendiri." ucap Nixeelin dengan cepat. Ia ingin mengambil semangkok bubur ditangan kakak iparnya.


" Biar aku saja. Lagipula kau tidak boleh bergerak berlebihan." tutur Nauora lembut.


Nixeelin pun mengalah, mau tak mau ia membuka mulut dan menerima suapan dari Nauora.


" Bagaimana, enakkan?"


" Huumm." Nixeelin mengangguk dan mengulum senyumnya.


" Kau terlalu baik untuk menjadi pembunuh." gumam Nixeelin dalam hatinya, menatap intens wajah cantik kakak iparnya.


" Aku minta maaf." ucap Nauora tiba-tiba.


Nixeelin termangu mendengar permintaan maaf kakak iparnya. "Ada apa?"


" Kau pasti berfikir aku tidak menyukaimu saat kita bertemu dirumah sakit." tutur Nauora, teringat pada kejadian beberapa minggu lalu.


" Kau tau, sebenarnya aku senang saat mendengar Davis mengatakan ingin menikahi. Hari itu aku berfikir, ah akhirnya aku punya teman. Lalu aku sadar kembali, rumah tanggaku tidak berjalan baik. Aku takut jika rumah tangga adikku juga seperti itu. Tapi sekarang aku sadar, Davis tidak asal memilih istri." jelas Nauora panjang lebar.


Mendengar penuturan Nauora, entah mengapa rasa bersalah dihati Nixeelin menyeruak. Bimbang melandanya.


" Begini saja.. " Nauora menjeda ucapannya, ia meletakkan semangkok bubur ayam itu diatas nakas lalu meraih satu tangan Nixeelin dan menggenggamnya.


" Daripada menjadi adik iparku, bagaimana jika kau menjadi temanku saja? Aku tau ini terdengar lucu, tapi kau tau tidak, aku tidak memiliki teman." lanjut Nauora tersenyum.


" Benarkah, apa kita bisa berteman?" Nixeelin menatap intens wajah Nauora.


" Tentu saja."


Mendengar jawaban kakak iparnya, Nixeelin pun mengulum senyum. Sedangkan Nauora segera memeluk adik iparnya.

__ADS_1


__ADS_2