Dunia Asmara

Dunia Asmara
Berlibur dipulau.


__ADS_3

" Kau sudah selesai bekerja?" tanya Nauora dengan sikap santainya.


" Ada apa ini, apa dia mendengar semua yang aku bicarakan dengan Andre?"


" Ah, aku sudah selesai. Andre sedang membereskan sisanya, aku ingin ke kamar dulu." tukas Miguel dengan cepat, menutupi rasa gugupnya.


" Aku sudah mengemas semua keperluanmu. Kopernya juga sudah didalam mobil. Kita langsung berangkat saja." jelas Nauora menahan langkah kaki suaminya.


" Benarkah? Baiklah, kau berangkat saja duluan. Nanti aku akan menyusul bersama Andre." ucap Miguel


" Kau tidak ingin pergi bersamaku?" Nauora menatap lekat manik mata cokelat suaminya dengan senyum manis dibibirnya.


" Apa yang kau bicarakan. Kau tau kan, kita selalu bersama asisten masing-masing. Seperti biasa aku akan pergi dengan Andre, jadi kau pergilah juga bersama Ciko." terang Miguel datar, dan segera meninggalkan istrinya begitu saja.


" Apa Miguel sudah mencintaimu?"


Melihat suaminya berlalu, Nauora tiba-tiba teringat pada perkataan Jerico beberapa hari yang lalu. Ia kini hanya mampu memandangi punggung kekar Miguel yang perlahan menjauh tanpa berani bersuara lagi.


" Kau memang tidak pernah mencintaiku." gumam Nauora dalam hati, setelahnya ia segera keluar dari mansion, menemui Ciko yang sedari tadi menunggunya didalam mobil.


⚘️


⚘️


⚘️

__ADS_1


" Nyonya apa yang anda pikirkan?" tanya Ciko yang sejak tadi mengamati majikannya melalui kaca spion.


" Davis dan Nixeelin, apakah mereka sudah berangkat?"


Alih-alih menjawab pertanyaan asistennya, Nauora justru mengalihkan pembicarakan, menanyakan keberadaan adiknya. Ciko sontak merasa sedikit kecewa sebab selama ini Nyonya nya tak pernah mengabaikannya.


" Sudah berangkat sejak tadi, Nyonya. Mereka bersama Tuan muda Kidshan dan lainnya." tutur Ciko seadanya.


" Hu'umm.."


Ciko tampak fokus kembali pada kemudinya, sementara Nauora mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dilihatnya layar ponsel yang menyala, tak ada notifikasi yang masuk ataupun panggilan telfon, dia menghela nafas. Ia sejujurnya tengah menunggu kabar dari suaminya karena entah mengapa kata-kata Jerico saat acara perjamuan kini sangat mengusik relung hatinya.


" Apa kau benar-benar mencintaiku? Ataukah kau memang tidak ingin mencintaiku?" benak Nauora dengan wajah sendunya.


Lama menggulir layar ipadnya dengan jari telunjuknya, Nauora seketika terdiam saat tak sengaja mendapati berita yang tengah trending saat ini. Seutas senyum pun langsung menghiasi wajah cantiknya.


" Dapat!" lirihnya dengan suara yang amat kecil.


⚘️


⚘️


⚘️


Tak terasa waktu berlalu, setelah menempuh perjalanan jauh yang memakan waktu beberapa jam, kini mobil yang dikendarai Ciko sudah tiba ditempat tujuan. Dan rupanya dua mobil sudah lebih dulu terparkir rapi didepan villa. Tentu saja siempunya mobil tak lain adalah Davis dan Nixeelin yang sudah sampai lebih dulu.

__ADS_1


Hari sudah memasuki waktu sore, Nauora yang merasa lelah segera masuk kedalam villa dengan Ciko yang membawa barang-barangnya.


Sementara disatu sisi, terlihat sepasang suami istri yakni Davis dan Nixeelin tengah menikmati pemandangan pantai yang tak jauh dari villa. Mereka tak berdua saja, Kinaya— sang pengasuh tentu ikut bersama baby Kidshan.


" Wah, indah sekali pantainya." ucap Davis berdecak kagum. Merentangkan tangan menghadap sunset sembari menikmati semilir angin segar dari pantai.


Kidshan yang sejak tadi berada dalam gendongan sang pengasuh, tampak sangat bahagia dengan terus berceloteh tak jelas.


" Kinaya, berikan Kidshan padaku." seru Davis pada pengasuh keponakannya. Masih dengan senyum mengembang, ia mengambil alih Kidshan, menggendong bayi kecil itu.


" Lihatlah, kau baru melihat pantai kan?" tuturnya pada bayi digendongannya. Sementara Kidshan hanya tergelak.


Disaat paman dan keponakan itu menikmati indahnya matahari sunset dipantai, berbeda pula dengan Nixeelin. Wanita cantik dengan rambut yang dikuncir kuda itu justru sejak tadi asik memotret pemandangan disekelilingnya dengan mengabaikan suami dan keponakannya.


" Yeah, coba foto kami juga. Dari tadi kau hanya foto pantainya." celetuk Davis yang baru tersadar akan kegiatan istrinya.


" Kalian ingin difoto? Baiklah, ambil gaya. Aku akan mengambil gambar dalam hitungan ketiga." tutur Nixeelin tersenyum.


Davis segera bersiap, ia juga mengarahnya baby Kidshan pada kamera.


" Kinaya, masuklah juga." seru Nixeelin.


Pengasuh muda itu pun segera bergabung, berdiri disamping Davis seraya menampilkan senyum manisnya.


Namun entah mengapa disaat mereka bertiga sudah siap dipotret, Nixeelin justru tiba-tiba memfokuskan pandangan pada satu objek yakni suaminya sendiri. Tanpa sadar ia juga mengulum senyumnya, dan memperbesar resolusi kameranya hingga ini kameranya hanya berfokus ada wajah tampan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2