
Satu Minggu Kemudian
Hari berganti lagi dan tak terasa seminggu sudah terlewati. Dikediaman Kwans saat ini, didalam kamar tampak Nixeelin yang tengah berdiri didepan meja rias. Istri cantik dari Davis Kwans itu baru saja selesai berendam didalam bathroom.
Mengenakan bathrobe berwarna putih selutut, ia tengah berdiri didepan meja riasnya, memandangi pantulan dirinya pada cermin besar didepannya.
Meraba perutnya yang mulai membuncit sedikit, ia lalu tersenyum seorang diri kala mengingat bahwa ada cabang bayi yang tengah dikandung saat ini.
" Kau cepat besar, yah.. supaya kita cepat bertemu." ucap Nixeelin sembari mengusap perut buncitnya.
Ceklek.
Mendengar pintu bathroom dibuka, buru-buru Nixeelin meraih head drayer dan mengeringkan rambutnya yang masih basah.
" Kau belum selesai rupanya." celetuk Davis yang baru keluar dari dalam bathroom dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Ia yang baru selesai dengan ritual mandinya, segera berjalan menuju walk in closet. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
" Ah, Kak Nauora sudah memesan gaun untukmu diacara nanti malam. Kau pakai itu saja." ucap Davis berbalik badan, mengingat bahwa ayahnya sudah mengatur acara perjamuan.
" Gaun?" Nixeelin mengernyit, ia menoleh dan menatap suaminya, tapi dengan cepat ia memalingkan wajah saat melihat dada bidang polos Davis.
__ADS_1
Ya, meski pernikahannya bersama Davis sudah hampir berjalan sebulan, namun Nixeelin sejujurnya belum terbiasa dengan kehadiran pria tampan itu. Terlebih lagi sebelum menikah, dirinya memang tak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria dan hanya sibuk pada pekerjaannya saja.
" Ada apa?" Davis kebingungan melihat sikap istrinya.
" Tidak apa-apa. Aku akan memakai gaun itu, jadi pergilah dan pakai bajumu." tutur Nixeelin dengan cepat, menutupi kegugupannya.
" Ah, baiklah."
****
Disatu sisi, ditempat yang berbeda yakni diruang kerja Miguel. Tampak pria gagah itu yang kini ditemani oleh aistennya— Andre.
Berjalan bolak balik disamping jendela kaca, Miguel terlihat sangat gusar. Wajahnya begitu kusut, namun dia enggan tuk berbagi cerita pada orang kepercayaannya.
" Yakk, ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?"
Lama Andre mengunci bibir, ia akhirnya memilih bersuara lebih dulu.
" Aku malu!"
__ADS_1
" Hah?" Andre melongo mendengar ucapan singkat tuannya.
" Kau malu kenapa?" tanya Andre lagi.
" Begini.." Miguel menjeda, ia segera duduk disofa sebelum melanjutkan ucapannya.
" Aku belum tidur lagi dengan Nauora." lanjutnya dengan helaan nafas berat.
" Jadi kau sudah tidur dengan Nyonya Nauora?" tanya Andre menatap tak percaya pada atasannya sebab selama ini yang diketahuinya bahwa Miguel sangat tidak menyukai Nauora.
" Sudah." jawab Miguel dengan singkat dan padat.
" Wah, selamat Tuan Miguel Arrawda. Jadi bagaimana perasaan anda?" Andre tampak senang, menatap atasannya dengan senyum mengembang.
" Aku belum mencintainya." tutur Miguel.
" Kalau begitu kau coba saja tidur lagi dengan Nyonya Nauora. Setelah itu, mustahil kau tidak menyukainya." Andre memberi saran, sedangkan Miguel masih mempertimbangkan ucapan asistennya.
Drt. Drt. Drt.
__ADS_1
Obrolan dua pria gagah itu terhenti kala ponsel Andre didalam saku berdering. Buru-buru dia menjawab panggilannya, dan selang beberapa detik segera menutup kembali sambungan telfonnya.
" Tuan, jam makan siang sudah selesai. Sebaiknya kita pergi ke kantor sekarang." ucap Andre.