
Hari kini sudah malam, waktu baru saja melewati petang. Dikamar utama kediaman Kwans, terlihat sepasang suami istri yang tengah duduk disofa yang tak lain adalah Miguel dan Nauora.
Miguel saat ini tampak sibuk berkutat pada keyboard laptopnya. Ia bahkan mengabaikan keberadaan Nauora yang sejak tadi duduk disisinya, membujuk untuk mengobati luka ditangannya imbas dari terkena kopi panas.
“ Biarkan aku mengobati tanganmu, sekali saja.” ucap Nauora dengan tulus. Entah sudah berapa kali dirinya membujuk sang suami namun selalu saja diabaikan.
Tak lama terdengar helaan nafas kasar dari pria tampan itu. Ia merasa bosan mendengar wanitanya yang sejak tadi berbicara.
“ Jika kau obati, apakah kau bisa pergi dari sini?” tanya Miguel dengan tatapan tak suka.
“ Humm, aku tidak akan mengganggumu lagi.” jawab Nauora.
Mendengar jawaban sang istri, Miguel lalu dengan malas mengulurkan tangannya untuk diobati.
“ Kenapa tadi kau melakukannya?” tanya Miguel tiba-tiba. Ia mengamati Nauora yang tengah mengolesi punggung tangannya dengan salep.
“ Aku hanya tidak ingin Ayah mencampuri urusan kita.” jawab Nauora dengan datar.
Jawaban Nauora membuat Miguel diam, dan tak bersuara lagi. Pria matang itu kembali fokus pada layar laptopnya dengan satu tangannya yang diobati sang istri.
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu dari luar sana menghentikan kegiatan Nauora. Ia mengangkat pandangannya dan bersuara, mempersilahkan seseorang diluar sana membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
“ Nyonya, makan malam sudah siap.” ujar kepala pelayan dengan sopan.
“ Humm, pergilah lebih dulu. Kami akan segera menyusul.” jawab Nauora yang kini mulai membalut luka Miguel dengan perban yang sudah tersedia dikotak obat.
Kepala pelayan segera berlalu, dan tak lama Nauora juga selesai pada kegiatannya. Ia mulai membereskan kotak obatnya, sedangkan Miguel segera beranjak tanpa sepatah kata pun, meninggalkannya seorang diri.
****
Diruang makan kediaman Kwans saat ini terlihat Miguel dan Davis yang sudah lebih dulu berada dimeja makan. Selang beberapa menit, tak lama Nauora juga muncul dan segera duduk disamping sang suami.
Suasana diruang makan sangat sepi, hanya dentingan sendok dan garpu yang menyatu menciptakan gemercik suara. Namun hanya beberapa saat menikmati makan malam, tiba-tiba dari ambang pintu ruang makan terlihat sesosok pria tampan berbadan kekar yang tanpa aba-aba ikut bergabung hendak menikmati makan malam dikediaman Kwans.
Seketika itu juga raut wajah Nauora berubah, begitu juga dengan Davis dan Miguel.
“ Ada apa dengan kalian, sepertinya tidak suka sekali dengan kehadiranku.” celetuk pria itu, mengambil posisi duduk disamping Davis.
“ Baiklah, selamat menikmati makan malam kalian.” seru Michel lagi, bersikap sangat santai meski semua orang mengabaikannya.
Semua masih diam, tak ada yang ingin bertegur sapa dengan Michel. Sedangkan Michel, pria itu mengamati ketiga orang disisinya yang dengan tenang menikmati hidangan malam seakan menganggapnya tak ada diruang makan. Tak lama senyum simpul Michel terlihat saat pandangannya terhenti disatu titik. Ia menatap Miguel dengan sangat angkuh.
“ Ah, kemarin aku sempat melihat berita dimedia. Wah.. beritanya baru rilis beberapa menit, tapi semua langsung heboh.” ucap Michel ditengah ketenangan. Ia menyeringai, sengaja memancing Nauora.
“ Diamlah, dan nikmati saja makananmu.” tutur Nauora dengan sangat dingin.
“ Baiklah.” Michel tersenyum tipis.
__ADS_1
“ Aku masih tidak habis pikir, kenapa kau masih bertahan dengan bajingan seperti dia.” tambah Michel dengan suara yang amat kecil, ia lalu kembali menikmati makan malamnya.
Meski berbicara dengan volume suara yang kecil, namun penuturan Michel masih bisa didengar jelas oleh Nauora hingga langsung membuat emosi wanita cantik itu mencuat.
Brakk.
Disaat Michel menyelesaikan ucapannya, gebrakan meja yang begitu kasar, terdengar sangat jelas hingga sukses menghentikan kegiatan makan malam yang tengah berlangsung. Nauora terlihat menahan amarah, ia mengirim tatapan tajam pada saudari tirinya.
“ Jika kau datang dengan niat burukmu, maka pergilah sebelum aku menyeretmu.” ucap Nauora menekankan setiap katanya.
Michel tersenyum getir, melepas garpu dan sendoknya dengan kasar. “Kau jangan lupa, rumah ini bukan milikmu jadi kau tidak berhak mengusirku.”
“ Rumah ini memang bukan milikku, tapi kau juga harus tau bahwa semua ini adalah milik Ayahku.” balas Nauora tak kalah sengit dari Michel.
Davis dan Miguel yang sejak tadi mengamati dalam diam, menghela nafas dan segera beranjak meninggal dua saudara itu.
“ Dengarkan aku.. Jika saja keluargamu tidak menghancurkan keluargaku, maka saat ini Ayahmu itu masih menjadi pejabat biasa. Jadi seharusnya kau tidak melupakan asalmu yang hanya dari keluarga biasa.” tutur Michel, bangkit dari duduknya.
“ Ah, satu lagi. Sebaiknya kau urus suamimu itu, sepertinya dia lebih bahagia dengan wanita liar diluar sana daripada denganmu.” tambahnya sebelum berlalu meninggalkan ruang makan.
Nauora menggeram, menahan kekesalannya. Ia tak tau harus mengatakan apa hingga hanya mampu menatap Michel yang perlahan menghilang seiring jauh langkah kaki.
Begitulah hubungan Nauora dan Davis terhadap Michel, saudara tirinya. Keduanya memang tak pernah akur sejak Nyonya Milen yang notabene adalah istri Tuan Dave, menikah beberapa tahun yang lalu.
Michel Doque adalah anak semata wayang Nyonya Milen. Nyonya Milen sendiri adalah anak konglomerat atas yang memutuskan menikah bersama Tuan Dave yang saat itu hanya seorang pegawai biasa disebuah perusahaan. Dan benar, setelah Nyonya Milen dan Tuan Dave menikah, semua harta Nyonya Milen ia serahkan pada suaminya. Tak sampai situ, rasa cinta Nyonya Milen yang amat besar tuk suaminya, membuatnya dengan susah payah menjadikan suaminya sebagai seorang presiden karena memang impian Tuan Dave adalah menjadi orang nomor satu dinegara.
__ADS_1
Namun hanya beberapa bulan Tuan Dave menjabat sebagai presiden, Nyonya Milen menghembuskan nafas terakhir diapartemennya. Mati dalam keadaan tak wajar, Tuan Dave memutuskan untuk merahasiakan apapun yang menyangkut perihal kematian Nyonya Milen. Hingga saat ini semua media, dan semua orang tak lagi membahas hal itu.